
"Kak Sil, nanti kita ke Mall, yuk? Aku akan pulang lebih awal. Nanti Mom juga ikut ya?" tanya Grace spontan saat berkumpul di meja makan.
"Bolehlah. Kita memang harus mempersiapkan baju hamil sebelum perut kita membesar. Nanti Mom kasih saran untuk kami ya?" lanjut Silvia sambil menoleh ke arah Mrs.Melv.
"Baiklah, Sayang. Nanti kami akan menjemputmu jam 4 sore ya, Grace. Jangan sampai kamu membuat kami lama menunggu," ujar Mr.Melv. sambil melirik ke arah Grace.
"Begitulah semestinya sejak kemarin. Kalian para perempuan pergi berbelanja. Nih, Dad kasih kartu kredit. Nanti kalian boleh belanja sepuasnya. Jangan sampai ada yang tidak terbelikan ya, Sayangnya Daddy. Bersenang - senanglah sampai malam. Kami para lelaki bakalan makan malam di luar saja. Dad tidak mau ada yang mengganggu acara girls time kalian bertiga," tutur Mr.Melv. yang sangat mendukung kegiatan Istri, Anak dan Menantunya itu.
"Makasih banyak, Dad. Daddy memang yang terbaik!" ucap Silvia dan Grace secara bersamaan.
Mereka memeluk Mr.Melv. dari kanan dan kiri dan mencium pipinya Mr.Melv. dengan penuh semangat.
"Wadoh!" teriak Mr.Melv. tiba - tiba.
Semua orang memasang wajah khawatir. Mereka mendekati Mr.Melv. sambil bertanya, "Dad kenapa? Ada yang sakit?"
"Hahahahaha.." Mr.Melv. tertawa lepas melihat reaksi semua orang.
"Ya ampun, Dad. Kalau mau meledek, jangan gitu caranya. Adam sudah terbiasa dengan hal seperti itu," ucap Adam yang hanya duduk santai sambil menyantap sarapannya.
Grace melirik ke arah Mr.Melv. dan bertanya, "Dad? Dad sengaja?"
Mr.Melv. menghentikan tawanya. Dia menggeser posisi duduknya agar bisa duduk dengan tegap.
"Dad hanya merasa heran. Mungkin saja, Dad harus memberikan kalian liburan setiap harinya agar Daddy bisa mendapat ciuman spontan seperti tadi."
Mr.Melv. mengabaikan tatapan ganas dari sang Istri yang mengomel padanya tanpa henti.
"Ohh, gitu sekarang ya? Dad lebih senang kalau dicium sama yang masih muda? Dad sekarang mulai memikirkan hal yang seperti itu?" ocehan demi ocehan dari Mrs.Melv. mengetuk isi kepala setiap orang yang ada di sana.
Tak mau ikut campur lebih lama, Grace, Yoru, Sam dan Adam pun berpamitan. Mereka harus berangkat kerja. Sedangkan Silvia, dia pergi ke kamarnya untuk menonton acara televisi kesukaannya.
**********
"Apa Pak Wicaksana yakin akan hal itu?" tanya Agung pada seseorang yang ada di seberang telepon.
"Aku mendapatkan info yang sangat bisa dipercaya. Kalau kamu tidak percaya, pergi saja sore ini ke tempat itu. Aku masih harus mengurus Steve. Dia sungguh menyusahkan!" keluh Pak Wicaksana yang langsung menutup panggilan tersebut.
Agung sudah memeiliki rencana baru untuk mendekati sang pujaan hati. Dia tau, dia bisa memanfaatkan waktu ini untuk pedekate dengan Grace. Karena dia hanya tinggal menunggu laporan kematian si penghalang hubungannya dengan Grace.
Sore harinya..
"Grace, kami sudah sampai. Keluarlah. Akmi tunggu di pintu utama," ucap Silvia pada Grace melalui panggilan telepon.
"Baiklah, Kak. Aku akan segera keluar," jawab Grace dengan singkat sambil mengakhiri panggilan tersebut.
Grace pun turun melalui lift dan keluar dari pintu utama perusahaan Melv.Corp. Begitu melihat keberadaan mobil sang Mommy, Grace pun masuk ke dalam mobil. Mereka pun berangkat ke Mall yang paling megah di Jakarta.
"SAATNYA GIRLS TIME..!!"
Ketiganya pun bersorak keras. Mereka akan memulai masa bebasnya.
Bebas menjelajah
Bebas bereksplorasi
Bebas berbelanja
Bebas dari rutinitas yang melelahkan
Hal pertama yang mereka inginkan adalah memanjakan mata. Mereka menjelajahi setiap toko yang ada di Mall tersebut.
Mereka juga membeli banyak barang, seperti : pakaian setelan, tas, aksesoris dan lainnya. Semua barang yang dibeli, langsung dibawa para Bodyguard secara bergantian ke mobil.
"Grace." Seseorang memanggil Grace dari arah belakang.
"Kamu?! Kenapa kamu ada disini?!" tanya Grace pada Agung dengan nada tingginya.
Dalam sekejab, Grace dikelilingi oleh Bodyguardnya. Agung yang merasa sangat kesal melihat itu, langsung menarik kerah baju salah satu Bodyguard Grace.
Dia tidak mengetahui betapa sigapnya para Bodyguard Grace saat ini. Salah satu dari mereka langsung mengikat Agung menggunakan tali tambang yang dibawanya kemana pun dia pergi sejak peristiwa penculikan Sam.
"Argh! Apa - apaan ini?! Lepaskan aku! Kalau kalian masih sayang dengan nyawa kalian, lepaskan aku!"
Bentakan demi bentakan dilontarkan oleh Agung. Tapi, dia malah semakin diseret menjauh dari Grace. Agung masih saja bersikeras melawan. Padahal dirinya sudah diikat dengat kuat menggunakan tali tambang.
"Sudahlah, jangan memikirkannya lagi. Mom sudah memberi kode pada mereka untuk membawa lelaki itu ke hadapan Daddy kalian. Biarlah, Dad yang menghukumnya dengan kejam. Agar dia tidak lagi melakukan kesalahan yang sama berulangkali," ucap Mrs.Melv. menenagkan pikiran Grace.
"Baiklah, Mom. Sekarang mari kita ke spa. Aku ingin memanjakan diriku setelah semua yang telah terjadi," pinta Grace sambil melirik ke arah Mrs.Melv. dan Silvia secara bergantian.
"Ide yang bagus!" Silvia menyetujui permintaan Grace dan pada akhirnya, mereka pergi ke slh satu tempat penyedia jasa spa yang ada di dalam Mall tersebut.
Di sisi lain, Pak Wicaksana sudah lelah mengurus Steve. Bau - bau kebusukannya sudah tercium oleh Steve. Awalnya, dia sudah berhasil membuang semua bukti dan juga sudah berpindah tempat hingga berulang kali hanya untuk menghindar dari indera penciuman Steve.
Tapi, hal itu sepertinya sia - sia saja. Steve dan anak buahnya mendatangi markas sebelumnya. Dia berhasil berpindah tempat sehari sebelum terlacak oleh Steve.
"Bawa mayat hidup itu ke sini! Kita akan terbang ke Indonesia malam ini juga!" teriak Pak Wicaksana pada kesepuluh anak buahnya.
"Tapi, Bos.." ucap seorang dari mereka.
"Argh! Tidak ada tapi - tapian! Kita harus segera berangkat!" Pak Wicaksana membentak semua anak buahnya.
"Bos! Kita sudah dikepung!" Teriak seorang yang lain yang berada di belakang barisan.
"Apa?! Ini tidak mungkin! Bukankah kalian juga sudah menghabisi semua anak buah Steve siang tadi?" gerutu Pak Wicaksana mendengar teriakan salah satu anak buahnya.
"Ini bukan Steve, Bos! Mereka.." ucap seorang yang lebih pintar dari yang lainnya.
"Argh! Aku tidak mau tau! Kalian harus membereskan mereka!" bentak Pak Wicaksana pada semua anak buahnya. Tapi, tidak ada seorang pun dari mereka yang bergerak dari tempatnya berdiri.
Pak Wicaksana merasa sangat frustasi.
"Siapa?! Pasti ada yang membantu Steve!"
"Padahal sekitar 2 jam lagi penerbangannya. Atau aku menyelinap kabur saja? Aku tidak mau tertangkap! Aku harus pergi tanpa mereka ketahui. Harus!"
Pak Wicaksana terus menerus menggerutu di dalam hatinya. Dia berusaha keras untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Bagaimana? Apakah dia akan berhasil kabur dari kepungan orang yang tak dikenalnya.
>> Bersambung <<<
Sampai sini dulu ya..
Kita akan lanjut di next chap, Ingat untuk selalu beri like nya yaa, Kakak2..
Mohon bantu Author meningkatkan**ratingdi TPG dan NARA yaa, guys..
Terimakasih bagi yang setia mengikuti kisah Arion dan Grace selama ini..**
Salam Kasih untuk Yg Terkasih
~~ Love You All ~~
IG : friska_1609