
"Woiii.. Kalian mau ngapain sama nih curut? Jangan ganggu dia! Cuma aku yang berhak atasnya!" Bang Ricky muncul tiba - tiba di antara kami.
Bang Ricky memang pemimpinnya di sini. Lihat saja caranya membentak mereka. Semua wajah sangar yang ku lihat tadi menciut secara drastis. Bang Ricky memang sangat menakutkan. Dalam sekejab mereka semua bubar dan tak kembali lagi.
"Kamu ngapain di sini? Bukannya waktu latihanmu tinggal sejam lagi ya?" Tanya bang Ricky dengan ketus padaku.
"Aku tadi ke kamar kecil, Bang. Ini baru mau mulai latihan lagi," kataku sambil menundukkan kepalaku. Aku pun berniat untuk pamitan. Tapi lagi - lagi aku di tahan.
"Sudahlah, tidak ada waktu untuk bermain lagi. Cepat kamu pakai ini dan ikut denganku."
Bang Ricky memberikanku gamsil atau nama lainnya pelindung gigi. Dia membawaku menuju ke tengah ruangan. Sekarang dia sudah menunjuk ke arah Ring. Dan itu membuatku SYOK..!!
"Kamu naik ke atas Ring. Aku akan mencarikan lawan yang sepadan untukmu. Cepat!"
Lagi - lagi aku di sentak olehnya. Aku kaget setangah mati. Aku berjalan mendekati Ring dengan pasrah mengikuti perintahnya. Begitu aku sudah berada di atas Ring, semua orang di tempat itu berkumpul dan mengelilingi Ring. Aku merasa gugup saat menunggu lawan yang akan kuhadapi.
Setelah ku lihat - lihat kembali, tidak ada yang sepadan denganku. Mereka terlihat sangat profesional, sedangkan
aku? Aku masih lebih parah dari seorang amatir.
Ini adalah pengalaman pertamaku melakukan olahraga tinju. Aku tidak pernah sekalipun berada di tempat seperti ini, apalagi sampai menginjakkan kakiku di atas Ring.
Aku tidak tau harus berkata apa lagi. Senang? Aku pasti habis di hajar oleh lawanku, jadi aku tidak bisa merasa senang.. Sedih? Aku sudah mendapatkan teman baru di sini, jadi aku juga tidak bisa merasa sedih. Kesal? Akkhhh..!! Sudahlah, jangan dibahas lagi. Tidak ada jawaban yang bisa mewakili perasaanku saat ini.
“Ar, lawan kamu itu dia. Kamu harus menang. Kalau kamu menang, aku akan akhiri semuanya dan kita akan kembali. Kalau kamu kalah, kamu harus melawan yang lain lagi sampai kamu menang.”
Bang Ricky memang tidak berperasaan. Bisa - bisa aku sekarat di sini sampai malam di tinju mereka.
‘Gimana caranya aku bisa menang? Aku gak punya basic dalam tinju - meninju. Aku hanya tau bela diri.’
Pertandingan pun dimulai. Di awal kamu hanya berusaha menghindari tinjuan dari pihak lawan. Badannya yang kekar dan lebih besar membuat aku semakin menciut.
BUGHH..
Dia berhasil meninju wajah tampanku. Hilanglah sudah ketampananku karena di tinju beberapa kali olehnya. Dia ternyata memang mengincar wajahku.
Saat aku sadar dengan kecepatan gerakan tangannya yang selalu mengarah ke wajahku, dia mengambil kesempatan melayangkan tinjuannya ke perutku. Sungguh menyakitkan, aku terjatuh dan terbaring di Ring.
Aku tidak bisa bangkit sampai hitungan dari Wasit habis terucap. Dia memenangkan pertandingan ini.
Selanjutnya, aku harus melawan orang lain lagi. Kalau begini, aku merasa dirugikan. Aku sudah terluka, tapi lawanku selanjutnya adalah orang yang segar bugar. Sungguh tidak adil.
“Aku sudah bilang, kamu harus menang bagaimanapun caranya! Jangan lembek begitu! Kamu itu laki - laki. Kamu bukan perempuan, Ar. Jangan manja begitu! Masa melawan satu orang saja kamu tidak bisa?”
Aku hanya bisa menunduk pasrah menerima omelan dari si Abang. Ini semua karena persyaratan yang dia ajukan dan aku terima. Semua perintahnya harus aku turuti. Ini kali pertama aku melakukan hal segila ini.
‘Benar juga. Dia bilang kamu harus menang bagaimanapun caranya, berarti aku bisa pakai jurus bela diri yang kupelajari selama ini dong?’
Aku bertanya - tanya dalam hati dan tidak berani mengungkapkannya. Jika aku sempat salah ucap, semua pengorbananku akan sia - sia.
Aku pamitan dan pergi ke kamar kecil. Ku lihat wajahku yang lebam karena pukulan lawanku tadi. Masih tidak begitu parah, aku hanya harus menang dalam pertandingan kedua ini. Kalau aku kalah lagi, aku bisa mati di atas ring tinju itu.
“Ar, cepat! Pertandingan kedua sudah dimulai. Cepat!” Suara Bang Ricky bergema hingga ke dalam kamar kecil, padahal dia sedang menungguku di luar pintu masuk kamar kecil ini.
Aku pun langsung naik ke atas ring. Lawanku sudah bersedia di tempatnya saat ini. Dia menatapku dengan tatapan tajam yang membuatku merasa tidak nyaman melihat ke arahnya.
Begitu pertandingan dimulai, dia langsung berlari kearahku menyerbu diriku secara membabibuta. Aku tetap dalam posisi bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama.
Setelah aku merasakan tenaganya melemah, langsung saja aku menggunakan kedua tanganku meninju bagian wajahnya beberapa kali. Wajahnya sungguh mengerikan.
Dia marah besar dan langsung mendekatiku. Saat tangan kanannya diarahkannya padaku, aku langsung menunduk dan melayangkan tendanganku kearah wajahnya dengan keras. Dia terpental jauh.
Tidak hanya sampai di sana, dia masih saja bangkit dan berjalan kearahku. Emosinya sudah meledak - ledak karena aku berhasil membuatnya terpental. Dia pun mengarahkan tangan kanannya kembali padaku.
Aku berhasil mengunci pergerakan tangannya dan dalam sekejap mata, aku membanting tubuhnya dengan kuat kearah depan. Dia sampai memuntahkan darah dari mulutnya.
Aku saja tidak menyangka bisa memenangkan pertandingan dengan cara yang mudah seperti ini. Sebenarnya, aku hanya memancing emosinya saja. Karena orang yang emosian itu, tidak lagi memperhatikan keadaan sekitarnya. Dia hanya fokus untuk membalas dan aku jadi lebih mudah untuk melihat pergerakannya.
‘Kenapa sejak awal, dengan bodohnya aku merasa takut untuk melawan?’ Hanya itu yang terbesit dalam pikiranku.
Begitu Wasit selesai menghitung dan dia masih tidak bangkit, Wasit langsung naik ke atas ring. Lengan tangan kananku di angkatnya ke atas menandakan bahwa akulah pemenang dalam pertandingan ini.
Aku sangat senang. Ternyata kata - kata Bang Ricky yang kejam itu mengandung dukungan terhadapku. Aku harus berterimakasih padanya. Meskipun dia terlihat kejam, dia masih memiliki hati yang baik dan perhatian.
Aku turun dari ring dan langsung berjalan kearahnya. Aku memeluknya erat. Posisi kami saat ini memang sangat menggelikan.
“Hei..!! Jangan asal nempel aja!” Teriakan Bang Ricky membuat semuanya tertawa riang.
“Makasih banyak ya, Bang. Makasih atas petunjuknya. Hari ini aku dapat pelajaran yang berharga dari Abang,” ucapku dengan wajah yang berseri padanya.
Dia mendorong tubuhku agar dia bisa lepas dari pelukanku. Aku pun melepaskan pelukanku dan menundukkan kepalaku. Aku baru sadar kalau aku sedang menjadi pusat perhatian orang - orang berbadan kekar ini. Sangat memalukan.