
Drrrttt.. Drrttt.. Drrttt..
Loh? Ponselku di mana? tanya Lisya pada dirinya sendiri. Dia mendengar suara ponsel berbunyi, tetapi dia tidak menemukan apapun di sekitarnya.
"Halo. Ya, Ar, ada apa?" Steven menerima panggilan tersebut.
Lisya terlonjak kaget mendengar suara Steve yang berada di balik pintu kamar mandinya. Dia segera bangkit dari tempat tidurnya dan bermaksud menghampiri Steve di dalam sana. Namun, ada hal yang lebih mengejutkannya lagi. Dia tidak mengenakan pakaian, walau sehelai benang pun!
"Ahh!" teriaknya yang kaget melihat tubuh polosnya.
Steve yang sedang mendengarkan suara teriakan Lisya, langsung keluar dari kamar mandi. Dia mengabaikan Arion yang sedang bercerita padanya. Begitu pintu kamar mandi terbuka, betapa kagetnya dirinya melihat keadaan Lisya yang polos.
Steve langsung menarik jubah mandi dari gantungan yang berada di dekatnya, berjalan ke arah Lisya sambil menutup matanya, dan menutupi tubuh mungil Lisya secepatnya tanpa sempat memikirkan hal lainnya lagi. Setelahnya, ia membalikkan tubuhnya dan berkata, "Cepatlah mandi. Aku akan menunggumu. Maafkan aku, karena telah melihat hal yang seharusnya tidak aku lihat."
Lisya terkagum melihat Steve yang sangat santun terhadapnya dan tidak terlihat niat jahat sedikitpun terlihat dari seorang Steve yang sudah melihatnya dalam keadaaan tanpa busana. Dia tidak ingin menyusahkan Steve lebih lama lagi dan langsung menuruti perintah Steve yang menyuruhnya untuk mandi.
Setelah dirinya menyelesaikan ritual mandinya, Lisya mencari pakaian untuk dikenakan oleh Steve. "Steve, mandilah dan pakailah ini," ujarnya sembari menyodorkan setelan jas yang sesuai dengan ukuran badan Steve.
"Lho? Sejak kapan kamu menyimpan pakaian laki-laki di lemari pakaianmu, Sya?" tanya Steve yang sudah penasaran dengan apa yang dilihatnya. "Setahuku, kamu tidak pernah menyimpan pakaian pria di kamarmu," lanjutnya.
"Aku membelinya saat kamu menghilang. Aku menggunakannya sebagai obat rinduku padamu, Steve. Tenang saja, semua pakaian yang aku beli itu sesuai dengan ukuranmu. Aku tidak pernah menyimpan pakaian pria di kamarku, sebelum aku menyukaimu. Mandilah, jangan lagi membuang waktumu. Sudah waktunya kita keluar dari kamar ini dan berangkat kerja," tutur Lisya yang sedari tadi menahan rasa malunya.
Steve tersenyum dan mengambil setelan jas dari tangan Lisya. Ia juga mengecup kening Lisya sebelum akhirnya ia masuk ke dalam kamar mandi. Lisya yang mendapat perlakuan manis itupun tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dirinya merasa begitu beruntung telah menerima Steve sebagai pendamping hidupnya.
**********
Lisya mencari kunci pintu kamarnya yang disimpannya di dalam laci kaca riasnya. Mereka pun keluar dari kamar. Karena ada hal yang sangat mendesak -Grace sudah mulai berkontraksi hebat- maka, Lisya dan Steve bergegas ke mansion utama. Lisya akan memberi perhitungan pada Papanya sepulang dirinya dari kegiatannya malam nanti.
Sepanjang perjalanan, Steve menceritakan kejadian yang dialaminya tadi malam. Mulai dari bagaimana dirinya bisa menemukan Lisya dan membawanya pulang, hingga bagaimana dirinya terkunci dan bertahan berada di dalam kamar Lisya menghadapi keganasan Lisya yang sampai merobek pakaiannya malam itu.
Lisya menundukkan kepalanya sambil berkata, "Maafkan aku yang selalu menyusahkanmu ya, Steve. Maafkan Papa yang menyebalkan itu. Papa benar-benar sudah melewati batasan. Aku akan memberinya peringatan malam ini juga."
Steve terkekeh mendengar ucapan Lisya. "Aku tidak pernah merasa disusahkan oleh siapa pun juga, termasuk dirimu. Karena aku melakukannya atas kemauanku sendiri," ucapnya tanpa menoleh sedikit pun pada Lisya.
Sesampainya mereka di mansion utama, Steve dan Lisya langsung berjalan ke kamar Arion yang berada di lantai dasar. Selama Grace hamil besar, Arion memang sengaja memilih kamar bawah untuk melindungi Grace dari bahayanya anak tangga dan sejenisnya.
"Ar, sakit." Terdengar rintihan kesakitan yang dirasakan oleh Grace.
"Ar, sudah berapa lama Grace merasakan kontraksi yang seperti ini?" tanya Lisya yang sudah masuk ke dalam kamar Arion. Bukannya tidak sopan, dia hanya terlalu khawatir dengan kondisi Grace dan kandungannya.
"Sudah sejak subuh tadi, dia merintih kesakitan. Apa mungkin dia akan melahirkan?" tanya Arion pada Lisya.
"Kalian berdua, keluarlah. Aku akan memeriksanya sebentar," perintah Lisya yang sudah siap dengan momennya.
Arion dan Steve keluar dari kamar dan menutup kembali pintu kamar itu. Lisya memulai pekerjaannya, memeriksa keadaan Grace secara menyeluruh. Posisi bayi sangatlah kacau, Lisya menyadarinya saat ia tidak bisa mendengar dengan jelan detak jantung sang bayi.
Setelah mengetahui hal itu, Lisya langsung memanggil Arion dan Steve untuk membantunya membawa Grace ke Rumah Sakit tempat ia bekerja, Dia juga sudah mengirimkan pesan kepada temannya yang ahli di bidang ini untuk menolong Grace.
"Ar, ada yang tidak biasa dengan kandungan Grace. Kita harus secepatnya pergi ke Rumah Sakit tempatku bekerja. Aku sudah meminta bantuan temanku yang ahli dalam bidang ini. Cepat! Sebelum kita terlambat. Grace harus segera mendapatkan penanganan yang tepat," perintahnya yang begitu khawatir dengan keadaan Grace.dan kandungannya.
"Ar, Dokter bilang, posisi anak kalian sudah tidak wajar. Dia harus segera dilahirkan melalu operasi sesar. Aku harap, kamu terus memotivasi istrimu melalui bisikan-bisikan, agar selama operas, ia bisa menahan rasa sakitnya. Kita tidak akan bisa melakukan pembiusan padanya, karena kondisi rahimnya memang cukup rentan terhadap hal-hal seperti itu." Lisya menjelaskan semuanya secara terperinci pada Arion di balik pintu ruang operasi.
Setelahnya, Lisya dan temannya memulai operasi sesar dengan sangat berhati-hati. Mereka akan melakukan yang terbaik yang bisa mereka lakukan dalam operasi tersebut. Sehingga sang Ibu dan bayinya selamat.
Arion mulai membisikkan kata-kata penyemangat untuk istrinya tercinta. Ia menggenggam kedua tangan istrinya. Sudah ada tirai pembatas antara dia dan istrinya dengan Dokter dan Lisya.
Ia sudah bersiap dengan segala konsekuensinya, meskipun itu adalah hal yang terburuk dalam hidupnya. Tidak hanya membisikkan kata-kata penyemangat, Arion juga berdoa di dalam hati untuk keselamatan kedua orang yang sangat ia cintai.
"Sayang, bertahanlah. Kamu dan anak kita pasti akan baik-baik saja."
"Aku yakin, anak kita itu anak yang kuat, karena kamu adalah ibu yang hebat. Kalian pasti akan selamat."
"Tuhan ada di sini. Percayalah, Tuhan tidak akan membiarkan salah satu dari kalian. Kalian pasti akan baik-baik saja."
Kata demi kata dilontarkan Arion sembari mencium kening sang Istri berkali-kali. Hanya dengan begitu, ia bisa menyalurkan semangat kepada istrinya yang sedang berjuang menahan rasa sakit pada operasi tanpa adanya pembiusan. Ia tahu bagaimana rasa sakit itu. Itu tidak seberapa dengan rasa sakit yang selama ini ia alami ketika terluka parah.
Grace tidak bisa berkata apapun lagi. Yang saat ini ia rasakan adalah perihnya sayatan demi sayatan yang sedang menghiasi perutnya. Ia tersenyum dalam tangisan mendengar kata-kata yang dibisikkan oleh Arion. Dia menggenggam erat kedua tangan Arion sambil berdoa pada Tuhan demi keselamatannya dan juga sang buah hati.
Setengah jam telah berlalu. Operasi sesar sudah selesai dan terdengar suara tangisan bayi yang menandakan bahwa bayi tersebut dalam kondisi yang sangat baik.
"Berkat doa dan semangat kalian berdua, anak kalian mendapatkan kekuatan untuk bertahan selama proses operasi. Dia sangat tampan dan mungil, ingin rasanya aku membawanya pulang ke rumah," ucap Lisya memberitahukan pada Arion dan Grace akan kondisi bayinya.
"Lalu, di mana anak kami?" tanya Arion yang tidak sabar bertemu dengan anaknya.
Lisya memberi petunjuk pada seorang Suster untuk membawa bayi mungil itu. Arion menggendong anaknya dan membisikkan lantunan doa yang menurutnya wajib untuk dilakukannya sebagai seorang ayah. Setelah itu, ia mengembalikan anaknya pada Suster itu untuk dibersihkan.
Grace tampak bahagia melihat adegan mesra antara seorang ayah dan anaknya. Ia masih menahan rasa sakit di perutnya, sehingga ia belum bisa bergerak terlalu banyak untuk saat ini.
"Sayang, terima kasih sudah menghadirkan anak yang begitu mungil untuk keluarga kecil kita. Terima kasih karena kamu sudah bertahan sampai sejauh ini, menahan rasa sakit operasi tanpa pembiusan. Aku sangat bersyukur, karena kalian berdua baik-baik saja."
Arion mencium kening istrinya dengan lembut. Ia tidak lupa menghapus air mata sang istri yang sudah membasahi pipinya. Hari ini adalah hari terbahagia baginya. Keluarga kecil mereka bertambah satu orang.
>>> T A M A T <<<
Terima kasih untuk manteman, kakak-kakak dan semuanya yang sudah setia membaca cerita ini sampai tamat..
Aku akan mengadakan event sederhana untuk merayakan perpisahan antara The Perfect Girl dengan kalian semuanya..
Bagi yang berminat mengikuti event ini, langsung saja ikuti langkah-langkahnya di eps tambahan..
Jangan lupa follow IG : friska_1609 untul info lebih lanjut..
Semoga saja, banyak yang berminat yaa..
Salam kasih dari dari yang terkasih..
Luv you all~