
Sejak kepergian Grace, Ar selalu melirik ke arah ponselnya. Dia memantau pergerakan dari sinyal GPS dari ponsel Grace. Dia benar - benar tidak bisa fokus dengan pekerjaannya.
Setelah dia melihat titik merah yang dipancarkan oleh GPS milik Grace, Ar langsung mencatat titik koordinat dari GPS tersebut. Dia mencaritahu lokasi yang dituju oleh sang Istri.
"Aku harus bisa menyelesaikan semua ini dengan cepat! Aku yakin kalau Agung pasti akan mencari kesempatan dalam kesempitan untuk menahan Grace di sisinya. Dia itu tidak pernah merasa jera setelah kejadian terakhir kalinya." Ucap Arion pada dirinya sendiri.
Akhirnya, dia memutuskan untuk melakukan pekerjaannya dengan benar. Sesekali dia memang melirik ke arah ponselnya memastikan tiitik merah itu bersinar tetap pada tempatnya.
Usai mengerjakan semua berkas - berkas, Ar kembali memperhatikan ponselnya. Titik merah yang tadinya bertengger di sana sudah tidak kelihatan lagi. Dia mencoba untuk menelepon Istrinya. Tapi tidak terhubung sama sekali. Ponselnya sudah tidak aktif lagi.
Sesaat dia berpikiran untuk menghubungi Bodyguard sang Istri, tapi ponsel mereka pun tidak dapat dihubungi karena ponsel mereka juga sudah dalam keadaan tidak aktif lagi. Ar merasa jantungnya berdebar kencang tak karuan dan pori - pori kulitnya mengeluarkan keringat dingin yang mewakili rasa khawatirnya yang menggebu - gebu.
Tanpa berpikir panjang, Ar menyambar kunci mobilnya dan pergi begitu saja.
Selama perjalanannya, dia menghubungi Steve untuk memberikan kabar mengenai Grace. Dia tidak ingin semua orang menjadi khawatir jika dirinya dan Istrinya jika mereka pulang lebih larut atau malah tidak akan pulang sama sekali.
"Halo, Ar? Kamu dimana? Kenapa kalian sudah tidak ada di ruanganmu?" Tanya Steve saat menerima panggilan dari Ar.
"Aku sedang dalam perjalanan ke lokasi Sam disekap, karena Grace sedang berada di sana dan ponselnya tidak bisa dihubungi sama sekali." Jawab Ar dengan tergesa - gesa.
Steve yang kebingungan pun bertanya kembali, "Kamu sudah menemukan lokasi mereka? Kenapa kamu tidak memberitahukannya padaku? Setidaknya aku bisa membantumu, Ar. Kamu tau sendiri siapa sebenarnya Agung dan bagaimana dia." Ucap Steve penuh peringatan.
"Aku sudah mengirimkan padamu titik koordinat terakhir lokasi Grace. Kamu mau melakukan apa selanjutnya, aku tidak mau tau lagi. Yang terpenting saat ini adalah keselamatan Istri dan Adik Iparku. Kabari orang rumah segera ya, Steve. Jangan beritahu mereka dan jangan buat mereka khawatir." Ucap Ar sambil mengakhiri panggilan tersebut.
Saat ini dia fokus untuk mengemudi dengan kecepatan tinggi menuju ke lokasi. Dia sudah mempersiapkan mentalnya kali ini untuk melawan Agung dan anak buahnya.
**********
"Agung! Kenapa kamu malah melakukan hal seperti ini?" Teriak Grace pada orang yang sedang berdiri di hadapannya.
Melihat raut wajah gelisah dari seorang Grace, Agung mulai berjongkok di hadapan Grcae dan mengelus pipi perempuan itu. Agung merasa khawatir melihat reaksi yang ditunjukkan oleh Grace.
"Grace, jangan khawatir. Aku akan melindungimu. Kamu tidak membutuhkan kelima Bodyguardmu yang lemah itu. Mulai saat ini, kamu akan menjadi tanggung jawabku sepenuhnya." Ucap Agung dengan lembutnya.
Tapi, tangannya malah ditepis oleh Grace dengan kasar. Dia merasa tidak senang dengan perlakuan seperti itu. Sebelumnya, tidak pernah ada yang berani melakukan hal itu padanya.
"Kenapa kamu malah menunjukkan rasa bencimu padaku?! Aku sudah sangat bersabar selama ini. Ingat! Aku bisa melakukan apa pun saat ini juga! Tapi, aku tidak akan melakukannya sebelum kamu sah menjadi milikku besok pagi." Lanjut Agung sembari berdiri dan menatap Grace dengan penuh kebanggaan.
"Apa maksudmu?! Kamu tidak menyebutkan hal seperti itu pada saat kesepakatan tadi. Aku sudah memperingatimu, Gung! Jangan macam - macam! Aku juga bisa melakukan hal yang lebih mengerikan yang tidak biasa!" Bentak Grace pada Agung yang malah tertawa sinis padanya.
Agung membungkukkan setengah badannya dan menatap ke arah Grace dari dekat sambil berkata, "Aku tidak takut pada apa pun kecuali kehilanganmu, Grace. Aku memintamu untuk menemaniku malam ini agar besok pagi kita bisa segera mengurus akta pernikahan kita sekaligus surat perceraianmu dengan Arion."
Grace begitu geram mendengar ucapan Agung. Tanpa basa - basi, Grace berdiri dan mendorong keras tubuh Agung hingga terbanting keras ke meja kaca kecil yang ada di tengah sofa tempatnya terduduk tadi.
"Saat ini aku sedang mengandung buah hati kami, Gung! Jangan melakukan tindakan di luar batasanmu! Aku tidak akan segan - segan untuk menyingkirkanmu jika kamu memaksaku untuk melakukan hal itu." Lagi - lagi Grace membentak Agung dengan sekeras - kerasnya.
Teriakannya membuat anak buah Agung masuk ke dalam rumah. Mereka sedikit panik melihat apa yang sedang terjadi. Agung berdiri dengan menahan rasa sakit akibat serpihan kaca meja yang menusuk punggungnya.
"Kalian semua, KELUAR..!! Jangan ada yang masuk kecuali aku yang memanggil kalian!" Agung mengusir semua Anak buahnya yang sudah masuk ke dalam rumah itu.
Agung merasa kesal dengan tindakan Grace padanya. Tapi, dia tidak sanggup untuk membentak perempuan idamannya itu. Akhirnya, dia memilih untuk meredam amarahnya dan berjalan menjauhi Grace.
"Aku akan mengobati lukaku terlebih dahulu. Nanti kita akan bahas hal ini lagi setelahnya. Aku tidak ingin terjadi apa - apa padamu. Dan jangan harap kamu bisa keluar dari rumah ini. Karena sekeliling rumah ini sudah di jaga ketat oleh puluhan anak buahku." Ancam Agung dengan nada paraunya.
Dia tidak menyangka kalau Grace bisa mendorongnya begitu kuat dengan kondisinya yang sedang hamil seperti itu. Meskipun dia merasa tidak senang dengan kenyataan tersebut, dia tetap tidak bisa melepaskan Grace. Ini kali pertama baginya bisa menahan Grace untuk tetap berada di sisinya.
Grace memahami betul apa yang dimaksud oleh Agung. Dia segera masuk ke dalam ruangan dimana Sam berbaring lemah. Agung memang sengaja tidak mengunci kamar itu dengan maksud untuk membuat Grace memikirkan kembali bagaimana nasib Adiknya jika ia tidak menuruti kemauannya.
"Dia sungguh licik!" Umpat Grace sambil memandang ke arah Adiknya.
"Sam, bersabarlah. Aku akan mengeluarkan kita berdua dari tempat ini." Bisik Grace tepat di telinga sang Adik.
Grace pun berjalan keluar dari ruangan itu. Dia sudah memiliki cara tersendiri untuk menghadapi Agung. Agung sudah memerintahkan anak buahnya untuk tidak masuk ke dalam rumah sebelum dia memanggil mereka. Jadi, Grace memiliki kesempatan untuk memberi pelajaran pada lelaki licik itu.
Grace duduk dengan tenang sambil menghidupkan televisi yang ada di ruang tengah. Dia juga sudah menyeduhkan teh untuk diminumnya sendiri.
Agung yang mendengar suara televisi dari dalam kamarnya pun keluar. Dia tersenyum ramah pada Grace. Dia sudah mengabaikan kekesalannya pada Grace. Saat ini ia hanya ingin memperbaiki hubungannya dengan perempuan idamannya itu.
"Grace.." Sapa Agung dengan lembutnya.
Orang yang dipanggil tidak menyahutnya sama sekali. Grace hanya diam sambil menyeruput teh yang menurutnya lebih menenangkan dibandingkan menyahut lelaki yang sudah duduk di sebelahnya.
"Apa kamu lapar? Sampai - sampai kamu membuat minumanmu sendiri." Tanya Agung dengan hati - hati.
Agung sudah merasakan aura yang tidak sedap diantara dirinya dengan Grace. Dia tau bahwa Grace masih tidak bisa menerima kebaikannya.
Grace hanya menggeleng kecil sambil menghabiskan tehnya. Sekarang saatnya dia fokus pada siaran yang ditayangkan di televisi. Dia sudah menahan rasa laparnya dengan meminum teh yang diseduhnya tadi. Dia tidak ingin calon buah hatinya merasa kelaparan, apalagi sekarang sudah pukul 7 malam.
"Kamu beneran tidak lapar? Tapi, kamu sedang mengandung. Seharusnya kamu sudah merasa lapar di jam makan malam seperti ini, Grace." Ucap Agung yang mulai khawatir dengan keadaan Grace.
"Aku memang tidak suka mendengar kalau kamu sudah mengandung anak dari **** itu. Tapi, bagaimanapun Anak itu adalah darah dagingmu. Aku akan menerimanya dengan baik jika kamu mau bersamaku, Grace. Dan itu sudah seharusnya." Lanjut Agung.
Grace benar - benar mengabaikannya. Hanya dengan begini, Grace bisa membuat Agung merasakan tekanan darinya. Dia yakin kalau Ar akan datang untuk menjemputnya.
Saat ini sudah lewat dari waktu izinnya dan ponselnya juga tidak aktif lagi. Grace menaruh harapan pada Ar untuk menolongnya kali ini. Karena dirinya sudah dilarang keras untuk melakukan aktivitas yang membahayakan kandungannya.
"Baiklah. sekarang katakanlah, apa yang ingin kamu makan? Aku akan memesannya. Aku tidak mau kamu mati kelaparan karena bersamaku, Grace." Bujuk Agung pada Grace.
Ide gila Grace muncul begitu saja. Langsung saja, dia memintanya dan bertanya pada Agung. "Aku ingin kamu yang memasaknya. Aku tidak suka memakan masakan cepat saji. Aku hanya bisa makan masakan rumahan yang dimasakkan oleh orang terdekatku. Bagaimana?"
"Baiklah. Aku termasuk ahli dalam memasak masakan rumahan. Sekarang kamu tunggu saja sampai aku selesai memasak. Aku akan menyediakan beberapa jenis lauk yang lezat hanya untukmu. Kamu pasti suka. Aku jamin itu." Ucap Agung dengan antusias.
"Hmm.." Jawab Grace dengan singkat.
ARION POV
'Bagaimana ini? Jumlah mereka begitu banyak. Sekarang juga sudah saatnya makan malam. Bagaimana keadaan mereka di dalam sana ya? Aku harus memancing mereka bergantian agar menjauhi rumah itu. Jangan sampai Agung mengetahui keberadaanku.'
Aku terus - menerus berpikir dengan matang apa yang harus kulakukan selanjutnya. Meskipun aku sendirian, aku tidak takut menghadapi puluhan anak buah Agung. Yang kutakutkan hanyalah satu. Agung melukai Istri, Anak dan Adik Iparku karena aku melakukan sedikit kesalahan di sini.
Kulemparkan sebuah batu ke arah orang yang menjaga pintu depan. Mereka terpancing! Mereka mulai mengikuti arah datangnya batu itu dilempar. Aku pun perlahan berjalan hingga mereka mengikuti suara rumput akibat ulahku.
"Wah! Sepertiya ada yang datang ingin menyerahkan nyawanya. Berhenti!" Teriak seorang preman padaku. Karena jaraknya sudah cukup jauh dengan lokasi penyekapan, aku pun berhenti dan berbalik ke arah mereka.
Aku menatap mereka dengan tatapan tajam. Setelah sadar sepenuhnya, aku baru tau kalau mereka berjumlah 6 orang. Aku harus bisa menangani mereka dengan segera.
Mereka malah tertawa girang sambil berkata, "Apa kamu bilang? Kamu pasti berakhir begitu saja di sini. 1 lawan 6, apa kamu masih punya harapan? Hahaha.."
Aku memasang kuda - kuda untuk mengawali posisi amanku untuk melawan mereka berenam. Salah satu dari mereka datang langsung dengan mengarahkan telapak tangan kanannya ke arah wajahku.
Dengan tangkas, kutangkis gerakan tangannya dan kupatahkan tulang lengan tangannya dengan siku sekuat - kuatnya. Dia berteriak keras karena rasa sakit yang dirasakannya. Aku tidal lupa melumpuhkannya dengan meninju dengan keras bagian dadanya hingga dia terkapar tak berdaya.
Kelima temannya menganga melihat aksiku. Sudah kuduga, mereka meremehkanku sejak awal. Meskipun sudah lama aku tidak melakukan latihan seperti ini, aku masih bisa melakukannya dengan baik sejak yang terakhir kali aku melawan beberapa preman bersama dengan Grace.
Seketika preman yang bercodet dan berambut kribo berlari menghampiriku. Mereka ingin melawanku bersamaan. Aku akan meladeninya dengan santai. Karena posisi kakiku sudah sangat siap untuk menghadapi mereka.
Sebelum preman yang bercodet mendekat, kuhantamkan kaki kananku dengan kuat ke arah rahangnya. Dia tidak sempat mengelak dan akhirnya terplanting jauh. Kurasa giginya ada yang copot, karena tendanganku berbunyi keras tepat saat menyentuh bagian rahang kirinya.
Si kribo begitu dekat denganku. Dia melayangkan tinjuannya ke arah kepalaku. Dengan sigap, ku tundukkan kepalaku dan dengan sengaja aku mengarahkan tinjuanku ke arah dagunya dengan sekuat tenaga. Dia pun terlempar cukup jauh dan tidak sadarkan diri.
"Kurang ajar! Dasar bocah tengil..!!" Teriak preman yang bertato di sekitar ototnya.
Dia bergerak begitu lincah bersamaan dengan dua temannya. Kali ini aku harus mengahadapi tiga orang sekaligus. hanya yang bertato itulah yang berbadan kekar. Yang lainnya begitu kurus, makanya aku bisa dengan mudahnya melawan mereka. Bagaimana dengan yang satu itu ya?
Sudahlah! Aku harus fokus untuk melawan mereka. Aku harus menyelamatkan keluargaku secepatnya. Pandanganku saat ini tertuju pada yang kecil terlebih dahulu.
Aku menempatkan kepalan tangan kananku bertepatan mengenai ulu hati preman yang bertompel di dagunya. Tidak lupa aku menghindari semua pukulan yang diarahkan preman berotot itu padaku. Kutarik pergelangan tangan seorang preman lagi dengan kuat dan menghantamkan tubuhnya langsung pada preman yang berotot itu.
Karena sedikit lengah, aku hampir mengenai pukulan dari preman yang bertompel. Pada saat yang bersamaan, aku mengangkat kakiku. Lalu tanganku dengan sigap tersinkronisasi menarik kepala preman itu. Dan dengan tenaga penuh, lututku menghantam tengkorak kepala preman yang bertompel itu.
Tiba - tiba saja tangan kiriku ditahan oleh seseorang. Tanpa berniat untuk melihat siapa orangnya, aku langsung membalikkan badanku dan menusukkan tenggorokannya dengan jari telunjuk dan jari tengahku yang sudah menempel. Dia tidak bisa lagi melakukan apa - apa karena faringnya sudah tertekuk ke dalam yang mengakibatkan dia menjadi sulit untuk bernapas. Seketika dia pun tak sadarkan diri.
Sekarang lawanku tinggallah seorang preman yang bertubuh kekar dengan tato disekitar ototnya. Wajahnya sudah memerah. Dia terlihat sangat marah melihat kondisi teman - temannya.
Begitu dia mendekat dan langsung mengarahkan pukulannya secara membabibuta. Aku beberapa kali terkena pukulannya yang begitu keras. Aku sudah tidak tahan lagi dengan gerakan gilanya yang sangat menggangguku.
Aku pun begerak cepat berlari ke arah belakangnya. Saat aku berhasil berada di dekatnya, langsung saja kuhentakkan kepalan tanganku ke arah tengkuk lehernya dengan sekeras - kerasnya. Kekuatanku yang tersisa cukup untuk melumpuhkannya dalam sekejab.
Aku tidak peduli jika aku mematahkan leher lawanku. Atau ada yang berpikiran bahwa aku kejam, memang inilah aku. Aku sedikit bergidik puas saat melumpuhkan lawan-lawan ku, terutama preman kampung seperti mereka.
Tidak berapa lama, belasan preman yang tersisa datang ke arah kami. Mereka terkejut melihat keadaan keenam temannya yang sudah tidak berdaya lagi. Tepat di saat mereka ingin mendekatiku, tiba - tiba saja rombongan anak buahku datang bersama dengan Steve yang terlebih dahulu menghampiriku.
"Kamu tidak apa - apa kan, Ar?" Tanya Steve dengan raut wajah khawatir.
"Sekarang saatnya kita masuk ke dalam dan menyelamatkan mereka. Aku yakin kalau Agung sedang melakukan berbagai cara untuk menahan Grace." Ucapku dengan serius padanya.
Dia kembali melirik ke arah anak buah kami. Setelah itu, dia kembali menatapku sambil berkata, "Baiklah, kita akan meninggalkan mereka di sini untuk membereskan sisanya. Kita berdua yang akan masuk ke salam rumah itu dan menghajar Agung."
Aku mengganggukkan kepalaku dengan cepat lalu berjalan lebih dulu menuju ke depan pintu rumah kecil itu. Begitu pintu terbuka, aku tidak melihat seorangpun.
"Kenapa malah sepi begini? Apa mereka sudah tau kedatangan kita dan pergi secepat kilat?" Tanya Steve padaku sambil berbisik.
Aku melotot padanya sekilas, pertanda dia tidak diperbolehkan untuk mengatakan apa pun saat ini. Kami harus fokus untuk mencari keberadaan Grace dan Sam.
"Ehhh, lihatlah ini, Ar! Mereka kelima Bodyguardnya Grace. Mereka semua sepertinya dibius." Teriak Steve sambil menunjuk ke arah sudut ruang tamu.
"Sssttt.. Jangan berisik!" Bisikku padanya dengan kesalnya.
Ceklekk..
Terdengar suara pintu terbuka. Kami berdua terkejut mendengarnya dan segera mencari posisi aman untuk bersembunyi.
"Ar? Apa itu kamu?" Itu suara Grace. Dia menyadari keberadaanku!
Aku pun langsung keluar dari persembunyianku dan berjalan menghampirinya bersama dengan Steve. Aku memeluknya dengan erat sambil bertanya, "Bagaimana keadaan kalian, Sayang?"
"Kami baik - baik saja, Sayang. Lebih baik sekarang kita pergi dari sini. Sebelum anak buahnya Agung menyadari keberadaan kalian." Ucapnya dengan serius.
"Tenang saja, anak buahnya sudah teratasi. Jadi, Agung kemana? Kenapa malah dia yang tidak kelihatan?" Tanya Steve pada Grace yang masih dengan nyamannya berada dalam dekapanku.
Grace terkekeh mendengar Steve bertanya demikian. Aku yang penasaran langsung menanyainya suatu hal. "Kenapa malah tertawa, Sayang? Apa yang lucu?"
"Agung sudah kusingkirkan, Sayang. Dia sedang dalam keadaan koma karena biusnya sendiri. Aku memberinya pelajaran berharga untuk hari ini." Jawabnya dengan santai sambil tersenyum puas.
"Kamu sungguh kejam, Grace." Ucap Steve begitu saja pada Istriku sambil menggeleng - gelengkan kepalanya.
Grace melepaskan pelukanku lalu berjalan memasuki ruangan yang berada tepat di sebelah kami. Dia menunjuk ke arah tempat dimana Sam tertidur pulas.
"Sam?" Tanyaku pada Grace.
"Iya, Sam sudah dibius oleh Agung. Dia melakukan ini semua hanya untuk menahanku di sisinya. Dia malah nekad ingin membuat surat perceraian untuk kita dan mengurus akta nikah kami besok pagi. Aku gak sudi melakukan itu semua. Makanya aku menghajarnya tadi saat dia sedang memasak." Ucap Grace dengan membanggakan dirinya sendiri.
Steve berjalan melewati kami berdua dan menggendong tubuh Sam yang tak berdaya itu sambil berkata, "Baiklah, mari kita bawa Sam ke Rumah Sakit terlebih dahulu."
Aku menggandeng tangan Istriku dan membawanya ke arah mobilku. Kami pun berangkat. Aku yang mengemudikan mobil dengan ditemani Istriku yang duduk di sebelahku. Sedangkan Steve menjaga Sam. Mereka duduk di bangku belakang.
Kami pun berangkat ke Rumah Sakit. Tidak ada dari kami yang memberitahukan hal ini pada para Orangtua. Kami akan memikirkan cara untuk menghadapi para Orangtua saat mengetahui tentang hal ini esok hari.
>>> Bersambung <<<
Sampai sini dulu ya..
Kita akan lanjut di next chap, Ingat untuk selalu beri like nya yaa, Kakak2..
Terimakasih bagi yang sudah support Author selama ini..
Selamat Tahun Baru 2020 Semuanya..
Salam Kasih untuk Yg Terkasih
~~ Love You All ~~