
Hari Pertunangan Steve..
Pagi - pagi sekali, seluruh anggota keluarga Melviano usah mulai bersiap - siap, terutama Steve. Dia sudah lama menjadi bagian dari keluarga Melviano. Jadi, keluarga Melviano lah yang menjadi wakilnya dalam acara pertunangannya. Dia merasa sangat beruntung memiliki orang - orang yang sangat peduli padanya, padahal dia adalah orang luar yang hanya bertemu secara tidak sengaja dengan Mr.Melv.
Calon Tunangan Steve akan bertemu dengannya di Restoran yang sudah di booking sebagai tempat berlangsungnya acara pertunangan ini. Steve sebenarnya sedikit terkejut melihat penampilan ketiga pasangan yang ada gi hadapannya mengenakan kostum yang samaan. Mereka terlihat sangat kompak dengan pakaian yang serba serupa dan serasi.
"Wahh, aku jadi ngiri nih. Kalian seperti pasangan yang akan bertunangan hari ini." Puji Steve melihat ketiga pasangan itu.
"Kamu juga cakep, Nak. Jangan sampai kamu minder karena penampilan orang lain. Fokus dengan acara pertunanganmu ini. Ayo! Kita berangkat." Tutur Mr.Melv. sambil mengajak semua orang untuk berangkat.
Setibanya di tempat tujuan, Mr.Melv. dan Mrs.Melv. mendampingi Steve dan bertemu dengan Lisya yang didampingi oleh Ayahnya. Mereka berlima pun masuk ke dalam ruangan yang sudah dipersiapkan untuk berlangsungnya acara pertunangan ini.
Saat acara dimulai oleh MC, semuanya sudah duduk dengan tertib. Mereka mengikuti acara dengan seksama.
Mr.Melv. memperkenalkan Steve sebagai Anak Angkatnya kepada semua hadirin dan mengundang Steve beserta Lisya ke atas panggung. Banyak diantara para tamu merasa iri dengan Steve. Selain terkenal dengan kemahirannya dalam bekerja, dia itu termasuk lelaki baik yang juga memiliki nasib yang baik juga, karena dia sudah sampai dianggap sebagai Anak oleh pasangan Melviano.
Acara pertunangan pun mencapai puncak. Mereka berdua mulai bertukar cincin pertunangan satu dengan yang lainnya. Ketika terdengar tepukan tangan dari para tamu, Steve mencium kening Lisya sekilas. Sontak saja, Lisya merasa kaget. Dia hanya bisa berdiam diri di tempatnya berdiri sampai mereka diperbolehkan untuk turun dari panggung.
Acara inti pun selesai begitu saja dan dimulailah acara hiburan yang akan menemani kegiatan jamuan makan siang itu. Semuanya menikmati makan siangnya dengan damai. Setelah selesai makan siang, semuanya berdiri dan berkumpul mengelilingi panggung, dimana Steve dan Lisya berdiri.
Mereka mengangkat gelas berisi minuman mereka masing - masing ke arah sepasang kekasih yang baru saja bertunangan. Bersulang dengan maksud memberikan Doa dan dukungan bagi pasangan tersebut.
Di acara yang berbahagia ini, Grace berinisiatif untuk memberikan sebuah hadiah kecil pada pasangan yang baru saja bertunangan. Dia duduk di bangku kecil yang berada di tengah - tengah ruangan tersebut. Ya! Itu adalah sebuah tempat dimana terpampang sebuah piano elit. Grace mulai meletakkan jari - jari manisnya di atas tuts piano tersebut.
Lagu yang dinyanyikan oleh Grace berjudul Loving You - So Eun Lee
(Untuk dapat merasakan suasana yang nyata, silahkan dengarkan lagu ini)
gomawoyo daheul deut geudae yeope itgie
deoneun naeiri na duryeopjianchyo
sarangttaeme himdeungeon ibyeolttaeme apeungeon
yeonghwasogeman isseosseumyeonhae
----------*
eonjena nan mideotjyo naebanjjok geudaerago*
neomuna iksukhaeseo neul buranhaesseotdeon nareul
neomuna haengbokhaeseo manhi ureotdeon nareul
mareobsi anajueotjyo ijeneun anajwo
----- Reff -----
boyeoyo geudaemam arabogimanhaedo
saranghae saranghaeyo malloneun damotalmankeum
arayo geudaemam amumaldo anhaedo
saranghae saranghaeyo nunmureul igilmankeum saranghaeyo
----------
bitmuljocha ippeoyo honjaga anigie
deoneun eodumdo na museopji anchyo
seuchyeoganeun yeonineun gaseumsirin yaegineun
soseolsogeman isseosseumyeon hae
eonjena nan mideotjyo naebanjjok geudaerago
neomuna iksukhaeseo neul buranhaesseotdeon nareul
neomuna haengbokhaeseo manhi ureotdeon nareul
mareobsi anajueotjyo ijeneun anajwo
----- Back to Reff (3x) -----
Terjemahan lagu :
Ketika hari itu aku mendengar suaramu
Aku mempunyai suatu perasaan istimewa
Biarkan Ku selalu berpikir Aku tak ingin melupakan mu
Ku teringat di hari itu
Kau selalu ada di dalam pikiranku
Dan akupun cuma bisa memikirkan tentang dirimu
Jika suatu hari dimasa yang akan datang
Cinta ini akan menjadi nyata
Ku takkan pernah merubah angan ku Aku akan mencintaimu selamanya
Aku tak peduli seberapa jauh hal itu
Aku akan mewujudkan mimpiku menjadi nyata
Aku akan berkata padamu sesuatu Ku ingin kau tahu
Aku ingin kau tahu
Aku cinta kamu,mencintaimu
Layaknya tikus yang menyukai beras
Walau setiap hari terdapat badai
Aku akan selalu berada di sisimu
Aku rindu kamu,merindukanmu
Aku tak peduli seberapa berat hal itu
Semuanya,kan Ku lakukan untukmu
----------
Setelah acara selesai, para tamu bergantian naik ke atas panggung untuk berfoto bersama dan mereka meyalami pasangan tersebut untuk berpamitan. Sore sekitar pukul 5, semua tamu yang hadir sudah pulang seluruhnya. Steve dan Lisya pun terduduk di kursi untuk menghilangkan rasa lelah pada kaki mereka.
"Steve, kami balik duluan ya?" Tanya Ar pada Steve.
"Kamu masih belum sembuh juga, Ar? Kenapa kamu jadi selemah ini sih?" Celetuk Steve yang mulai terheran - heran dengan kondisi tubuh Ar.
"Yah, kata Dokter, kondisi tubuh Ar memang sedang drop banget, Kak. Dia tidak bisa terlalu lelah ataupun stres. Untuk saat ini. Ar memang harus beristirahat lebih banyak dari biasanya. Biar kondisi tubuhnya bisa lebih cepat pulihnya." Jawab Grace yang sedang memeluk lengan Suaminya.
"Ya sudah, pulanglah. Aku masih ingin berduaan dengan Lisya. Oh iya, terimakasih ataas nyanyiannya yang merdu itu." Ucap Steve sambil menyunggingkan senyumannya yang menggoda itu pada Ar dan Grace.
Akhirnya, Ar dan Garce pun pulang hanya berdua. Adam dan Silvia pulang ke Rumahnya. Mr.Melv. dan Mrs.Melv. masih ingin berbincang dengan Papanya Lisya. Mereka masih akan menjalin komunikasi yang baik dengan besan mereka.
"Lisya, kamu mau pulang atau masih mau di sini?" Tanya Steve pada tunangannya.
"Aku mau pulang saja lah, Steve. Gak apa - apa kan?" Jawab Lisya dengan wajah lusuh.
"Kamu kelelahan ya? Ya sudah, sini aku antar ke Rumah." Steve menawarkan dirinya untuk mengantar Lisya.
Sebelum Lisya menjawab, Steve langsung menggenggam tangan Lisya dan pamitan pada para Orangtua.
"Pa, Kami pulang lebih dulu ya. Dad, Mom, Steve anterin Lisya pulang dulu ya? Nanti mau Steve jemput kah?" Pamit Steve sembari bertanya pada Mom and Dad nya.
"Tidak perlu, Nak. Kalian pulanglah. Besok kan kalian harus kembali bekerja. Nanti kami dijemput sama Supir saja." Ucap Mr.Melv. sambil menepuk pundak Steve.
Steve pun menarik pergelangan tangan Lisya menuju ke parkiran. Dia pun membuka pintu mobil untuk membiarkan Lisya masuk ke dalam mobil. Lisya hanya bisa tersenyum manis mellihat perlakuan Steve padanya.
Steve mulai mengemudikan mobilnya menuju ke Rumah Lisya. Mulai saat ini, dia memiliki akses yang lebih banyak untuk bisa berdekatan dengan Lisya. Dia juga sudah bisa datang ke Rumah Lisya kapan pun itu.
Tapi, bagaimanapun bebasnya aksesnya, Steve tidak akan pernah berpikiran untuk membuat Lisya merasa tidak nyaman padanya.
"Sya, kamu berani tinggal di Rumah sendirian? Kan Papa belum pulang. Apa tidak masalah jika kamu sendirian di Rumah?" Tanya Steve penuh perhatian pada Lisya.
Dengan sikap cueknya, Lisya menjawab dengan singkat, "Tidak masalah."
Steve tau bahwa Lisya berusaha bersikap baik padanya, padahal yang terlihat hanyalah sikap juteknya Lisya saja.
"Baiklah, aku akan kamu masuk ke dalam Rumah dan akan tetap terjaga di ruang tamu sambil menunggu kedatangan Papa. Aku tidak bisa meninggalkanmu begitu saja di Rumah semewah ini sendirian. Meskipun begitu banyak pelayan yang ada di Rumah ini, itu saja tidak akan cukup untuk membuatku tenang." Tegas Steve yang baru saja memberhentikan mobilnya di parkiran yang ada di Rumah Lisya.
"Terserah padamu saja, Steve. Aku mau langsung masuk ke kamar. Terimakasih Steve." Ucap Lisya sambil lalu meninggalkan Steve di depan pintu utama.
Sangat terlihat jelas, bahwasannya Lisya masih belum bisa menerima Steve seutuhnya. Tapi dia masih memberikan respon yang positif bagi Steve.
Steve yang sudah melihat kepergian tunangannya, mulai berjalan memasuki Rumah mewah itu dan duduk di salah satu sofa di ruang tamu. Steve tidak lupa membawa tas laptopnya yang selalu ada di salam mobil.
Dia memulai pekerjaannya yang sempat tertunda semalam, karena waktu pulangnya yang begitu cepat. Dia tidak mau menjadi orang yang tidak bertanggungjawab pada pekerjaannya.
Sekitar dua jam berlalu, terdengarlah suara terbukanya pintu utama Rumah. Steve pun dengan sigap menoleh ke arah pintu itu. Ternyata yang muncul adalah Papanya Lisya.
"Hei, Steve. Kamu belum pulang? Kenapa malah duduk bersama dengan laptop begitu? Tidak ada yang menyeduhkanmu teh? Apa para pelayan di sini tidak mengetahui ada tamu sedang duduk sendirian di ruang tamu? Kemana perginya Lisya? Kenapa dia malah meninggalkanmu seperti ini?" Umpat Papanya Lisya melihat keadaan Steve yang begitu merana.
"Ahh, Papa. Papa jangan marah pada mereka. Steve yang menolak untuk diseduhkan minuman dan Lisya sedang tidak enak badan, jadi Steve yang menyuruhnya untuk beristirahat." Ucap Steve sambil memberikan pembelaan pada para pelayan dan Lisya.
Papanya Lisya itu sangat displin. Dia begitu tegas. Jadi, akan menjadi masalah besar jika malam ini dia memarahi seisi Rumahnya hanya karena hal sepele seperti itu, menurut Steve.
"Baiklah, kalau begitu adanya. Jangan sampai aku mengetahui bahwa kamu berbohong pada Papa. Papa paling tidak suka dengan seorang pembohong.
"Iya, Pa. Steve tidak berbohong. Sekarang Steve sudah bisa pamit pulang ya, Pa." Ucap Steve sambil menyalam tangan Papanya Lisya.
"Kamu menginap di sini saja, Steve. Ini juga sudah larut. Kamu pasti merasa lelah dengan kegiatanmu seharian ini. Beristirahatlah di kamar tamu yang ada di arah sana. Pakaian gantimu akan Papa siapkan." Tutur Papanya Lisya dengan ekspresinya yang serius.
"Tapi, Pa.." Ucap Steve yang terhenti seketika.
"Tidak ada tapi - tapian, Steve. Sekarang juga kamu masuk ke dalam kamar itu mandi. Papa akan segera mengecek apakah ada pakaian yang pas dengan mu atau tidak. Ingat Steve, kamu kan sudah menjadi bagian dari keluarga ini. Jadi, kamu tidak perlu merasa sungkan bergitu, Steve." Ancam Papa nya Lisya pada Steve yang sedang berpikir keras untuk menentangnya, padahal itu hanya akan menjadi hal yang sia - sia.
"Ahh, baiklah Papa. Steve akan menginap malam ini. Terimakasih atas perhatiannya ya, Pa." Jawab Steve sembari menampilkan barisan giginya.
Steve pun bergegas memasuki kamar yang ditunjukan oleh Papanya Lisya. Tanpa berpikir panjang, dia pun langsung berjalan menuju kamar mandi. Selesai mandi, dia sudah melihat setelan pakaian santai yang bisa dipakai untuk tidur terletak di atas tempat tidurnya.
Keesokan paginya..
"Wahh,, ternyata kamu cukup berbakat, Steve. Masakanmu tidak kalah rasa dengan masakan koki di Restoran. Sepertinya, Lisya bisa belajar banyak darimu. Dia masih tidak mengerti bagaimana berkreasi dengan kompor dan kuali. Dia terlalu fokus dengan gelar kedokterannya selama ini." Ucap Papanya Lisya yang sedang memuji kelebihan Steve yang berbeda dengan lelaki lain pada umumnya.
Karena selalu hidup sendiri, Steve bahkan mampu membuat adonan kue dan beberapa jenis camilan selain memasak makanan Rumahan. Dia sudah membiasakan dirinya untuk mandiri sejak dia tinggal bersama dengan Arion.
"Papa terlalu berlebihan. Sarapan dulu, Pa. Nanti keselek lho." Ucap Steve dengan berbumbu sedikit candaan.
"Kamu bisa saja. Lisya! Cepat turun dan sarapan!" Teriak Papa Lisya pada Anaknya yang tak kunjung memunculkan batang hidungnya.
Tak berapa lama, Lisya datang dengan setelan kedokterannya yang lengkap. Dia tetap cantik meskipun ekspresi juteknya terlihat jelas di wajahnya.
"Papa jangan teriak - teriak begitu. Masih pagi, sudah ribut saja kerjanya. Papa gak ke Kantor kah? Kenapa belum bersiap - siap juga?" Tanya Lisya pada Papanya yang masih saja melahap makanannya.
"Papa tertarik dengan aroma masakan pagi ini, ternyata Steve yang memasaknya sendiri. Enak sekali. Makanlah, biar kamu tau betapa enaknya masakan Steve. Sebagai calon istri, kamu seharusnya belajar untuk memasak seperti dia." Tutur Papa Lisya pada Anak perempuannya itu.
"Kamu selalu sibuk dengan urusan kedokteranmu itu. Selama ini, kamu tidak pernah mau kursus memasak. Papa sudah mengatakannya berulangkali. Sebagai perempuan, ada kalanya kamu harus bisa menguasai dapur. Kamunya saja yang keras kepala. Untung saja kamu memdapatkan calon yang pandai memasak. Dia bisa mengajarimu secara langsung kalau begitu. Benar bukan Steve?" Lanjut Papa Lisya sambil melemparkan sebuah pertanyaan pendek pada Steve.
"Iya, Pa. Steve bersedia kok, untuk mengajari Lisya kapan pun itu. Steve akan mengajarinya sampai dia benar - benar bisa memasak." Jawab Steve dengan penuh senyuman.
"Nah, sekarang tinggal di kamunya, Sya. Jangan sampai Papa menggunakan koneksi Papa untuk mencabut lisensimu sebagai Dokter. Kamu harus mendengarkan Papamu ini kali ini, Sya. Tidak mungkin Steve yang sebagai Kepala Keluarga nantinya yang memasak. Bagaimanapun itu adalah kewajiban seorang Istri untuk melayani keluarganya dengan menghidangkan makanan yang bergizi dari masakanmu sendiri. Meskipun kalian memiliki banyak pelayan, tetap saja sang Istri harus memasak untuk keluarganya sesekali, sesibuk apapun dia. Kamu paham, Sya?" Tegas Papa Lisya pada Anaknya yang masih saja terdiam tidak mengeluarkan suaranya.
"Sudahlah, Pa. Jangan memaksanya. Jangan mengancamnya seperti itu. Jika dia masih belum bisa memasak, aku kan bisa memasak untuknya. Dia pasti akan mempelajarinya pelan - pelan. Papa jangan membuatnya takut dengan ancaman Papa." Steve tidak tega melihat kebungkaman Lisya. Dia berusaha membujuk Papa Lisya untuk tidak menekan Lisya.
"Oke, baiklah. Papa sudah siap makan. Silahkan kalian lanjutkan kegiatan kalian. Papa mau siap - siap dulu." Ucap Papa Lisya sambil beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah kamarnya.
Steve tetap saja memandang wajah Lisya yang tanpa ekspresi itu. Dia yakin sekali, kalau Lisya sedang merasa kesal dengan ucapan Papanya.
>>> Bersambung <<<
*Sampai sini dulu ya..
Kita akan lanjut di next chap, Ingat untuk selalu kirim jempolnya yaa, Kakak2..
Terimakasih bagi yang sudah support* Author selama ini..
Salam Kasih untuk Yg Terkasih
~~ **Love You All ~~