THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
51



"Sebentar lagi aku akan tiba di kantor Abang," ucap Arion dengan nada yang terlihat ragu - ragu. Dia takut akan penolakan dari Bang Ricky.


"Oke baiklah. Nanti akan ada yang menunggu kedatangan kalian di depan pintu utama. Dia akan menunjukkan arah menuju ruanganku. Kamu hanya boleh menemuiku jika kamu sendirian dan tidak membawa siapa pun."


Ricky langsung memutuskan panggilan itu secara sepihak. Dia tidak ingin mendengar suara Arion lebih lama lagi.


Ricky pun mulai memikirkan sesuatu untuk menguji seberapa besar perasaan Arion pada Grace. Dia juga akan menguji kemampuan Arion. Dia tidak ingin Grace malah hidup dalam kesesakan dan kesakitan jika mereka bersama.


Arion pun akhirnya sampai di kantor Ricky dan dia menoleh ke arah Steve, "Kamu tunggu di lobi saja. Aku akan menemuinya seorang diri. Dia akan marah besar jika aku tidak mendengarkan apa yang dikatakannya."


Steve hanya bisa mengangguk pasrah dengan keputusan Arion. Dia tau bahwa Ricky adalah orang yang nekat jika kita membuat masalah dengannya.


TOKK... TOOKKK...


"Masuk!" terdengar suara bariton yang terdengar tegas dari dalam ruangan. Arion pun masuk dan berdiri tepat dihadapan Ricky.


"Apa sebenarnya tujuanmu datang kemari? Kamu tau kan, kalau kamu sedang berada di sarang buaya?"


Bukannya mempersilahkan tamunya untuk duduk terlebih dahulu, Ricky malah melemparkan pertanyaan semacam itu. Untung saja Arion sudah mempersiapkan mentalnya untuk bertemu dengan lelaki sangar itu.


"Aku mau minta maaf sama Abang. Setelah aku menyelidikinya sendiri, ternyata Mommy memang sudah berbuat kasar pada Grace. Tapi, itu semua adalah kesalahpahaman. Sudi kiranya Abang memaafkan kesalahan Mommy. Aku sebagai orang yang paling dekat dengan Mommy dan Grace, meminta maaf dengan tulus Bang," papar Arion dengan menundukkan setengah badannya ke arah Ricky.


Ricky menyeringai melihat sikap lelaki polos dihadapannya ini dan berkata, "Semuanya tidak gratis, Ar. Kalau kamu ingin aku memaafkanmu dan Mommy mu itu, ada syaratnya. Dan syaratnya tidak mudah."


Arion sempat terkejut mendengar jawaban yang diberikan oleh Ricky. Tapi dia berpikir bahwa hanya itu jalan satu - satunya bagi dia untuk bisa mendapatkan izin dari Ricky untuk membawa pulang Grace.


"Aku akan menyanggupi semua syarat yang Abang berikan. Asal Abang bisa memaafkan kesalahan kami," ucap Arion tanpa berniat mengubah posisi tubuhnya.


"Tapi itu tidak akan semudah yang kamu bayangkan, Arion. Aku bukan orang yang berbaik hati seperti yang lainnya. Kamu tau sendiri siapa aku ini kan?" Ricky mengedikkan kedua bahunya dan menaikkan sebelah alis matanya.


"Iya Bang, Aku sudah tau. Aku pasti bisa menyanggupi syarat dari Abang."


"Kamu hanya harus menuruti semua keinginanku mulai saat ini sampai esok. Lusa kamu sudah bisa bebas jika kamu melewati semua hukuman dengan hasil yang memuaskan."


"Siap Bang. Aku akan menuruti semua perintah Abang mulai detik ini," ucap Arion tanpa berniat untuk menegakkan tubuhnya yang masih menunduk.


"Baiklah, malam ini kamu ikut aku pulang ke rumah. Hanya kamu dan suruh pulang temanmu yang sudah menunggumu di lobi sedaritadi. Kita akan berangkat bersama."


Ricky langsung berdiri menyambar jas nya yang di gantung dan tas kerjanya. Dia pergi begitu saja tanpa menghiraukan bagaimana reaksi Arion. Arion yang melihat kepergian Ricky, segera memperbaiki posisinya dan berjalan mengikuti kemanapun Ricky melangkah.


Sesampainya di Lobi, Arion hanya bisa berbicara sebentar pada Seteve, "Bro, kamu pulang duluan saja. Aku masih harus menyelesaikan urusanku dengan Bang Ricky sampai besok. Jadi, setelah urusanku selesai, aku akan menghubungimu. Bye."


Steve hanya bisa menatap heran sikap atasannya itu. Dia tidak ingin menebak - nebak. Karena itu akan menimbulkan fitnah jika apa yang dipikirkannya malah jauh dari kata benar. Dia pun kembali ke Mansion dan menceritakan semuanya pada kedua orangtuanya Arion.


Selama diperjalanan, Ricky mulai memberikan perintah demi perintah yang harus dituruti oleh Arion.


"Setibanya di rumah, kamu sama sekali tidak boleh berbicara bahkan menatap Grace. Kamu harus mengabaikannya. Kamu hanya perlu menjawab dan menuruti perintahku. Kamu tidak diperbolehkan menoleh sedikitpun pada orang - orang yang ada di rumahku, kecuali pada para pelayan."


Arion sempat berpikiran dia akan bisa bertemu dengan Grace dan melihatnya. Tapi, karena syarat yang diiucapkan oleh Ricky tadi, dia jadi merasa down dan berpikir kembali, 'Apa aku sanggup mengabaikan keberadaan Grace?'


**********


"Baiklah, semuanya akan dimulai dari sekarang."


Sesampainya di depan pintu utama, Ricky mengucapkan 6 kata itu dengan penuh penegasan. Dia pun berjalan memasuki rumah. Sekarang sudah pukul 8 malam. Jadi, kemungkinan terbesar, Arion sudah makan malam. Itulah yang dipikirkan Ricky.


"Kamu sudah pulang, suamiku? Kamu bawa siapa?"


Tiba - tiba Grace datang dengan tangan kanannya yang di tarik oleh Ed. Dia melihat wajah orang yang di bawa pulang oleh Ricky.


"Arion?" Itulah kata pertama yang diucapkan oleh Grace, tapi dirinya malah merasa diabaikan.


"Daddy..!! Daddy pulang cepat malam ini, Ed kangen." Kata - kata Ed membuat semuanya menoleh padanya.


"Wah, jagoan Daddy sudah semakin lancar berbicara bahasa ternyata. Daddy juga merindukanmu, Nak." Ricky langsung menggendong anaknya dan membawanya masuk. Arion hanya menunduk dan mengikuti langkah Ricky.


"Oh iya, istriku, dia ini yang namanya Arion. Dia hanya akan menuruti semua perintahku. Jadi, percuma saja jika kamu (melirik ke arah Grace) mengajaknya berbicara. Dia tidak akan menjawabmu sama sekali."


Ricky tau apa yang dipikirkan Istrinya dan Grace. Mereka berdua merasa sikap Ricky itu terlalu berlebihan. Membawa orang ke rumah hanya untuk menuruti semua perintahnya.


"Oke, jagoan Daddy harus pergi tidur sama Mommy. Biar besok bisa pergi bermain sampai puas sama Aunty nya." Ricky menyerahkan anaknya pada istrinya dan mereka pun pergi dari sana.


"Kamu juga harus balik ke kamar, Grace. Istirahatlah. Tubuhmu masih belum pulih seutuhnya," ucapan Ricky seperti alarm pengingat di kepala Grace.


"Baiklah, Grace akan istirahat. Selamat malam Bang, selamat malam Ar." Grace pun berlalu.


Arion yang mendapat ucapan dari Grace merasa senang sejenak sebelum Ricky mulai memerintahnya.


"Sekarang kamu ke dapur, masakkan aku nasi goreng. Aku lagi pengen makan nasi goreng ala Indonesia. Aku tau kamu itu bisa memasak, jadi aku masih menyuruhmu hal - hal yang bisa kamu lakukan."


"Baik, Bang. Aku akan menyiapkannya dengan segera."


Arion pun pergi menuju dapur dan memulai kegiatan masak - memasaknya. Selagi dia sibuk dengan kegiatan memasaknya, Steve pergi ke kamarnya dan mandi. Dia juga mengambil 1 setel pakaian yang kira - kira bisa dipakai oleh Arion.


Selesai dengan ritual mandinya, dia pergi menuju ruang makan dan makan dengan lahap.


"Lumayan bagus juga kemampuan memasakmu. Tapi, masih kamu kurang mahir dari yang kuharapkan," kritik Ricky pada Arion.


Selesai makan, Ricky membawa Arion ke taman di belakang rumah, "Sekarang kamu harus menyiram semua tanaman yang ada di sini. Jangan ada yang terlewatkan. Setelah itu, kamu boleh membawa pakaian ganti yang sudah kusediakan di kamar tamu dan kaar itu ada di pojok kiri dapur. Kamu tau kan? Aku akan kembali ke kamar dan melakukan pekerjaanku. Nanti aku akan memeriksa pekerjaanmu setelah aku menyelesaikan pekerjaanku."


Arion di tinggal begitu saja oleh Ricky. Saat ini dia hanya di beri sebuah ember sedang dengan gayung. Di dekatnya memang ada kran air. Tanaman di taman itu sungguh banyak, 'Kenapa tidak ada selang?'


Arion sebenarnya kesal dengan perintah yang diberikan Ricky padanya. Tapi ini semua demi mendapatkan kemurahan hati seorang Ricky.


'Aku akan berusaha melakukan apa pun demi mu, Grace.'


Arion pun melakukan kegiatannya. Dia juga sebenarnya sudah lelah seharian ini, tapi ini adalah pekerjaan yang wajib dilakukannya sebelum dia bisa beristirahat.