THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
67



"ARRIIOOOONN..!!" Teriak Grace begitu kencang. Airmatanya mengalir deras setelah melihat kecelakaan yang terjadi di depan matanya sendiri.


"Ar.. hiks.. Kenapa jadi begini..? Hiks.. Tidak mingkin..! Ini semua salah..! Arion..!!" Dengan langkah panjangnya, Grace menghampiri mobil yang dikendarai Arion.


Dia melihat banyaknya tetasan darah yang mengalir deras dari kepala Arion yang terbentur keras. Grace tetap dalam posisi menangis sambil membuka pintu mobil dan mengeluarkan Arion dari dalam mobil. Dia menangis tak henti - hentinya melihat keadaan Arion yang sungguh tragis.


"Hiks.. Ar.. Bangun Ar.. Jangan tinggalkan aku.. Hiks.. Kamu harus kuat, Ar.. Hiks.." Grace memeluk erat tubuh Arion yang sudah melemas tak berdaya.


"Gr.. Grace.." Ucap Arion dengan susah payah. Dia tidak tega melihat Grace menangis. Peristiwa itu terjadi begitu saja. Kecepatan mobil yang mengarah pada Grace tidak ada tanda - tanda memperlambat kecepatannya meskipun pengemudi itu menyadari keberadaan Grace. Ar yang melihat itu sudah yakin 100% bahwa mobil itu dengan sengaja ingin menabrak Grace.


Ar pun menghidupkan mesin mobilnya dan berputar 90⁰ untuk menghadang mobil itu mengenai Grace. Dia tidak menyangka, kecepatan mobil itu membuat mobil Ar terpental hingga membentur salah satu pohon yang ada di sana.


"Ar.. Bertahanlah sedikit lagi.. Hiks.. Aku akan menghubungi Ambulans.. Hiks.." Lalu Grace mengambil ponsel dari sakunya dan menelepon Ambulans.Mereka menjawab dan akan segera tiba di lokasi dalam waktu 10 menit.


"Ja.. Jangan.. Me.. na.. ngis.. Gr.. Grace.." Ar menunjukkan senyumannya yang kaku itu pada Grace. Dia senang melihat Grace peduli padanya, tapi dia tidak suka melihat Grace yang terlalu mengkhawatirkan dirinya sampai  seperti itu.


"Hiks.. Ar.. Jangan bicara lagi.. Kamu harus bertahan.. Hiks.. sampai Ambulansnya tiba.. Hiks.. Kamu harus kuat, Ar." Grace memeluk tubuh Ar yang sudah berlumuran darah. Dia tidak peduli lagi dengan penampilannya yang seperti orang gila pada saat ini. Baginya, Arion harus bisa bertahan.


"Gr.. Grace.. Ke.. ma.. ri.. lah.." Arion meminta Grace mendekatkan wajahnya. Grace hanya bisa menurutinya dan...


"Cup..!!" Arion mencium sekilas bibir mungil milik Grace dan dia berkata, "Aku.. a.. akan.. baik.. ba.. baik sa.. saja.. Jadi.. ja.. ngan.. menangis.. lagi.."


"Ar! Kamu itu ya! Sudah sekarat begini pun.. Hiks.. Masih saja mengambil kesempatan dalam kesempitan.. Hiks.. Kamu menyebalkan.. Sungguh menyebalkan.. Hiks.. Kamu harus Janji, kamu akan baik - baik saja.. Hiks.." Grace yang sedang kalut menerima ciuman itu pun mulai emosi. Saat ini emosinya bercampur aduk. Sedih, kesal, marah, malu, khawatir. Semuanya bercampur menjadi satu. Namun Arion masih menunjukkan senyuman terbaiknya.


"Aku jan..ji!" Setelah mengucapkan dua kata itu, Ar pun tidak sadarkan diri.


Grace begitu panik dan berteriak, "Ar..!! Bangun Ar..!! Kamu harus bertahan sampai akhir..!!"


Ambulans pun tiba di lokasi dan para petugas medis mulai bergerak cepat membawa kedua korban kecelakaan. Grace ikut dengan rombongan Ambulans sampai ke Rumah Sakit.


Sesampainya di Rumah Sakit, Ar langsung di masukkan ke dalam ruang UGD dan Grace pun tidak lupa memberi kabar kepada seluruh keluarganya tentang kecelakaan yang dia sendiri juga tidak tau pasti kejadiannya. Semua anggota keluarga mulai berbondong - bondong datang ke Rumah Sakit.


"Grace.. Yang sabar ya, sayang. Arion pasti kuat. Dia pasti bisa melewati ini semua. Mom juga sedih, yang lain juga bersedih mendengar kecelakaan yang menimpa Arion. Jangan menangis lagi, kita tunggu saja kabar dari Dokter." Mrs.Melv. langsung memeluk Grace dengan erat setelah mereka tiba di Rumah Sakit dan menghampiri Grace.


"Hiks.. Mom.. Arion, Mom.. Hiks.." Tak henti - hentinya Grace menyebutkan nama Arion.


Nama seorang lelaki yang sudah berhasil merebut hatinya.


Nama seorang lelaki yang sangat memujanya.


Nama seorang lelaki yang selalu ada untuknya.


"Steve, Dad ingin kamu mencaritahu tentang kejadian yang menimpa Arion. Cari tau dalang dari semua ini. Semuanya!" Mr.Melv. memberikan perintah pada Steve yang sedang berdiri di dekatnya.


"Baik, Dad. Semuanya akan aku selidiki secepatnya." Steve pun menjauh dari ruang UGD dan menelepon seseorang yang jauh di sana. Seseorang yang bisa dipercaya untuk menangani kasus ini.


Semuanya sudah tiba di Rumah Sakit. Menunggu operasi Arion selesai. Menunggu Dokter yang menangani Arion keluar dengan kabar baik. Mrs.Melv. tetap memeluk erat calon menantunya yang terus menangis dan suaminya hanya bisa mengelus pundak Grace yang pastinya sangat terpukul akibat kecelakaan yang menimpa Arion.


Papa dan Mamanya Grace juga sudah ada di sana. Adam dan Silvia tidak ketinggalan informasi juga berada di sana.


Hening..


Selama 8 jam penuh, tempat itu hening.


Yang terdengar hanyalah isak tangis Grace yang sudah lelah menangis.


TING.. TONG..


Bunyi itu menandakan pintu UGD telah terbuka. Dari balik pintu, muncullah seorang Dokter cantik yang masih muda.


"Dok, bagaimana keadaan Anak saya?" Dengan gerakan cepat, Mr.Melv. mendekati Dokter itu ingin mengetahui keadaan Anaknya.


"Operasi di bagian kepalanya berjalan dengan lancar dan sukses. Tapi, dia masih dalam masa kritisnya karena benturan di bagian kepalanya membuatnya banyak kehilangan darah. Sekaranglah masa - masa di mana dia membutuhkan Doa dan dukungan dari kerabat dan teman - temannya. Tapi, yakinlah Pak, Anak Bapak pasti bisa melewati masa kritisnya." Dokter itu masih menyempatkan diri untuk tersenyum.


"Terimakasih banyak ya, Dok, atas kabar dan sarannya." Mr.Melv. pun membungkukkan badannya dan memberi jalan untuk Dokter tersebut. Yang lain juga berterimakasih pada Dokter itu.


Sekarang Arion sudah berada di dalam ruang rawat inap VIP di Rumah Sakit BBC. Semua orang hanya menatap sendu keadaan Ar yang sedang berbaring lemah di tempat tidurnya dengan kepala terbalut perban, hidung terpasang alat bantu pernafasan dan pergelangan tangan yang menempel jarum infus.


"Mom, Dad. Kalian semua pulanglah. Biar Grace saja yang di sini menemani Ar malam ini," kata Grace dengan lirihnya. Dia tidak lagi menangis. Sudah habis airmatanya karena hampir setengah hari dia menangis.


"Baiklah, sayang. Kami pulang dulu. Kamu yang kuat ya? Daddy akan mengumumkan pada semuanya kalau pernikahan kalian di tunda karena Arion mengalami kecelakaan. Jangan sampai kamusakit, biar kamu tetap bisa menemani Ar kapan pun dia membutuhkanmu."


Sebelum mereka pulang, mereka mengadakan Doa bersama di dalam ruangan itu sambil mengelilingi tempat tidur Ar. Mrs.Victor lah yang memimpin Doa yang di khususkan untuk Ar.


Semua orang sudah bubar dan tinggallah Grace di sendirian. Dia duduk di sebelah tempat tidur Arion, memandangi setiap inchi dari lekuk wajah Ar. Grace teringat kata - kata terakhir yang diucapkan oleh Ar di Mansion tadi pagi.


'Mana tau, suatu saat nanti terjadi sesuatu padaku, kamu sudah memiliki tempat tinggal yang layak. Sebagai seorang suami, aku harus melindungi Istriku dari segala bahaya dari luar dan salah satu caranya dengan memberikan padamu tempat tinggal yang layak. Kita tidak mengetahui apa pun yang akan terjadi setelah ini.'


"Benar , apa katamu Ar. Kita tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi. Lihatlah, kamu menjadi seperti ini. Kamu sudah memberikan yang terbaik padaku, Ar. Aku akan menyerahkan berkas itu pada Steve besok, agar semua yang kamu inginkan terwujud. Maka dari itu, cepatlah sadar dari masa kritismu ini, Ar."


Sangkin lelahnya, Grace pun tertidur dengan posisi kepala tergeletak d atas tempat tidur Ar sambil memegang tangan Ar.


"Grace, pulanglah dan beristirahatlah. Kalau kamu sudah lebih fit, kamu boleh kembali ke sini." Ucap Mrs.Victor sambil mengelus lembut pipi Anaknya.


"Baiklah Mama. Grace akan pulang. Bye Mom, Bye Mama."


Grace pun keluar dari ruangan itu bersama dengan Steve. Dia akan pulang diantar oleh Steve.


"Kak, ini berkas yang sudah ku tandatangani. Terakhir kali kami bertemu, dia ingin memberikan ini padamu agar Kak Steve bisa langsung menyelesaikan tugas Kak Steve sampai tuntas." Grace pun memberikan amplop berwarna cokelat pada Steve yang sedang mengemudi.


Steve menerimanya dan berkata, "Baiklah, aku akan menyelesaikan semua yang sudah lama diperintahkan Arion padaku. Berkas ini sebenarnya sudah lebih dari setahun di genggamannya. Dia menyimpannya begitu lama, hanya untuk menunggumu. Dia yakin bahwa kamu akan kembali dan menikah dengannya."


Grace mulai terharu mendengar hal itu. Ternyata selama dia tidak ada, Arion sudah mempersiapkan semuanya. Arion bisa seyakin itu padanya. Padahal Arion sendiri tau bahwa Grace tidak menyukainya pada saat itu.


Matanya sudah berkaca - kaca. Airmatanya tertahan di dalam sana. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, dia harus tegar dan tidak menangis lagi. Ar pun sudah melarangnya. Ar memintanya untuk tidak menangis di detik - detik sebelum dia pingsan.


"Jangan bersedih lagi, Grace. Apa yang telah terjadi, biarlah semua itu berlalu begitu saja. Kamu harus tetap sehat dan tegar agar kamu bisa selalu berada di sisi Arion. Dia begitu membutuhkanmu saat ini. Dia sudah mempersiapkan semuanya untukmu. Kamu harus tau, kalau Mansion itu dibangun dari hasil kerja keras dia semasa dia berjaya menjadi model dan aktor. Jadi, jangan merasa kalau kamu itu tidak berdaya tanpanya. Kamu harus tetap jadi dirimu sendiri, tetap menjadi perempuan yang dicintai oleh Arion."


"Terimakasih banyak ya, Kak." Ucap Grace sambil menundukkan kepalanya.


"Ya sudah, kamu istirahat yang cukup. Besok baru jenguk Ar lagi." Steve merasa kasihan pada Grace. Dia tau bahwa Grace sudah membuka hatinya pada Ar dari sikapnya yang mulai hangat pada Ar sejak mereka pulang dari London.


Grace pun keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Untuk saat ini, di hanya butuh ketenangan. Dia merebahkan badannya di atas ranjang yang biasa digunakan olehnya dan juga Arion.


**********


"Kak Steve! Gimana keadaan Kakakku? Apa dia baik - baik saja?" Tanya Sam yang penasaran dengan kondisi Kakaknya. Dia belum sempat untuk mengunjungi Kakaknya dan juga menjenguk Arion.


"Dia baik - baik saja. Aku sudah memberikan dia sedikit nasehat untuk menguatkan dirinya," jawab Steve dengan singkat.


"Kak, bagaimana ini? Banyak sekali para wartawan yang ingin melihat secara langsung kondisi Kak Arion dan mereka memaksa untuk dipertemukan dengan Kak Grace. Aku sampai pusing untuk menghadapi wartawan yang brutal, Kak." Sam menunjukkan wajah kesalnya pada Steve.


"Seperti biasa, Sam. Kalau mereka duluan bertindak kasar, kamu bisa menggunakan bodyguard yang sudah diatur oleh Arion untukmu. Kamu jangan membuat kesalahan dengan memukul orang hanya karena emosi sesaat. Ingat itu, Sam! Kamu yang paling diandalkan di sini, untuk  mengurus para wartawan dan netizen dengan sejuta karakter." Steve mengingatkan Sam tentang hal yang sudah pernah dikatakannya.


Sam yang labil akan sangat berbahaya jika sampai bermain kasar dengan para wartawan. Dia bisa menjadi tameng bagi para hatters Arion untuk menjatuhkan nama besar keluarga Melviano. Sekarang Sam sudah lebih dewasa dibandingkan dengan waktu pertama kali bekerja.


"Sore ini, Daddy akan mengadakan jumpa pers di Aula Utama. Jadi, persiapkan segera segala keperluannya. Kamu pasti bisa, Sam." Steve pun berjalan menjauhi Sam. Dia memiliki janji temu dengan seorang Notaris yang sudah biasa menangani semua keperluan keluarga Melviano dalam jual beli tanah dan/atau bangunan.


"Baik Kak." Sam pun menuju ke Aula Utama untuk mengatur segalanya. Dia memang suka aktivitas seperti ini.


Sore harinya, Daddy benar - benar datang ke Aula Utama dan di sana sudah banyak wartawan yang menunggu.


"Selamat sore, semuanya. Saya mewakili Keluarga Besar Melviano untuk menyampaikan permohonan maaf yang sebesar - besarnya. Karena dalam beberapa hari ini, keluarga kami selalu memberikan kabar yang membuat semuanya merasa bahagia, kaget, kecewa dan sedih secara bersamaan. Dua hari yang lalu, saya mengumumkan bahwa Anak saya Arion Gavin Melviano akan menikah dengan perempuan dari keluarga biasa. Namun pada hari ini, saya mengumumkan bahwa acara pernikahan itu ditunda karena Anak saya baru saja mengalami kecelakaan dan harus dirawat secara intensif. Kondisi Anak saya tidak memungkinkan untuk melaksanakan upacara pernikahan tersebut. Sekian pemberitahuan dari saya dan terimakasih kepada semua orang yang sudah rela meluangkan waktunya untuk mengikuti jumpa pers ini. Saya mohon undur diri. Jumpa pers ini akan dilanjutkan oleh Steve."


Setelah kepergian Mr.Melv. muncullah banyak dugaan - dugaan yang tidak enak didengar tentang kecelakaan yang dialami oleh Arion.


"Apa benar, itu hanya sebuah kecelakaan?"


"Aku curiga, calon Istri Tuan Muda Melv. lah yang melakukan ini semua."


"Akh, masa? Kamu yakin dengan dugaanmu itu?"


"Dua tahun lalu juga ada kabar kalau mereka akan menikah, tapi baru sekarang ada undangan pernikahannya. Nah, saat besok adalah hari H nya, peristiwa ini terjadi begitu saja."


"Mungkin calon Istri Tuan Muda Melv. itu tidak menyukai kehidupan orang kaya, jadi dia menolak dan berusaha keras untuk membatalkan pernikahan ini."


 


Yahh, begitulah pemikiran - pemikiran para wartawan yang hanya pro pada Arion.


Jadi, apa yang akan terjadi setelah ini?


Penasaran bukan?


Lanjut saja next eps nya yaa... 😁😁


 >> Bersambung <<


**********


 Selesai membaca, jangan lupa klik tanda jempol sebagai apresiasi kalian terhadap Author ^.^


Dan beri komentar seputar ceritanya ya,, agar Author tau bagaimana respon pembaca pada cerita ini..


Apakah banyak yang suka? Atau malah banyak yang tidak suka?


Terima kasih bagi yang sudah setimembaca dan menanti kelanjutan kisah Arion dan Grace..


Ingat untuk singgah ke karya terbaru Author yang berjudul “NARA” yaa..


Salam Kasih buat yang Terkasih 😊🙏