THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
TPG2_162



"Sam, apa kalian masih ada di kantor?" tanya Arion yang sedari tadi ingin bertemu dengan Steve.


Drrttt.. Drrttt.. Drrttt..


Ponselnya Steve sudah berdering untuk yang kesekian kalinya. Arion tidak pernah mau mengangkat panggilan di ponsel orang lain tanpa seizin dari sang pemilik.


"Kami baru saja menyelesaikan satu laporan untuk dibawa malam ini ke Mansion. Memangnya kenapa, Kak?" tanya Sam dengan penasaran sambil membereskan barang-barangnya.


"Halo?"


Arion menoleh ke belakang. Terdengar suara Grace yang menjawab panggilan di ponsel Steve. Dia merasa terusik mendengar dering telepon yang tak kunjung diterima oleh Arion.


"Sayang, kenapa kamu menjawabnya?" tanya Arion yang terkejut melihat sang Istri menerima panggilan itu.


Grace masih fokus dengan orang di seberang telepon milik Steve. "Apa? Baiklah, kamu jaga dirimu, aku akan menyuruh Steve untuk langsung ke tempatmu sekarang juga."


Arion terdiam mencerna kata-kata Grace yang sedang menyemprotnya. Dia masih belum memutuskan panggilannya dengan Sam, hingga Sam masih bisa mendengar suara sang Kakak.


"Itu panggilan dari Lisya, Ar. Dia sedang dibawa oleh beberapa temannya ke Motel dekat Club LOL. Sekarang juga, suruh mereka untuk pergi ke sana. Steve harus menolong Lisya. Dia sedang mabuk berat san tadi ponselnya direbut oleh temannya," tutur Grace yang mulai mengkhawatirkan keadaan Lisya.


"Sam! Sekarang juga, kamu dan Steve bersama Robert dan Charles ke sana! Jangan sampai terjadi apa-apa dengan Lisya!" perintah Grace yang sudah mengambil alih ponsel suaminya.


"Iya, Kak. Ini aku sudah berlari menuju ruangan Kak Steve. Kakak tenangkan diri dulu ya, kami pasti membawa Kak Lisya dengan selamat." Sam pun mengakhiri panggilan tersebut secara sepihak.


Arion langsung mengambil kedua ponsel yang ada di tangan sang Istri dan meletakkannya di meja. Dia mengelus pundak Grace sembari berusaha menenangkannya.


"Percayalah pada mereka. Lisya pasti akan baik-baik saja. Jangan sampai kamu stres karenanya ya, Sayang. Ingat, kamu harus bisa kontrol emosimu, demi anak kita yang sebentar lagi akan lahir ke dunia." Arion menuturkan kata-kata yang bisa membuat Grace merasa lebih baik.


Di sisi lain, Sam masuk ke dalam ruangan Steve. Dia langsung menarik pergelangan tangan Steve menuju ke arah lift. Dia juga bertemu dengan Robert di sana yang sudah membawa Charles bersamanya.


"Ada apa ini?" tanya Steve dengan raut wajah heran.


"Di mana Kakak meletakkan ponsel Kakak?" Sam balik bertanya pada Steve selama di dalam lift.


Steve langsung merogoh semua saku di celana dan kemejanya. Namun, dia tidak menemukan ponselnya.


Steve pun bertanya, "Loh? Kenapa tidak ada? Aku selalu menyimpan ponselku di dalam sakuku. Kamu tau di mana ponselku?"


Sam menggelengkan kepalanya sambil mengomel, "Kak Steve, ponselmu itu tertinggal di ruang kerja Kak Arion di Mansion. Kakak tau apa yang terjadi pada Kak Lisya? Kita harus bergerak cepat menolongnya."


Steve terbelalak kaget. "Lisya?" ucapnya lirih.


Sam menarik lengan Steve menuju ke parkiran. Setelah mereka masuk ke dalam mobil, Steve mulai tersadar.


"Ahh, iya. Aku tadi sempat mengantarkan berkas penting pada Arion. Saat aku sedang berdiskusi dengannya, aku menerima panggilan dari Lisya. Dia akan pergi bersama teman sekampusya ke Club LOL untuk reunian. Dia juga sudah mendapat izin dari Papanya. Aku sedang menunggu kabar darinya, dia memintaku untuk menjemputnya malam ini. Kemungkinan HP ku tertinggal saat setelah panggilan itu berakhir." Steve mulai bercerita mengenai ingatannya tentang ponselnya.


"Jadi, apa yang terjadi pada Lisya?" tanya Steve sebelum Sam sempat bercerita.


Robert fokus mengemudikan mobil dan Charles yang duduk di sebelahnya berpengangan kuat pada pegangan yang ada di atas pintu mobil. Kecepatan mobil itu sungguh menakutkan baginya.


"Kak Lisya menelepon ke ponselmu, Kak. Dan akhirnya, Kak Grace yang menerima panggilan itu. Dia memberitahukan bahwa Kak Lisya sedang dibawa oleh beberapa temannya ke Motel terdekat. Kak Lisya sudah mabuk berat dibuat mereka. Dan aku yakin, ini pasti sudah direncanakan mereka sebelumnya. Kita akan pergi ke Motel OB. Karena aku sudah mengetahui titik GPS dari nomor milik Kak Lisya," tutur Sam menjelaskan semuanya secara terperinci.


"Robert! Kebut mobilnya! Jalanan sudah sepi, anggap saja jalanan ini milik kita. Aku tidak mau terjadi apa-apa pada Lisya," perintah Steve pada Robert, Bodyguard mereka.


Sesampainya di Motel OB, mereka langsung berlari memasuki Motel. Mereka menerobos masuk mengikuti titik GPS milik Lisya yang tertera di layar ponsel milik Sam. Pegawai di Motel itu sempat tidak mengizinkan mereka masuk ke arena Motel tanpa reservasi terlebih dahulu. Namun, Charles mengehadang mereka dan menceritakan tujuan mereka ke sana. Akhirnya, pegawai tersebut menyerahkan dan melaporkan kejadian itu pada atasannya.


BRAKK!


Robert menendang kuat salah satu pintu kamar Motel yang diduga tempat Lisya berada. Dan benar! Lisya sedang terlentang tak berdaya di atas ranjang dan di kelilingi oleh tiga lelaki yang seumuran dengannya dengan pakaian yang begitu tipis dan mini. Wajahnya juga memerah akibat terlalu mabuk.


"Kurang ajar!" umpat Steve sambil melayangkan tinjuannya pada lelaki yang sedang duduk di samping ranjang dengan tangan mengelus pipi Lisya.


Laki-laki itu terjatuh dan meringis kesakitan. "Siapa kalian?!" bentaknya.


"Aku calon suaminya! Kalian biad*b!" Steve balik membentak lelaki itu dan menendang keras ke arah pipinya sampai dia tercampak dari tempatnya terjatuh tadi.


Kedua teman dari lelaki itu tidak tinggal diam. Mereka berlari ke arah Steve dan ingin menghajarnya. Tapi sayangnya, mereka dihadang oleh Robert dan Sam.


"Kak, bawa pergi Kak Lisya. Kami akan pulang bertiga nantinya. Sekarang yang lebih utama adalah keselamatan Kak Lisya," ucap Sam tanpa menoleh ke arah Steve.


"Baiklah, Sam. Terima kasih atas bantuannya. Aku akan bawa Lisya pulang ke rumahnya," ucap Steve sambil menggulungkan selimut pada Lisya dan menggendongnya ala bridal style.


"Kakak tenang saja, ada Robert bersama kami. Kami pasti akan baik-baik saja. Pulanglah, Kak." Sam mulai memfokuskan dirinya untuk memberi pelajaran pada lelaki yang tak bermoral di hadapannya kini.


Setelah Steve pergi, Robert dan Sam memulai aksinya. Mereka meremukkan engsel tangan dan kaki dari lawannya hingga mereka jatuh pingsan. Lawannya cukup sulit, namun Sam mendapat sedikit bantuan dari Charles yang datang menyusul mereka.


"Steve, apa itu kamu?" tanya Lisya yang mulai merasakan tubuhnya berpindah tempat. Meskipun dia tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang sedang menggendongnya, dia bisa mengetahui orang tersebut dari aroma pakaiannya.


"Iya. Ini aku, Sya. Kita akan pulang, kamu gak perlu khawatir lagi." Steve merebahkan tubuh Lisya yang terbelit selimut di bangku belakang mobil.


Dia mengemudikan mobil dengan perlahan, agar Lisya tidak terjatuh dari bangku. Steve yang berusaha untuk fokus mengemudi, sering dibuat buyar oleh Lisya. Karena tanpa hentinya, ia mendengar keluhan Lisya yang merasakan panas di seluruh tubuhnya.


"Panas.. Aku tidak tahan lagi, Steve. Sangat panas.. Tolong aku, Steve." Lisya mendesah semakin lemah. Dia mendesah kepanasan lebih banyak dari sebelumnya.


Mr. Adhinata yang melihat hal itu, sudah tau apa yang terjadi pada anaknya. Anaknya telah meminum obat perangsang. Untuk menghilangkan rasa penasarannya, dia pun bertanya pada Steve. "Apa yang terjadi?"


"Papa kan tau sendiri, Lisya sudah meminta izin untuk pergi reunian bersama teman sekampusnya. Dan saat aku pulang kerja, aku mendapat kabar kalau Lisya dibawa oleh temannya ke Motel saat dia mabuk berat. Lihatlah, Pa. Sangkin mabuknya, dia selalu mengeluh kepanasan. Padahal pakaiannya begitu tipis dan mini," tutur Steve.


"Hmm.. Jadi, kamu menolongnya dari teman-temannya?" tanya Mr. Adhinata sambil mengelus dagunya dengan jari jempolnya.


"Iya, Pa. Aku dibantu oleh Sam, Charles dan Robert. Mereka yang menghadang temannya Lisya dan menyuruhku untuk membawa Lisya pulang lebih dulu. Jadi, gimana menurut Papa?" Steve balik bertanya pada Mr. Adhinata.


"Gimana apanya?" Mr. Adhinata berpura-pura tidak tau maksud dari pertanyaan yang dilontarkan oleh Steve.


"Gimana dengan Lisya, Pa? Apa kita harus memanggil Dokter untuk memeriksanya? Atau Papa tau obat yang bisa dikonsumsi untuk menolongnya? Kasihan Lisya, Pa. Dia sudah mabuk berat sampai dia merasa kepanasan," tutur Steve menjelaskan maksud dari pertanyaannya tadi pada Mr. Adhinata.


Mr. Adhinata menggelengkan kepalanya. Dia tidak setuju jika Lisya diperiksa oleh Dokter, apalagi ada laki-laki lain yang menyentuh anaknya selain dirinya dan Steve. Dia baru menyadari sesuatu, bahwa Steve tidak paham mengenai keadaan Lisya yang sudah dikuasai oleh obat perangsang.


"Kita tidak perlu memanggil Dokter. Lisya akan sembuh dengan sendirinya. Bawa dia ke kamarnya. Sini, tas Lisya biar Papa yang urus. Kamu bawa saja dia ke kamar dan Papa akan menyusul setelah membuat teh hangat untuknya," usul Mr. Adhinata yang sudah merencanakan sesuatu untuk menolong anak kesayangannya itu.


"Baiklah, Pa. Steve akan bawa Lisya ke kamarnya. Ini tas Lisya ya, Pa. Steve letak di atas meja saja." Steve pun berbalik arah dan berjalan mengantarkan Lisya ke kamarnya.


Dia merebahkan tubuh Lisya dengan perlahan. Meskipun Lisya sudah setengah sadar, dia tau kalau dirinya sudah berada di atas tempat tidur. Dia pun berusaha untuk melepaskan diri dari gulungan selimut yang ada di tubuhnya kini.


Steve yang melihat hal itu, tidak membantu Lisya. Dia malah menjauhi Lisya dan berniat untuk keluar dari kamar Lisya untuk menemui Mr. Adhinata. Namun, ia terkunci di dalam kamar Lisya.


"Pa! Aku terkunci. Tolong buka pintunya, Pa!" teriak Steve dari dalam kamar Lisya.


Mr. Adhinata yang masih berada di balik pintu kamar Lisya pun terkekeh pelan. Dia menahan tawanya karena mendengar suara Steve yang melonglong minta dibukakan pintu.


Seharusnya, kamu senang. Papa memberimu kesempatan untuk berduaan dengan Lisya, batinnya.


"Steve, tolong aku. Aku kepanasan," desah Lisya yang sudah terlepas dari selimutnya.


"Astaga! Gak ada yang mendengarku minta tolong. Gimana caranya menenangkan Lisya? Aduuh.." Steve mengumpat kesal pada dirinya sendiri. Tubuhnya sedang bergetar merasakan sentuhan demi sentuhan yang diberikan oleh Lisya.


"Sya, jangan begini. Kamu harusnya tidur. Ini sudah larut lho.." Steve memegang kedua tangan Lisya dan menariknya perlahan ke atas tempat tidur.


Dia membaringkan Lisya dan menutupi tubuh Lisya dengan selimut. Steve begitu frustasi. Dia tidak tau apa yang harus diperbuatnya.


Saat dia ingin pergi menjauhi Lisya, tangannya ditarik kuat oleh Lisya hingga dia terhempas ke atas tempat tidur Lisya. Dengan cekatan, Lisya merangkak di atas tubuh Steve. Kini wajah mereka sudah berdekatan dan hanya berjarak beberapa milimeter. Tanpa basa-basi, Lisya langsung menyambar bibir milik Steve seolah itu adalah sebuah permen.


"Mmpphh.." Steve berusaha melepaskan ciuman panas itu. Dia tidak mau terjadi hal yang tidak diinginkannya.


Begitu dia terlepas dari Lisya, Steve langsung berlari ke arah pintu kamar dan menggedor-gedor pintu itu dengan keras.


"Pa! Tolongin Steve! Tolong buka pintunya! Siapa pun yang ada di luar sana! Tolong buka pintunya!" teriak Steve sembari melirik ke arah belakang sesekali.


Mampuslah aku! Kalau terjadi apa-apa malam ini, aku bisa dalam bahaya. Aku harus keluar dari sini dan mencari bala bantuan, Steve membatin khawatir.


"Tolong buka pintunya!" Steve berusaha keras menggedor pintu dan meminta bantuan dari orang di luar sana. "Aarrgghh! Lisya, jangan mendekat! Tidurlah di sana, kamu jangan lakukan itu padaku!" teriaknya menolak Lisya yang berjalan mendekatinya.


"Steve, kenapa kamu pergi? Bantu aku. Aku kepanasan, Steve." Lisya merengek karena Steve selalu menghindar darinya.


Steve kembali menarik Lisya ke atas tempat tidur dan menggulungnya lagi dengan selimut. Ini akan membuatmu tenang sejenak, batin Steve.


"Pa! Buka pintunya! Tolong buka pintunya! Siapa pun, tolong buka pintunya!" Lagi-lagi Steve berteriak agar seisi rumah bisa mendengarnya. Namun, tetap saja hasilnya nihil. Tidak ada seorang pun yang menyahutnya dari luar kamar.


Mr. Adhinata menggelengkan kepalanya mendengar teriakan Steve dari dalam kamar sembari membatin, Kamu terlalu polos, Steve. Gunakanlah kesempatan ini, bukannya malah melarikan diri. Kalian sudah resmi lamaran, tinggal menunggu waktu resepsinya saja. Tidak ada salahnya, jika kalian memberiku cucu lebih awal.


Mr. Adhinata pun pergi menjauhi kamar sang Anak. Dia memberi peringatan pada staf yang bekerja di rumahnya, untuk tidak menginjakkan kaki mereka ke lantai dua.


"Siapa pun yang pergi ke lantai atas, aku tidak akan segan untuk menghukumnya. Mengerti?" titahnya pada semua staf.


"Mengerti Tuan!" jawab mereka serempak. Semuanya bubar melakukan kegiatannya masing-masing.


Sedangkan Mr. Adhinata, dia menjawab panggilan dari ponsel Lisya. Grace menelepon Lisya karena ingin mengetahui tentang keadaan Lisya di sana.


"Halo," sapa Mr. Adhinata.


"Halo, Mr. Adhinata. Ini Grace. Apa Lisya baik-baik saja?" tanya Grace yang sudah khawatir pada calon iparnya itu.


"Lisya baik-baik saja. Ada Steve yang akan menjaganya sepanjang malam. Kalian tidak perlu khawatir. Aku akan tetap memantau mereka," ucap Mr. Adhinata dengan santainya.


Grace pun menganggukkan kepalanya, "Baiklah, Mr. Terima kasih atas infonya. Grace tidak akan khawatir lagi, karena mereka sudah ada bersama Mr."


"Baiklah, selamat malam." Mr. Adhinata mengakhiri panggilan tersebut dan mematikan ponsel milik Lisya. Dia tidak ingin tidurnya yang nyenyak malam ini diganggu oleh siapa pun.


Akhirnya~, gumam Mr. Adhinata dalam hati.


>>> Bersambung <<<