
BRAAKKK...!!!
Terdengar suara pintu terbuka dengan kasar. Laki-laki yang sedang ingin melancarkan aksi bejatnya pada Grace malah tersungkur ke lantai.
Arion datang bersama Steve dan beberapa bodyguardnya. Lelaki gemuk itu di hajar dan di tarik paksa oleh bodyguard Arion. Steve hanya menunggu di luar pintu kamar hotel itu.
"Grace?" Arion mencoba memanggil nama Grace sembari menutup tubuh Grace menggunakan selimut.
Arion tidak menyangka, kalau dia telah benar-benar menemukan perempuan yang sudah lama dia cari. Dia menemukannya melalui instingnya.
'Bagaimana nasib Grace jika aku tidak mengikuti kata hatiku tadi? Untung saja, aku masih sempat menolongnya.' Arion membatin.
"Grace, kamu kenapa? Kok wajahmu memerah begitu?" Arion mulai panik melihat wajah Grace yang semakin lama semakin memerah.
"Ar... to..long am..bil..kan ha..pé..ku dan te..le..pon Bang Ricky. Aahhh.. Bi..lang pa..da..nya ka..lau aku te..lah di..be..ri obat pe..rang..sang, ta..nya dia ba..gai..ma..na cara me..nga..ta..sinya.."
Grace tidak tau lagi harus meminta pertolongan siapa. Hanya Bang Ricky yang pastinya tau cara mengatasi hal seperti ini.
"Kamu di beri obat perangsang?!! Siapa yang berani berbuat seperti ini padamu?!!" Arion sempat naik darah mendengar ucapan Grace barusan.
Arion pun menunda semua rasa ingin tau nya pada peristiwa itu. Yang terpenting saat ini adalah cara mengobati Grace. Dia langsung beranjak dari tempat tidur itu dan mengambil sling bag Grace yang tergeletak di dekat pintu.
"Halo, Grace? Kamu dimana?!! Kenapa kamu gak ada di sini? Supir juga tidak melihatmu keluar dari sini."
Baru saja ditelepon, panggilan itu langsung terjawab. Sekarang Arion mendapat omelan yang bertubi-tubi sebelum dia bisa mengatakan sepatah kata pun.
"Halo, Bang. Ini aku, Arion."
"Arion? Kenapa ponsel Grace ada padamu? Dimana dia? Berikan ponselnya pada dia!"
Arion sempat ketakutan, tapi dia berusaha untuk mengabaikan rasa takutnya itu demi Grace.
"Bang, saat ini Grace sedang dalam masalah."
"Masalah?!! Masalah apa?!! Cepat katakan..!!"
"Sebenarnya Grace di beri obat perangsang yang aku juga tidak tau siapa pelakunya. Saat ini, seluruh wajah Grace sudah memerah dan dia yang memintaku untuk menelepon Abang untuk menanyakan cara mengatasinya."
Sejujurnya, Ricky sangat penasaran dengan Arion. Dia tidak memyangka bahwa Arion akan menanyakan hal seperti itu padanya. Biasanya, jika ada perempuan yang sangat kita cintai dalam kendali obat perangsang di hadapan kita, kita pastinya akan tergiur untuk melakukan hubungan intim itu.
'Ternyata Arion berbeda dari laki-laki lainnya.' Pikir Ricky yang tanoa di sadari, dia tersenyum jahil.
"Sekarang begini saja, kamu isi bathtub dengan air dingin. Ingat! Air dingin. Trus bawa Grace ke kamar mandi dan masukkan dia ke bathtub itu. Tunggu sampai dia merasa suhu tubuhnya normal kembali. Dia akan lebih baik setelah itu."
"Baiklah, Bang. Terimakasih atas sarannya, Bang."
"Oke. Jaga Grace baik-baik. Aku percayakan dia padamu."
"Pasti Bang."
Panggilan itu pun terputus. Arion langsung masuk ke kamar mandi dan mengisi air dingin pada bathtub yang tersedia.
"Grace, aku sudah mengisi air mandian untukmu. Biarkan aku membawamu ke kamar mandi. Aku janji, aku tidak akan berbuat yang aneh-aneh padamu."
Arion merasa takut jika bujukannya di tolak oleh Grace. Padahal Grace memang tidak pernah berpikiran seperti itu.
"Cepat, Ar. Bawa aku langsung ke sana. Aku sudah gak tahan dengan reaksi obat ini. Sangat panas."
Arion langsung menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh Grace dan menggendong Grace ala bridal style. Dia memang sudah melihat tubuh mulusGrace.
Bagaimanapun juga, dia itu seorang laki-laki. Setelah melihat hal seperti itu, junior milik Arion mulai menegang dan membuatnya merasa tidak nyaman.
Sebenarnya dia sudah mulai bergairah melihat kemolekan tubuh Grace. Tapi, dia berusaha sangat keras untuk tetap menepati janjinya pada Grace. Dia tidak akan berbuat hal lain selain menolong Grace dari bahaya seperti ini.
Dia meletakkan Grace di dalam bathtub dan langsung berdiri membalikkan posisi badannya membelakangi Grace.
"Grace, kalau kamu sudah merasa lebih baik, kamu boleh panggil aku. Aku akan membawamu keluar dari sana."
"Baiklah, Ar. Kamu boleh keluar. Terima kasih ya, Ar."
Arion pun segera kelaur dari kamar mandi itu. Di balik pintu kamar mandi, dia berusaha untuk mengatur degup jantungnya yang kini sedang berpacu kencang.
'Kuatkan dirimu, Ar. Kamu tidak boleh berpikiran yang macem - macem.' Arion hanya bisa beradu argumen antara hati dan pikirannya.
Tiba - tiba dia teringat dengan keberadaan Steve yang masih setia menunggunya. Ar pun segera membuka pintu kamar dan meminta Steve untuk menyediakan setelan pakaian tidur untuk Grace dan pakaian ganti untuk dirinya.
Steve pergi dari tempat itu sambil menelepon seseorang. Dia segera menuju ke parkiran dan masuk ke dalam mobil, dia akan menunggu pesanannya di sana. Pakaian ganti dia dan Arion masih tersimpan rapi di dalam mobil karena mereka juga baru tiba di London tadi pagi dan masih belum sempat booking hotel untuk bermalam, jadi dia hanya memesan setelan pakaian untuk Grace.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, Steve menerima pesanannya dan langsung masuk kembali ke hotel. Tidak lupa, dia memesan kamar hotel tepat di sebelah kamar yang sedang Grace tempati. Dia tetap butuh ruang dan waktu untuk beristirahat.
Setelah mengantarkan pesanan Arion, dia pamitan untuk beristirahat di kamar sebelah, "Ar, aku akan beristirahat di kamar sebelah. Jika kamu mau pindah kamar, kamu bisa mendatangiku ke sebelah. Oke?"
"Baiklah, aku akan menelepon mu jika itu terjadi. Aku masih harus membantu Grace di dalam."
"Oke, bye Ar."
Steve pun berlalu dan Ar langsung mengunci pintu kamar itu. Dia meletakkan pakaian ganti Grace di atas tempat tidur.
"Grace, kamu jangan terlalu lama di dalam air lho, nanti kamu sakit."
Arion mengetuk pintu kamar mandi dan berusaha untuk menyadarkan Grace dari lamunannya. Ya, mungkin Grace memang melamun hingga dia masih berdiam diri di dalam kamar mandi.
TOKK.. TOKK.. TOKK..
"Grace?" Panggil Arion sekali lagi.
"Iya, Ar. Sebentar lagi aja ya?" Pinta Grace dari dalam ruangan.
"Aku hanya beri waktu 5 menit lagi, aku akan menjemputmu setelah 5 menit berlalu. Ingat, hanya 5 menit, tidak lebih dan tidak kurang," ucap Ar dengan tegas padanya.
Ar tau kalau Grace merasa malu karena dirinya sudah melihat semuanya. Tapi, Ar tidak peduli dengan hal lain lagi. Yang dia pikirkan hanyalah keselamatan dan kesehatan Grace.
Sudah 5 menit berlalu, Grace masih tidak berbicara sepatah kata pun. Arion yang merasa sangat khawatir langsung membuka pintu kamar mandi dan melihat Grace yang sedang terduduk di lantai sebelah bathtub.
"Grace? Kamu kenapa bisa ada di luar bathtub dan terduduk begini?"
Arion langsung membalut tubuh Grace menggunakan handuk yang sudah di pegangnya sedaritadi.
"Aku bermaksud ingin keluar sendiri dari kamar mandi ini. Tapi ternyata kaki ku kram dan susah digerakkan, Ar."
"Aku kan sudah bilang, panggil aku kalau kamu sudah selesai berendam. Kenapa kamu bandel banget sih jadi orang?"
"Aku kan malu, Ar. Keadaanku yang begini, sama saja dengan aku yang tidak mengenakan sehelai benang pun. Kamu laki-laki dan aku perempuan. Aku tau, kamu itu pasti terangsang melihat aku yang seperti ini, tapi kamu menahannya."
"Sudahlah, Grace. Jangan berpikiran seperti itu lagi. Saat ini, yang terpenting bagiku itu adalah keselamatanmu. Aku lebih senang jika kamu itu merasa nyaman berada di dekat ku. Bukan malah sebaliknya, seperti ini. Kamu tidak nyaman jika aku ada di dekat mu. Ayo, kita keluar dari sini dulu."
Ar pun menggendong Grace dan meletakkan grace dengan posisi terduduk di pinggir ranjang. Ar mulai memijat kaki Grace satu per satu secara perlahan.
"Bagaimana? Apa masih terasa kram nya?" Ucap Arion sambil menoleh ke atas menatap wajah Grace.
Grace hanya tersenyum manis sambil menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, sekarang kamu sudah bisa mengganti pakaianmu dengan ini -sambil menunjuk ke arah setelah baju tidur di sebelah Grace- dan sekarang giliranku yang menggunakan kamar mandi."
"Baiklah, Ar. Terimakasih ya, Ar."
Arion hanya pergi begitu saja tanpa menggubris perkataan Grace. Dia hanya ingin mendinginkan kepalanya dengan bermandikan air dingin.
Selesai berganti pakaian, Grace merebahkan dirinya di atas tempat tidur dan menggunakan selimut. Dia tidak bisa tidur, karena dirinya masih merasakan reaksi dari obat perangsang itu, meskipun tidak separah yang tadi.
"Grace? Belum tidur juga?" Ucap Arion yang baru saja keluar dari kamar mandi dan melihat sikap gelisahnya Grace. Tapi, Grace tetap saja tidak mengatakan apapun.
"Aku akan ada di kamar sebelah, jika kamu butuh sesuatu, kamu bisa meneleponku. Tadi aku sempat memasukkan nomor teleponku di ponselmu."
Saat Arion berjalan menuju pintu kamar, Grace dengan ragu berkata, "Ar, kamu bisa temani aku malam ini? Aku tidak bisa tidur. Aku rasa masih ada sisa reaksi dari obat perangsang itu. Aku benar - benar membutuhkan seorang teman untuk mengalihkan perhatianku dari rasa gelisah ku ini."
Arion berhenti melangkahkan kakinya dan masih belum menjawab permintaan Grace. Dia masih bimbang antara mengiyakan permintaan Grace atau menolaknya. Dia sebenarnya takut pada dirinya sendiri ketika hanya berduaan dengan Grace dalam satu kamar, apalagi dengan kondisi Grace yang sangat menggoda seperti saat ini.