
ARION POV
KRINGG... KRINGG... KRING...
Aku terbangun dari tidurku yang tidak nyenyak ini. Semalaman aku susah tidur karena memikirkan apa salah yang telah ku perbuat hingga Grace menjauhiku. Karena sudah tanggungjawabku untuk mengurus perusahaan, aku segera bangkit dari tempaat tidurku dan langsung menuju kamar mandi.
Selesai dengan ritual mandiku, aku keluar dari kamar mandi dan mendapati ada setelan jas yang diletakkan di atas tempat tidurku.
'Apa mungkin Grace yang melakukan ini? Siapa lagi yang berani masuk ke kamarku tanpa mengetuk atau memanggil terlebih dahulu.' Aku membatin sambil tersenyum simpul.
Keluar dari kamar, aku melihat Grace sedang berdiri di sebelah meja makan. Sebenarnya aku ingin menyapa Grace, tapi nampaknya dia masih marah terhadapku yang terlihat dari sikapnya yang dingin bak di kutub es.
Aku pun mencoba bertanya padanya tentang pakaian yang kupakai ini. Dan memang benar dugaanku, dialah yang menyiapkan pakaian yang akan kukenakan. Kulihat wajahnya dari dekat, saat ini dia sedang memperbaiki dasi yang kupakai. Mungkin tidak sesuai lipatannya. Meskipun dia cuek bebek begitu, aku tetap merasa senang karena dia masih memperhatikan segala keperluanku.
Singkat cerita, aku pun tiba di kantor. Ada meeting penting pagi ini. sangkin pentingnya, meeting ini pun terlaksana dari pagi hingga siang. Hampir 4 jam meeting ini berlangsung, tapi kami masih belum mendapatkan solusi yang terbaik dalam memecahkan permasalahannya.
Tiba - tiba ada seseorang yang membuka pintu ruang meeting ini, aku pun menoleh mencaritahu siapa orang yang sudah lancang mengganggu dan mengacaukan suasana meeting saat ini. Ternyata dia adalah Sam. Aku hanya bisa menatapnya tajam, tidak biasanya dia mendatangiku, apalagi dalam suasana meeting seperti ini.
"Maaf Pak, saya mengganggu meetingnya sebentar, Pak," kata Sam yang datang dan terlihat panik langsung menatapku, aku mengerti bahwa dia ingin menyampaikan sesuatu padaku
Aku tidak peduli dengan semua orang yang hadir dalam rapat tersebut menatapku dan Sam, karena aku tahu Sam mengganggu rapat ini karena ada hal yang penting yang ingin dia sampaikan
"Ada hal penting apa, Sam?" Kataku sambil berjalan mendekati Sam.
"Kak Grace ada di bawah dan Resepsionis di sini bertindak kasar padanya karena dia tidak punya janji temu dengan Kakak." Bisik Sam padaku, aku terkejut mendengarnya lalu kuperintahkan Steve untuk melanjutkan meetingnya. Langsung saja aku berlari menuju lift yang ada di ujung lorong ini. Aku begitu panik. Ini kali kedua Grace dikasari oleh pegawaiku. Sam juga mengikuti langkahku dengan tergesa - gesa.
Setelah sampai di lantai dasar, aku menyapu bersih pandanganku ke sekeliling Lobi. Grace sedang duduk di salah satu sofa kecil di tengan lobi dan dia sedang mengusap pergelangan tangannya. Aku pun berlari mendekatinya dan memperhatikan pergelangan tangannya yang sudah memerah.
Aku sangat marah pada mereka yang sudah bertindak kasar pada Grace. Aku saja tidak pernah mau berlaku kasar padanya. Berani - beraninya mereka. Aku pun memecat kedua Resepsionis yang sudah dengan sombongnya mengganggu calon istriku. Mereka pantas di pecat. Aku juga memberi peringatan pada semua karyawan yang ada di lobi. Mereka tidak berhak untuk melarang Grace untuk menemuiku. Apapun yang alasannya, mereka tetap tidak memiliki hak untuk melakukan itu.
Aku pun menggenggam tangan Grace dan membawanya ke ruanganku. Sam pun mengikuti kami berdua dengan membawa bekal yang di bawa Grace tadi. Sesampainya di ruanganku, dengan segera aku melipat lengan baju panjangku untuk memulai makan bersama Sam.
Setelahnya, kami membahas tentang Sam yang sudah lama bekerja di sini yang belum diketahui oleh Grace. Jadi, wajar saja dia bertanya, meskipun raut wajah kesalnya sangat terlihat jelas saat ini. Aku tidak mau menyia - nyiakan kesempatan ini. Aku menariknya agar duduk di dekatku. Aku makan sambil menyuapinya beberapa sendok.
Selesai makan siang, Sam kembali ke ruangannya. Memang sudah waktunya dia kembali bekerja. Grace terlihat sedang membersihkan meja dan bekal yang di bawanya.
"Gimana pergelangan tanganmu, sayang? Apa masih sakit?" Tanyaku sambil melihat ke arahnya.
"Sudah tidak sakit lagi kok, Ar. Aku mau pulang nih, kamu harus fokus kerjanya ya, Ar." Katanya sambil memegang bekal yang sudah kosong isinya.
Aku mendekatinya dan memeluknya, "Jangan marah - marah lagi ya, sayang.. Aku minta maaf jika memang aku ada salah samamu. Tapi jangan diamin aku kayakgini, aku jadi kepikiran terus sejak semalam."
Dia masih saja diam tidak membalas perkataanku maupun pelukanku. Aku pun bertanya padnya, "Sekarang beritahu aku, apa yang membuatmu jadi jutek begitu padaku, sayang?" Aku melepaskan pelukanku dan memegang kedua lengannya sambil menatap matanya.
"Kenapa kamu tidak memberitahukanku tentang jadwal pernikahan kita yang di percepat?" Grace menatapku dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Oalaaahhhh.. Ternyata gara - gara itu kamu jadi jutek begini? Aku lupa bilang padamu, karena kamu saat itu sedang tertidur pulas. Maafkan aku ya, sayang. Sebenarnya, Daddy dan Mommy mau membicarakannya nanti malam saat semuanya sudah berkumpul. Seharusnya pernikahan kita itu kan sekitar 10 hari lagi, tapi Daddy maunya di percepat jadi 5 hari lagi. Daddy tidak mau kejadian 2 tahun lalu terjadi lagi. Sekarang aku sudah berusia 26 tahun dan kamu 24 tahun. Kita itu sudah cukup dewasa untuk melangsungkan pernikahan kita secepatnya. Jadi, untuk apalagi menunda acara pernikahan kita? Kamu gak setuju kalau kita jadi menikah ya?"
Mungkin, pertanyaanku terlalu sensitif, hingga Grace menundukkan kepalanya dan hanya diam membisu. Aku sampai bingung harus bagaimana lagi.
"Sekarang keluargamu sudah tiba di Mansion, jadi jangan pasang wajah mengerikan seperti itu lagi pada semua orang. Nanti hilang cantiknya kalau wajahnya masam melulu. Sekarang kamu sudah maafin aku kan, sayang?" Tanyaku sambil mengecup puncak kepalanya.
"Baiklah, aku memaafkanmu. Aku harus pulang sekarang. Aku kangen banget sama mereka," ucapnya dengan penuh semangat.
Aku pun menggandeng tangannya dan mengantarnya sampai ke depan pintu masuk perusahaan. Sebelum dia masuk ke dalam mobil, aku memeluknya sebentar dan membisikkan padanya, "Semoga selamat sampai di rumah ya, sayang. I love you."
Dia tersipu malu, tingkahnya sangat lucu bagiku. Aku sadar kalau banyak pasang mata yang melihat apa yang kulakukan. Tidak biasanya aku mau memeluk seorang perempuan di depan umum seperti ini. Aku tidak peduli dengan tatapan orang - orang. Aku melakukannya dengan sengaja, agar semua yang ada di sekitar kami tau bahwa Grace adalah milikku dan tidak ada seorang pun di perusahaan yang berhak melarangnya memasuki perusahaan untuk menemuiku.
Aku pun kembali ke ruanganku setelah melihat mobil yang di tumpangi Grace menjauh. Saat ini aku sudah bisa fokus dengan pekerjaanku, karena aku sudah mendapatkan kembali energiku yang hilang.
"Papa.. Mama.. Aku sangat merindukan kalian semua," ucap Grace sambil memeluk kedua orangtuanya yang baru saja di lihatnya.
"Papa sama Mama juga merindukanmu, Nak." Mr. dan Mrs.Victor menyambut pelukan hangat sang Anak.
"Cici..!!" Suara nyaring adik kembar Grace pun memecahkan kesunyian ruangan tersebut. Mereka berlari entah darimana menuju ke arah Grace lalu memeluknya erat.
"Cici kemana saja? Kami kangen banget sama Cici," ucap kedua adik kecil Grace yang masih belum mau melepaskan pelukannya.
"Cici gak kemana - mana kok. Cici hanya mencari pengalaman di Luar Negeri, makanya Cici tidak bisa pulang ke rumah. Dd nya Cici, gimana sekolahnya?" Tanya Grace pada adik kembarnya itu.
"Nilai kami tetap bagus, Ci. Kami sudah bisa mandiri mengerjakan tugas kami. Kalau ada yang kami tidak mengerti, kami jadi bertanya sama Koko Sam. Tapi, Koko suka banget bikin kami kesal dulu baru menjawab pertanyaan kami. Koko tidak kayak Cici yang baik mau ngajarin bukan bikin kesal kami." Sikembar akhirnya melepaskan pelukannya dan memanyunkan bibirnya ke arah Grace.
Mereka berharap Cicinya memghukum Kokonya yang suka jahil itu, biar dia berhenti membuat adik kembarnya kesal terus - menerus. Tapi, Grace hanua bisa terkekeh melihat tingkah kedua adik kecilnya itu.
"Nanti Cici omelin Kokomu itu ya, biar dia gak bandel gitu," ucap Grace sambil membuat ekspresinya seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Horree..!! Koko bakalan di omelin sama Cici..!!" Sikembar pun berlari menuju taman belakang.
Para orangtua hanya bisa menggeleng - gelemgkan kepalanya melihat tingkah dua bocah kecil itu. Meskipun mereka sudah duduk di bangku SMP kelas 3, mereka masih saja bertingkah seperti anak kecil. Apalagi saat berhadapan dengan Grace.
"Pa, Papa sudah bertemu dengan Kak Ichi?" Tanya Grace pada Papanya.
"Ichi?? Maksudmu Koichi?? Kamu kenal dengan dia?" Mr.Victor mulai bertanya - tanya pada Grace. Dia menunjukkan rasa penasarannya melalui ekspresinya saat ini.
"Kak Ichi yang menemuiku saat aku di London, Pa. Dia datang dan kami pun semakin dekat sejak saat itu. Dia adalah seorang Kakak yang bertanggungjawab. Grace membawanya ke sini, Pa. Dia ingin bertemu dengan keluarga kita, Pa." Ucap Grace dengan mata berbinar. Dia berharap Papanya akan memberikan respon positif atas keputusannya.
"Dia ikut ke sini? Kok Papa belum ketemu sama dia? Dimana dia?" Mr.Victor merasa hatinya sangat senang, karena akan bertemu dengan anak sulungnya yang selama 27 tahun tidak bertemu.
Tapi sebaliknya, Mrs.Victor merasa sangat tidak nyaman dengan perbincangan kedua orang dihadapannya.
'Dia? Dia siapa?' Mrs.Victor mulai bertanya - tanya di dalam hati. Wajahnya mulai masam saat suaminya malah lebih asik berbincang dengan anak tirinya di banding dengan dirinya.
"Papa tunggu di sini ya, Grace panggil Kak Ichi dulu," ucap Grace sambil meninggalkan kedua orangtuanya di ruang tamu.
"Pa, siapa Ichi? Apa dia Anakmu itu?" Tanya Mrs.Victor pada suaminya dengan wajah kesal.
"Ma, jangan marah dulu. Dia memang Anak sulungku. Diasudah berusaha untuk mencari keberadaan kita. Dan akhirnya aku bisa bertemu dengannya sejak 27 tahun terkhir, Ma." Kata Mr.Victor yang berusaha untuk membuat istrinya menerima situasi sekarang ini.
"Aku gak suka ya, Papa itu mikirin anak orang melulu!" Ucap Mrs.Victor yang sudah mulai kesal pada suaminya.
"Bagaimanapun juga, dia itu anakku, Ma. Mama jangan seperti itu dong. Grace dan Sam, Mama bisa terima mereka dengan baik. Kenapa terhadap Ichi, Mama seperti ini?" Mr.Victor mulai kebingungan menghadapi emosi sang Istri.
"Yang Mama tau itu, Papa hanya punya 1 Istri sebelum Mama. Dan itu Mamanya Grace dan Sam. Aku masih tidak terima dengan semua kebohongan Papa selama ini. Kalau Papa mau menemuinya, Mama gak ikutan!" Ucap Mrs.Victor dengan ketus sambil pergi meninggalkan Suaminya.
"Ma, jangan begitu dong. Dia kan Anakku, jadi dia itu Anakmu juga, Ma. Papa yang salah, bukan dia, Ma. Jadi, jangan salahkan dia, Ma. Terimalah dia. Terimalah Koichi seperti Mama menerima Grace dan Sam." Mr.Victor tidak bisa membujuk Istrinya untuk saat ini.
Tanpa mempedulikan permohonan sang Suami, Mrs.Victor pergi begitu saja menuju taman belakang. Dia sebenarnya sudah melihat kedatangan Grace yang didampingi seorang lelaki muda yang jangkung berkulit putih. Dia tahu kalau itulah Anak yang bernama Koichi dan dia masih belum mau bertemu dengan Anak lelaki itu. Makanya, dia pergi dengan cepat tanpa mengatakan sepatah kata pun pada Suaminya lagi.
"Daddy?" Koichi memanggil Mr.Victor yang baru saja sadar dari lamunannya. Merekapun berpelukan begitu lama.
Grace hanya bisa tersenyum melihat hubungan Papanya dengan Kakak sulungnya itu. Dia pun pergi dari ruang tamu menuju taman belakang. Semua orang sedang berkumpul di sana. Grace hanya ingin memberikan waktu untuk kedua orang yang sudah sangat lama tidak bertemu.
'Semoga Kak Ichi bisa bahagia selalu seperti ini. Meskipun nanti dia akan kembali ke Jepang dan tinggal di sana sendirian, kami bisa tetap menjalin hubungan yang harmonis ini.' Grace membatin.
Grace belum mengetahui kalau Mamanya belum bisa menerima seutuhnya keberadaan Ichi. Siapa yang bisa membujuk Mrs.Victor untuk menerima Koichi? Tunggu kisahnya di eps selanjutnya 🤭🤭
>> Bersambung <<