THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
31



Terkhir kali berpikir keras, aku tertarik untuk membeli jam tangan couple sebagai oleh-oleh tambahan dari ku. aku juga tidak lupa membeli brownies untuk diberikan kepada adik kembar Grace.


Padahal baru saja aku menemui teman ku sebentar di salah satu stand di Mall ini, aku menerima telepon untuk segera pulang ke Mansion Utama. Jadwal penerbangan kami dimajukan, karena ada acara yang memang harus kami hadiri siang ini.


Setelah tiba di Mansion Utama, aku melihat Adam sudah menunggu kedatangan kami berdua.


"Ayo, kita berangkat." Ucap Adam padaku.


Kami pun menaiki jet pribadi agar sampai di tempat tujuan lebih cepat. Karena Silvia mendapat kabar dari Daddy, kalau di sana ada tanah yang lapang dan cocok untuk parkir jet pribadi kami.


AUTHOR POV


"Ma, sebenarnya bagaimana kejadiannya, sampai Mama bisa di culik begitu sama orang-orang ini?" Grace menginterogasi Mamanya yang baru saja siuman.


"Grace, biarkan Mama mu sadar sepenuhnya dulu, baru kamu tanya-tanyain seperti itu. Kasian Mama nya, masih lemas karena obat bius itu." Kata Mr.Melv.


"Baiklah Dad, aku ambilkan air hangat dulu untuk Mama."


Grace pun mengambil air hangat dari dapur dan membantu Mama nya untuk meminumnya. Mama nya sekarang sudah bisa melihat orang disekitarnya dengan jelas. Dia juga sudah mengingat semua kejadian itu dan menceritakannya dengan perlahan.


Flashback On


Pagi hari pukul 8..


"Pa, Mama mau ke Minimarket sebentar ya. Ada yang kurang bahannya, sekalian mau belikan jajanan sama si kembar. Biar mereka tidak bosan di rumah melulu." Ucap si Mama.


"Ma, Mama pakai sepeda motor saja. Biar gak lama kali. Mau ditemani, Ma?" Kata Grace sambil menyodorkan kunci sepeda motor pada si Mama.


"Gak perlu. Mama kan cuma sebentar. Kamu itu harus bersiap-siap. Nanti kamu di antar Daddy mu ke rumah Inanguda (Adik Perempuan Mama yang sudah menikah-logat Batak) mu mengantar perlengkapan yang dibutuhkan ke sana. Cek kembali, jangan sampai ada yang ketinggalan."


"Baik, Ma." Grace pun bergegas memeriksa kembali perlengkapannya. Sebenarnya mereka cukup sibuk dua hari ini.


Sebenarnya semalam sudah ada acara Marhusip yang hanya pihak keluarga yang berkumpul di rumah membicarakan Sinamot -Mas Kawin- yang akan diberikan oleh pihak calon mempelai laki-laki kepada pihak calon mempelai perempuan dan acara ini tertutup untuk umum.


Setelah hal itu dibicarakan, sebenarnya Arion harus tiba di Siantar pukul 2 siang di hari sabtu. Karena ada acara Marhata Sinamot -Topik pembicaraan lebih dominan mengenai Sinamot- yang mengundang beberapa tetangga sebagai tamu sekaligus saksi terjadinya pembicaraan dan penyerahan Sinamot dari mempelai laki-laki kepada mempelai perempuan.


Si Daddy pun segera mengabari Silvia untuk urusan membawa Arion tepat waktu di hari sabtu nanti. Karena itu akan menjadi acara yang cukup rumit jika sang mempelai laki-laki tidak hadir.


Grace bersama Mom and Dad pergi ke rumah Inanguda nya. Mereka saling memberi salam dan setelah semua titipan ya di tata rapi di dalam sebuah ruangan, mereka pun berpamitan.


"Hari sudah menjelang sore, kenapa Mama gak pulang-pulang, Pa?" Grace bertanya karena dia merasa curiga dengan kepergian si Mama yang tak kunjung pulang.


*ini bukan kisah bang Toyib ya guys


"Iya juga, ya. Kalau pun Mama singgah ke suatu tempat pun tidak mungkin selama ini. Coba kamu telepon Mama pakai ponsel Papa saja." Si Papa mulai khawatir, tapi dia harus pergi ke Pabrik Bihunnya. Karena sudah waktunya penutupan pembukuan harian.


"Papa pergi bareng Daddy mu dulu ya, Grace. Papa takut telat nih. Nanti hubungi Daddy mu kalau terjadi sesuatu." Kedua lelaki itu pun pergi dari rumah menuju ke Pabrik Bihun.


"Oke Pa. Hati-hati mengemudinya ya, Dad." Grace pun mengambil alih ponsel Papa nya dan berusaha mencoba menelepon ke ponsel Mama nya berulang kali.


"Bagaimana Grace?" Tanya si Mommy.


"Belum di angkat, Mom." Grace masih mencoba menelepon.


Disisi lain...


"Kalian siapa? Jangan macam-macam, hmmmpph.." Mrs.Victor di bius menggunakan sarung tangan seseorang dari belakangnya.


Mereka berlima langsung memasukkan Mrs.Victor ke dalam mobil van hitamnya. Mereka membiarkan belanjaan Mrs.Victor tergeletak di dekat sepeda motornya, karena terjatuh dari tangan si pemilik.


"Kalian siapa? Kenapa kalian menangkapku?" Teriak Mrs.Victor disaat dia sudah tersadar dan melihat dia berada di sebuah ruangan kumuh dikelilingi lima lelaki berbadan kekar.


"Aku ingin kamu memancing anakmu, Grace untuk datang kesini. Jika dia datamg kemari dengan sendirinya, kamu akan dibebaskan. Anak mu akan kami serahkan kepada Tuan kami." Kata salah seorang bandit yang sepertinya yang paling berkuasa di antara lainnya.


"Aku tidak akan mau mengikuti apa yang kau perintahkan. Dan tidak akan pernah." Ucapan Mrs.Victor membuat semuanya merasa geram.


"Cepat rogoh sakunya! Ambil ponselnya dan bawa kemari!" Ucap si bandit tadi pada keempat anak buahnya.


"Ini Bos, ponselnya."


"Buat pesan singkat, berikan alamat tempat ini dan kirim pada Grace. Cam kan bahwa dia harus datang sendiri jika ingin Mama tercintanya selamat."


"Sudah Bos."


**********


Saat Grace mengaktifkan ponselnya, dia terkejut melihat pesan singkat yang diterimanya dari Mama nya.


'Ternyata itu orang lain, bukan Mama. Mama di culik.' Gumam Grace dalam hati.


Grace segera bergegas memakai jaket dan mengambil sebuah sarung tangan yang agak panjang untuk dipakainya bertarung. Dia harus menyelamatkan Mamanya.


Si Mommy sempat kebingungan. Dia ingin melarang Grace pergi sendirian, tapi Grace sudah memberitahukan pada si Mommy, dia akan pergi bersama temannya.


Grace memang menghubungi seseorang. Dan benar saja, dia di jemput menggunakan sebuah mobil van putih. Lelaki yang menjemputnya cukup kekar dan terlihat sangar.


Saat si Mommy melihatnya, lelaki itu tersenyum ramah dan meminta izin keluar bersama Grace dengan sopan. Grace berhasil meyakinkan si Mommy dengan kepergiannya dan hasilnya si Mommy memberikan izin nya.


"Bang, jangan sampai ketahuan kalau Grace bersama dengan orang Abang. Nanti bisa membahayakan Mama." Grace berbicara dengan orang di sebelahnya.


"Santai saja Grace, kamu kayak tidak tau Abang ajah. Jangan lupa dengan pekerjaan Abang. Abang sudah terbiasa dengan hal sepele seperti ini." Ucap lelaki itu sambil memainkan kacamata yang bertengger dihidungnya.


"Baiklah, Bang. Grace masuk duluan ya, Bang."


Grace segera menggulungkan sarung tangan ke telapak tangan kanannya. Dia sudah siap untuk bertarung. Dia menendang pintu masuk rumah kumuh itu. Rumah itu berada di sudut kota dan masih berada di antara pohon-pohon rindang.


"Aku sudah datang, cepat lepaskan Mama ku!" Grace berteriak bsgitu kencang kepada bandit yang ada dihadapannya.


"Grace? Kenapa kamu bisa ada disini? Kamu sendirian?" Ucap si Mama yang tangan dan kaki nya sudah diikat tali.


Karena ada yang mendekat dan menyentuh bahu pada Grace dari belakang, tidak segan-segan orang itu dibanting begitu saja oleh Grace. Semua yang hadir sangat terkejut, begitu pula si Mama.


"Cepat, bius kembali Mama nya, dia tidak akan berani melawan jika Mama nya masih ada sama kita!"


Begitu dapat perintah, salah seorang dari mereka membekap mulut si Mama hingga pingsan. Grace sangat marah melihat perlakuan mereka terhadap Mama nya.


Begitu dia lepas kendali, dia menghajar habis keempat anak buah bandit tersebut. Mereka sampai tidak bisa bangkit karena sudah babak belur.


Bandit itu menjentikkan jarinya dan muncullah sepuluh anak buahnya lagi. Dia masih dengan posisi yang sama, duduk di sebelah kursi Mama Grace.


Tiba-tiba sepuluh orang itu dihajar oleh sepuluh orang dari arah belakang. Bandit itu terkejut melihat keberadaan orang asing di rumah itu.


Karena panik, sebenarnya dia ingin mengambil pisau kecil dari sakunya dan menodong Mama nya Grace. Tapi dia kalah cepat.


Dia jatuh pingsan dehh..


"Terima kasih banyak Abang ku yang paling T.O.P dan paling baik seluruh dunia." Grace tersenyum dengan lelaki itu.


"Ayo, kita papah dulu Mama ke mobil. Nanti banyak yang khawatir sama kamu pula, karena belum pulang-pulang. Kan bahaya."Ucap lelaki itu sambil membuka tali ikatan pada Mrs.Victor.


"Ayo. Kita langsung pulang ya, Kak. Mama di rawat dirumah saja."


"Baiklah."


Sebelum pergi, mereka melihat ada beberapa orang berpakaian serba hitam menuju ke rumah kumuh itu. Tapi, mereka tidak mau terlibat lagi, jadi mereka langsung masuk ke dalam mobil.


Mereka pun segera menuju ke rumah Grace. Setibanya mereka, seisi rumah keluar dan Papa nya Grace menggendong sang istri untuk di terlentangkan di kasur.


"Makasih Banyak ya, Bang. Hari Minggu ini jangan lupa ke Gereja kita, ada Acara Martuppol Grace dengan Arion. Kalian semua harus hadir ya, Abangku semuanya."


"Pastinya, dek. Jangan lupa, besok kamu harus perkenalkan kami dengan calon suami mu itu. Ya, sudah. Kami pulang dulu ya."


"Hati-hati di jalan Abang-Abang ku."


Grace melambaikan tangannya dan melihat kepergian mereka. Tiba-tiba Daddy memgang bahu Grace, "Grace?"


"Ya, Dad?"


"Kenapa kamu pergi dengan mereka? Kenapa kamu tidak menghubungi Daddy terlebih dahulu?"


"Dad, Grace di suruh datang sendirian. Grace takut membahayakan kalian. Jadi, Grace perginya sama mereka, Pa. Mereka itu kenalan Grace yang jago bela diri. Mereka yang melatih Grace untuk bisa menjaga diri sendiri sejak SMA."


"Baiklah, Grace. Kita masuk dulu. Daddy mu juga sudah menyuruh anak buah nya ke rumah kumuh itu. Mereka bilang semuanya sudah mati karena bunuh diri saat diinterogasi mengenai Tuannya."


"Apa? Yang benar saja, Pa. Mereka rela bunuh diri demi melindungi Tuan nya? Memang biadab Tuan nya itu. Siapa pun dia, kalau sampai aku tau, orangnya akan ku hajar sampai minta ampun. Beraninya dia menculik dan membuat Mama seperti ini."


Grace merasa geram mengingat dia tidak bisa mengetahui orangnya siapa. Kemungkinan mereka adalah orang yang sama dengan yang mengejarnya beberapa hari lalu.


Dia sempat berpikiran kalau pelakunya adalah Cakra. Tapi, mereka masih belum memiliki bukti yang konkret. Cakra pun sudah tidak pernah menampakkan batang hidungnya sejak hari itu.


Flashback Off


"Jadi, Grace? Kamu memang beneran membanting pria berotot itu kan? Mama gak salah lihat?" Mama bertanya pada anaknya itu.


"Hmmm.. Bener Ma, memang Grace tadi tidak sengaja membantingnya. Soalnya, dia nyentuh bahu Grace, Ma. Grace kan tidak suka di sentuh oleh orang yang tidak dikenal."


Grace menundukkan kepalanya. Dia merasa enggan untuk memberitahukan kepada keluarganya kalau dia memang jago dalam bela diri.


"Kamu tau, orang itu sangat berotot dan kekar. Kamu sanggup secara tidak sengaja membanting nya dari belakang ke depan. Mama sempat tidak percaya dengan ingatan Mama sendiri. Tapi, sejak kapan kamu belajar bela diri begituan? Bukannya kamu itu selalu fokus belajar dan bekerja ya?"


Si Mama merasa bingung sendiri mengingat kejadian tadi sore. Dia yakin sekali kalau anaknya tidak punya waktu untuk berlatih yang begituan.


"Sejak SMA, Ma. Sejak kerja di Rumah Makan itu. Grace diajari seorang teman di saat senggang. Dulu kami kenal karena dia juga kerja di sana selama tiga tahun penuh, Ma." Grace menjawab dengan hati-hati.


"Sudah, sudah, sudah. Biarkan Mama istirahat dulu. Oke?" Papa nya Grace segera menyelimuti istri nya dan keluar dari kamar mengikuti Grace.


"Grace? Apa orang yang tadi itu yang mengajarimu dan dia juga yang membantumu menyelamatkan Mama?" Si Papa bertanya dengan ekspresi serius.


"Iya, Pa. Grace sudah undang dia untuk hadir di hari Minggu. Jadi, Grace bisa mengenalkan mereka pada Papa dan semuanya." Ucap Grace dengan wajah memelas.


Dia sudah lelah, tidak mau berdebat lagi. Karena cukup menguras tenaga untuk menghajar empat orang yang kekar badannya.


"Baiklah, kalau begitu. Mari kita makan malam terlebih dahulu. Kamu sudah lapar kan?" Tanya si Papa pada anaknya.


"Sudah, Pa. Ayo Mom, Dad. Kita makan malam dulu. Dd cici juga, ayo makan." Grace menggenggam tangan kedua adiknya itu.


Mereka pun makan bersama. Setelahnya, mereka melakukan kegiatan masing-masing.


"Sayang, kamu lihat tadi? Yang bersama dengan Grace itu, sepertinya bukan orang biasa. Aku sepertinya mengenalnya, tapi tidak tau kapan dan dimana tepatnya." Mr.Melv. mulai bercerita kepada istrinya yang sedang duduk di atas tempat tidur mereka.


"Iya, aku juga merasa sepertinya pernah bertemu dengannya. Tapi, tidak ingat sama sekali. Wajahnya sangat familiar." Jawaban sang isteri malah membuat sang suami semakin khawatir.


Mr.Melv. khawatir jika orang-orang itu sengaja mendekati Grace karena mau menjauhkannya dari Arion. Dia memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.


'Mungkin saja sebagian dari mereka sengaja menculik Mamanya Grace dan sebagian lagi berpura-pura membantu Grace. Sehingga mereka bisa lebih mudah membawanya di saat genting.'


Pikiran Mr.Melv. sudah ngelantur entah kemana saja. Dia lupa bahwa mereka lah yang bersama dengan Grace menolong Mama nya.


Mr.Melv. sempat memberitahukan Arion tentang masalah penculikan itu. Tapi, dia tidak mungkin memberitahukan bahwa Grace pergi bersama orang asing untukmenolong Mamanya. Jadi, dia sedikit berbohong pada anaknya.


Dia menghubungi Arion dengan maksud ingin membuat Arion memberikan jejak lokasi nomor ponsel Grace. Karena Arion memang ahli dalam bidang itu. Dan itu akan mempermudah Mr.Melv. untuk menemukan Grace.


Sebenarnya Arion curiga, 'Kenapa harus melacak nomor ponsel Grace? Bukannya Mama yang diculik?'


Tapi, bukan Mr.Melv. namanya kalau dia tidak dapat mencari alasan. Alasannya adalah ponsel si Mama lowbat jadi dia membawa ponsel Grace sebagai gantinya.


Setelah Mr.Melv. mendapatkan lokasi nomor ponsel Grace, dia langsung memberikan perintah kepada beberapa bodyguardnya yang di ajak bersama dengannya datang ke Siantar dari Jakarta.


Setelah mereka datang ke rumah kumuh itu, mereka memberi kabar bahwa semua bandit yang berjumlah 15 orang tépar semuanya. Dan pada saat mereka terbangun, mereka langsung diinterogasi. Bukannya mendapat jawaban, mereka malah mengambil pistol dari sakunya masing-masing dan bunuh diri.


Mr.Melv. sangat kecewa dengan berita buruk itu. Langsung saja dia meminta tolong kepada seorang temannya dari BIN -Badan Intelijen Negara- untuk mencaritahu tentang Tuan dari para bandit itu.


Semua bukti yang ada di rumah kunuh itu dan mayat para bandit itu sementara di jaga oleh anak buah Mr.MElv. sampai anggota BIN itu muncul dan memeriksa semuanya.


Mr.Melv. merasa khawatir akan pelaksanaan acara di hari sabtu dan minggu nanti. Takutnya akan ada masalah lainnya yang menanti mereka di depan sana.


Mr.Melv. akan menyewa pihak kepolisian pada kedua hari itu, agar penjagaannya bisa lebih ketat. Dia tidak ingin semuanya batal karena hal seperti tadi sore.


Acara Matuppol nya itu diadakan dipagi hari di Gereja HKBP -Huria Kristen Batak Protestan- dan sepulang Gereja mereka akan langsung mempersiapkan segalanya untuk acara pernikahan yang akan dipastikan waktunya setelah acara Marhata Sinamot besok siang selesai.


Semua cetakan undangan akan di pesan pada hari senin dan jika sudah selesai, akan di antar ke rumah dan langsung di tandai. Ada beberapa undangan di antarkan langsung ke rumah tamu undangan dan ada juga yang di foto dan di kirim melalui chat.


Beberapa hari ke depan mereka akan disibukkan dengan kegiatan seperti pemantauan persiapan gedung/wisma untuk acaranya, pemesanan pernak-pernik sebagai souvenir pernikahan, dan lain sebagainya.


Sebenarnya, setelah acara Martuppolnya selesai, pihak laki-laki tidak boleh menemui pihak perempuan sampai pada hari Acara Pernikahannya.


**********


Apakah Arion dapat menyanggupi persyaratan itu?


Apakah feeling buruk Mr.Melv. akan benar-benar terjadi?


-Silahkan menebak terlebih dahulu di kolom komentar, selama menunggu eps selanjutnya, agar bisa menjadi saran untuk menambah ide Author-


Terimakasih :)