THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
60



"Why is the dinner atmosphere so awkward? Why doesn't anyone dare look at my sister? What made she angry earlier?" Tanya Ichi pada semua orang yang sedang duduk terdiam di ruang tamu.


(Kenapa suasana makan malamnya jadi canggung? Kenapa semua orang tidak ada yang berani menatap adikku itu? Apa yang membuatnya marah tadi?)


"She was furious because no one told her that her wedding schedule was speeding up." Jawab Steve pada Ichi.


(Dia marah besar karena tidak ada yang memberitahunya bahwa jadwal pernikahannya dipercepat.)


"Grace memang sedang marah besar, lihatlah, dia sampai memindahkan barangnya ke kamar tamu," Ucap Adam sambil melirik ke arah Grace yang sedang membawa kopernya ke kamar tamu yang berdekatan dengan dapur.


Semua orang pun menoleh ke arah yang sedang di lirik oleh Adam. Mereka terkejut dengan keadaan yang sudah terjadi. Mereka tidak menyangka jika Grace yang begitu hangat bisa marah seperti badai, sangat mengerikan.


"Let's go back to our rooms. There is nothing important to discuss anymore." Ucap Steve pada Ichi sambil beranjak dari tempat duduknya. Mereka berdua menundukkan badannya dahulu untuk menujukkan sikap sopan mereka saat berpamitan pada orangtua.


(Mari kita balik ke kamar kita. Sudah tidak ada hal yang penting untuk di bahas lagi.)


Adam dan Silvi memang sudah berencana untuk menginap di Mansion, jadi mereka juga berpamitan pada orangtua yang masih duduk manis di sofa. Mereka memasuki kamar yang biasa mereka tempati.


"Suamiku, apa yang harus kita lakukan untuk membujuk Grace? Kalau dia masih marah sampai hari H pernikahannya, pasti semuanya akan kacau," ucap Mrs.Melv. pada suaminya.


"Kita lihat saja nanti. Daddy rasa besok amarahnya akan reda dengan sendirinya. Lebih baik kita menunggu keluarga Grace tiba di sini dulu, baru kita bahas bersama." Tutut Mr.Melv. pada istrinya.


GRACE POV


Sebenarnya aku masih kesal dengan Arion, tapi mau bagaimana lagi, mau tidak mau aku harus menyiapkan keperluan Arion sebelum dia berangkat ke kantor. Aku pun bergegas membersihkan diriku dan langsung menuju ke kamar membangunkannya. Aku juga menyiapkan pakaian yang akan dikenakannya hari ini.


Setelah menyiapkan keperluan Arion, aku bergegas ke dapur melihat apa yang bisa di hidangkan. Koki yang ada di dapur tidak mengizinkanku untuk memasak. Jasi, aku hanya memantau dan memperhatikan cara mereka menyajikan sarapan pagi ini.


Selesai dengan kegiatanku yang membosankan itu, aku keluar menuju ruang makan mengikuti para pelayan yang sedang membawa nampan berisikan makanan dan minuman untuk dihidangkan di atas meja makan. Aku melihat Arion yang cukup terburu - buru menuruni anak tangga menuju ke arahku.


"Grace? Kamu yang menyiapkan pakaianku tadi?" Tanyanya dengan ekspresi anehnya.


"Hmmm.." Jawabku singkat sambil memperbaiki posisi dasi yang dipakai Arion.


"Makasih banyak, sayang. Kamu sangat perhatian. Aku senang kamu masih peduli padaku, meskipun kamu sepertinya masih kesal padaku. Padahal aku tidak tau apa yang salahku," ucapnya dengan suaranya yang berubah dari semangat menjadi lemas begitu.


Aku tidak tega melihat ekspresinya yang seperti itu. Tapi aku masih kesal dengan keputusan yang mereka ambil tanpa sepengetahuanku. Arion tidak mungkin tidak tau tentang hal itu, tapi dia masih belum mengatakan apa - apa padaku sampai sekarang.


Aku pun berjalan menuju meja makan yang diikuti oleh Arion. Dia menarik sebuah kursi untukku dan dia duduk di kursi sebelahku. Selesai sarapan, aku mengantar dia sampai depan pintu rumah. Meskipun aku masih cuek dan jutek padanya, dia masih saja bersikap lembut padaku. Sebelum dia memasuki mobil, disempatkannya mencium keningku. Aku hanya tersenyum padanya supaya dia bisa bersemangat untuk bekerja.


Siangnya, aku masuk ke dapur. Aku mau memasak lauk untuk dihidangkan siang ini sekalian membawakan bekal untuk Arion. Koki dan para pelayan yang ada di dapur turut senang membantuku menyiapkan semua bahan yang akan aku gunakan.


Selesai dengan memasak\, aku langsung pergi mandi dan langsung mengenakan *dress* yang panjangnya 5 cm si atas lutut yang akan memperlihatkan kaki jenjangku yang sudah lama aku sembunyikan di balik celana panjangku selama ini.


Penghuni rumah yang lainnya masih belum ada yang menampakkan batang hidungnya dan tidak ada satu pun yang berani mengajakku berbicara sejak peristiwa tadi malam. Mungkin mereka ingin menunggu hingga amarahku mereda, agar kami bisa membahas semuanya dengan kepala dingin.


Tepat pukul 11 siang, aku pergi ke kantor Arion dengan di antar oleh seorang supir. Sebenarnya ini kali kedua aku datang ke sana. Sesampainya di depan pintu masuk, mobil berhenti dan aku turun dari mobil. Supir langsung memarkirkan mobil ke parkiran sembari menunggu panggilan dariku. Aku masuk melalui pintu utama dan berjalan menuju ke arah lobi yang terlihat sangat megah.


Semua mata tertuju padaku, mungkin karena mereka baru pertama kali melihat diriku atau memang aku terlihat aneh buat mereka, entahlah aku tidak mau ambil pusing soal itu. Aku pun melangkah ke arah meja Resepsionis.


"Permisi Mbak, bisa saya bertemu dengan Pak Arion?" Tanyaku pada Resepsionis itu. Bukannya mendapat jawaban yang pantas, dia malah melihatku dari atas sampai bawah.


"Sudah buat janji?" Tanyanya dengan sinis padaku.


"Belum Mbak, saya ke sini untuk mengantar bekal makan siang untuk Pak Arion," kataku dengan senyum terbaikku.


"Pak Arion mana level makan makanan dari wanita sepertimu, sebaiknya kamu pulang saja." Kata kedua wanita itu padaku dengan sinisnya


"Apa maksud Mbak? Asal Mbak tau ya, saya ini calon istrinya Arion!" Kataku yang sudah mulai kesal padanya. Untuk bertemu dengan Arion saja, ribetnya seperti ini dan selalu seperti ini.


"Kamu calon istri Pak Arion? Jangan menghayal terlalu tinggi! Sebelumnya juga ada banyak cewek - cewek sepertimu yang mengaku - ngaku sebagai pacar bahkan istri Pak Arion. Kami tidak menerima tamu yang tidak memiliki janji dengan Pak Arion!" Kata salah seorang dari mereka. Dia pun berjalan mendekatiku.


"Aaaaarrgggggg.. Sakkiiittt..!! Lepaskan aku..!!" Teriakku karena wanita itu menarik pergelangan tanganku dengan sangat kasar dan menyeretku keluar dari lobi, kini pergelangan tanganku terasa sangat sakit. Aku bisa saja menghajarnya, tapi kemampuanku bukan untuk melawan wanita seperti dirinya.


"Kamu sebaiknya keluar dari sini dan jangan buat masalah di sini..!!" Bentak wanita itu padaku dan menyeretku keluar dengan paksa. Aku meronta menolaknya, tapi dia mencengkeram paksa tanganku dengan sangat erat hingga aku tidak bisa melepaskan tanganku dari genggamannya.


"Lepaskan aku! Lihat saja nanti, kamu pasti akan menyesal melakukan ini padaku! Akan aku adukan perbuatan tidak sopanmu ini pada Arion!" Ancamku padanya sambil meronta supaya dia mau melepaskan tanganku. Bukannya melepaskan tanganku, dia malah mencengkramnya semakin kuat.


"Woii..!! Lepaskan kakakku! Apa yang kamu lakukan pada kakakku?!!" Terdengar suara berat laki laki yang sedang berteriak dan berlari ke arahku


"Sam? Sedang apa kamu di sini?" Kataku yang terkejut ketika tahu kalau orang itu adalah Sam, Adikku. Dia pun mengambil alih tanganku dari wanita yang tadi menyeretku dengan paksa.


PLAKKK...!!


Sebuah tamparan yang di layangkan oleh Sam pada wanita itu. Aku sangat terkejut melihat apa yang terjadi.


"Sudah Sam, biar kakak tunggu di sini saja sampai Arion keluar," kataku pada Sam yang sudah terlihat emosi itu.


"Kamu berani - beraninya kasar dengan kakakku, tidak akan aku ampuni kelakuanmu ini..!!" Bentak Sam pada wanita itu.


"Kakakmu? Orang yang mengaku sebagai calon istri Bos kita ini adalah Kakakmu? Pantas saja kelakuanmu itu sungguh tidak sopan, karena Kakakmu saja sudah menipu kami. Aku hanya melakukan tugasku menghalau wanita gatal yang ingin mendekati Bos kita..!!" Wanita itu terlihat sangat emosi. Dia meluapkan amarahnya sambil menunjuk ke arahku.


"Kak, tunggu aku di sini. Aku akan kembali secepatnya." Kata Sam sambil membawaku masuk dan membantuku duduk di sebuah kursi yang ada di lobi. Semua karyawan yang penasaran, berbondong - bondong melihat diriku dari jarak yang cukup jauh. Aku hanya menunduk sambil memegang pergelangan tanganku yang memerah.


"Tamatlah riwayatmu sebentar lagi!" Gertak Sam sambil menunjuk pada Resepsionis menggunakan jemarinya dan tersenyum sinis. Kemudian dia berlari meninggalkan aku dan masuk ke sebuah lift.


Wanita yang tadi menyeretku dengan acuh dia berjalan kembali menuju meja kerjanya. Kini aku sudah menjadi bahan tontonan karyawan yang berkumpul di meja resepsionis. Aku duduk sendirian di lobi seperti orang yang tidak berguna.


'Kenapa Sam bisa ada di sini? Apa yang dia lakukan di sini?' Pikiran itu tiba tiba saja menyelimuti otak kecilku ini.


Aku memegangi pergelangan tanganku yang sakit akibat ulah resepsionis tadi. Dia benar - benar tidak punya etika sama sekali, tapi kenapa dia bisa bekerja di perusahan sebesar ini dengan sopan santunnya yang sangat buruk.


"Sayang, bagaimana keadaanmu? Mana yang sakit? Siapa yang melakukan ini padamu?" Tanya Arion yang dengan tergesa - gesa berlari ke arahku. Aku pun menoleh pada Arion yang terlihat sangat mencemaskanku. Dia meraih pergelangan tanganku yang memerah dan memperhatikannya dengan seksama.


"Itu ulah Resepsionismu itu, Kakakku jadi begini." Kata Sam dengan kesal sambil mengalihkan pandangannya pada wanita yang tadi menarikku.


"Brengsek..!! Kamu berani - beraninya bersikap kasar pada calon istriku..!! Ambil gajimu di HRD sekarang juga dan tinggalkan tempat ini segera!! KAMU DI PECAT..!!" Arion meluapkan amarahnya pada wanita itu. Semua karyawan yang tadinya bergosip tentangku, sekarang melihatku dengan tatapan yang sulit diartikan. Mereka tidak percaya dengan apa yang di dengar mereka dari mulut Arion.


"Sayang, ayo kita ke ruanganku saja. Aku sudah memberinya pelajaran atas sikapnya terhadapmu," kata Arion sambil merangkulku di depan karyawannya. Sam mengambil alih rantang yang aku bawa dari rumah. Sebenarnya aku sudah enggan mengikuti Arion ke ruangannya. Tapi apa boleh buat? Niatku ke sini untuk mengantar bekal untuk Arion dan memang sudah waktunya untuk makan siang.


"Tapi Pak, kami kan hanya menjalankan tugas kami.." Kata kedua Resepsionis yang ingin membela dirinya di hadapan semua orang.


"Aku tidak pernah menyuruh kalian bertindak kasar pada tamu. Bagaimanapun, kalian sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal..!!" Bentak Arion dengan nada dinginnya.


"Dan ini untuk kalian semua. Ini peringatan dariku. Bagi siapa saja yang mencoba menghalangi calon istriku datang untuk menemuiku, kalian akan aku pecat dan tidak akan diberikan pesangon sepeser pun! Ingat baik - baik perkataanku ini." Kata Arion memberi peringatan pada semua karyawannya yang ada di situ, dan kini aku pun jadi pusat perhatian semua orang yang ada di situ, ku lihat mereka sangat takut dengan Arion.


Resepsionis yang tadi memperlakukan aku dengan buruk terlihat pucat pasi, dia shock dan melihatku dengan tatapan penuh penyesalan,


Arion dan Sam membawaku menuju ke ruang kerja Arion. Ada hal yang membuatku bingung saat menatap Sam, dia terlihat sudah biasa di tempat ini seakan dia sudah terbiasa berada di sini.


Sesampainya di dalam ruangan Arion, aku memberikan bekal makan siang yang memang sudah aku persiapkan tadi, aku membukanya dan memberikannya pada Arion. Dengan segera Arion meraih bekal yang aku sodorkan padanya. Dia terlihat senang sekali.


"Sam, kalian makanlah. Isi bekal itu kan banyak, kalian bisa saling berbagi," ucapku pada Sam sambil menoleh ke arah Arion.


Arion mengangguk dan berkata, "Terima kasih sayang, aku senang sekali karena kamu begitu peduli terhadapku."


"Hmmm..." Jawabku singkat tanpa melihat ke arah Arion yang kini bersiap untuk melahap menu makan siangnya.


"Ada yang bisa menjelaskan padaku kenapa Sam bisa ada di sini?" Tanyaku pada mereka berdua. Sontak saja mereka tersedak dengan pertanyaan yang aku berikan. Baik Sam maupun Arion kini hanya saling pandang memberi isyarat satu sama lain karena bingung mau memberikan jawaban seperti apa padaku.


"Kamu jangan terlalu memanjakan dia, Ar. Aku tidak suka kalau dia tidak mandiri." Ucapku yang mulai bosan menunggu jawaban dari mereka.


"Bukan begitu, sayang. Aku mempekerjakan dia di sini mulai dari dasar. Dia bisa mendapatkan jabatannya seperti sekarang ini, karena kemampuannya. Tidak ada yang tau kalau dia itu calon adik iparku. Jadi, semuanya adalah hasil jerih payahnya. Percayalah padaku. Aku akan membuatnya mandiri sama sepertimu."


"Ya, aku memang kerja di sini Kak, tapi aku juga memulainya dari dasar. Aku juga pernah merasakan bagaimana sulitnya bekerja seperti pesuruh. Sekarang aku sudah seperti sekarang. Ini bukti kalau aku memang sudah mandiri, Kak." Jawab Sam santai sambil menyuapkan makanannya,


"Sudah dong, sayang. Jangan marah - marah terus, nanti cantiknya ilang lho. Aku yang meminta Sam untuk membantu di sini, jadi jangan marah pada Sam lagi, kasihan dia. Kalian kan juga baru bertemu setelah sekian lama. Kenapa tidak menghabiskan waktu bersama dengan hal positif saja, sayang?" Arion membujukku.


'Akh, sudahlah. Syukurlah kalau memang Sam bekerja di sini. Jadi dia bisa bertanggung jawab untuk dirinya sendiri. Dan akan lebih mudah untuk memantaunya.' Pikirku setelah mendengar ucapan Arion barusan.


Aku masih menunjukkan wajah kesalku pada Arion, karena dia menarikku supaya duduk di dekatnya. Dia bahkan beberapa kali menyuapiku, entah dia mau merayuku atau hanya untuk membuatku bungkam.