
GRACE POV
Mulai pagi ini, aku akan berangkat ke Kantor hanya berdua dengan Yoru dan Pak Supir. Sam sudah kembali ke Apartemennya tadi malam. Dan dia pastinya akan pulang ke sana setiap harinya setelah menemaniku hingga aku tertidur pulas. Begitulah perjanjian kita.
Hari ini aku harus menandatangani banyak berkas. Karena hari ini jadwal memeriksa berkas yang dikirimkan oleh cabang Melv. Corp yang ada di Luar Negeri. beginilah pekerjaanku setiap hari selasa dan jum'at.
Pada kedua hari inilah, aku akan berada di dalam Kantor seharian. Semua meeting penting akan dijadwalkan di lain hari. Dan jadwal temu Client di luar Kantor, biasanya akan dijadwalkan pada hari Senin dan Sabtu siang.
Pekerjaan seperti ini tidaklah mudah, tapi, semenjak aku mengandung, aku jadi lebih aktif dalam bekerja. Hobiku yang terkubur selama puluhan tahun pun terpancar pada saat seperti ini.
Lelah? Aku mungkin merasa lelah. Tapi, aku akan melupakan rasa lelahku pada saat hasil kerjaku tereliasasikan dengan baik dan benar. Itu artinya, keputusanku dalam menolak dan menerima proposal kerja dan lainnya sudah sangat bagus.
Baru saja aku duduk, aku sudah disuguhkan dua tumpukan berkas yang menggunung di atas meja kerjaku. Sejak Sam kembali bekerja, Yoru kembali pada posisinya. Dan pekerjaan Steve sudah diambil alih langsung oleh Sam.
Aku bangga melihat perkembangannya. Dia cukup baik dalam beradaptasi dengan pekerjaannya yang baru. Sam sungguh melakukan semuanya sendiri tanpa sedikitpun cela.
"Sam, nanti kamu coba cekkan email yang dikirim oleh beberapa agen dan distributor. Mereka mengirimkan nota yang belum aku cek," perintahku padanya.
Dia baru saja meletakkan setumpuk berkas lagi. Aku memijat pelipis mataku.
"Kenapa Kak? Apa Kakak merasa lelah?" tanya Sam padaku setelah melihatku melakukan hal itu.
"Kakak baik - baik saja, Sam. Hanya saja, ini berkas memang membuatku sedikit mual. Mereka selalu bertumpuk seperti ini dua kali seminggu," ucapku sambil terkekeh dan menggelengkan kepalaku dengan perlahan.
Pemandangan yang sangat menyebalkan. Meskipun demikian, aku sangat senang mengerjakannya. Aku hanya menikmati waktuku dengan baik pada saat aku sedang memeriksa berkas - berkas itu. Setiap kata yang tertera pada setiap lembarnya, bagaikan ritme yang mengalir di dalam pikiranku.
"Istirahatlah sejenak, Kak. Jangan terlalu memikirkan dokumen yang menumpuk itu. Tidak ada yang berani melarang Kakak untuk beristirahat. Jadi, Kakak tidak perlu takut." Sam menasihatiku seolah aku ini adalah seorang bocah yang tidak pandai membagi waktu.
Aku tersenyum lebar dan menoleh padanya sambil berkata, "Kamu tidak perlu khawatir. Sam. Kakak pasti akan meluangkan waktu Kakak untuk istirahat sejenak. Jadi, kembalilah ke ruanganmu dan cek email yang masuk."
Kulihat Sam berbalik badan dan keluar dari ruanganku. Saatnya, aku memulai pekerjaanku.
"Ehh? Kok ini atasnama Ricky? Sejak kapan?" tanyaku pada diriku sendiri.
Tiba - tiba saja aku melihat berkas yang bertuliskan nama pemimpin Melv. Corp yang ada di London. Aku tidak mungkin salah, ini benar - benar tanda tangan dari Bang Ricky.
Aku akan menghubunginya nanti. Setelah semua berkas - berkas ini kuselesaikan.
Drrttt.. Drrttt.. Drrttt..
Setelah sejaman berkutat memeriksa berkas, ponselku berbunyi. Orang yang menghubungiku adalah orang yang ingin kuhubungi nantinya.
Kuterima panggilan itu dan berkata, "Halo? Bang Ricky?"
"Yah, Grace. Ini Abang," katanya dengan perlahan.
"Apa sekarang Bang Ricky yang bertanggung jawab atas perusahaan Melv. Corp yang ada di London?" tanyaku penasaran padanya.
Bang Ricky terdiam sejenak sembari menarik nafasnya perlahan.
"Kamu benar, Grace. Abang yang bertanggung jawab sementara dengan perusahaan Melv. Corp yang ada di sini. Hanya sampai Arion dan Steve ditemukan. Abang hanya ingin memberitahukan padamu mengenai hal ini. Abang minta maaf, karena belum bisa menemukan mereka berdua secepat yang kita harapkan."
Ucapannya membuatku merasa terpukul. Aku tidak menyangka kalau Bang Ricky saja sampai tidak bisa menemukan mereka dalam waktu singkat. Orang yang melakukan ini semua pastilah sudah mempersiapkan semuanya dengan matang.
"Iya, Bang. Grace percaya sama Bang Ricky. Sebentar lagi, Grace akan mengirinkan file yang Abang butuhkan segera."
Saat aku ingin mengakhiri percakapan kami, Bang Ricky membicarakan sesuatu yang membuatku merasa senang. Dia berkata, "Ehh, Grace. El dan Ed sudah dalam perjalanan ke sana. Nanti mereka yang akan menemanimu selama beberapa waktu sampai aku datang sendiri ke sana untuk menjemput mereka. Anggap saja ini sebagai liburan buat kalian. Abangharap, kamu bisa membuat mereka merasa senang selama berada di sana."
"Benarkah Bang? Abang Serius?" tanyaku dengan penuh harap.
Sudah lama aku tidak berkomunikasi dengan Ed. Sekarang dia berencana ke Indonesia untuk berlibur? Sungguh kabar yang menggembirakan.
"Iya, Grace. Apa pernah Abangmu ini berbohong? Yang terpenting itu, kamu jaga kesehatan dan kandunganmu. Supaya Ed bisa punya adik kecil yang mungil," ucapnya dengan penuh penekanan suara.
"Bang Ricky memang the best! Terimakasih kabar gembiranya, Bang. Aku tuutp teleponnya ya, Bang."
Aku pun segera mengakhiri panggilan itu setelah Bang Ricky menjawab singkat dan hanya dengan satu kata, "Hmm.."
Sudah saatnya, aku fokus dengan pekerjaanku. Aku membolak balik berkas - berkas yang kini ada di atas meja kerjaku. Tidak akan ada satu pun di antara tiga tumpukan terlewatkan olehku.
Setelah beberapa saat, dua tumpukan dokumen itu pun selesai kuperiksa. Aku langsung memanggil Shei melalui interkom yang sduah tersedia.
"Halo, Shei. Masuklah ke ruanganku. Ambil kembali berkas yang kamu antar tadi pagi. Semuanya sudah selesai kuperiksa," perintahku pada Shei. Dia memang anak yang periang, tapi dia itu pemalu dan pendiam.
Sifatnya yang irit dalam berbicara, sangatlah kukagumi. Shei bukanlah orang yang sombong, tapi dia benar - benar tau kapan dia harus berbicara banyak dan kapan dia hanya perlu diam.
Tokk.. Tokk.. Tokk..
"Masuk! " perintahku pada yang mengetuk pintu ruanganku.
"Bu, Ibu ada tamu yang bernama Elvina dan Edzard." Beginilah tata cara Shei dalam berkomunikasi. Singkat, padat dan jelas.
"Suruh mereka masuk, Shei." Aku pun beranjak dari tempat dudukku dan berjalan menuju ke arah pintu sambil merentangkan kedua tanganku. Ed muncul dan langsung menghambur ke pelukanku.
"Hello, Ed. Hai, Kak El."
Hanya itu yang bisa kukatakan saat ini. Aku sangat senang melihat kehadiran mereka. Aku menyalam Kak El sambil menggendong Ed. Dia masih saja manja terhadapku.
"How are you, Ed? Are you miss me, Honey?" tanyaku padanya.
(Apa kabarmu, Ed? Apa kamu merindukanku, Sayang?)
"I'm fine, Aunty. And I'm really really certainly miss you, My Lovely Aunty!" ucapnya dengan penuh kegirangan yang terpancar dari raut wajahnya.
(Kabarku baik, Bi. Dan aku benar - benar sangat merindukanmu, Bibi kesayanganku!)
"I miss you so much too, Honey!" jawabku lantang padanya.
(Aku juga sangat merindukanmu, Sayang!)
"Kak El, apa kabar?" sapaku pada Kakak Iparku.
Kami bersalaman sebentar dan dia hanya menjawab singkat, "Kabarku baik. Gimana kabarmu dan calon ponakanku?"
"Will Ed have a younger sibling?" tanya Ed sambil melirik ke arah Mamanya.
(Apakah aku akan punya Adik?)
Dia sungguh menggemaskan! Semakin bertumbuh, dia terlihat semakin imut dan cerdas.
"You are right, Ed. You will have this younger sibling of your beloved Aunt." Jawaban yang diberikan Kak El pada Ed, membuatku terkekeh geli melihat ekspresi kaget Ed yang lucu.
(Kamu benar, Ed. Kamu akan mempunyai Adik dari Bibi kesayanganmu ini.)
"Wow! I will have a younger sibling! I will definitely love him/her with all my heart! I promise you, Aunty!" Ucapannya yang penuh semangat itu sungguh membuatku merasa terharu.
(Wow! Aku akan punya seorang Adik! Aku akan menyayangi dia dengan sepenuh hatiku! Aku berjanji padamu, Bi!)
Aku memeluknya erat sambil menitikkan air mataku. Aku sangat merindukannya.
Entah mengapa, aku mengingat Arion pada saat seperti ini.
"Aunty.." Ed memanggilku sambil mengelus pundakku. Dia tau kalau aku sedang menangis dalam pelukannya. Ed sungguh peduli padaku.
Brakk..!!
Pintu ruanganku terbuka dengan kasar. Aku mengelap air mataku dan melihat ke arah orang yang sudah berani mendobrak pintu ruanganku tanpa izin.
"Kak! Ayo kita makan siang bersama. Aku sudah menerima banyak bekal untuk makan siang kita semua. Aku juga tidak tau kenapa Mom tau kalau Kak El dan Ed datang berkunjung. Hai, Kak. Hello, Ed."
Sam mengoceh tiada henti diikuti oleh Yoru yang berjalan di belakangnya. Dia meletakkan semua bekal di atas meja di dekat sofa panjang dan Yoru yang membuka satu per satu bekla itu dan membagikannya untuk kami semua.
"Ed, introduce yourself to them. They are Aunty's brother," ucapku sambil menurunkan ed dari gendonganku.
(Ed, perkenalkan dirimu pada mereka. Mereka adalah Adiknya Aunty.)
"Hello, my name is Edzard Yardies. I came with my mother to visit my beloved Aunt and vacation here for a while until Papa came to pick us up. Nice to meet you two, Uncle."
(Halo, namaku Edzard Yardies. Aku datang bersama dengan Mamaku untuk mengunjungi Bibi kesayanganku dan berlibur di sini beberapa waktu sampai Papa datang menjemput kami. Senang berkenalan dengan kalian, Paman.)
Cara Ed memperkenalkan dirinya membuat Sam dan Yoru menganga melihatnya. Mereka terkagum - kagum melihat kelincahan Ed dalam berbahasa Inggris.
"Sudah, jangan menganga begitu. Nanti air liur kalian terbang ke lauk itu. Mari, kita makan siang. Aku sudah lapar," ucapku sambil berjalan menuju ke sofa dan mendudukkan Ed di sebelahku.
Kami pun menikmati makanan yang terhidang di atas meja. Setelah ini, aku masih tidak tau bagaimana nasibku dan keluarga kecilku.
Sebenarnya aku tau kalau Bang Ricky itu ingin membuat hari - hariku yang kosong oleh Arion bisa dipenuhi oleh hadirnya Ed di sini.
Terima kasih Bang, kamu memang yang terbaik!
>> Bersambung <<<
Sampai sini dulu ya..
Kita akan lanjut di next chap, Ingat untuk selalu beri like nya yaa, Kakak2..
Mohon bantu Author meningkatkan rating di TPG yaa, guys..
Bagi yang punya aplikasi NovelToon, sudah bisa bergabung dengan grup chat yang tersedia di bagian detail novel ini yaa..
Salam Kasih untuk Yg Terkasih
~~ Love You All ~~
IG : friska_1609