
"Dia sudah siuman tadi, Dad. Dokter berkata kalau Sam butuh istirahat total dalam dua hari ini." Jawab Grace dengan singkat.
"Kalian mau makan apa untuk malam ini? Biar Steve memesankan makanan untuk kita." Tanya Mr.Melv. pada semua orang.
Masing - masing dari mereka menentukan pesanannya setelah mendapat kepastian dimana mereka akan memesan makanan tersebut. Steve yang sudah memiliki kontak dengan pemilik Restoran itu pun langsung menghubunginya.
Setelah selsai memesan, ternyata Sam terbangun dari tidurnya. Sam terlihat tersenyum melihat begitu banyak orang yang mengunjunginya.
"Sam? Kamu sudah bangun?" Tanya Steve pada Sam yang masih berusaha mengumpulkan seluruh kesadarannya.
"Apa kabar Sam? Kami datang untuk mengunjungimu." Sapa Adam pada Sam sambil berjalan mendekatinya.
"Semoga cepat sembuh ya, Nak. Kami semua mengkhawatirkanmu, termasuk Papa dan Mamamu. Dad sudah memberitahukan mereka mengenai keadaanmu." Tutur Mr.Melv. sembari mengikuti Adam menghampiri Sam.
Ar juga berjalan ke arah Sam sambil berkata, "Kamu harus cepat sembuh ya, Sam. Kasihan Kakakmu yang sedang mengandung itu. Dia jadi banyak kepikiran jika itu sudah menyangkut Adiknya." Ujar Ar pada Sam sambil menepuk pelan bahu milik Sam.
Sam mengangguk perlahan dan tersenyum tipis. Dia memandangi Grace dengan penuh makna. Si Kakak membalas senyuman dari sang Adik.
"Sekarang kamu harus makan malam dan minum obat. Biar tubuhmu kembali fit." Ucap Grace sambil membawakan bubur yang baru saja diterimanya dari seorang Suster.
Drrttt.. Drrttt.. Drrttt..
Ar mengambil ponsel yang ada di dalam saku celananya. Dia melihat dengan wajah heran nama yang tertera di layar ponsel.
Mr.Melv. yang menyadari perubahan raut wajah sang Anak pun bertanya, "Panggilan dari siapa Ar?"
"Ahh, ini Dad. Panggilan dari Kantor yang ada di London. Sebentar ya, semua." Ar pamitan keluar ruangan dan menerima panggilan tersebut.
Steve berusaha mengalihkan perhatian dari semua orang dengan mengajak Sam berbicara.
"Oh iya, Sam. Selama kamu cuti karna sakit, aku mengajari Yoru sedikit banyaknya pekerjaan yang biasa kamu kerjakan. Yoru sungguh telaten. Dia sangat membantu dalam mengerjakan apa pun yang kita perintahkan. Semuanya dikerjakan dengan baik. Kamu beruntung memiliki bawahan seperti dia. Dia kan seharusnya di bawah bimbinganmu. Maka dari itu, cepatlah sembuh. Biar kamu bisa secara langsung membimbingnya."
Adam menepuk pundak Steve sambil berkata, "Hei, Steve! Seharusnya kamu tidak membicarakan urusan pekerjaan dengan orang sakit. Mana nalar lagi dia, apa yang kamu katakan."
"Kak Adam!" Ucap Grace dengan sedikit ketus.
"Ehh, aku lupa. Ada Grace di sini." Ledek Adam.
Mr.Melv. dan Mrs.Melv. hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Anak - Anak mereka.
Ceklekk..
Ar masuk ke dalam ruangan rawat inap Sam. Dia terlihat begitu murung.
"Ada apa, Nak?" Tanya Mrs.Melv. pada Ar.
Ar berjalan mendekati Grace yang sedang menyuapi Sam. Lalu dia menceritakan apa yang membuatnya murung.
"Aku harus segera ke London. Pembangunan di perusahaan itu tertunda karna suatu hal, Dad." Ucap Ar dengan nada paraunya.
Mr.Melv. mendekati Anaknya dan memegang sebelah lengan sang Anak sambil berkata, "Hal apa yang bisa membuat pembangunan di sana tertunda, Ar?"
Ar menarik napasnya dan menghembuskannya secara perlahan. Dia melanjutkan perkataannya yang sempat tertunda sekaligus menjawab pertanyaan Mr.Melv.
"Ada yang membakar semua bahan bangunan yang sudah disediakan untuk pembangunan dan kita masih belum menemukan siapa pelakunya. Karena CCTV kita bertepatan kehilangan sinyal pada saat kejadian dan sampai sekarang, mereka masih belum menemukan apa - apa untuk mencari pelaku."
"Mungkin ini ada hubungannya dengan orang dalam." Tegas Adam.
Ar pun menganggukkan kepalanya dan berkata, "Iya, Kak. Aku juga berpikiran begitu. Malam ini juga, aku akan berangkat ke London agar aku tidak terlalu lama tiba di sana."
Grace sudah selesai dengan kegiatannya. Dia meletakkan mangkuk bubur itu ke atas meja yang berada di dekatnya. Dia berdiri dari bangkunya dan memeluk sang Suami.
"Jangan khawatirkan aku, Sayang. Aku akan baik - baik saja. Selama bersama semuanya, aku tidak akan pernah kesepian. Lusa, Sam sudah baikan. Jadi, aku tidak akan berlama - lama di Rumah Sakit ini, Sayang. Jadi, pergilah ke London. Mereka lebih membutuhkanmu saat ini. Pekerjaan di Kantor, akan aku handle dengan baik." Tutur Grace dengan panjang lebar.
"Aku bisa meminta Daddy untuk menggantikanku, Sayang. Kamu tidak boleh terlalu lelah. Ingat kata Dokter waktu itu, Sayang." Ar mengungkapkan rasa khawatirnya pada sang Istri.
Ar tidak ingin Istrinya itu terlalu terbebani dengan pekerjaan yang seharusnya dia lakukan. Dia tidak mau calon Anak di dalam kandungan Grace menjadi lemah karena rasa lelah yang dirasakan oleh Grace.
"Tidak, Ar. Dad sudah cukup lelah bekerja selama puluhan tahun. Sekarang sudah saatnya Dad menikmati masa tuanya saat ini. Aku yang akan menggantikanmu mulai besok. Jangan melarang aku." Tegas Grace pada Ar.
Dia tidak mau kalau dirinya hanya berdiam diri. Meskipun ini termasuk salah satu bentuk kepedulian orang - orang di sekitarnya, dia tetap akan berpihak pada pendiriannya.
Akhirnya, Ar mengangguk menyetujui permintaan Grace. Dia memeluk sang Istri dan mencium keningnya. Lalu ia berkata, "Ar berangkat dulu ya, semuanya."
Setelah di berpamitan pada semua orang, dia pun langsung berangkat ke London memakai jet pribadi yang sudah datang menjemputnya di lantai atas gedung rumah Sakit.
GRACE POV
"Sam, Kakak berangkat ke Kantor dulu ya.. Kamu baik - baik di sini. Robert akan menemanimu selama Kakak kerja. Jika kamu butuh sesuatu, katakan padanya ya, Sam." Ucapku pada Adikku yang sedang duduk di ranjangnya.
Sam mengangguk padaku dan berkata, "Semangat kerjanya ya, Kak. Jangan khawatirkan aku. Aku akan baik - baik saja. Apalagi ada si Robert di sampingku."
"Oke. Kakak pergi." Ucapku sambil lalu.
Aku pergi meninggalkan Rumah Sakit bersama dengan keempat Bodyguardku. Mereka akan selalu mendampingiku selamanya, kurasa.
Keadaan Sam sudah membaik. Dia sudah bisa berbicara banyak dan duduk di ranjang. Tapi, dia masih memerlukan bantuan orang untuk memapahnya masuk ke dalam kamar mandi. Kondisi kakinya masih butuh waktu untuk bisa bersih dari pengaruh obat bius itu.
Hari ini aku duduk di kursi milik Ar. Shei datang menghampiriku sambil membawa beberapa dokumen yang harus kuperiksa.
"Bu, ini semua berkas yang harus segera diperiksa. Aku akan mengambilnya kembali sekitar satu jam lagi. Karena Ibu dan Pak Steve akan menghadiri meeting di tempat Client." Tutur Shei padaku sambil meletakkan semua berkas yang dibawanya ke atas meja kerjaku.
"Terimakasih banyak, Shei." Ucapku sambil mengambil sebuah berkas untuk mulai keperiksa.
Aku tidak tau berapa lama Ar akan menetap di London. Selama dia baik - baik saja di sana, aku pasti bisa melewati hari - hariku dengan baik juga.
>>> Bersambung <<<
Sampai sini dulu ya..
Kita akan lanjut di next chap, Ingat untuk selalu beri like nya yaa, Kakak2..
Terimakasih bagi yang sudah support Author selama ini..
Salam Kasih untuk Yg Terkasih
~~ Love You All ~~