THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
TPG2_117



GRACE POV


"Bangun, sayang. Sudah saatnya sarapan. Kamu ke Kantor hari ini kan?" Aku pun membangunkan Suamiku yang masih tertidur lelap ini.


"Hmm..? Kok cepat banget paginya, sayang?" Ucap Ar sambil mengucek kedua matanya.


"Iya, sayang. Ini sudah pagi. bangkit dan siap - siap gih." Ucapku sambil mengguncang lengannya yang masih tertutup selimut.


Dia pun bangkit dan langsung duduk di sebelahku, menciumku sekilas dan langsung beranjak menuju ke arah kamar mandi. Aku pun merapikan tempat tidur kami dan menyiapkan setelan jas yang akan dikenakan olehnya.


Setelah itu, aku pun langsung keluar kamar menuju ke dapur menghampiri Kak El yang sedang menyiapkan nasi goreng sebagai menu sarapan kami pagi ini. Aku pun teringat sesuatu.


"Kak, mulai hari ini, aku yang akan memasak lauk untuk makan siang kita ya?" Tanyaku perlahan pada Kak El. Dia hanya diam. Kurasa, dia masih berpikir untuk membiarkanku masak lauk untuk semua otang.


"Biarkan saja dia melakukan segala hal yang dia sukai selama dia di sini, Honey. Ingat, dia hanya berlibur di sini. Biarkan saja dia yang menyiapkan lauk untuk makan kita beberapa hari ini. Toh juga, beberapa hari saja." Ucap Bang Ricky yang entah darimana datangnya.


Dia terlihat sudah duduk bersama dengan Ed. Wajah datar keduanya sangat mirip dan bahkan tidak ada bedanya. Benar pepatah yang mengatakan bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Apalagi, mereka mengenakan setelan pakaian yang sama persis.


"Iya, iya, iya. Grace boleh memasak. Tapi ingat, jangan sampai kamu menghancurkan dapurku, Grace." Ucap Kak El sambil menyunggingkan semyumannya padaku.


"Itu tidak akan mungkin Kak. Dapur adalah tempatnya berkreasi, dia pasti akan tetap membuat dapurmu terlihat bersih dan rapi. Kalaupun terjadi, dapurmu hancur, Aku yang akan bertanggungjawab, Kak. Jadi, Kak El santai saja beberapa hari ini." Sambung Ar yang ternyata sudah duduk berseberangan dengan Bang Ricky.


"Iya, aku tau itu, Ar. Dan jangan sampai masakanmu meracuni kita serumah ya, Grace." Canda Kak El  sambil terkekeh.


"Mom, masakan Aunty sangat enak. Tidak mungkin Aunty meracuni kita." Lanjur Ed membelaku.


"Astaga! Kalian bertiga ini membela Grace. Padahal dia meminta izinnya padaku, kenapa jadi kalian yang membuat keputusan dari sudut pandang kalian?" Tanya Kak El sambil menyeduhkan teh pada setiap gelas yang ada di atas meja makan.


"Kakak El, memang yang terbaik." Ucapku sambil cengingiran melihat ke arah Kak El yang sudah merasa cemburu dengan jawaban dari ketiga lelaki yang sudah siap untuk menyantap sarapannya.


"Memanglah, kalian itu sangat kompak. Ya sudah, beberapa hari ini, kamu boleh menggunakan dapur sesuka hatimu. Kita juga sudah berbelanja kemarin. Jadi, bahan - bahannya di kulkas juga sudah lengkap. Ayo, dimakan sarapannya. Sudah jam segini. Yang mau kerja, jangan sampai terlambat." Ucap Kaka El sambil memperingati setiap orang.


Kami pun menyantap sarapan kami dengan damai. Setelah selesai sarapan, aku mengantarkan Suamiku sampai depan pintu utama.


"Bang Ricky, Kak El, Aku berangkat dulu ya. Ed, jagain Aunty mu untuk Uncle ya? Nanti Uncle akan bawa cookies kalau Ed bisa jagain Aunty nya dengan baik." Ucap Ar berpamitan pada semua orang.


"Tenang saja, Uncle. Ed akan selalu menjaga Aunty dengan baik." Jawaban Ed membuat Ar mengelus kepalanya.


"Hati - hati di jalan ya, sayang. Nanti siang, aku akan bawakan bekal untukmu lagi ya." Ucapku sambil menyalami tangannya ke keningku.


"Iya, sayang. Nanti langsung masuk saja ke ruanganku ya, sayang. Tunggu aku, jika aku masih belum ada di ruanganku. Karena hari ini aku ada rapat. Cup!" Ucapnya sambil mengecup keningku dengan lembut.


"Oke, sayang." Jawabku singkat sambil melambaikan tanganku padanya.


Setelah dia pergi, aku pun kembali ke kamarku untuk mengambil ponselku.


Setelah itu, aku menelepon Mommy. Sepertinya, sudah sangat lama aku tidak berkomunikasi dengannya.


"Halo, sayang. Bagaimana kabar kalian di sana? Kenapa tidak memberi kabar beberapa hari ini?" Tanya Mom padaku begitu dia mengangkat panggilan telepon dariku.


"Sorry, Mom. Kami begitu sibuk, Mom. Tapi, Mommy tak perlu khawatir. Kami baik - baik saja di sini. Gimana kabar kalian semua yang di sana, Mom?" Aku balik bertanya pada Mom.


"Kami sehat semuanya, sayang. Mom punya berita baik lho, Grace." Ucap Mom yang membuatku penasaran dan langsung saja kubertanya, "Kabar baik apa, Mom?"


"Sekitar 5 hari lagi, Acara pertunangan Steve dan Lisya akan berlangsung, Nak. Kalian bisa pulang saat itu juga kan? Kalian harus datang lho." Ucap Mom padaku.


"Beneran Mom? Kenapa bisa secepat itu, Mom? Bukannya mereka bahkan belum pernah berpacaran ya, Mom? Ini sangat mendadak sekali, Mom." Ucapku sontak berdiri dari tempat dudukku.


"Iya, sayang. Mereka memang akan bertunangan. Kalian harus pulang sebelum hari H nya ya, Nak. Jangan lupa bawa kabar gembira pada kami semua." Ucap Mom yang membuatku sedikit bersedih.


"Kalau itu, mungkin saja kami tidak bisa menjanjikan apa pun ya, Mom. Apalagi Ar sudah sibuk dengan pekerjaannya sampai dia masuk angin. Sudah dua kali dia memuntahkan apa yang dimakannya, Mom. Aku tidak ingin membebani pikirannya lagi dengan hal itu." Aku menjawab dengan nada sedikit sendu.


Aku tau mereka mengharapkannya, seperti aku juga mengharapkan itu terjadi. Tapi, kondisi Ar yang tidak fit itu membuatku menjadi ragu.


"Arion sakit? Apa dia masih sanggup bekerja? Apa kalian ada periksa ke Dokter? Sejarahnya, Ar sangat baik kondisi tubuhnya. Sangat jarang baginya untuk sakit. Tapi, kalau sudah sakit, seluruh tubuhnya akan sangat rentan. Lebih baik kalian periksakan dia ke Dokter, Nak. Mama jadi khawatir dengan kondisi tubuhnya." Ucap Mom dengan nada suara yang memekikkan gendang teliga.


"Mom jangan khawatir, kami akan segera periksa ke Dokter kalau dia punya waktu senggang. Tadi pagi dia sangat sehat dan sudah berangkat ke Kantor, Mom. Dia sudah bisa sarapan dengan baik tadi pagi kok, Mom. Jadi, itu tandanya dia sudah tidak sakit lagi." Ucapku menenangkan pikiran Mom yang sempat kacau.


Selama beberapa menit, aku tidak mendengar jawaban apa pun selain kata, "Hmm.."


Tiba - tiba saja Mom berkata, "Baiklah, sayang. Ingat untuk tetap memperhatikan kondisi tubuh kalian ya, Nak. Mama akan menemani Steve dan Lisya untuk memilij gaun pernikahan mereka dulu ya.. Bye sayang." Ucap Mom mengakhiri panggilan telepon kami.


Tak terasa sudah pukul 10. Aku harus masak. Aku pun keluar dari kamar menuju ke dapur. Tidak ada seorangpun di Rumah. Bang Ricky dan Istrinya sedang pergi ke sekolah untuk mendaftarkan Ed ke kelas playground. Sudah saatnya dia belajar sambil bermain dengan Anak - Anak seusianya.


Hari ini aku hanya akan memasak rendang daging sapi dengan sop iga sapi. Karena aku sendirian mengerjakan semuanya, takut tidak terkejar waktu jam istirahat Arion.


Setelah kegiatan memasakku selesai, aku langsung bersiap - siap untuk berangkat. Aku mandi dan berganti pakaian. Agar tidak terlihat memalukan, aku mengenakan dress selutut dengan rambut dicepol ke atas dan memberi sedikit polesan di wajahku.


Sesampainya di depan pintu utama Melv.Corp., aku pun memasuki gedung itu dan berjalan ke lift khusus. Sebenarnya, aku merasa risih dengan tatapan aneh beberapa pegawai Ar yang berambut panjang dengan penampilannya yang bisa dikatakan cukup menor alias terlalu berlebihan.


Salah seorang dari mereka ada yang menarik pergelangan tanganku dan berkata, "Ma'am, this is a special lift that cannot be used by just anyone. You was wrong in the lift. Later our Boss will be mad, Ma'am. Just take this lift, we will take you to the room you are going to."


(Bu, ini lift khusus yang tidak bisa digunakan oleh sembarang orang. Anda salah masuk lift. Nanti bos kami akan marah, Bu. Ibu, naik lift ini saja, kami akan mengantarmu ke ruangan yang akan kamu tuju.)


Awalnya aku kesal dengan tindakan mereka. Tapi, ada baiknya aku mengikuti peraturan yang sudah berjalan di perusahaan ini. Akhirnya aku menganggukkan kepalaku dan menebarkan senyumku pada mereka. Mungkin mereka penasaran dengan kedatanganku. Mereka pun mengikutiku memasuki lift biasa.


"Do you know which floor your destination is on?" Ucap salah seorang dari mereka. Dan aku hanya menjawab dengan jariku. Aku menunjukkan kelima jariku dan mereka yang mengerti pun menekan tombol 5.


(Ibu tau ke lantai berapa tujuan Ibu?)


Beberapa saat berlalu, akhirnya lift berhenti dan pintu lift terbuka. Mereka yang penasaran, mengekoriku sampai ke depan pintu ruangan Arion. Aku tau apa yang ada di dalam pikiran mereka, mereka melihatku seperti seorang perempuan yang datang tanpa diundang ke kantor Bos nya.


"Hy, my Darling. Why don't you go right in? Is something bothering you, Darling? Nobody can stop you from seeing me, my wife. Come on! We go inside and eat together. Tell me, if anyone bothers you between them." Teriak Ar dengan sengaja agar di dengar oleh para pegawai centil yang sedang mengekoriku.


(Hai, Sayangku. Kenapa kamu tidak langsung masuk ke dalam? Apa ada yang mengganggumu, sayang? Tidak ada yang bisa melarangmu untuk menemuiku, Istriku. Ayo! Kita masuk dan makan bersama. Katakan padaku, jika ada yang mengganggumu di antara mereka.)


Para pegawai yang ada di sekitar kami pun menoleh ke arahku dan menatapku dengan ekspresi takjub. Mungkin mereka berpikiran Ar itu masih lajang seperti sebelumnya. Tapi, dia malah memanggilku dengan sebutan My Darling dan My Wife. Ar sangat suka membuat sensasi yang mengejutkan orang banyak.


Ar mendekatiku dan memeluk pinggangku dengan tangan kirinya dengan gaya posesifnya. Dia membawaku masuk ke dalam ruangannya tanpa menghiraukan pandangan para pegawainya yang sedang terkejut lahir dan batin melihat tingkahnya itu.


"Apa kamu sudah tau, kalau Kak Steve akan bertunangan dengan Lisya?" Tanyaku pada Suamiku yang sedang melahap makan siangnya.


Dia hanya mengangguk pelan dan menjawab singkat, "Sudah."


"Kenapa tidak memberitahukannya padaku?" Tanyaku yang merasa kesal karena aku tidak mendapat info apa pun darinya.


Dia menghentikan acara mengunyahnya dan menjawab, "Aku baru tau tadi malam dari Dad. Rencananya, sepulang kerja aku akan langsung mengatakannya padamu, sayang. Pasti kamu tau dari Mom ya?"


"Iya." Jawabku singkat.


"Baiklah, kita akan pulang tiga hari lagi. Karena aku akan memastikan pekerjaanku tuntas dalam jangka waktu ini. Gimana menurutmu, sayang?" Tanyanya padaku sambil menatap ke arahku.


"Oke, berarti kita masih punya waktu sehari untuk mempersiapkan penampilan kita. Aku tidak mau kalau kamu mengenakan setelan jas lamamu lagi ya, sayang. Semua harus serba baru dan berwarna. Aku tidak ingin melihatmu dalam setelan jas yang berwarna hitam atau biru dongker lagi. Karena rata - rata warna jas mu hanya itu - itu saja." Tuturku dengan penuh semangat.


Ar hanya mengangguk sambil tersenyum melihat diriku yang begitu semangat dalam memikirkan penampilannya nanti. Sebagai seorang Istri yang baik, aku memang harus bisa memperhatikan kebutuhan dan keperluan Suamiku.


"Selesai." Teriaknya dengan bangga karena telah menghabiskan menu makan siangnya. Dia sungguh manis. Selalu bisa membuatku tersenyum.


Aku pun membereskan semuanya yang berserakan di atas meja kecil ini. Semuanya habis. Dia benar - benar menghabiskan semuanya sendiri. Untung saja, aku menyempatkan diri untuk makan siang di Rumah sebelum berangkat ke sini.


"Tapi, sepertinya aku tidak bisa menemani mu saat berbelanja nanti, sayang. Karena aku harus menggantikan Silvia dan mengerjakan semua pekerjaan yang tertunda di sana. Nanti kamu berbelanjanya bareng Silvia saja ya, sayang?" Ucapnya padaku sambil menarik tanganku hingga aku terduduk di atas pangkuannya.


Refleks aku melingkarkan kedua tanganku di sekitar lehernya. Beginilah posisi kami. Begitu dekat. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang begitu cepat dan seirama dengan detak jantungku saat ini.


Tiba - tiba saja, Ar memegang tengkuk leherku dengan tangan kanannya dan menarikku mendekat ke wajahnya. Aku tau apa yang sedang ingin dia lakukan.


Ar dengan spontan mencium bibirku dengan rakusnya. Meskipun terlihat kasar, aku bisa merasakan sentuhan bibirnya yang lembut dan hangat itu menempel di bibirku. Awalnya, aku hanya terdiam, karena rasa kagetku dengan apa yang dilakukan oleh Suamiku secara tiba - tiba.


Lama kelamaan aku mulai menikmati ciuman yang diberikan olehnya. Hingga aku pun berinisiatif untuk membalas kecupan demi kecupan yang diberikan Suamiku padaku. Kami pun terbuai suasana dan tidak ada yang berniat untuk melepas ciuman panas ini.


Sampai pada akhirnya, aku kehabisan nafas dan dengan memggunakan tenagaku yang tersisa, aku mendorong tubuh Ar menjauh dariku hingga ciuman panas itu pun berakhir. Aku langsung mengambil nafasku yang masih memburu.


Ar yang ada dihadapanku, kini menatapku dengan intens. Pandanganku juga tidak bisa berpaling darinya. Kami masih saja hanyut dalam perasaan yang menggebu - gebu ini.


Tiba - tiba aku melihatnya tersenyum manis sekilas dan tanpa aba - aba, dia langsung mencium bibirku. Aku tersentak kaget karena ciumannya itu bersamaan dengan berdirinya dia sambil menggendongku. Spontan aku mengaitkan kedua tanganku dengan erat di lehernya. Dia pun berjalan membawaku menuju ke ruang istirahatnya. Tidak lupa, dia mengunci pintunya agar tidak ada yang mengetahui keberadaan kami.


Dia kembali menciumi bibirku setelah merebahkan tubuhku di atas ranjang. Kehangatan yang dia berikan dari ciumannya berhasil membuatku membalas ciumannya lagi dan lagi. Tanpa kusadari, dia sudah berhasil membuka seluruh penutup yang menempel di tubuh kami.


Pada akhirnya, kami melakukannya di sini. Di dalam Kantornya, untuk yang pertama kalinya.


>>> Bersambung <<<


Sampai sini dulu ya..


Kita akan lanjut di next chap, Ingat untuk selalu kirim jempol nya yaa, Kakak2..


Mohon bantu memberikan bintang 5 untuk menaikkan rating TPG ya, Kakak2..


Terimakasih bagi yang sudah support Author selama ini..


Salam Kasih untuk Yg Terkasih


~~ Love You All ~~