
Keesokan paginyaa..
Aku terbangun dari tidur lelapku karena cahaya mentari yang menyongsong begitu terik melalui celah - celah gorden. Sebelum bangkit dari posisiku, aku meraba bagian kiri ranjang.
Tidak ada siapa pun di sana. Tapi, mengapa aku bisa merasakan sentuhsn tangannya?
Aku sangat yakin, kalau semalam dia ada di sampingku. Dia memelukku dan membisikkan dua kata itu padaku. Ada apa denganku?
Sekarang saatnya untuk bersiap - siap. Aku harus berangkat ke Kantor. Aku tidak mau membatasi kegiatanku selama aku masih sangat menyukai pekerjaan itu.
Aku pun masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa handuk dan jubah mandiku. Saat aku sedang keramas, aku mendengar suara Arion dari balik pintu kamar mandi.
Dia berteriak padaku seperti biasanya, "Sayang, aku tunggu di bawah ya.."
Dengan ragu, aku mematikan kran air. Setelahnya, aku tidak mendengar suara apa pun lagi.
'Mungkin itu hanya perasaanku saja, karena aku begitu merindukannya.'
Itulah yang kupikirkan. Tidak ingin berlama - lama di dalam kamar mandi, aku pun segera menyelesaikan kegiatan mandiku.
"Dad, Mom. Selamat pagi. Apa kalian sudah ada yang dihubungi oleh Ar?" tanyaku pada mereka yang sudah siap untuk sarapan.
"Mom belum ada dihubungi oleh Ar, begitu juga dengan Dad."
Mom menjawab pertanyaanku sambil mengambil beberapa helai roti panggang untukku.
"Mungkin dia sedang sibuk, Nak. Biarkan saja dia fokus dengan pekerjaannya lebih dulu. Dia pasti akan menghubungimu. Apalagi, kamu adalah orang yang paling dia cintai. Sabar menunggu, dia pasti kembali dengan selamat."
Dad memberiku santapan berupa nasihat di pagi hari. Aku tersenyum tipis dan mengangguk membenarkan ucapan Daddy.
"Dad, Mom, kami berangkat ya."
Aku dan Yoru berpamitan pada kedua orang tua kami. Lalu kami pun berangkat ke Kantor.
"Nanti kamu bisa tanyakan pada Shei mengenai pekerjaanmu nantinya. Kakak akan pergi ke ruang meeting bersama dengan Kak Steve. Pagi ini ada meeting dengan karyawan bagian Pemasaran," perintahku pada Yoru yang saat ini sudah menjadi bawahanku selama di Kantor.
"Siap, Kak!" ucapnya tegas menyanggupi apa yang baru saja aku perintahkan.
Dengan tergesa - gesa, aku pergi ke ruang meeting dan menemui Kak Steve di sana. Hari ini kami akan membahas tentang laporan tiga bulan terakhir pemasaran produk Melv.Corp.
"Grace, coba kamu baca dan pahami diagram ini. Nanti aku hanya membuka acara rapatnya, tapi kamu yang akan mengambil alih bagian intinya. Jadi, kamu punya waktu selama setengah jam mulai sekarang. Oke?" tanya Kak Steve padaku yang masih berkutat dengan diagram - diagram yang tertera di beberapa lembar dokumen yang sedang kubaca.
"Baiklah, Kak. Aku mengerti. Aku masuk duluan, mau fokus sebelum rapat dimulai."
Aku pun masuk ke dalam ruang rapat dan mulai memfokuskan diri untuk mempelajari dan memahami setiap detail diagram yang tertera. Aku harus bisa mengambil kesimpulan dari laporan mereka hanya dalam waktu setengah jam.
Meeting pun mulai dilaksanakan. Aku menunggu giliran untuk maju. Agak nervous sih, tapi aku pasti bisa!
"Jangan gugup, Sayang. Kamu pasti bisa!"
Aku mendengarnya lagi! Aku sangat yakin, kalau itu suara Arion. Beberapa waktu ini, aku selalu merasakan keberadaannya.
"Grace?" Kak Steve menyadarkanku dari lamunanku.
Inilah giliranku untuk memimpin meeting yang seperti ini. Aku pun maju ke depan dan mulai mempresentasikan dan menjelaskan semua yang aku ketahui dari diagram yang sudah aku baca selama setengah jam tadi.
"..."
Meeting pun selesai. Hasilnya sudah disepakati oleh semua yang hadir. Aku merasa bangga pada diriku. Ternyata aku bisa melakukannya dalam waktu yang begitu singkat.
Sekarang aku sudah berada di dalam ruangan Arion. Aku mulai memeriksa beberapa dokumen yang terletak di atas meja.
"Aku bangga padamu, Sayang."
Aku mendengarnya lagi dan lagi. Suamiku ada di sini. Aku pun langsung bertanya, "Arion? Kamukah itu? Kamu ada dimana? Ar?"
Tapi, hasilnya nihil! Tidak ada yang menjawab pertanyaanku.
'Ada apa sih, dengan pikiranku? Apa aku terlalu merindukannya? Tapi, semua itu terasa sangat nyata!'
Aku terus - menerus menggerutu di dalam batinku. Aku terkejut dengan keberadaan Yoru yang sudah berada di sampingku.
"Yoru! Astaga.. Jantung Kakak hampir copot! Lain kali jangan tiba - tiba muncul gitulah," teriakku padanya.
"Kak, ada apa dengan Kakak? Aku sudah mengetuk pintu berulang kali. Aku masuk karena tidak ada jawaban. Aku panggil berulang kali, tapi Kakak juga tidak menyahut. Jadi, kuhampiri saja Kakak. Ehh, malah kena semprot. Gimana sih, Kak?" Gumamnya yang tiada henti itu membuatku refleks menutup kedua telingaku.
"Iya dehh, iya.. Kakak minta maaf. Kakak salah." Akuilah kesalahanmu, sebelum terjadi kesalahpahaman. Itulah yang aku terapkan saat ini.
Tidak mungkin aku memberitahukan padanya kalau aku mendengar Ar berbicara padaku beberapa kali hari ini. Sejak pagi, aku sudah merasakan kehadirannya.
"Kak, ini file yang sudah aku rangkum menjadi satu dan aku juga sudah membuatnya dalam bentuk presentasi," tuturnya menjelaskan apa yang ada di dalam flashdisk yang dibawa olehnya.
"Baiklah, Yoru. Terima kasih sudah banyak membantu Kakak," ucapku sambil menyunggingkan senyuman manisku padanya.
Dia pun tersenyum padaku. "Iya, Kak. Beristirahatlah, jika Kakak merasa lelah. Aku kan ada di sini, Kakak bisa memberikanku tugas tambahan. Ingat Kak, Kakak itu sedang mengandung. Kakak tidak boleh stres karena pekerjaan."
"Grace, Yoru. Mari kita makan siang bersama. Mom dan Silvia membawakan banyak rantang untuk kita makan siang ini," ucap Kak Steve yang baru saja masuk diikuti Mom dan Kak Silvia.
"Ayo! Mom memasakkan makanan kesukaanmu, Sayang. Kamu harus makan yang banyak," ucap Mom sambil mencium pipi kanan dan kiriku.
"Kakak juga membawa roti kesukaanmu, Grace. Biar kamu tambah semangat kerjanya," lanjut Kak Silvia yang bergantian mencium pipi kanan dan kiriku.
"Makasih banyak, Mom, Kak Sil. Aku pasti akan makan yang banyak."
Kami pun memulai acara makan siang kami dengan penuh canda tawa. Sesaat aku melupakan hal yang tadinya mengganjal dalam pikiranku.
"Kapan kamu akan cek kandunganmu lagi, Sayang? Silvia sudah 3x cek kandungannya. Kamu kapan? Biar Mom yang temani kamu, Sayang."
Mom mengingatkanku pada Ar. Seketika air mataku mengalir deras. Mereka semua mendekat dan memelukku.
"Grace, Kakak tau kalau kamu merindukan Ar, tapi kamu juga harus ingat dengan kandunganmu. Kamu harus menjaganya dengan atau tanpa adanya Ar di sampingmu." Kak Steve menasihatiku.
"Iya, Kak. Kakak harus kuat, agar kandungan Kakak juga kuat. Jangan jadi lemah. Aku yakin, Kak Ar pasti baik - baik saja. Dia tidak memberi kabar, mungkin karena dia sungguh sibuk di sana." Yoru lanjut memberiku nasihat.
"Grace, masih ada kami di sini bersamamu. Kami akan selalu mendukungmu. Jangan merasa kalau kamu sendirian. Kakak bisa tidur denganmu mulai malam ini, jika kamu memang merasa kesepian." Kak Silvia juga memberiku semangat.
"Sayang, jangan bersedih. Kalau kamu sedih, calon Cucu Mom ikutan sedih. Dia butuh Mamanya, Nak. Kamu harus bersabar. Sabar menunggu kabar dari Ar. Mom juga sedih, karena Anak Mom sama sekali tidak memberi kabar sama keluarganya." Mommy ikut menangis sambil memelukku dengan erat.
"Grace sayang sama kalian semua. Makasih banyak, karena selama ini selalu baik dan perhatian pada Grace. Garce janji, ini yang terakhir kalinya, Grace bersedih."
Aku tidak bisa lagi menahan rasa sakitku. Sakit karena ditinggal tanpa kabar begitu saja. Setelah aku memikirkan kejadian tadi malam dan hari ini, ada kemungkinan kalau Ar sudah tiada. Dia akan mendatangi orang yang paling berharga baginya sebelum dia benar - benar pergi dari dunia ini.
Aku menagis sejadi - jadinya dalam dekapan Mommy. Suaraku sampai tidak terdengar karena aku terlalu lemah saat ini. Aku sungguh - sungguh merasa tidak berdaya, hingga akhirnya aku menutup mataku dan tidak tau apa pun lagi.
Semuanya gelap gulita dan tidak ada siapa - siapa di sini.
"Sayang.."
Aku menoleh ke arah suara. Tangisanku pecah melihatnya yang sangat kurus dan wajahnya yang begitu pucat pasih.
"Itu kamu, Ar?" tanyaku dengan nada yang bergetar dan kelihatan ragu - ragu.
"Jangan takut, Sayang. Aku tidak akan menyakitimu. Apalagi kamu sedang bersama dengan calon Anak kita. Jangan menangis lagi. Kemarilah, Sayang. Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu."
Begitu aku mendengar kata "rindu" darinya, aku langsung berlari sekencang - kencangnya. Aku memeluknya dengan erat. Sangat erat.
"Aku juga sangat merindukanmu, Sayang. Kenapa kamu tidak ada kabar sama sekali? Sesibuk apa kamunya, sampai tidak bisa memberi kabar walau hanya sebuah pesan singkat?" tanyaku bertubi - tubi sambil menangis di dalam pelukannya.
Pelukan yang begitu hangat dan sangat kurindukan. Dia mengelus puncak kepalaku dan mencium keningku.
"Aku tidak pergi kemana - mana, Sayang. Aku akan selalu ada dimanapun kamu berada. Ingat, untuk selalu menjaga kesehatanmu demi aku. Jangan menangis lagi. Aku akan merasa sedih jika melihat dirimu menangis karena aku. Maafkan aku ya, Sayang. Sudah saatnya kamu pulang."
Dia melepas pelukannya. Aku tidak mau dia pergi jauh dariku, Aku berusaha mengejarnya. Dia pergi dan aku tidak bisa menggapainya.
"Arion..!!" Teriakku begitu keras.
Yang aku lihat adalah cahaya yang menyelimutinya dan dia menghilang. Tiba - tiba aku tersadar, karena ada seuara yang memanggil namaku berulang kali.
"Grace? Kamu kenapa Sayang? Kamu meneriakkan nama Arion begitu keras. Mom jadi ketakutan sendiri mendengar teriakanmu, Nak."
Mommy memelukku begitu erat. Dia mengelus pundakku sambill berkata, "Sayang, jangan bersedih lagi. Besok Steve akan pergi menyusul Arion ke sana. Mom sudah memberikan dia wewenang untuk membawa beberapa orang terlatih untuk menemaninya ke London. Meskipun kita belum tau apa yang terjadi, setidaknya inilah yang bisa Mommy lakukan untuk mencaritahu kabar Arion di London."
"Makasih ya, Mom." Hanya itu yang bisa kukatakan saat ini.
Aku tidak mungkin menceritakan semuanya. Aku hanya akan menyimpan pertemuan kami di dalam hati dan pikiranku.
Sejenak aku mengelus perutku yang mulai membuncit sambil tersenyum. Mom dan Kak Silvia juga ikut tersenyum melihatku yang mengelus - elus perutku dengan lembut.
"Papa dan Mama sangat mengharapkanmu lahir ke dunia ini, Nak. Jadilah kuat di dalam sana. Mama janji, Mamam tidak akan membuatmu kesulitan di dalam sana hanya karena emosi sesaat yang tidak bisa Mama kontrol. Terimakasih, Nak. Kamulah yang menjadi kekuatan bagi Mama selama Papamu tidak ada bersama kita."
Aku tidak akan menangis lagi. Aku harus kuat! Demi sang buah hati.
>> Bersambung <<<
Sampai sini dulu ya..
Kita akan lanjut di next chap, Ingat untuk selalu beri like nya yaa, Kakak2..
Terimakasih bagi yang sudah support Author selama ini..
Salam Kasih untuk Yg Terkasih
~~ Love You All ~~