
AUTHOR POV
"Mommy harus bertanggung jawab atas semuanya. Mommy tidak boleh mengulang kesalahan yang sama lagi. Daddy harap Mommy bisa membuat anak kita bersatu dengan Grace. Kita sudah berhutang nyawa padanya. Mommy dengar sendiri kan? Kalau Grace sudah menyelamatkan Ariondan dia mengalami koma selama setahun?"
Mr.Melv. masih saja memberikan sedikit petuah kepada sang istri. Dia tidak menyangka bahwa istrinya bisa bertindak seperti itu.
Mr.Melv. pergi ke ruang kerja dan menetap di sana semalaman. Dia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa istrinya telah melakukan hal yang kejam pada Anak dan calon menantunya itu.
Mrs.Melv. hanya bisa bersedih menyesali perbuatannya selama ini. Dia tidak tau harus bagaimana jika dia bertemu dengan Grace. Dia merasa kalau dirinya sudah mempermalukan dirinya sendiri.
**********
"Grace, kamu itu bodoh atau goblok sih? Abang gak habis pikir lah, kenapa kamu mau aja di tampar di depan umu begitu? Percuma aja selama ini Abang ajari kamu bela diri atau semacamnya!" Ricky mulai membentak Grace karena dia kesal dengan sikap Grace yang lembek itu.
"Maaf, Bang. Gimana pun yang nampar aku itu orang tua, Bang. Aku tidak mungkin melawan, itu dosa Bang," ucap Grace membela diri.
Grace tidak terima kalau dia dimarahi begitu. Dia merasa tidak ada yang salah dengan dirinya.
"Dari mana Abang tau tentang kejadian itu? Aku kan tidak pernah menyinggungnya pada siapa pun."
"Aku tau semuanya Grace. Kamu aja yang tidak tau kalau di rumah ini di pasang CCTV. Aku tau sejak kamu mengambil es batu untuk mengompres pipimu yang bengkak itu. Aku kira itu karena ribut dengan karyawan perusahaan. Teryata setelah aku mencaritahu semuanya, pipimu bisa bengkak begitu karena di tampar oleh Mommy nya si Arion itu."
"Pantes saja. Aku juga merasa tidak bercerita pada siapapun." Grace mulai mengerti bagaimana Ricky mengetahui semuanya.
"Sudahlah, Bang. Itu semua sudah lewat, jangan terlalu dipikirkan. Aku saja sudah memaafkan sikap Mommy padaku waktu itu. Ini semua hanya kesalahpahaman, Bang. Jangan marah lagi ya?" Bujuk Grace pada Ricky dengan menunjukkan puppy eyes nya.
"Baiklah. Kali Abang akan membiarkan hal itu seperti angin lalu. Tapi, kalau sekali lagi dia berbuat seperti itu, aku tidak akan melepaskannya. Ingat itu Grace!" Ricky menunjukkan tatapan kejamnya itu pada Grace. Dia serius dengan perkataannya itu.
"Makasih Abang kuuhhh. Bang Ricky memang yang terbaik deh," tutur Grace dengan menujukkan senyuman khasnya yang menawan.
"Ngomong - ngomong, gimana dengan tadi malam? Apa Arion melakukan hal yang aneh - aneh padamu? Sebelumnya, aku sudah mengancamnya." Ricky menoleh pada Grace yang sedang memiringkan sedikit kepalanya ke kiri setelah mendengar pertanyaan Abangnya itu.
"Abang sudah tau siapa pelakunya?" Bukannya menjawab pertanyaan Ricky, dia malah bertanya kembali.
"Kamu itu ya, aku duluan bertanya. Jadi jawab aku dulu, Grace."
"Tadi malam itu tidak ada hal aneh yang dilakukan Arion. Dia sangat baik. Padahal semalaman itu, begitu banyak kesempatan baginya untuk melakukan hal yang biasa banyak dilakukan para lelaki saat melihat perempuan yang disukai dalam pakaian tembus pandang dan sedang dikendalikan oleh obat perangsang."
"Jadi, kesimpulannya? Kamu itu sudah ada rasa padanya? Hanya karena dia seperti itu?"
Grace sempat terdiam karena berpikir tentang hal itu. Dia memikirkan kembali perasaannya yang sebenarnya pada Arion. Sebenarnya, Sejak dia mendapat perlakuan khusus dari Arion tadi malam, dia selalu memikirkan tentang Arion. Tapi, dia masih ragu dengan perasaannya saat ini.
"Hmm.. Gimana bilangnya ya, Bang? Aku masih bingung. Tapi, aku sudah mulai merasa nyaman jika berada di dekatnya sejak tadi malam. Dia itu selalu melakukan yang terbaik untukku selama ini. Setelah aku pikirkan kembali, ternyata dia itu sungguh - sungguh dengan perasaannya padaku."
Grace senyam - senyum sendiri mengingat masa - masa di mana dia memperlakukan Arion tanpa memikirkan perasaan Arion. Arion malah tidak pernah mengeluh ataupun menunjukkan rasa kesalnya pada Grace.
"Aku rasa kamu sudah mulai menyukainya, Grace. Dia itu memang anak yang baik, tapi dia bodoh. Dia juga manja. Kalau masalah ini tidak bisa dia selesaikan dengan baik dan tidak memberikanku jawaban yang memuaskan, aku tidak akan pernah mengizinkanmu pergi bersamanya."
"Aaakkhhh, Abang. Aku kan juga sudah gak sabar mau pulang menemui keluargaku," rengek Grace pada Ricky.
"Ya sudah, lebih baik kamu beristirahat sejenak," pinta Ricky pada Grace sambil berjalan menjauhi Grace. Tapi Grace malah menghalangi jalannya.
"Bang, Abang belum menjawab pertanyaanku tadi. Apa Abang sudah menemukan pelakunya?"
Grace sangat penasaran, tapi selama 5 menit penuh dia tidak mendapatkan jawaban apa pun dari Ricky. Ricky hanya berpikir bagaimana dia menyampaikannya? Yang menjebak dia sebenarnya adalah teman baiknya di kantor itu.
"Hmm.. Nanti kita akan bahas ini. Mending kamu istirahat dulu. Ada urusan yang lebih penting yang harus aku lakukan sekarang juga. Kamu tau kan, kalau aku tidak suka jika mengabaikan hal penting?
"Baiklah, Bang. Aku akan masuk kamar. Kepalaku juga masih sakit. Hati - hati di jalan ya, Bang," ucap Grace sambil melambaikan tangannya.
Ricky hanya memandangi punggung Grace yang menjauh, "Sebaiknya kamu tidak tau apa yang terjadi. Biarlah semua hal baik yang akan menjadi kenangan terakhirmu dari sini. Aku yakin, kamu akan lebih memilih pergi bersamanya. Karena aku melihat pintu hatimu sudah mulai terbuka sedikit demi sedikit untuk dia. Semoga kamu bisa menemukan kebahagiaanmu, Grace."
Ricky pun bergegas pergi ke kantor. Dia memang akan melakukan sesuatu yang penting. Dia akan menyidang semua orang - orang yang terlibat. Dia akan menghukum semua orang itu dengan kejam, karena mereka berani melakukan hal keji pada adik kesayangannya itu.
Sesampainya di kantor, dia langsung bergegas menuju ruang rapat. Di sana sudah terkumpul orang - orang yang menjebak Grace tadi malam. Dan juga beberapa anggota Mafia.
"Kamu! Kamu itu kan rekan kerja yang paling dekat dengan Grace. Kenapa kamu tega melakukan hal seperti itu?! Grace selalu ada untukmu, dia selalu menolongmu kalau kamu sedang dimarahi. Kesalahanmu jadi kesalahannya, dia selalu menanggung kesalahanmu. Jangan kamu pikir aku tidak tau semuanya." Ricky menjelaskan semuanya secara detail. Inilah alasan Ricky tidak ingin Grace mengetahui siapa pelakunya.
"Aku.. Aku tidak suka dengan sikapnya yang suka ambil muka di depan para lelaki. Terutama dengan Bapak. Pak Ricky kan sudah berkeluarga, tapi dia tidak tau batasan. Dia merayu Bapak. Aku tidak suka melihat dia yang seperti itu," Kata perempuan itu. Ricky hanya tersenyum miring padanya.
"Jadi, kalian bertiga? Apa yang membuat kalian mau melakukan hal seperti itu?" Ricky bertanya pada ketiga perempuan yang membopong badan Grace ke luar Klub dan pergi ke kamar hotel.
"Kami juga tidak suka melihat Grace yang selalu mendapat perlakuan khusus dari para karyawan laki - laki di kantor, termasuk Pak Ricky."
"Bapak selalu memberikan perhatian khusus pada Grace yang bukan siapa - siapanya Bapak."
"Dia juga bisa langsung dapat jabatan yang bagus, padahal dia pendatang baru. Dia itu terlalu santai dalam bekerja."
Mereka berbicara secara nergantian mengungkapkan semuanya. Semua yang ada di sana terdiam seketika melihat tatapan mengerikan dari atasannya, "Jadi, kalian berpikir bahwa Grace itu sama seperti wanita penggoda? Kalian semua salah besar!!"
Ricky memukul keras meja yang ada dihadapannya saat ini. Dia sangat marah mengetahui apa yang dipikirkan mereka tentang Grace.
"Kalian semua akan di pecat! Dan aku akan pastikan kalau kalian tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan yang layak di kota ini, bahkan di seluruh kota yang ada di Negara ini! Kalian sudah berbuat hal keji padanya! Akan kuberitahukan pada kalian berempat ya, Grace sudah ku anggap seperti adikku sendiri. Dia adik kesayanganku. Dan kalian sudah berani berbuat seperti itu padanya. Kalian semua akan menyesal telah menyentuhnya!!"
Ricky pun keluar dari ruangan tersebut dan melangkah menuju ruangannya. Dia muak melihat wajah mereka yang sudah membuat onar tadi malam.
Drrtttt... Drrttt... Drrttt...
"Halo, ini siapa?" Ricky mengangkat panggilan telepon dari orang tak di kenal.
"Ini aku, Bang. Arion."
Ricky sempat menjauhkan ponselnya dari telinganya. Dia mengerutkan dahinya melihat layar ponselnya itu. Dia bingung mengetahui bahwa akan secepat ini Arion menghubunginya.
"Langsung intinya saja. Apa alasanmu meneleponku?" Tanya Ricky dengan cuek. Dia masih kesal dengan Arion yang tidak bisa menjadi lelaki yang bertanggungjawab.