THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
28



AUTHOR POV


Jeff berdiri dari tempat duduknya dan berpamitan kepada orang-orang yang ada disana.


"Saya mohon undur diri terlebih dahulu semuanya, karena jadwal penerbangan saya malam ini juga. Semoga keputusan yang diambil oleh Grace adalah pilihan terbaik bagi semuanya. Saya permisi."


"Hati-hati di jalan ya, Jeff. Jangan lupa untuk mampir sesekali ke rumah. Kan kita sudah seperti keluarga." Mr.Victor mengucapkan salam perpisahan pada Jeff.


Ya, karena dia pernah menjadi kekasih Grace, dia sudah cukup dekat dengan keluarganya. Hanya saja, itu tidak bertahan lama dan sekarang dia juga sudah tidak berniat untuk memaksa Grace untuk kembali padanya.


Dia pergi menuju ke arah toilet terlebih dahulu. Dia harus berpamitan dengan Grace.


Saat dia tiba disana, dia berpapasan dengan Grace. Dia langsung memeluk Grace dan berkata, "Grace, kalau kamu tidak bisa memilih di antara mereka, aku bisa melamar mu juga seperti mereka pada saat ini juga. Bagaimana menurutmu?"


"Kau jangan gila, Jeff. Aku tidak akan memilihmu, jika kau melakukan hal aneh itu."


"Mereka bisa melakukannya dan itu tidak aneh bagimu? Kamu memang pilih kasih terhadapku Grace."


"Tidak, bukan begitu Jeff."


"Jadi?" Pertanyaan Jeff tidak mendapatkan jawaban dari Grace. Grace hanya diam termenung. Dan akhirnya, Jeff melepas pelukannya dan memegang kedua bahu Grace.


"Grace, aku hanya bercanda. Jangan di tekuk begitu wajahnya. Aku kesini mau berpamitan denganmu, Grace. Jadwal penerbanganku sebentar lagi. Jadi, aku sudah harus pergi dari sini."


"Grace, aku harap keputusanmu ini yang terbaik bagi semua orang. Dan kuharap, orang pilihanmu itu tidak melarangku untuk mengunjungimu. Oke bukan? Hehehe.."


Grace terkekeh dengan candaan yang dilontarkan oleh Jeff, "Oke juga tuh. Nanti kutanyakan terlebih dahulu pada kedua orang itu. Kalau mereka berdua menjawab tidak boleh bertemu denganmu, aku tidak akan memilih keduanya. Hehehe.."


"Hahaha.. Begitu dong. Kamu harus lebih banyak tersenyum seperti ini ya, Grace. Aku harus pergi nih, Bye."


"Hati-hati di jalan ya, Jeff. Bye. Kabari kalau sudah kamu sampai ya."


"Oke."


Jeff pun pergi dari Restoran itu. Grace pun kembali ke kursinya. Semua mata menoleh padanya.


Adam dan Silvia sedaritadi hanya menjadi pendengar yang baik. Mereka hanya duduk terdiam tanpa berani mengucap sepatah katapun.


"Jangan melihatku seperti itu. Aku sudah membuat keputusan. Aku udah memikirkan segala konsekuensi dari keputusan ini."


Grace terdiam sejenak. Dia memandangi semua orang yang ada di situ satu per satu. Mereka menunggu jawaban dari Grace.


"Setelah ku pikirkan dengan matang, aku sudah membuat keputusan. Aku memilih Arion sebagai pendamping hidupku. Ini adalah jawabanku untuk pertanyaan Papa." Ucap Grace sambil menoleh ke arah Mr.Victor.


Jawaban ini membuat semuanya terkejut, terutama Arion. Dia tidak menyangka Grace akan memilihnya. Sedangkan Cakra merasa geram mendengar jawaban itu.


Cakra menarik tangan Grace dan membawanya menjauh dari meja makan itu. Arion khawatir dengan mereka dan dengan tergesa-gesa mengikuti mereka. Dia berhasil menahan pergelangan tangan Grace yang bebas.


"Kamu ngapain disini?!!" Cakra mulai berucap.


"Aku disini untuk membawa calonku masuk ke dalam. Kamu tidak berhak membawanya pergi dari sini." Arion mulai memelototi Cakra.


"Grace adalah milikku, dia tidak akan menjadi milik siapapun selain milikku. Hanya aku yang bisa menolong keluarganya dari keterpurukan. Kamu itu masih anak ingusan, kamu tidak akan mampu memberikan apa yang dia


inginkan."


Arion mulai geram karena merasa disepelekan oleh Om-Om gila itu. Dia merasa bahwa Cakra sangat terobsesi pada Grace. Dia tidak akan melepas Grace untuk Om gila itu.


"Kamu itu hanya seorang Dokter Bedah dan pemilik beberapa toko handphone. Sebenarnya, uang 2M itu sungguh nominal yang besar bagimu. Tapi, demi obsesimu terhadap Grace, kamu itu berusaha sekuat tenaga menghasut Mamanya Grace untuk menjodohkanmu dengan Grace."


"Jika dibandingkan aku, kamu itu sebenarnya bukan apa-apa. Kamu pun sudah tau sejak awal, bahwa aku juga


mampu menolong keluarganya Grace. Bagi ku, 2M itu nominal yang sangat mudah untuk diperoleh. Tapi, kamu menggunakan alasan bahwa aku ini masih anak ingusan untuk mengalihkan perhatian orang-orang."


Grace membelalakkan matanya melihat ke arah Arion. Baru kali ini dia melihat Arion menyombongkan dirinya pada orang lain. 'Apa sebegitu kayanya dia, sehingga baginya 2M itu mudah diperoleh?'


Tiba-tiba tangan Grace ditarik kuat oleh Arion. Sekarang Grace berada dalam dekapan Arion. Cakra yang ingin mendekat dan menarik Grace kembali terhenti.


"Grace sudah memilihku, mulai detik ini dia adalah milikku, milik Arion Gavin Melviano..!! Jika kamu berani menyentuhnya meski hanya sejengkal, aku bisa menuntutmu dan dengan mudah menjebloskanmu ke dalam penjara. Aku juga bisa membuatmu kehilangan title dan pekerjaan yang kau banggakan itu, wahai Dokter Bedah."


Cakra terkejut mendengar ancaman Arion. Dia tau bahwa itu bukan sekedar ancaman, melainkan perkataan Arion yang seperti itu adalah MUTLAK.


Sebenarnya, dia memang bukan apa-apa dibandingkan Arion. Dia tau itu. Tapi, dia tidak rela kehilangan grace.


"Aku akan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku!" Cakra pun meninggalkan Restoran itu.


"Grace? Kamu baik-baik saja kan?"


Arion pun meneliti keadaan orang yang tadinya berada didekapannya. Grace hanya menggeleng lemah.


Sudah dua kali dia melihat sikap dingin penuh emosi dari Arion. Bukannya dia takut, dia hanya tidak menyangka bahwa Arion yang selama ini begitu ramah, bisa menjadi begitu kejam.


'Apa dia bekerja sebagai Mafia? Sepertinya seperti itu. Cara bicaranya begitu kejam seperti seorang mafia saja.' Grace sempat berpikiran begitu setelah melihat kejadian seperti tadi.


"Ayo, kita masuk ke dalam. Semuanya sudah menunggu." Arion berjalan sambil memegang tangan perempuan yang akam menjadi miliknya itu.


**********


"Cakra nya kemana Ar?" Tanya Adam melihat dua orang yang sudah duduk ditempatnya.


"Dia sudah pergi." Jawab Arion dengan singkat.


"Baiklah, nak. Tadi kami sudah memutuskan hari yang baik untuk acara Martuppol dan acara pernikahannya akan kita bahas setelahnya. Acara Martuppol adalah acara pertunangan dalam Adat Batak. Kamu tidak keberatan dengan hal ini bukan?"


Mr.Victor mengajukan pertanyaan kepada Arion. Dia tau bahwa Arion adalah pilihan yang tepat untuk anaknya. Tapi, dia tidak akan mengabaikan begitu saja permintaan istrinya.


Istrinya menginginkan anak-anaknya kelak melangsungkan pernikahan menggunakan Adat Batak juga. Dia tidak akan memaksa sang menantu untuk memiliki Marga Batak, hanya saja dia ingin acara pertunangannya dilakukan dengan Adat Batak.


"Iya, Mr.Victor. Saya tidak keberatan untuk melangsungkan pertunangan dengan Adat Batak. Bagi saya, semua itu sama asal halal di hadapan Tuhan dan keluarga." Jawab Arion dengan senyumannya.


"Ohh, panggil saja kami dengan sebutan Papa dan Mama. Kamu kan sudah jadi calon menantu kami."


"Ehh, I..Iya, Pa." Arion merasa gugup dan canggung mengucapkannya.


"Jangan malu-malu begitu, Nak. Kamu harus terbiasa. Jangan mau kalah dengan Grace. Dia sudah nyaman memanggil kami dengan sebutan Mom and Dad." Celetuk si Mommy yang membuat seisi ruangan terkekeh mendengarnya, termasuk Grace.


"Jadi, untuk malam ini, kami mengundang Mr.Victor sekeluarga untuk tinggal di Mansion kami. Bagaimana?" Ucap Mr.Melv. kepada Mr.Victor.


Tiba-tiba terlihat wajah ceria dari adik-adik Grace yang sepertinya sangat senang karena di ajak ke Taman Bermain.


"Papa, Mama, Cici. Kami diajak sama Kakak itu ke Taman Bermain. Banyak sekali permainannya. Hanya kami yang ada disana, jadi kami bisa bermain sepuasnya tanpa mengantri. Sangat menyenangkan." Ucap sikembar secara bersamaan.


"Memangnya, masih ada Taman Bermain yang buka di jam segini?" Mrs.Victor merasa heran dengan penuturan kedua anaknya itu.


"Masih ada kok, Ma. Buktinya kami sudah bermain sepuasnya disana." Ucap Sam yang diikuti anggukan kepala kedua adiknya itu.


Steve hanya tersenyum melihat tatapan aneh dari Grace. Dia tau kalau Grace curiga dengan semua ini. Tidak mungkin ada Taman Bermain yang permainannya bisa dimainkan tanpa mengantri terlebih dahulu. Apalagi hanya mereka yang ada di sana.


Karena sempat teralihkan perhatiannya, Mr.Victor kelupaan menjawab pertanyaan dari Mr.Melv.


"Oh iya. Jangan canggung gitu dong. Kita kan akan menjadi Bésan, jadi jangan panggil Mr. melulu. Sebenarnya, tiket penerbangan kami untuk kembali ke Medan juga belum ada. Kemungkinan akan terlalu melelahkan bagi anak-anak ini jika harus berangkat sekarang. Tidak masalah, jika kami memang diizinkan menginap untuk semalam."


Kelihatannya Mr.Victor memang sungguh ramah. Dia menerima semua kebaikan dari Mr.Melv. padahl mereka baru pertama kali bertemu.


"Kan saya yang mengundang keluarga bésan saya untuk menginap, otomatis itu tidak memerlukan izin siapa pun. Mari kita berangkat."


"Sebelah sini." Ucap Steve dengan menunjukkan arah pintu keluar.


Arion yang ingin mendekati Grace mengurungkan niatnya setelah melihat Grace dikerumuni oleh ketiga adiknya.


'Dia memang penyanyang. Adiknya sampai tidak mau lepas darinya. Kamu selalu memberi kesan plus di setiap pertemuan kita, Grace.' Pikir Arion sambil tersenyum dibelakang Grace.


"Kita satu mobil sama adik-adik aku ya, Ar? Aku masih mau dengar cerita mereka di Taman Bermain tadi." Ucap


Grace sambil menoleh ke belakang.


"Ya, sesuai keinginanmu, Grace." Arion pun tersenyum melihat kedekatan Kakak beradik itu.


Steve mengemudikan mobilnya dan membawa kedua orangtua Grace. Adam mengemudikan mobilnya yang didalamnya ada Silvia dan kedua orangtua Arion. Arion mengemudikan mobilnya dimana dia duduk bersebelahan dengan Sam dan Grace duduk di belakang bersama si kembar.


Sesampainya di Mansion Utama, keluarga Grace tercengang melihat kemegahan Mansion itu. Yang paling ternganga adalah Mama nya Grace. Hanya Grace lah yang sepertinya sudah terbiasa dengan pemandangan seperti itu.


"Wah, besar sekali rumahnya, Cii." Kata Lini yang terkagum melihat mewahnya Mansion itu.


"Iya Cii, ini bisa sepuluh kali lipat dari besar rumah kita." Sambung Lina yang juga mengagumi keindahan Mansion itu.


"Aku no coment laa." Ucap Sam yang diikuti kekehan Grace.


"Haduh, jangan bikin malu la, biasa aja kali, dek. Ayo, masuk." Grace menarik tangan adik kembarnya dan diikuti oleh Sam.


Arion masih heran dengan ekspresi Grace yang biasa saja melihat megahnya Mansion ini. 'Ketika yang lain melihat Mansion ini, bisa terkagum sampai sebegitunya. Kenapa Grace tidak begitu ya? Ini memang sudah kedua kalinya dia kesini. Apa dia sama sekali tidak ada rasa kagum terhadap sesuatu?'


"Ma, Pa, ayo masuk. Semuanya sudah ada di dalam. Koper kita pun sudah di bawa masuk sama pelayan. Jangan bengong melulu." Grace menarik pergelangan tangan Papa dan Mama nya.


"Grace, apa benar ini rumah keluarga Arion?" Mrs.Victor membisikkan pertanyaan ini pada Grace.


"Iya lho, Ma. Ini Mansion Utama keluarga Melviano. Jadi, jangan heran dengan kemewahannya. Biasa saja lihatnya, Ma."


"Papa gak nyangka kalau Bésan Papa akan sekaya ini. Kamu gak salah memilih Grace. Papa yakin, dia pasti bisa bahagiain kamu."


"Gak Pa. Grace maunya dia bisa buat kita sekeluarga bahagia, bukan cuma Grace. Ayo, masuk dulu. Nanti kita lanjut ngobrolnya di dalam."


Papa dan Mama nya Grace tersenyum dan saling menatap setelah mendengar ucapan putri sulung mereka. Mereka pun memasuki bangunan megah itu.


"Ayo, silahkan duduk dulu. Kamarnya sedang dipersiapkan oleh para pelayan. Kita akan mengobrol sebentar disini." Ucap si Mommy kepada semua yang hadir.


"Yuk dek, kita ke taman belakang saja, kita jangan mengganggu para orangtua yang ingin mengobrol." Ajak Grace kepada adik-adiknya.


"Oke Cici." Jawab mereka serempak.


Silvia dan Adam pamitan terlebih dahulu ke ruangan mereka. Steve juga berpamitan untuk masuk ke kamarnya. Sedangkan Arion menemani Grace pergi ke taman di belakang rumahnya.


"Grace?" Arion mendekati Grace yang tengah sendirian berdiri di bawah sebuah pohon rindang memperhatikan ketiga adiknya yang sedang bermain ayunan yang ada di taman itu.


"Ya?" Jawab Grace singkat.


"Kamu serius dengan keputusanmu tadi?" Arion mengutarakan rasa penasarannya yang sedaritadi tertanam dihati dan pikirannya.


"Yah, aku serius dengan keputusanku ini, Ar. Kamu gak percaya juga? Padahal tadi sempat di bahas masalah acara Adat itu." Ucap Grace sedikit kesal.


"Tapi kan, kamu..."


"Aku memang belum bisa mencintaimu seperti kamu mencintaiku pada saat ini. Percayalah padaku, aku menerimamu bukan karena hal lain, melainkan aku sudah menetapkan bahwa kamulah yang terbaik untukku. Maka dari itu, aku akan berusaha untuk menjadi yang terbaik untukmu." Kata Grace.


Lelaki itu terdiam tidak dapat merespon ucapannya saat ini. Lelaki itu berpikir betapa bahagianya kehidupannya jika gadis sempurna dihadapannya ini dapat membalas perasaannya.


Lelaki itu menjawab sambil memeluknya, "Tidak apa apa, aku bisa menunggumu sampai kapanpun itu supaya kamu bisa mencintaiku seiring berjalannya waktu."


"Tapi bagaimana jika aku tetap tidak mencintaimu?" tanya Grace dengan ragu.


"Aku akan berusaha untuk membuatmu mencintaiku. Aku yakin, dengan ketulusanku padamu, kamu akan terbiasa untuk mencintaiku secara perlahan, Grace. Yang aku inginkan, apa pun yang akan terjadi diantara kita, kamu tidak akan pernah meninggalkanku."


"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Ar. Kecuali maut yang memisahkan kita. Karena ajaran yang ku dapat dari kedua orangtua ku, setiap orang yang menikah itu telah dipersatukan oleh Tuhan dan hanya bisa dipisahkan oleh kematian."


Arion melepaskan pelukannya dan memegang kedua tangan perempuan dihadapannya, "Grace, karena kamu telah memilihku, mari kita jadikan hari ini adalah hari jadian kita. Bagaimana menurutmu?"


"Hahahaha.. Kamu itu lucu, Ar. Kayak anak kecil saja cara bicaranya. Ada apa dengan pikiranmu, Ar? Hari pernikahan kita lah yang harus kita ingat, bukan hari seperti hari ini. Bagaimana bisa kamu berpikiran seperti itu?"


Grace malah menertawainya. Arion menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Dia kehabisan akal untuk berkata romantis terhadap Grace. Memang Grace tidak bisa tidak berkomentar manis untuk menjawab apa yang diutarakan oleh Arion.


"Oh ya, Ar. Kamu sebenarnya sudah berusia berapa tahun sekarang?" Grace bertanya sambil memegang dagu nya dengan jari tangan kanannya.


"Kamu tidak tau? Apa kamu tidak pernah melihat atau mencaritahunya dari internet? Atau membacanya dari majalah?" Arion tampak heran mendengar pertanyaan Grace.


Padahal informasi tentang dirinya sangat mudah diketahui melalui sosial media. Dia kan terkenal di bidang Bisnis dan Entertainmen. 'Bagaimana bisa orang seperti Grace tidak tau tentang dirinya?'


"Aku serius Ar. Aku bertanya karena aku memang tidak tau dan aku juga penasaran." Grace mulai lelah karena pertanyaannya di jawab dengan pertanyaan yang lebih banyak.


"Kenapa kamu jadi penasaran terhadapku?" Arion mulai menginterogasi perempuan yang kini kebingungan menjawab pertanyaan darinya.


"Ahh, karena.. Mmmm.. Karena aku harus tau segala sesuatu tentang calon suamiku. Kalau ada keluarga atau teman ku yang bertanya tentang kamu kan, aku jadi tau menjawabnya." Grace mulai pandai mencari alasan.


"Baiklah, saat ini aku berusia 26 tahun." Arion tersenyum pada lawan bicaranya.


"Hah?!! 26 tahun?" Grace terkejut mendengar jawaban dari Arion.


"Kenapa Grace? Kenapa kamu terkejut seperti itu? Apa aku terlalu muda? Atau aku terlalu tua bagimu? Bukannya usia kita hanya berbeda 2 tahun?" Arion mulai khawatir melihat ekspresi Grace.


"Bu.. bukan itu maksudku, Ar. Aku hanya tidak habis pikir dengan usia mu itu. Aku sempat dibodohi oleh mu pertama kali kita bertemu. Kamu ingat kejadian waktu itu?"


"Yah, aku akan selalu mengingatnya Grace. Karena pertemuan pertama kitalah, aku bisa menemukan belahan jiwaku. Hehehe.."


"Yeee, jangan jadi ngegombal gitu dong, aku kan serius, Ar."


"Iya, iya, iya. Jangan marah. Bagaimana bisa kamu dibodohi oleh ku saat itu?"


"Kau tidak tau saja, kalau malam itu caramu berpakaian itu sangat imut, dan tingkahmu seperti anak kecil yang kehilangan arah. Selama ini, aku mengira usiamu itu lebih muda dariku. Jadi, aku secara langsung memanggilmu hanya dengan sebutan nama dan tidak ada embel-embel 'Kak' nya. Tidak seperti Kak Silvia, padahal dia kan usianya hanya lebih tua satu tahun di banding aku."


"Yah, itu tidak masalah bagiku, Grace. Aku malah lebih nyaman jika kamu langsung menyebutkan namaku. Atau kamu mau mengubah cara panggilan mu yang biasa menjadi 'sayang', 'honey', 'Beibh', dan masih banyak lagi. Bagaimana menurutmu, Grace?"


Arion mulai menyadari bahwa ini lah yang dia inginkan, adanya sebutan/panggilan spesial dari perempuan yang ada dihadapannya ini. 'Apakah Grace mau melakukannya dengan sukarela? Aku akan merasa sangat bahagia jika dia mau melakukannya.' Batin Arion sembari menunggu jawaban dari Grace.