THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
29



GRACE POV


"Bicaramu itu tidak lucu, Ar. Kamu mau di tokok ya? Makanya ngasal begitu bicaranya?"


Pertanyaan yang konyol menurutku itu. 'Arion terlalu lama menjomblo ini, makanya dia ngomongnya gak pakai di saring dulu.'


Arion cemberut mendengar jawaban dari Grace, "Yaaaahh, Grace.. Kamu itu gak pernah memihak sedikit pun pada ku. Aku kan juga pengen di panggil mesra oleh mu."


"Sudah lah, aku mau ajak ketiga adik ku masuk ke rumah. Kemungkinan kamarnya sudah siap. Mereka seharusnya sudah tidur jam segini."


"Dd Cici.. Ayo kita masuk. Kita ke kamar saja. Sudah saatnya tidur." Aku langsung menghampiri ketiga adikku itu dan membawa mereka ke dalam.


Arion masih saja mengekoriku, "Apa kamu tidak bosan daritadi mengikutiku terus?" Akhirnya aku bertanya padanya.


"Mom, kamarnya sudah siap kah? Adik-adikku akan tidur dimana, Mom?" Aku langsung saja meninggalkan Arion yang diam tidak menjawab pertanyaanku tadi.


"Oh iya, Mom kelupaan. Karena terlalu asyik mengobrol. Kamu ikuti saja kepala pelayan itu. Dia akan menunjukkan arahnya." Mommy menunjuk seseorang yang daritadi berdiri di pojok ruangan.


"Baiklah,Mom, Dad, Pa, Ma, kami ke kamar duluan ya. Adik-adik sudah mengantuk, kalian juga jangan keasyikan mengobrol. Selamat malam semua." Aku pun bergegas menuju kamar yang di tunjukkan.


"Non, ini ada tiga kamar kosong yang sudah disediakan. Non, bisa memilih kamar mana yang akan ditempati." Kata kepala pelayan itu sembari menunjukkan ke arah tiga kamar yang sudah dipersiapkan untuk kami sekeluarga.


"Baiklah, Pak. Terima kasih banyak." Aku membungkukkan sedikit badanku dan ku lihat dia tersenyum lalu pergi setelah membungkukkan badannya ke arah Arion.


Aku mempersiapkan air mandian hangat untuk kedua adik kembarku, biar mereka bisa membasuh diri sebelum tidur. Kamar sebelah kanan adalah kamar Sam dan sebelah kiri adalah kamar Papa Mama.


Selagisikembar mandi, aku menyiapkan pakaian tidur mereka yang ku letak di atas tempat tidur. Setelahnya, aku keluar dari kamar dan menutup pintu kamar.


"Kalau sudah siap semuanya, panggil cici ya, dek. Cici ada di depan pintu." Ucapku pada kedua adikku itu.


"Oke Cii.." Kata mereka bersamaan.


"Lho, Kenapa kamu masih disini? Kamu gak lelah berdiri terus seperti itu? Istirahatlah sana." Aku heran melihat seseorang yang sedaritadi begitu betah mengikutiku ini masih ada disini.


"Kamu tidak mau ikut dengan ku?" Ucapan Arion yang membuatku merapatkan kedua alisku.


"Memangnya kamu mau kemana? Kenapa aku harus mengikutimu segala?"


"Kamu akan tidur dimana, Grace? Kamu seharusnya tidak mengganggu acara tidur mereka."


"Gangguapanya? Aku yaa tidur dengan adik kembarku. Kami kan sudah biasa tidur bersama. Sana pergi, jangan berpikiran yang aneh-aneh deh."


Tiba-tiba pintu kamar terbuka, "Cici.. Kami sudah siap, kami tidur duluan ya, Cii.."


"Iya, tidurlah dd Cici." Aku menunduk dan kedua adik kembarku itu mencium kedua pipiku secara bersamaan. Lini mencium pipi kanan dan Lina pipi kiri. Sedangkan aku mencium kening kedua adikku itu.


Arion terkejut menyaksikan kemesraan kami ini. Lucu sekali ekspresinya itu. Kulihat kedua adikku itu sudah langsung terlelap. Mereka tidur dengan posisi unik masing-masing, tapi tetap memberi celah di sudut sebelah kiri tempat tidur untuk kutempati.


"Kamu begitu dekat dengan mereka. Padahal mereka kan..."


"Ar, mereka itu adik kecilku. Aku menyayangi mereka lebih dari siapa pun. Aku dan mereka malah lebih dekat dari perkiraan orang luar. Meskipun kami terlahir dari rahim yang berbeda, tapi kami memiliki kontak batin yang kuat. Jika salah satu dari mereka ada yang sakit, aku bisa merasakannya meskipun aku berada di kota yang berbeda dengan mereka."


"Grace?"


"Ya?"


Aku langsung dipeluk oleh nya. Dia juga mencium keningku dan berbisik pada ku, "I Love You."


Aku kaget sesaat mendapat pelakuan seperti itu. Aku mulai mengingat kejadian sebelumnya, saat di pantai. 'Apa mungkin..??"


Karena aku hanya terdiam menatapnya, dia mengucapkan selamat malam dan pergi.


Suaranya saat berbisik tadi, sepertinya sama persis dengan suara orang yang berbisik padaku di pantai.


Aroma dari jaket itu pun sepertinya sama dengan aroma parfum Arion. Mungkin jaket itu adalah miliknya. Tapi, apa dia memang ada ke pantai waktu itu?


**********


Keesokan paginya, aku bergegas untuk membasuh diri dan menampungkan air hangat di bathtub.


Saat selesai mengganti pakaianku, aku melihat kedua adikku itu masih saja terlelap tidurnya. Karena ini sudah pukul 7 pagi, aku membangunkan mereka. Seharusnya sudah waktunya untuk sarapan.


Begitu mereka bangkit dari tidurnya, aku langsung merapikan tempat tidur yang kami tempati dan menyediakan pakaian ganti untuk mereka berdua.


Aku teringat dengan kejadian tadi malam. Aku mengambil sebuah jaket dalam koper dan ku hirup aroma jaketnya. Aroma parfum pemilik jaket ini masih tertinggal meskipun sudah tidak sekuat aroma aslinya.


"Iya, ini sama persis dengan aroma parfum Arion. Berarti yang di pantai itu memang dia. Aku harus mengembalikan jaket ini padanya." Gumamku sendiri.


Tokk.. Tokk.. Tokk..


"Non, sudah waktunya sarapan." Kata seorang pelayan wanita.


"Iya, bi. Kami akan menyusul sebentar lagi." Ucapku pada pelayan itu tanpa membuka pintu kamar.


Karena waktunya tidak pas, aku mengurungkan niatku mengembalikan jaket itu. Aku melihat kedua adik kembarku keluar dari kamar mandi. Mereka pun dengan cepat mengenakan pakaiannya.


Sesampainya di ruang makan, kami sudah melihat semua nya duduk dengan rapi. Ternyata kursiku bersebelahan dengan kursi Arion. Mereka pasti sudah mengaturnya.


"Ayo dimakan. Kalian kan akan berangkat ke bandara, jadi jangan sampai kalian kelaparan selama perjalanan." Kata Daddy dengan senyuman khasnya.


"Oh ya, Dad. Steve akan menemani Sam balik ke Bandung. Aku sudah berpesan pada Steve untuk membantunya sampai di tujuan dengan selamat." Ucap Arion yang mendapat perhatian dari semua orang.


"Sejak kapan Kakak tau kalau aku mau ke Bandung? Apa Cici yang memberitahukannya?" Samuel bertanya padanya, aku pun tidak tau sama sekali kalau dia mengetahui hal itu.


"Hmmm.. Yah, mudah bagiku untuk mengetahuinya, Sam." Kata Arion dengan santainya.


"Ya sudah, jangan ribut. Kita kan sedang makan. Terima kasih ya, nak. Kamu sungguh perhatian pada Sam." Papa kelihatannya senang dengan calon menantunya itu.


"Tapi, sebelum orang Papa pergi, aku boleh mengajak mereka berjalan-jalan sebentar keliling kota?" Permintaan Arion ini sangat aneh.


"Yeee, kita mau jalan-jalan, Kak?" Tanya Lini dengan mata berbinar.


"Mau ikutlah, Kak." Ucap Lina dengan penuh semangat.


"Baiklah, tapi jangan lama-lama ya, Ar. Karena Papa gak mau kalau nanti kami kemaleman sampai rumah." Ucap Papa sambil tersenyum pada Arion.


"Terima kasih atas izin nya, Pa."


Kami pun melanjutkan sarapan kami. Arion menyuruh salah satu pelayannya menyiapkan sebuah mobil untuk dikendarai.


"Hati-hati di jalan ya, nak. Jangan ngebut-ngebut." Ucap Daddy.


"Ya, Dad."


Kami pun pergi berlima. Posisi duduknya tetap sama seperti tadi malam. Sam duduk disebelah Arion. Aku duduk bersama adik kembarku.


Kami berhenti di sebuah Mall, "Kita memang mau berkeliling kota atau berkeliling Mall, Ar?" Tanya ku padanya.


"Aku hanya ingin kalian pulang dengan membawa oleh-oleh dariku. Hehehe.." Ucap Arion sambil tersenyum kaku padaku.


"Baiklah, jangan salahkan aku kalau kamu menghabiskan banyak uang untuk memenuhi keinginan mereka. Karena adik-adikku ini sungguh tidak bisa menahan keinginan matanya."


Aku memperingatkan dia tentang kebiasaan adik-adikku jika mereka di bawa berbelanja ke Mall. Aku memang jarang membawa mereka ke Mall, karena aku tidak akan sanggup membelikan semua keinginannya. Takutnya, sikembar menangis karena tidak dipenuhi keinginannya.


"Bagiku yang terpenting itu kebahagiaan mereka, bukan semata karena uang." Ucapan Arion sungguh menyentuh hatiku, dia memang sudah berusaha keras membuatku menyukainya.


Arion pun menoleh pada ketiga adikku, "Ayo, kita berbelanja. Kakak yang traktir. Jangan sungkan untuk mengatakan apa yang kalian inginkan pada Kakak."


"Horrreee..!! Sudah lama kami tidak di ajak ke Mall seperti ini." Ucap sikembar serentak. Mereka memang terbiasa membicarakan hal yang sama secara bersamaan. Mungkin karena mereka kembar, makanya memiliki pikiran yang sama akan suatu hal.


Kami pun mulai memasuki dan mengelilingi Mall itu. Kami memulainya dari tingkat paling atas. Inilah caraku membawa mereka berkeliling Mall. Agar saat sampai di lantai dasar, kami bisa langsung menuju parkiran.


Sam pun sepertinya merasa nyaman dengan keberadaan Arion. Dia tidak segan-segan meminta dibelikan beberapa pasang pakaian bermerk. Karena selama ini, dia sangat menginginkannya tapi belum memiliki cukup uang untuk membelinya langsung.


Harganya pun cukup fantastis. Aku saja sampai ternganga mendengar nominal dari lima pasang pakaian itu. Lebih dari 8 juta? Yang benar saja.


"Apa ini tidak berlebihan, Ar? Kamu terlalu memanjakan mereka." Ucapku pada Arion yang dengan santai memberikan salah satu kartu nya pada kasir itu.


"Selama ini aku hidup sebatangkara, aku besar hanya berdua dengan Silvia setelah orangtuanya tiada. Biarkan aku menikmati masa-masa dimana aku memanjakan adik-adikku, Grace. Jangan melarangku, Grace."


Arion membawa kami keluar dari tempat itu. Masih beberapa lantai, belanjaan kami sudah sangat banyak. Aku sih, tidak begitu tertarik berbelanja. Selama berkeliling, aku hanya mengikuti kegiatan adik-adikku sambil membawa beberapa belanjaan mereka.


"Grace, biarkan aku yang membawakan handbag yang ada pada mu. Kamu juga, belilah sesuatu." Arion tampak tidak tega melihatku membawa barang belanjaan yang bukan milikku.


"Tidak perlu. Aku bisa sendiri. Dan juga, aku tidak berniat untuk membeli apapun. Karena tidak ada yang menarik perhatian ku selain kegiatan ketiga adikku ini." Aku hanya tersenyum padanya.


Ku lihat dia merasa tidak nyaman dengan perkataanku. Mungkin dia kebingungan dengan sikap ku yang aneh ini. Ya! Aku memang sudah puas dengan melihat wajah berseri ketiga adik ku, sehingga aku tidak begitu memperhatikan model pajangan yang ada disetiap toko di Mall ini.


"Dek, kalian belum capek juga? Kita duduk bentar yuk! Sekalian ngemil." Aku menunjuk ke sebuah stand ice cream yang banyak dikunjungi orang. Kami duduk di bangku kecil yang tersedia disekeliling stand itu.


Setelah memesan ice cream untuk kami berempat, baru kusadari, Arion tidak ada bersama kami. Apa dia kesasar? Tidak mingkin.


Aku sudah memesan, membayar dan membawa ice cream itu pada ketiga adikku. Aku juga makan ice cream di sebelah Sam.


Tak berapa lama, aku mendapat panggilan dari Arion, "Grace. Kalian sekarang ada dimana?"


"Kami di stand ice cream yang bundar di lantai 3, Ar. Kamu dimana? Kok menghilang begitu saja?"


"Ahh, oke. Aku sudah melihat keberadaanmu."


Panggilannya berakhir begitu saja. Aku di kacangin deh..


Dia menghampiri kami dan melihat kami sedang santai memakan ice cream. Dia mendekati ku dan duduk disebelahku.


"Eehh, kok kamu ambil punya ku? Beli sendirilah, kalau memang mau makan ice cream nya."


Dia membuatku kesal! dia menyambar dan memakan ice cream ku dengan lahap. Padahal aku sangat suka dengan ice cream matcha seperti itu. Sangat jarang bagiku mendapatkan rasa ice cream matcha yang pas di lidahku.


Dia melirik ke arahku sebentar dan tersenyum padaku, "Jangan cemberut gitu lah, Grace. Nanti cantiknya hilang lhoo.."


"Nih di makan, tapi aku suapin ya." Kata Arion sambil menyendokkan ice cream itu padaku.


"Jangan gila, Ar. Kamu itu mau di tabok ya? Main nyuapin orang di depan umum begini. Udah lah, cepetan habisinnya. Kita masih mau berkeliling 2 lantai lagi. Jangan kelamaan pulangnya."


Ucapku acuh tak acuh padanya. Mereka berempat pun menghabiskan ice cream nya. Kami bergerak lagi untuk mengelilingi lantai kedua dan pertama dari Mall ini. Sungguh melelahkan.


**********


Sesampainya dirumah, Steve sudah bersiap dengan mobilnya. Sudah waktunya dia mengantar Sam ke Bandung.


Sam memeluk kedua orangtua kami dan juga memberi salam kepada kedua orangtua Arion. Tiba-tiba dia memeluk Arion dengan erat. Aku hanya bisa terkejut melihat tingkahnya.


"Terima kasih banyak Kak Ar, untuk hari ini. Sam sudah merasa nyaman dengan Kakak, padahal kita baru dua hari bertemu. Sam bangga dengan pilihan Cici. Sam berangkat ya, Kak. Jangan lupa berkunjung ke tempatku ya, Kak. Aku pasti merindukanmu."


"Macem mau pergi jauh aja kamu, Sam. Jangan bertingkah seperti anak kecil. Sama Cicinya ajah cuma salam sekedar, sama Arion? Sampai meluk gitu. Lu itu adik aku atau adik dia sih?" Celetukku geram melihat tingkahnya itu.


Semua yang ada disitu tertawa terbahak-bahak mendengar perkataanku. Apalagi Arion, dia menaikkan sebelah alisnya itu sambil melihat ke arahku.


"Kamu juga ingin dipeluk? Sini kupeluk." Katanya sambil melepas pelukannya pada Sam dan menoleh ke arah ku.


"Gak perlu, siapa pula yang mau dipeluk sama kamu. Aku cuma heran dengan adikku itu, Samuel Victor. Kenapa dia bisa jadi lebih dekat denganmu dibanding aku? Gak adil namanya ini."


"Jangan cemburu gitu lah, Cii.. Aku gak akan merebut Kak Arion dari Cici. Tenang saja, aku kan sudah mau ke Bandung. Hehehe.. Bye semua."


"Memang pengen di timpuk nih anak laa.."


Aku melirik geram pada Sam yang terburu-buru menuju ke arah mobil. Dia masih takut jika aku memarahinya. Karena dia tau aku itu belum menyukai Arion, tapi dia malah menggodaku begitu.


Kalau dia masih berada didekatku, sudah ku timpuk tuh anak pakai kepalan tanganku ini. Memang adik yang tak berbakti.


"Ya sudah, kami juga akan berangkat ke Bandara. Terima kasih untuk semuanya." Kata Papa pada Mom and Dad.


"Iya, Terima kasih sudah membuat kami nyaman selama ada disini." Ucap Mama dengan senyuman.


"Yah, nanti kami juga akan ke sana menginap. Untuk membantu mempersiapkan segala sesuatunya." Ucap Mommy pada Mama.


Kelihatannya mereka sudah semakin dekat. Padahal semalam Mama kurang menerima keberadaan keluarga Arion. Baguslah kalau begitu.


Tiba-tiba tangan ku ditarik Arion menuju ke kamarnya, "Apaan sih, Ar? Ngapain kamu bawa aku kesini? Sudah waktunya kami berangkat lhoo.."


Begitu aku berbalik, lenganku ditahan olehnya dan seketika aku berhenti melangkahkan kakiku. Aku merasakan sesuatu yang dingin di leherku dan aku jadi tidak bisa bergerak karena nafas Arion begitu terasa dari belakangku.


'Dia mau ngapain sih?' Ucapku membatin sambil memejamkan mataku.


Aku tidak berani melihat hal apa yang akan terjadi saat ini.