
"Selamat siang, Mr.Yardies." Sapa Arion dan Grace pada orang yang membuka pintu Rumahnya. Mereka baru tiba di London dan itu sudah waktunya makan siang.
"Siang juga, Ar, Grace. Ayo! Masuk. Kita makan siang dulu baru berbincang - bincang." Ajak Elvina yang melihat kedatangan Arion dan Grace dari arah belakang Suaminya.
"Aunty!" teriak Ed melihat kedatangan Grace. Dia berlari sekencang - kencangnya ke arah Grace.
"Uuupp, My lovely Edzard." Ucap Grace sambil menggendong Ed yang menghampirinya.
"How are you, Aunty? Did this uncle bother Aunty that you guys had to come here? Ed would beat this uncle, if he really bothered Aunty." Ucap Ed panjang lebar ingin membela Aunty nya sambil menatap tajam ke arah Ar.
(Bagaimana kabarmu, Aunty? Apa paman ini mengganggu aunty sampai kalian harus datang ke sini? Ed akan hajar paman ini, kalau dia memang benar mengganggu Aunty.)
"No. Your uncle is very kind to me. He never bothered me, baby. Ed is too much." Ucap Grace sambil mencubit pelan pipi gembung Ed.
(Tidak. Pamanmu sangat baik terhadapku. Dia tidak pernah menggangguku, sayang. Ed terlalu berlebihan.)
"Ayo, kita masuk." Ajak Grace pada semuanya. Dia menggendong Ed sampai ke ruang makan.
Mereka pun makan siang bersama. Elvina hari ini memasak beberapa jenis lauk khas Indonesia dan beberapa lauk lagi khas Barat. Masakannya tidak kalah enak dengan yang di masak oleh Grace. Meskipun Arion lahap memakannya, masakan Grace tetap nomor satu baginya.
Selesai makan, Grace di ajak oleh El dan Ed ke ruang TV. Saatnya bersantai sebelum mereka melakukan kegiatan yang lebih melelahkan lagi. Ed selalu menempel pada Aunty nya yang sangat dirindukannya.
Sedangkan Ricky dan Ar masih berada di ruang makan untuk berbincang sebentar.
"Jadi, dimana wanita j*lang yang berani mengganggu mental Adik kesayanganku itu? Aku ingin tau bagaimana sebenarnya kronologi kejadian yang menimpa Grace. Kamu sudah berjanji padaku, Ar. Tapi, kenapa hal ini malah terjadi?" Tanya Ricky dengan nada tegasnya.
"Aku juga belum tau pasti bagaimana dan apa yang terjadi pada Grace. Karena sampai saat ini, dia belum menceritakan apa yang dia alami saat itu." Jawab Ar penuh dengan kekhawatiran. Dia khawatir kalau Ricky akan membawa Grace untuk meninggalkan dia, karena dia merasa sudah lalai menjadi seorang Suami yang bertanggungjawab terhadap Istrinya.
"Baiklah, nanti akan aku tanyakan sendiri padanya. Kamu juga akan tau semuanya nanti. Lalu dimana dia?" Tanya Ricky yang mendesak Ar untuk memberitahukannya secepatnya.
"Bang, jangan ceritakan hal ini pada Grace ya. Dia tidak tau kalau aku menangkap perempuan itu. Dia juga tidak tau kalau perempuan itu yang berusaha untuk mencelakainya. Dia bahkan tidak tau kalau perempuan itu adalah kekasih Agung, orang yang sangat terobsesi padanya." Pinta Ar pada Ricky, tapi dia tidak ingin menceritakan kejadian yang menimpanya dengan Grace saat melawan Agung.
"Oke, baiklah. Aku akan menjamin ini semua tidak akan diketahui oleh para Istri di Rumah ini. Hanya kita berdua yang tau dan hanya aku yang akan menyiksanya. Jadi, dimana dia sekarang? Katakan." Tanya Ricky kembali dengan ekspresi yang lebih serius.
"Dia ada di bagasi Jet Pribadiku, Bang. Aku tidak memberinya makan sejak dia ditangkap oleh anak buahku." Jawab Arion mendetail.
"Baiklah. Mari kita ke sana. Aku akan bawa beberapa anak buahku untuk membawanya ke gudang bawah tanah, tempat tersembunyi yang biasanya aku pakai untuk membantai orang - orang yang tidak bermoral seperti dia." Ucap Ricky tegas.
Mereka pun beranjak dan pergi menuju ke Jet Pribadi Arion. Anak buah Ricky menyeret paksa perempuan itu keluar dari bagasi Jet tersebut.
"Bawa dia ke gudang bawah tanah! Jangan sampai ada jejak yang bisa membuat orang rumah curiga. Aku tidak mau kejadian ini diketahui mereka. Cepat!" Perintah Ricky pada ke 4 anak buahnya.
Rambut perempuan itu ditarik oleh 2 orang anak buah Ricky dan dengan paksa menyeretnya sampai ke dalam ruang bawah tanah. Perempuan itu merintih kesakitan, tapi tidak terdengar suaranya, karena mulutnya sudah di bekap sekuat mungkin oleh anak buah Arion.
"Aku tidak akan memberi ampun orang - orang yang sudah berani mengganggu keluargaku. Nanti periksa riwayat panggilan di ponselnya dan tangkap orang - orang yang berusaha menodai Adikku hingga di setrauma itu pada mereka! Aku mau semuanya tertangkap dan disekap di gudang bawah tanah. Setelah itu, aku akan mengurus mereka semuanya sekaligus." Perintah Ricky pada anak buahnya yang tidak bisa dibantah lagi.
"Siap Bos!" Jawab mereka singkat dan langsung bergerak mengurus semua yang diperintahkan pada mereka. Tidak ada dari mereka yang berani melawan.
Beberapa orang sudah bersiap untuk berangkat ke Paris menggunakan helikopter untuk menangkap pelaku yang masih berkeliaran di sana. Ricky memang sangat menakutkan. Sekali dia merasa terganggu, dia akan membalasnya berkali - kali lipat.
"Bang, bagaimana cara Abang mencaritahu tentang kejadian itu secara langsung dari Grace?" Tanya Ar dengan ragu - ragu.
"Kamu tenang saja, aku tidak akan memaksanya. Jadi, kalau kamu mau pergi sekarang, pergi sajalah. Nanti aku akan memberikan rekaman percakapan kami padamu. Aku tidak akan mau mengulang perkataanku lagi." Ucap Ricky dengan penuh penegasn. Dia memang tipe orang yang tegas dan kejam.
"Baiklah, Bang. Aku izin pergi ke Kantor ya. Aku akan kembali saat jam makan malam. Karena itu, aku minta Abang menjaganya selama aku tidak ada. Aku yakin kalau Grace akan aman selama berada di dekat Abang." Pinta Ar pada Ricky yang masih saja menatapnya dengan wajah yang serius.
"Tenang saja. Tidak ada yang berani membuat onar di wilayah Yardies. Pergilah, kamu juga harus bertanggungjawab sebagai CEO Muda Melv.Corp. dan jangan sampai ada gosip mengatakan bahwa kamu tidak berkualitas semenjak menikah dengan Grace. Itu akan membuat nama baik keluargamu memburuk apalagi Grace." Ricky memberikan sedikit pengarahan pada Ar.
Setelah mengangguk dan bersalaman dengan Ricky, Arion pergi dari Rumah Ricky menuju ke Kantornya.
"Come on, show me the location damaged by the fire. I want to see it. Call all the financial people, I want to find out how much we are losing due to this fire." Perintah Ar pada pegawai yang sedang menghampirinya. Mereka sudah mengenal Ar sebelumnya, karena Mr.Melv. pernah memperkenalkannya secara resmi di ketiga perusahaan Melv.Corp.
(Mari, tunjukkan padaku lokasi yang rusak akibat kebakaran itu. Aku mau melihatnya. Sekalian panggilkan orang bagian keuangan, aku ingin mengetahui berapa banyak kerugian kita karena kebakaran ini.)
Dia langsung memantau tempat kejadian perkara yang terbakar itu. Banyak barang yang hancur akibat kebakaran. Kabarnya, kerugian yang mereka tanggung untuk bisa merenovasi tempat itu kurang lebih harus mengeluarkan biaya sebesar 5M. Arion menggelengkan kepalanya dan merasa sedikit frustasi dengan hal ini.
Karena ini merupakan kali pertamanya menghadapai peristiwa yang merugikan perusahaan sampai harus membutuhkan modal sebanyak itu. Dia pun menelepon Mr.Melv. untuk meminta saran dari sang Daddy.
"Dad, apa Daddy sudah mendengar mengenai kebakaran yang terjadi di perusahaan cabang kita yang di London?" Tanya Arion saat teleponnya di angkat.
"Sudah, Nak. Dad sedang menunggu laporan darimu. Maaf ya, karena bulan madumu dengan Grace malah terganggu dengan urusan Kantor. Dad sangat sibuk di sini, jadi tidak bisa ke sana. Jadi, bagaimana kabarnya, Ar?" Mr.Melv. bertanya kembali pada Ar.
"Kalau soal itu, Dad jangan khawatir. Grace saja tidak mempermasalahkannya, jadi aku juga tidak akan memikirkannya lagi. Dan laporan tentang bagian yang terbakar itu, setelah perhitungan kotor biayanya, untuk merenovasi bagian barat seluruhnya akan menghabiskan biaya sebesar 5M. Itu hanya perkiraan sementaranya, Dad. Mungkin bisa melebihi perkiraan sementara." Jawab Ar sambil menjelaskan yang dia ketahui mengenai laporan yang sudah diperhitungkan oleh pihak keuangan perusahaan.
"Apakah menurutmu, biayanya memang mencakup segitu banyak? Apa - apa saja yang diperlukan untuk merenovasi semua itu? Kamu harus bisa membuat perencanaanmu sendiri, Nak. Bandingkan dengan laporan mereka. Laga hasilnya, manakah yang paling berkualitas tetapi biayanya lebih irit. Kamu harus gerak sendiri mengecek semuanya. Minta bantuan Asisten Papa yang di sana, Ar." Tutur Mr.Melv. pada Ar yang sedang ling - lung dalam membuat keputusan.
"Baiklah, Dad. Aku akan membuat perencanaan dan perhitungan sendiri mulai besok dan ku usahakan lusa aku sudah bisa memberikan laporan pada Dad." Ucap Arion tegas.
"Baiklah, Nak. Daddy menunggu laporan darimu." Jawab Mr.Melv. singkat.
"Okelah, Dad. Aku akan memantau pekerjaan para buruh yang membersihkan puing - puing bekas ledakan itu." Ucap Ar untuk mengakhiri panggilan itu.
"Baiklah, Ar. Semoga pekerjaanmu cepat tuntas ya." Mr.Melv. pun menutup panggilan itu.
Ar pun memulai pekerjaannya. Dia mulai mengamati apa - apa saja yang harus dibeli untuk merenovasi bagian barat gedung Melv.Corp. itu.
"Give me all the files on building material data to the property that will be needed in renovating the building. I need the complete file. Immediately." Perintah Ar pada Sekretaris Mr.Melv. yang sekarang sudah menjadi Asistennya.
(Berikan padaku semua berkas mengenai data bahan bangunan sampai properti yang akan dibutuhkan dalam merenovasi bangunan itu. Aku butuh data komplitnya. Secepatnya.)
"Yes, Sir." Jawabnya singkat. Dia langsung keluar dari ruangan CEO nya itu dan secepatnya menghubungi orang - orang yang menangani bagian - bagian itu.
***********
Di tempat yang jauh, Agung mulai merasa resah. Dia belum mendapatkan kabar apa pun mengenai penculikan Grace yang sudah direncanakannya sejak lama setelah dia pulih dan bisa menggerakkan semua anggota tubuhnya yang masih terasa kaku.
"Aku tidak mau tau! Pokoknya, caritahu apa yang terjadi di Paris! Kenapa Sandra dan juga orang - orang suruhannya belum memberikan kabar sampai saat ini!" Bentak Agung pada seseorang di balik telepon yang telah terhubung dengan panggilannya.
"Ba, ba, baik Bos." Orang itu terdengar begitu ketakutan mendengar suara Agung yang membentaknya.
Begitu selesai dengan panggilan pertamanya, dia duduk di kursi kekuasaannya yang berada di ruang kerjanya. Dia memikirkan segala hal yang terjadi.
"Seharusnya, Grace akan marah dan pergi menjauhi Suaminya itu. Grace tidak akan bisa melawan 5 anak buah suruhan Sandra sekaligus.' Itulah yang dipikirkan oleh Agung.
"Bos, ternyata Sandra sudah bertindak sesuka hatinya. Saat dia menyuruh kelima orang suruhannya, mereka bukan hanya disuruh membawa Grace ke sini, tapi mereka juga diperintahkan untuk melakukan semua yang mereka senangi selama Grace berada dalam genggaman mereka. Sekarang Grace dan juga Suaminya sudah berada di tempat seseorang yang paling berkuasa di London bersama dengan Sandra. Kelima orang suruhan Sandra sudah menjadi buronan dari mereka." Anak buah Agung ini memberikan penjelasan padanya dengan bahasa yang ambigu. Bahasa yang sebenarnya tidak dimengerti oleh Agung.
"Mereka membawa Sandra kemana? Cepat katakan padaku!" Tanya Agung pada anak buahnya yang tidak berani mengatakan keberadaan Sandra.
"Dia dibawa dan ditahan di Rumah seorang pemimpin kelompok Mafia terkejam di London, Bos. Jangan sampai kita melakukan hal yang menyinggungnya, Bos. Itu akan berbahaya bagi kelompok kita yang sudah tinggal sedikit ini, Bos. Kelima orang suruhan Sandra juga akan ditangkap secepatnya, Bos. Sepertinya mereka akan dihukum secara bersamaan secara langsung oleh pemimpin kelompok itu, Bos." Ucap anak buah Agung yang merasa ketakutan melihat situasi yang saat ini mereka hadapi.
"Semuanya tidak berguna!" Teriak Agung mendnegar penjelasan anak buahnya yang tidak masuk akal itu.
Akhirnya, Agung mencari cara untuk bisa membawa pulang kembali kekasihnya itu. Dia menjadikan Sandra sebagai kekasihnya hanya sebagai pelampiasan nafsu birahinya saja. Dia tidak sungguh - sungguh untuk menjadikan Sandra sebagai pujaan hatinya, karena di dalam hatinya hanya ada Grace seorang.
"Ahh, iya. Untuk sementara, biarlah Sandra disiksa oleh mereka. Aku yakin kalau mereka tidak berniat untuk membunuhnya. Aku akan menunggu sampai Sandra datang dengan sendirinya ke Rumah ini. Aku yakin itu. Dia pasti akan kembali dengan sendirinya." Ucap Agung pada dirinya sendiri. Dia menyunggingkan senyuman sinisnya.
**********
Setelah Ar pergi, Ricky mendekati Grace dengan membawa dan mengaktifkan alat perekam suara yang dimilikinya. Dia mulai bertanya pada Grace, "Abang sudah mengetahui semuanya dari Ar. Abang ingin mengetahui lebih jelas, bagaimana kronologi kejadian itu. Apa kamu sudah bisa menceritakannya padaku? Sekarang Abang akan menjadi pendengar yang baik untukmu. Atau kamu ingin menceritakannya pada Elvina saja?"
"Bang, aku masih tidak ingin mengingatnya. Mereka itu sangat menjijikkan, Bang." Ucap Grace penuh amarah. Dia tidak suka jika harus mengingat kejadian seperti itu lagi. Tapi, dia juga tidak bisa untuk tidak menceritakannya pada Ricky. Ricky sudah dianggapnya lebih dari seorang saudara sejak saat itu.
"Abang akan menunggumu hingga ingin menceritakannya pada Abang, Grace. Aku akan tetap berada di sini sampai kamu mau terbuka. Abang ingin menghukum mereka yang sudah membuatmu menjadi seperti ini." Tegas Ricky yang masih duduk di sebelah Grace di ruang tamu sambil bersandar dan bertopang dada.
"Baiklah. Aku akan menceritakannya. Hanya sekali dan tidak akan ada pengulangan." Ucap Grace yang sudah mulai berpikir untuk menceritakannya pada Ricky.
"Oke. Silahkan. Abang tidak akan memotong pembicaraanmu." Jawab Ricky singkat agar Grace segera menceritakan kejadian yang sebenarnya melalui sudut pandangnya.
"Tadinya, kami kan pergi ke Menara Eiffel. Tiba - tiba ada seorang perempuan berambut pirang panjang melepaskan genggaman tangan kami dengan kasar. Dia langsung memeluk Ar. Aku yang dalam posisi dilema, meninggalkan mereka berdua begitu saja. Aku berjalan sendirian menuju ke Menara Eiffel itu. Yang aku tau, Ar tidak mungkin melakukan sesuatu yang bisa mengecewakanku. Dia tidak pernah dekat dengan seorang perempuan. Aku percaya kalau perempuan itu hanyalah pengagum Ar seperti perempuan lainnya. Jadi, aku hanya berjalan sendirian sambil menunggu kedatangannya tepat berada di bawah kaki Menara Eiffel."
"Aku tidak menyadari ada 5 lelaki yang mendekatiku selama perjalanan menuju Menara Eiffel itu, Bang. Saat tiba di bawah kaki Menara Eiffel, aku di bekap dan dibawa ke sebuah lorong kecil yang sepi sekali. Mereka tertawa melihat keadaanku yang kaget dengan keberadaan mereka. Tanpa basa - basi, mereka berusaha merobek bajuku, tapi aku berhasil menendang mereka bertiga. Tapi rasa sakit itu hanya bertahan sebentar dan mereka bangkit kembali."
"Mereka marah padaku. Memukulku secara bergantian dan ada salah satu dari mereka yang terus - menerus menarik pakaianku. Abang tau sendiri, aku takut dengan orang seperti itu. Orang mesum yang begitu banyak jumlahnya. Tapi, aku berhasil melarikan diri dari mereka. Aku melihat Arion datang mencariku di bawah kaki Menara Eiffel itu. Aku pun menghampirinya dan aku sampai harus dibawa ke Rumah Sakit untuk bisa pulih kembali, Bang."
Setelah bercerita begitu panjang, Grace yang merasa haus, meminum segelas air mineral yang ada di hadapan mereka. Dia tersenyum dan menggangguk perlahan pada Ricky menandakan bahwasannya ceritanya sudah berakhir.
"Oke, Abang sudah mengerti sekarang. Kamu diganggu oleh kelima orang yang sebenarnya suruhan dari perempuan sialan itu. Dia pikir kamu cemburu dengan kedekatannya bersama Arion dan membuatmu seperti mainan dari kelima orang suruhannya. Ya sudah, sekarang kamu beristirahatlah. Sepertinya kamu terlihat kelelahan selama bermain dengan Ed.” Ucap Ricky mulai mengalihkan perhatian Grace. Dia keceplosan. Dia tidak ingat bahwa Grace tidak tau kejadian ini ada hubungannya dengan perempuan itu.
“Nanti saja aku istirahatnya, Bang. Toh juga, sebentar lagi waktunya makan malam, Bang. Aku mandi dulu ya, Bang. Sudah lengket nih, gara – gara menemani Ed bermain alip dan kejar – kejaran tadi di taman. Dia terlalu aktif, Bang. Tidak bisa ditinggal barang sebentar.” Jawab Grace sambil bernajak dari tempat duduknya.
“Oke, sampai ketemu di jam makan malam, Grace.” Ucap Ricky sambil melambaikan tangannya.
Setelah Grace pergi, Ricky mematikan alat perekam yang ada di saku bajunya. Dia akan menyerahkannya pada Ar, karena Ar juga harus menjelaskan kepada Istrinya siapa identitas dari perempuan yang memeluknya itu. Meskipun Grace mempercayainya, tapi tetap saja Grace membutuhkan sebuah penjelasan.
“Selebihnya, terserah padamu, Ar.” Ucap Ricky secara spontan sambil melihat kea rah alat perekam yang ada ditangannya.
“Selamat malam semua.” Sapa Ar pada semua orang yang sudah berkumpul di ruang makan. Dia mendekati Grace dan mengecup singkat kening Istrinya.
“Ehem..” Terdengar dehaman dari Ricky yang merasa risih melihat kemesraan Ar dan Grace yang jelas – jelas diperhatikan oleh Ed.
“Ahh, maaf Bang.” Ucap Ar sambil menunduk. Dia duduk tepat di sebelah Grace.
Grace yang melihat kedatangan Ar langsung saja mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauk untuk disantap oleh Ar.
Setelah selesai makan, Ar pamitan terlebih dahulu untuk membersihkan diri. Dia memiliki janji dengan Ricky untuk bertemu di ruang kerjanya. Dia masih penasaran bagaimana kronologi yang sesungguhnya yang membuat Istrinya begitu syok sampai mengalami trauma yang seperti itu.
"Kamu sudah mendengar semuanya bukan? Aku juga sudah mendapat kabar dari anak buahku, kalau mereka sudah menemukan kelima lelaki bejat itu dan mereka sedang dalam perjalanan menuju London." Ucap Ricky yang sedang menatap Ar dengan tatapan yang menegangkan.
"Aku sudah mendengarnya, Bang. Sekarang aku tau apa penyebab dari trauma yang membuat Grace sampai pingsan begitu. Baiklah, semuanya biar Abang yang mengurusnya. Aku harus fokus dengan pekerjaanku terlebih dahulu, Bang. Karena masalah yang menimpa perusahaan cabang yang di sini akan memakan biaya yang sangat tinggi untuk renovasinya." Ar menyebutkan kesibukannya besok, sehingga Ricky bisa langsung membuat perhitungan dengan keenam orang itu.
"Ya! Aku juga tidak suka berbagi. Aku yang akan menghukum mereka dengan keras! Kamu tidak perlu ikut campur." Ucap Ricky acuh tak acuh pada Ar.
"Baiklah, Bang. Aku pamit duluan ya. Aku mau kembali ke kamar untuk beristirahat. Selamat malam Bang." Ar pun pergi bergitu saja setelah mendapat sebuah anggukan kepala dari Ricky.
Sesampainya di kamar, Ar disuguhkan pemandangan langka. Dia melihat Grace tidur sambil memeluk Ed yang juga sedang terlelap di tengah temapat tidur. Dia mendekati kedua orang itu dan berbaring di samping Ed. Tidak lupa dia mencium kening Istrinya sebagai ucapan selamat tidur darinya. Dia juga mengelus kepala Ed dengan lembut.
'Memang dasar pengganggu. Kalau begini terus, akan membahayakan.' Umpat Ar dalam hati. Biarpun begitu, Ar tetap merebahkan tubuhnya, dia langsung melayang ke alam mimpi.
Keesokan harinya..
Ar terbangun karena merasakan pergerakan. Dia melihat Ed bangkit dan keluar dari kamarnya. Ar pun berinisiatif untuk mengunci pintu kamarnya. Ini masih jam 5 pagi, masih sempat baginya untuk bermesraan denga Istrinya sambil menjelaskan siapa sebenarnya perempuan yang tiba - tiba memeluknya itu.
Setelah mengunci pintu kamar, Ar mengisi air bathtub menggunakan air hangat. Dia menghampiri Istrinya dan menarik selimut yang membaluti tubuh Istrinya. Dengan sigap, dia menggendong Istrinya yang tiba - tiba berteriak padanya.
"Ar! apaan sih? Kenapa jadi sesuka hatimu menggendongku begini? aku kan masih mengantuk. Ganggu aja deh.." Teriak Grace pada Ar.
"Semalaman aku tidak bisa memelukmu, sayang. Aku ingin kamu menemaniku mandi. Semua karena si kecil Ed yang mengganggu kemesraanku denganmu, sayang. Aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu, sayang. Jadi, jangan membantah ya, sayang." Bisik Ar dengan lembut di telinga sang Istri.
Karena tidak mendapat jawaban apapun, Ar menggendong Istrinya menuju ke kamar mandi. Dia melepas semua pakaian mereka dan mereka pun berendam air hangat di dalam bathtub yang sama.
"Sayang.." Ar memanggil Grace selembut mungkin.
"Ya, sayang. Ada apa? Apa yang sebenarnya mau kamu katakan?" Tanya Grace sambil menggosok lengannya dengan air hangat.
"Perempuan yang waktu itu, aku sama sekali tidak mengenalnya. Tapi dia mengenalku. Katanya, dia pernah bertemu denganku di sebuah Acara resmi. Aku memarahinya karena dia telah lancang memelukku di depan umum dan yang paling aku tidak sukai, beraninya dia melepaskan genggamanku padamu. Aku tidak yakin, bagaimana reaksinya setelah aku berlaku kasar padanya semalam. Aku tidak ingin kamu berpikiran bahwa aku ini seorang lelaki yang memiliki banyak kekasih. Hanya kamu yang ada di hatiku dan selamanya akan tetap begitu. Kamu percaya padaku kan, sayang?"
Arion menjelaskan semuanya secara mendetail sambil melingkarkan tangannya di tubuh Grace yang terendam air hangat.
Grace hanya mengangguk pelan dan berkata, "Iya, sayang. Aku percaya padamu, sebelum kamu menjelaskannya padaku, aku sudah lebih dulu percaya padamu tanpa kamu memintanya." Jawaban Grace begitu tepat sasaran hingga Arion merasa terharu mendengar kata - kata itu langsung dari mulut Istrinya.
"Kamu sungguh Istri idamanku. Sosok seorang Istri yang sangat aku idam - idamkan. Makasih ya, sayang. Kamu sudah mempercayaiku sampai sebegitunya." Arion mulai menciumi tengkuk leher Istrinya dan tangannya mulai bekerja untuk memberikan sentuhan - sentuhan lembut pada Istrinya. Mereka pun terbuai dalam kenikmatan tersebut tanpa diketahui oleh pemilik Rumah.
>>> Bersambung <<<
Sampai sini dulu ya..
Kita akan lanjut di next chap, Ingat untuk selalu kirim jempol nya yaa, Kakak2..
Salam Kasih untuk Yg Terkasih
Love You All
💞 💞 💞 💞 💞