THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
68



GRACE POV


"Grace, tolong kamu kerjakan file presentasi dari ketiga berkas ini ya. Lalu aku mau kamu cek email yang baru saja ku kirimkan padamu. Cek kelima file itu. Aku ingin semuanya selesai siang ini, ya." Kak Silvi tega banget kasih aku kerjaan segudang.


"Kak, begitu banget yang mau dikerjakan, harus selesai siang ini?! Yang benar saja, Kak." Aku menunjukkan wajah memelas padanya.


"Grace, kamu itu harus terbiasa dengan semua ini. Aku masih banyak kerjaan ini, kamu urus bagianmu segera. Oke?" Kak Silvi mengedipkan sebelah matanya padaku.


Aku hanya bisa menggeleng - gelengkan kepalaku dengan lemas, "Baiklah, Kak. Aku permisi."


Dengan secepat kilat, aku memeriksa kelima file yang baru saja di email Kak Silvia. Setelah sejam memeriksanya, aku pun mengirimnya pada Kak silvia lewat email dan mengirimkannya pesan singkat.


To Kak Silvia :


Kak, sudah aku kirim balik kelima filenya ya..


Cek kembali sebelum dipakai filenya, Kak..


From Kak Silvia :


Good.


Akan aku cek.


Terimakasih Grace.


Selanjutnya, aku harus bisa memfokuskan diriku untuk mengedit file ketiga berkas yang ada di hadapanku ini ke dalam bentuk presentasi. Harus dibuat semenarik mungkin. Inilah kesulitan saat membuat file presentasi.


Sudah sebulan berlalu sejak peristiwa itu. Aku juga sudah bekerja di Perusahaan Melv. Corp. dan aku diberi jabatan sebagai asisten pribadi CEO. Saat ini, Daddy dan isudah kembali ke London. Merekalah yang mengurus Perusahaan yang ada di sana. Sekarang yang bekerja sebagai pengganti Ar adalah Kak Silvi. Dia diperintah oleh Dad untuk mengajarkanku segala seluk beluk mengenai perusahaan ini.


Selama bekerja di Melv. Corp. aku sudah banyak mengetahui setidaknya setengah dari kegiatan yang dilakukan oleh Arion selama dia bekerja bersama Steve. Aku selalu ikut dalam segala kegiatan rapat yang dipimpin oleh Kak Silvi. Aku jadi lebih paham bagaimana sebenarnya kehidupan bisnis dari perusahaan yang besar ini.


Aku senang, aku sudah benar - benar dianggap sebagai bagian dari keluarga ini. Buktinya? Meskipun aku dan Arion tidak jadi menikah, Dad and Mom tetap menganggapku sebagai menantunya. Mereka memperlakukanku dengan sangat baik.


Oh iya, sejak acara pernikahanku sudah resmi ditunda, Papa dan Mama sudah balik ke Siantar. Kak Koichi juga kembali ke Negara asalnya, Jepang. Aku juga mendapat telepon dari berbagai nomor yang mengkhawatirkan keadaanku.


Pemilik nomor itu adalah orang - orang terdekatku, seperti Bang Ricky, Anne, Wilson, dan lainnya. Jeff juga sempat terbang ke Jakarta hanya untuk melihat secara langsung keadaanku.


Aku bahagia mendapat support dari banyak orang. Meskipun saat ini, Ar masih belum sadar, aku tetap setia menemaninya, membasuh wajahnya dan menjaganya. Karena setiap malam aku akan tidur di ruang rawat inapnya Ar.


Dan satu lagi, Daddy juga memberiku fasilitas sebuah mobil yang cukup mewah yang bisa kupakai untukku berkendara kemanapun aku mau. Mereka yakin padaku, kalau aku tidak akan menyalahgunakan fasilitas yang sudah diberikan padaku.


Tidak terasa, aku sudah menyelesaikan file presentasinya dari ketiga berkas ini. Hampir 2 jam aku berkutat di hadapan komputerku. Aku pun segera mengeprint file itu dan menunjukkannya pada Kak Silvi.


"Bu Silvia, ini hasil dari file presentasi yang sudah saya kerjakan. Mohon diperiksa kembali ya, Bu. Saya permisi." Aku pun meletakkan dokumen - dokumen itu di atas meja kerja Kak Silvia dan membungkukkan badanku sebelum aku membalikkan badan berjalan ke arah pintu.


Langkahku terhenti saat mendengar Kak Silvia tertawa terbahak - bahak setelah mendengar ucapanku barusan. Dia ini tidak profesional, menurutku. Kami memang sedang berduaan, tapi kan ini masih jam kerja.


"Kamu itu lucu sekali, Grace. Aku kan sudah berulang kali bilang padamu, kalau hanya kita berdua, jangan panggil aku dengan panggilan yang menggelikan seperti itu, Grace. I don't like to hear it from your mouth."


"Ini masih jam kerja, Bu. Mana tau tiba - tiba ada pegawai lain yang masuk ke ruangan ini dan memergoki saya berkata tidak sopan dengan Ibu, saya bisa jadi bahan gunjingan nantinya," begitu selesai memprotesnya, aku pun keluar dari ruangannya dan bersiap untuk pergi ke kantin perusahaan.


Sudah saatnya makan siang. Aku memang selalu makan di kantin sendirian. Sejak aku diperkenalkan secara resmi sebagai Asisten Pribadi CEO, banyak pegawai di sini yang sinis padaku. Aku juga sebenarnya tidak membutuhkan orang - orang seperti mereka berada di dekatku. Terkadang aku memasak dan makan di meja kerjaku, itupun kalau aku sedang mood memasak sebelum berangkat kerja. Karena terkadang kupingku panas mendengar ocehan mereka yang menggosip mengenai diriku yang datang - datang dari London langsung menempati jabatan yang diidamkan banyak pegawai, terutama pegawai perempuan.


Selesai makan, aku langsung beranjak pergi dari kantin. Aku harus serius bekerja, karena Daddy berharap banyak padaku sebagai pendamping hidup Arion. Dad tidak ingin Ar sendirian mengurus ketiga perusahaan yang besar ini. Dad sangat menyayangi anak - anaknya. Apapun yang mereka katakan, tidak akan mempengaruhi keputusanku untuk melanjutkan pekerjaanku dengan sebaik mungkin.


Aku akan terus - menerus menampar orang - orang syirik itu dengan menunjukkan kemampuanku yang terbaik dalam melaksanakan semua pekerjaanku. Cara ini sangat ampuh untuk membuat mereka diam tak berkutik melihat kemampuanku. Jujur saja, saat pertama kali masuk ke dalam perusahaan ini, aku sering di jelek - jelekkan tepat di hadapanku. Mereka tidak masalah jika menyindirku saat aku juga berada di dekat mereka.


Tapi, setelah mereka melihat hasil pekerjaanku selama sebulan ini, mereka tidak berani lagi melakukan hal seperti itu. Aku lebih nyaman jika mereka hanya menggunjingku di belakangku saja. Karena yang seperti itu dapat dengan mudah diabaikan daripada mendengarnya secara langsung di depan mata.


'Ahh, sudah sore. Aku ingin sekali makan di Macdi. Aku akan ajak Sam ke sana.' Aku hanya bisa membatin tidak ingin orang disebelahku mengetahui hubunganku dengan Sam.


Ya! Sebenarnya ini adalah permintaanku pada Daddy dan semuanya. Pegawai Melv. Corp. kan belum ada yang mengenalku sebagai tunangan Ar, jadi aku masuk sebagai pegawai biasa yang di bawa dari London.


Hal ini diumumkan oleh Dad untuk menghindari pandangan tidak baik dari pegawai lainnya padaku, karena aku langsung diangkat dengan jabatan yang tinggi. Bagiku tidak ada yang bermasalah dengan keputusan Dad itu, asalkan Dad tidak memberitahukan kepada pegawai bahwa aku termasuk dalam bagian keluarga ini.


Sebenarnya, permintaanku ini ditentang oleh Mommy. Tapi Mom tidak bisa berbuat apa - apa jika Dad sudah berada dalam pihakku. Secara tidak langsung, Sam juga tidak boleh mengakuiku secara blak - blakan sebagai Kakaknya. Karena satu perusahaan sudah mengetahui bahwa calon istri dari Ar adalah Kakaknya Sam.


"Heii..!! Kamu kok bengong aja? Gak pulang? Aku duluan ya." Kata seorang pegawai yang meja kerjanya berada di seberang meja kerjaku.


"Iya, Bu. Saya masih membereskan barang - barang saya. Ibu duluan saja." Ucapku pada wanita centil itu. Dia sudah berumur tapi masih cantik molek.


Aku langsung menuju ke parkiran dan menunggu kedatangan Sam. Kami makan bersama di Macdi dan kali ini porsi makanku sangat banyak. Mungkin karena aku sedang ngidam fast food dari Macdi. Sam saja sampai kaget melihat porsi makanku sore ini.


"Kak, apa Kakak sedang kelaparan? Kakak kelihatan seperti seorang yang tidak makan apapun selama seminggu. Sungguh mengerikan banyaknya porsi makanan Kakak." Sam menunjukkan wajah jeleknya pdaku.


"Mungkin. Mungkin juga karena aku ngidam makanan ini. Aku juga tidak tau." Kataku sambil tertawa padanya.


"Kakak ngidam darimana coba? Kak Ar saja belum pernah melakukan apapun pada Kakak, Apalagi selama sebulan ini. Apa Kakak ngidam anak Nyamuk? Hahahaha.." Sam mengejekku lagi dan lagi. Memang dasar! Adik durhaka!


"Yaah, anak Nyamuk. Aku ngidam anak Nyamuk. Puas kamu?" Aku melampiaskan kekesalanku padanya.


Setelah melewati perdebatan kecil itu, kami pun pergi dari tempat itu. AKu mengantarnya pulang terlebih dahulu. Sekarang aku menuju ke Rumah Sakit.


Beginilah kegiatanku selama sebulan penuh. Tiap hari aku juga akan menjemput dan mengantarkan Sam dari/ke Apartemennya. Aku pernah diberitahukan Sam bahwa Apartemennya itu tetanggan dengan apartemen milik Ar. Aku hanya bisa menjawabnya dengan sebuah senyuman pada saat itu.


Apalagi ya? Sepertinya semuanya sudah kusebutkan. Sekarang kami hanya terus berdoa meminta pada Tuhan agar Arion bisa sadar dari masa kritisnya. Apa pun yang terjadi, aku akan tetap berada di sisinya.


Drrttt.. Drrttt.. Drrttt..


Panggilan dari Daddy. Biasanya sih, Mom yang menelepon. Tumben - tumbenan. Langsung ku angkat saja teleponku.


"Grace, beberapa hari lagi kamu akan Dad utus untuk mewakili Daddy untuk mengikuti meeting di Melv. Corp. cabang USA ya, sayang. Soalnya, Daddy ada meeting yang sangat penting di sini yang bertabrakan waktunya dengan meeting yang ada di sana."


"Tapi, Dad. Grace kan masih pemula. Masa Grace yang ke sana? Bukannya lebih baik utus Kak Silvi atau Steve?" Tanyaku spontan. Aku terlalu terkejut mendengar permintaan Daddy yang menurutku terlalu terburu - buru mengutusku untuk memimpin rapat.


"Silvia juga ada meeting penting di hari esoknya. Masa dia di paksa ke USA hari ini hanya untuk memimpin meeting itu, langsung pulang ke Indonesia karena mau memimpin meeting lagi di sana. Steve sedang sibuk dengan penyelidikan kecelakaan yang menimpa Arion. Hanya kamu yang bisa Daddy harapkan."


"Tapi, Dad.." Aku ragu dengan semua ini. Aku tidak bisa mengatakan apa pun lagi, karena Dad memotong ucapanku.


"Tidak ada tapi - tapi lagi, Grace. Ini permintaan Daddy. Kamu tega menolak permintaan Daddy?" Pertanyaan Dad yang membuatku semakin bimbang untuk menolaknya.


"Baiklah, Dad. Kapan aku berangkat ke USA?" Ucapku dengan hati - hati. Aku tau kalau ini kesempatan bagiku untuk bisa naik level. Pengetahuanku harus bertambah. Selain belajar  aku memang harus bisa mempraktekkannya.


"Besok lusa kamu akan berangkat. Dad sudah memberitahukan Steve tentang hal ini. Dia sudah mempersiapkan pasport dan tiket untukmu. Kamu akan pergi bersama tiga pengawal. Di sana Dad sudah mengaturkan sekretaris handal Dad untuk membimbingmu agar kamu bisa mempelajari materinya sehari sebelum meeting di mulai." Daddy memberikan banyak tutorial padaku.


"Baiklah, Dad. Besok Grace akan menghubungi Steve. Grace akan menyiapkan keperluan yang akan dibawa ke sana," ku katakan saja apa yang sedang kupikirkan.


"Ya sudah, kamu beristirahatlah. Jangan sampai kamu jatuh sakit ya, sayang. Besok Mommy akan ke sana untuk menjenguk Ar dan kamu. Bye sayang." Dad memang sungguh perhatian padaku. Mommy juga.


"Bye Dad. Daddy tenang saja, Grace pasti akan jaga kesehatan Grace."


Panggilan itu pun terputus. Aku memang sedih, tapi aku menangis hanya sehari itu saja. Selebihnya, aku tidak menangis lagi dan aku bisa melakukan banyak hal lagi. Makanya, Dad paksa aku yang masuk ke Melv. Corp. karena ingin aku bisa membantu Ar mengurus semuanya.


Malam ini, aku yang sudah mandi dan berganti pakaian langsung saja duduk di tempat biasa, tepat di sebelah tempat tidur Ar. Aku mengambil kain yang sudah di peras air hangat dan mengelap wajah dan tangan Ar.


Tiba - tiba tubuh Ar bergetar seketika dan Matanya terbuka lebar. Aku terkejut! Dia sudah sadar! Arion sudah sadar!


Aku langsung berdiri dan menekan tombol merah di dinding dekat dengan tempat tidur Ar. Beberapa pasien dan Dokter cantik yang menangani Ar pun memasuki ruangan. Ar di periksa sedemikian rupa.


"Buka semua selang pernafasan yang ada padanya. Dia sudah sadar dan sudah bisa bernafas dengan baik," perintah Dokter itu pada beberapa perawatnya. Dengan sigap, perawat - perawat itu mwncabut selang pernafasan yang menempel pada Ar sampai tuntas.


"Kami akan kembali lagi besok pagi. Biarkan dia beristirahat dengan baik," ucap sang Dokter padaku.


"Baik, Dok." Jawabku singkat.


Setelah mereka keluar dari ruangan ini, Ar melihat ke sekelilingnya. Aku hanya berdiri mematung di sebelah kanannya. Saat dia melihat ke arahku, ku lihat kedua alis matanya mengerut.


"Aku di mana? Dan... kamu... siapa?"


Hatiku sakit sekali seperti disambar oleh petir berpuluh ribu watt setelah aku mendengar pertanyaannya. Dia tidak mengenalku!


"Ini di Rumah Sakit, Ar." Aku hanya sanggup menjawab pertanyaannya yang pertama.


Arion memandangiku demgan tatapan tidak suka. Aku hanya bisa berdiri mematung menunduk, tak berani menatap ke arahnya. Aku takut. Aku takut salah menyebutkan sesuatu padanya.


"Kenapa kamu malah berdiam diri begitu? Ambilkan aku air hangat." Ar mengatakannya acuh tak acuh padaku.


Hatiku sakit, pikiranku kacau. Aku ingin menangis. Tapi, tidak untuk saat ini. Aku hanya menuruti permintaannya tanpa mengucapkan sepatah katapun.


 


Grace.. Grace.. Grace..


Apa yang akan terjadi selanjutnya?


Penasaran bukan?


Lanjut saja next eps nya yaa... 😁😁


>> Bersambung <<


**********


Selesai membaca, jangan lupa klik tanda jempol sebagai apresiasi kalian terhadap Author ^.^


Dan beri komentar seputar ceritanya ya,, agar Author tau bagaimana respon pembaca pada cerita ini..


Apakah banyak yang suka? Atau malahbanyak yang tidak suka?


Terima kasih bagi yang sudah setia membaca dan menanti kelanjutan kisah Arion dan Grace..


Ingat untuk singgah ke karya terbaru Author yang berjudul “NARA” yaa..


Salam Kasih buat yang Terkasih 😊🙏