THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
TPG2_133



"Sayang, ini ada dua bungkus roti. Dimakan ya.. Kita akan makan malam nanti di Rumah Sakit." Ucapku sambil menyodorkan dua bungkus roti pada Istriku yang terletak diantara kami berdua.


"Wahh, aku memang sudah merasa lapar. Tapi, aku bisa menahan rasa lapar ini dengan meminum secangkir teh yang aku seduh sendiri jam setengah 7 tadi." Ucap Grace dengan wajah yang berseri.


Dia memang sangat menyukai roti untuk dilahap. Sampai aku menyempatkan diri untuk singgah di kedai pinggir jalan untuk membelikannya roti.


"Ar sungguh perhatian padamu, Grace. Kamu dapat roti, sedangkan aku tidak mendapat apa - apa. Padahal aku juga merasa lapar lho.." Steve meledekku di saat - saat seperti ini.


Kulihat tidak ada tanda - tanda Grace membalas ucapan dari Steve. Dia sudah sangat fokus untuk menghabiskan kedua roti tersebut.


Aku mencoba melirik ke arah belakang melalui kaca spion, Steve sedang memainkan ponselnya karena merasa terabaikan.


"Aku sudah memesan makanan untuk kita santap di Rumah Sakit nanti. Semua menunya aman untuk bumil (Ibu Hamil) dan tidak ada yang rasa pedas." Lanjutnya sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.


Steve memang begitu orangnya. Acuh tak acuh dengan respon orang, tapi dia termasuk orang yang sangat perhatian pada setiap orang yang sudah dikenalnya.


Sama halnya dengan saat ini, dia memesan makanan yang bisa dimakan oleh Grace yang sedang hamil dan aku percaya pada pilihannya.


Sesampainya di Rumah Sakit, Steve langsung dibantu oleh beberapa Perawat membawa Sam masuk ke dalam ruangan UGD. Dia harus segera mendapat pertolongan pertama dengan cepat. Takut kalau dia sudah diberi obat bius dengan dosis tinggi atau biasa orang menyebutnya dengan sebutan over dosis.


"Sekarang sudah saatnya kita makan. Pesanannya sudah tiba." Ucap Steve dengan riang sambil menunjukkan dua kantongan plastik berisi kotak makanan.


Dokter dan pasien beserta para perawat pun keluar dari ruang UGD bertepatan dengan waktu makan kami yang sudah selesai. Kami pun berjalan menghampiri sang Dokter untuk menanyakan kabar Sam.


"Obat bius yang disuntikkan pada pasien memiliki dosis yang cukup tinggi. Kami sudah menanganinya dengan baik. Kemungkinan pasien akan sadar besok pagi. Tapi, kondisi tubuhnya saat ini masih melemah akibat efek samping obat bius itu. Usahakan agar pasien tidak mengalami stres, supaya kondisi tubuhnya bisa tetap fit. Hanya itu saja yang bisa saya sampaikan. Permisi, Pak." Tutur sang Dokter padaku.


Kami hanya bisa mengucapkan, "Terimakasih banyak, Dok."


Setelah itu, kami bertiga beristirahat di ruang rawat inap Sam. Aku menyuruh Grace untuk tidur di atas sofa. Sedangkan aku dan Steve akan tidur di samping ranjang Sam dengan posisi duduk di kursi.


Keesokan paginya..


"Aku akan pulang dan kembali lagi ya, Sayang. Kamu harus tetap di sini dengan penjagaan ketat. Aku sudah menugaskan kembali kelima Bodyguard yang sebenarnya tidak berguna itu. Sewaktu kami tidak berada di sini, Si Kembar akan masuk ke dalam dan berdiri di sudut ruangan. Kalau kamu butuh apa - apa, suruh saja mereka yang membelikannya. Oke, Sayang?" Ujarku pada Istriku yang masih belum sadar sepenuhnya dari tidurnya.


Setelah mendapat jawaban berupa anggukan kepala, kucium sekilas bibir mungilnya dan keningnya. Lalu aku keluar dari ruangan itu bersama dengan Steve.


Setibanya di Mansion Utama, aku menceritakan smuanya pada Dad, Mom, Kak Adam, Silvia dan Yoru. Mereka mengaku kalau Steve mengatakan hal yang berbeda pada mereka.


"Yaah, begitulah ceritanya. Tidak ada maksud Steve untuk membohongi kalian. Tapi, itu dilakukan untuk kebaikan semuanya. Nah, Ar minta tolong sama Dad untuk menyampaikan kabar ini pada Papa dan Mama. Aku harus segera kembali ke Kantor bersama Steve, Dad. Ada meeting penting hari ini dari pagi sampai sore. Ar siap - siap dulu ya, semua. Takut telat." Ucapku pada semuanya.


"Ya sudah, Mom bareng Silvia saja yang ke Rumah Sakit membawa pakaian ganti untuk Grace dan bekal untuk sarapannya." Ucap Mom saat aku belum terlalu jauh darinya hingga aku masih bisa mendengar perkataannya padaku barusan.


"Baiklah, Mom.." Jawabku singkat sambil berlari ke lantai atas menuju ke kamarku. Setelah setengah jam kemudian, Steve datang menjemputku. Tidak lupa aku berpamitan dengan semua orang sebelum aku berangkat ke kantor.


AUTHOR POV


"Ada apalagi kamu memintaku untuk bertemu denganmu? Bukannya kamu tau kalau aku itu sibuk banget? Banyak kerjaan yang harus kulakukan." Gerutu Pak Wicaksana pada Agung.


Agung hanya duduk dengan santainya di hadapan Pak Wicaksana sambil menyeruput jus yang sudah tersedia di meja mereka.


Ya! Saat ini mereka bertemu di Restoran tempat mereka bertemu untuk pertama kalinya. Agung ingin melakukan sesuatu pada Ar setelah Grace membuatnya harus berada di Rumah Sakit akibat over dosis obat bius miliknya sendiri.


"Aku ingin tau sesuatu padamu. Kamu tau tentang perusahaannya yang ada di London kan?" Tanya Agung pada Pak Wicaksana yang sedang duduk menyilangkan kakinya.


"Yah, aku tau. Perusahaan itu sedang dalam masa pembangunan. Kenapa kamu membahas tentang hal itu?" Pak Wicaksana merasa kebingungan mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Agung.


Agung memasang wajah yang serius pada Pak Wicaksana sambil berkata, "Begini, aku mau memberikan sedikit petunjuk padamu untuk rencana kita menyingkirkan Arion."


Agung pun berpindah tempat duduk ke sebelah Pak Wicaksana untuk membisikkan rencana mereka. Dia memang membutuhkan bantuan dari Pak Wicaksana yang secara langsung memiliki hubungan dengan dunia bisnis.


Mereka banyak memperbincangkan beberapa hal setelah Agung selesai menyebutkan rencana yang dia rancang. Pak Wicaksana tidak sepenuhnya menerima apa yang telah direncanakan oleh Agung.


"Begini, aku memang memiliki orang dalam yang bisa memberikanku informasi mengenai Arion dan jadwalnya. Meskipun tidak begitu akurat, orang ini bisa dipercaya. Kita belum tau pasti kapan Arion akan kembali lagi ke London. Aku harus menanyakannya dulu pada orang kepercayaanku itu." Ucap Pak Wicaksana yang sedikit ragu dengan rencana Agung.


Agung memegang dagunya dan berkata, "Hmm.. Aku mengerti keraguanmu itu Pak Wicaksana. Aku sudah mengirimkan anak buahku untuk melakukan sesuatu di Perusahaan Arion yang ada di London."


"Tapi, aku dengar di sana ada keluarga Istrinya Arion yang memiliki pengaruh cukup besar di sana. Apa kamu yakin akan melancarkan aksimu di London?" Tanya Pak Wicaksana dengan raut wajah khawatir.


Agung tersenyum sinis sambil mengatakan, "Aku tidak kenal yang namanya takut. Kita harus yakin dengan rencana ini. Toh juga, itu keluarga Grace dan bukan keluarga Arion. Mereka tidak akan tau tentang rencana ini kecuali ada yang membocorkannya."


Pak Wicaksana mulai bergidik ngeri mendengar ucapan Agung yang sepertinya memang diarahkan padanya. Dia berusaha untuk tetap tenang selagi berdekatan dengan Agung.


"Aku bisa menjaga rahasia ini. Aku akan melakukan semua yang sudah kamu rencanakan dengan baik. Asal kamu memberikan jaminan keselamatan bagiku. Kita belum tau sebesar apa pengaruh keluarga Grace di London dan bagaimana hubungan mereka dengan Arion." Pinta Pak Wicaksana dengan antusias.


"Baiklah, itu hal yang mudah. Intinya, besok pagi kamu harus berangkat bersama mereka. Anak buahku sebagian sudah ada di London. Kamu akan tinggal di tempatku dan di sana kamu akan aman." Tutur Agung dengan mantap.


Agung sangat yakin kalau kali ini dia bisa menyingkirkan Arion dengan mudahnya. Meskipun ada kemungkinan 10% kalau rencana ini gagal. Ya! Hanya 10% saja, itu tidak akan terpengaruh dengan banyaknya persentase keberhasilannya. Agung tertawa puas setelah melihat Pak Wicaksana mengangguk setuju dengan rencananya kali ini.


Di Rumah Sakit..


"Sayang, Mommy sudah membawakan ini semua. Habiskanlah lebih dulu sarapanmu ini. Setelah itu, mandilah. Kami sudah menyiapkan keperluanmu di dalam tas itu." Ucap Mrs.Melv. yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat inap Sam.


"Mom? Ar kemana, Mom?" Tanya Grace dengan raut wajah herannya.


Silvia meletakkan semua tas di sudut ruangan dan berkata, "Ar sudah berangkat ke Kantor, Grace. Dia ada meeting sampai sore nanti. Dia pasti akan ke sini untuk menemanimu."


"Iya, Sayang. Sekarang, kamu sarapan dulu ya? Bagaimana keadaan Sam?" Tanya Mrs.Melv. pada menantunya itu.


Dia duduk dan membuka satu per satu bekal yang dibawakan oleh mertuanya. Lalu dia makan dengan lahapnya. Dia sudah merasa lapar.


"Mom, apa Ar sudah memberitahukan tentang Sam pada Papa dan Mama?" Tanya Grace dengan perlahan.


Mrs.Melv. duduk di sebelah Grace dan menjawab, "Dad yang memberitahukan pada mereka. Tadi pagi Ar sempat mengatakan semuanya pada kami, meskipun kami masih ragu dengan apa yang diceritakan olehnya. Semua ini begitu mendadak, Sayang. Kemungkinan nanti sore mereka semua juga akan kemari untuk menjenguk Sam."


Grace hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan pelan, karena dia sedang melahap sarapannya. Dia melirik kembali ke arah Silvia dan bertanya, "Kak Sil, apa hari ini Yoru juga berangkat ke Kantor bersama dengan Ar?"


Silvia yang sedang duduk santai pun berkata, "Dia setiap hari juga ke Kantor. Tapi dia sudah berangkat sendiri dengan Supir. Ar tadi pagi - pagi sekali sudah berangkat bersama dengan Steve. Mereka mengejar waktu untuk bisa tiba di Kantor dengan cepatnya dengan alasan takut terlambat pada meeting paginya."


"Okelah, kalau begitu Kak." Ucap Grace singkat sambil memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya.


Beberapa jam kemudian, Sam menunjukkan tanda - tanda kesadaran. Dia menggerakkan jari telunjuknya secara perlahan dan berusaha membuka matanya.


Dengan segera Grace menekan tombol merah yang berada di dekat ranjang pasien. Dokter pun datang untuk memeriksa keadaan Sam.


"Bagaimana keadaan Adik saya, Dok?" Tanya Grace sambil menggenggam tangan Sam.


"Dia sudah sadar, tapi dia sedikit kesulitan dalam menggerakkan tubuhnya. Semua karena pengaruh obat bius yang masih tersisa di dalam tubuhnya. Jadi, biarkan dia beristirahat total selama 2 hari ini." Jawab sang Dokter usai memeriksa Sam.


Setelah itu, sang Dokter dan para Suster pun berpamitan dan keljar dari ruangan itu. Grace memanggil nama Adiknya beberapa kali.


"Sam.."


Sam pun membuka matanya. Dia sedikit menyunggingkan senyumannya pada sang Kakak.


"Sam?" Grace merasa senang melihat Sam sudah sadar sepenuhnya, meskipun dia masih belum bisa bergerak aktif.


"Kak.. Ke..na..pa a..ku bi..sa a..da di si..ni?" Tanya Sam dengan perlahan.


Dia tidak mengingat apa pun lagi setelah di biud terakhir kalinya di Medan. Dia tidak menyangka kalau dirinya saat ini sedang berada di Jakarta setelah melihat keberadaan Mrs.Melv. dan Silvia.


"Begini, Sam. Kamu itu disekap oleh Agung. Kamu ingat, laki - laki yang selalu mengejar Kakak padahal sudah Kakak tolak beberapa kali saat SMP?" Grace mulai membuka suaranya menceritakan semianya pada Sam.


Sam hanya bisa mengangguk kecil pada Kakaknya. Dia tidak memiliki tenaga untuk merubah posisi tidurnya saat ini. Grace mulai bercerita secara perlahan.


"Nah, dia itu terlalu berambisi ingin memiliki Kakakmu ini, Sam. aku tidak tau pastinya kapan dan dimana dia menangkapmu. Yang pasti, Agung menghubungiku untuk datang sendiri ke lokasi tempat dia menahanmu. Tapi, aku datang bersama kelima Bodyguard yang sudah ditugaskan Dad dan Ar untuk menjagaku."


"Saat dia membawa aku menemuimu di sebuah kamar, dia malah membius hingga kelima Bodyguardku pingsan. Tapi, setelahnya kami berdebat. Dan perdebatan itu membuat dia menyerah. Dia pergi ke kamarnya. Karena aku merasa lapar, akhirnya aku menyeduh teh dan menonton siaran televisi dengan santainya."


Mrs.Melv. dan Silvia yang mendengar cerita Grace, membuat mereka semakin penasaran hingga mereka berjalan mendekati Grace dan berdiri di samping ranjang pasien. Mereka mendengar cerita Grace dengan seksama.


"Dia mengira kalau aku sudah menerimanya karena melihat tidak ada cara lain untuk kabur darinya. Dia bertanya tentang apa yang ingin aku makan. Aku membuat alasan jika aku ingin memakan masakannya. Jadi, dia pergi ke dapur untuk memasak makan malam kami."


"Itulah kesempatan bagiku untuk masuk ke dalam kamarnya. Dia menyimpan semua peralatan biusnya di dalam sebuah lemari kayu yang kuncinya masih tercantol di lemari itu. Aku mengambil beberapa suntik yang sudah diisi dengan obat bius dan membawanya bersamaku. Aku pun mendekati Agung di dapur dan menancapkan semua suntik itu ke punggungnya secara bersamaan menyuntikkannya dengan cepat. Dia pun tumbang saat itu juga."


Grace mencoba menenangkan dirinya sejenak dan dia pun mengakhiri ceritanya.


"Setelah dia pingsan, aku masuk ke dalam kamarmu karena mendengar suara pintu rumah yang terbuka. Dan ternyata orang itu adalah Ar dan Kak Steve. Kita pun pergi dari rumah itu dengan segera. Itulah yang terjadi, Sam. Kamu bisa berbaring di sini, semuanya karena ulah si Agung. Aku masih belum mengetahui bagaimana kabarnya setelah dia menerima begitu banyak suntikkan obat bius."


"Sekarang sudah saatnya makan siang. Sam harus makan dan meminum obatnya. Agar dia bisa langsung beristirahat lagi. Ingat, Grace. SAm itu butuh istirahat yang total." Ucap Mrs.Melv. yang mulai mengambil semangkuk bubur dari seorang Suster yang baru saja memasuki ruang rawat inap Sam.


"Sini, Mom. Aku saja yang menyuapkannya pada Sam. Aku akan makan setelah Sam selesai makan." Ucap Grace yang ingin mengambil mangkuk yang sedang dipegang oleh Mrs.Melv.


Bukannya memberikannya, Mr.Melv. malah menarik kembali mangkuk bubur itu dan langsung duduk di sebelah Sam.


"Biar Mom yang mengurus Sam. Bagaimana pun, Sam itu adalah Anak Mom juga. Jadi, Mom masih berhak untuk merawatnya. Kamu makan saja bersama Silvia. Jangan lupa, kalian itu sedang mengandung. Kalian tidak boleh mengabaikan jam makan kalian." Mrs.Melv. memberikan peringatan pada Grace dengan membawa nama Silvia agar Grace mau menuruti perkataannya.


"Baiklah, Mom. Terimakasih banyak ya, Mom. Mom sangat memperdulikan kami." Ucap Grace sambil menatap sang Mommy.


"Iya, Sayang. Makan gih." Perintah Mrs.Melv. pada Menantunya itu.


Mereka pun makan dengan lahapnya. Setelah beberapa saat, mereka pun kedatangan tamu.


"Bagaimana keadaan Sam, Sayang?" Tanya Mr.Melv. pada Istrinya sambil menoleh ke arah Grace dan Silvia.


Mr.Melv. datang bersamaan dengan Adam yang sudah berjalan mendekati Silvia dan Ar yang juga menghampiri sang Istri. Hanya Steve lah yang berjalan mendekati ranjang pasien.


 


 


 


>>> Bersambung <<<


Sampai sini dulu ya..


Kita akan lanjut di next chap, Ingat untuk selalu beri like nya yaa, Kakak2..


Terimakasih bagi yang sudah support Author selama ini..


Salam Kasih untuk Yg Terkasih


~~ Love You All ~~