THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
TPG2_127



AUTHOR POV


Selesai rapat, Ar menemui Steve secara pribadi sebelum kembali ke ruangannya. Dia masih ingin mengetahuo bagaimana pihak kepolisian mengurus Sandra dan geng nya.


"Steve, bagaimana? Apa mereka memberikan hukuman yang pantas untuknya?" Tanya Ar pada Steve setelah mereka memasuki ruangan Steve.


"Mereka sudah memberikan hukuman selama 5 tahun penjara, tapi Sandra masih memiliki banyak uang untuk menebus dirinya. Jadi, dia hanya akan terkurung selama sebulan dan bebas setelahnya." Ucap Steve sambil menyeruput kopi yang sudah tersedia di atas meja kerjanya.


"Saat dia dibebaskan, aku ingin kamu mengatur anak buah kita untuk membawa paksa dia ke tempat biasa. Aku ingin mencaritahu tentang apa saja yang dia ketahui mengenai rencana Agung. Aku juga ingin tau dimana sebenarnya tempat kediaman Agung saat ini. Dan masih banyak lagi hal yang ingin aku ketahui." Tegas Ar pada Steve.


Steve hanya menggelengkan kepalanya sejenak dan berkata, "Baiklah. Semuanya sesuai permintaanmu."


Arion pun berbalik badan dan berjalan begitu saja keluar dari ruangan Steve. Sedangkan Steve hanya bisa melihat kepergian Ar sambil menyeruput kopinya sampai habis.


Ar masuk ke dalam ruangannya. Dia melihat sang Istri sangat serius dengan apapun yang sedang dipegangnya. Kedua Bodyguard yang tadinya hanya berdiri pun keluar dari ruangan itu.


Ar mencoba menghilangkan pikirannya tentang Sandra dengan menggoda sang Istri. Setelah dipikir - pikir kembali, dia menyadari bahwa ternyata Istrinya memang ngidam bekerja dan belajar. Aneh saja, Grace bisa tiba - tiba begitu antusias untuk melakukan hal - hal yang belum pernah dilakukannya.


"Sayang, sekitar setengah jam lagi sudah jam makan siang. Periksa dan tandatangani semua berkas - berkas ini. Aku mau itu semua selesai sebelum jam makan siang." Perintah Grace pada Suaminya.


"Kamu begitu kejam padaku, Sayang. Baru saja aku selesai rapat, kamu sudah menyuruhku bekerja lagi. Tidak ada waktu untukku beristirahatkah?" Tanya Ar pada Istrinya.


"Jangan manja, Sayang. Sekarang juga kamu harus menyelesaikannya. Aku tidak akan mau makan bersamamu jika pekerjaanmu belum selesai saat jam makan siang." Ancam Grace pada Ar.


"Baiklah, Permaisuriku. Aku akan membawa semua berkas ini ke sana dan menyelesaikannya secepat mungkin. Kita akan makan siang bersama tepat waktu." Ucap Ar yang sudah mengambil berkas - berkas yang ada di hadapan Grace dan membawanya menuju ke meja kerjanya.


Dia tidak bisa membiarkan jam makan siangnya menjadi hampa tanpa Grace. Ar pun langsung membuka satu per satu berkas itu. Dia memfokuskan dirinya membaca catatan kecil yang ditempel oleh Grace. Sedangkan Grace, dia sedang asik sendiri mempelajari kamus bahasa Jepang.


Setengah jam pun berlalu dengan cepat. Ar sudah selesai dengan pekerjaannya.


"Shei, datang kemari dan bawakan Jus Jeruk 2 gelas untuk kami. Sekalian ambil berkas yang sudah saya tandatangani ini." Perintah Ar pada Sekretarisnya melalui interkom.


"Baik, Pak." Terdengar suara Shei yang merespon perintah dari Ar secara singkat.


"Sayang, sudah saatnya makan siang. Kamu tidak boleh terlambat makan. Ingat! Kamu itu butuh nutrisi tepat pada waktunya." Ucap Ar sambil beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke arah Istrinya.


Grace yang melihat kedatangan sang Suami pun tersenyum manis dan berkata, "Baiklah. Kita akan makan dengan bekal dari Rumah. Tadi aku sempat menyuruh salah satu Bodyguard ku untuk mengambil bekal untuk kita. Semua menunya adalah request dariku langsung pada Cheff nya tadi pagi." Grace pun membuka bekal yang tersedia dan membagikan porsi nasi beserta lauk pauknya menjadi dua bagian.


Ar dan Grace pun memulai dan mengakhiri kegiatan makan siang mereka dalam keadaan hening. Mereka sangat menyukai suasana makan berdua seperti itu.


Drrttt.. Drrttt.. Drrttt..


"Halo, ya Steve?" Tanya Ar setelah menerima panggilan dari Steve.


"Jangan lupa kalau kita ada rapat sekitar 10 menit lagi, Ar. Aku akan langsung menuju ke ruang rapat. Jangan sampai telat ya, Ar." Ucap Steve dengan tergesa - gesa pada Ar. Mereka memang memiliki jadwal rapat siang ini.


"Oke, tenang saja, aku tidak akan pernah terlambat selama ini." Ucap Ar sambil menutup panggilan telepon tersebut.


Ar pun berjalan mendekati Grace. Dia mengeluas puncak kepalanya Istrinya dan berkata, "Sayang, aku sudah harus pergi lagi. Barusan Steve meneleponku untuk mengingatkanku adanya rapat sekitar 10 menit lagi. Aku pergi dulu ya, Sayang? Setelah rapat yang satu ini selesai, kita akan pulang. Kamu tidak boleh terlalu lelah. Jam 3 nanti aku akan mengantarkanmu pulang. Tapi, aku akan kembali ke Kantor lagi untuk membahasa sesuatu dengan Steve mengenai jadwal esok hari." Tutur Ar sambil memelik sang Istri.


Grace mencoba mencerna maksud dari penuturan dari Ar. Setelah dia mengerti maksudnya, Grace pun menganggukkan kepalanya dan berkata, "Baiklah, Sayang. Aku akan menunggumu di sini. Oh iya, Sam dimana ya, Sayang? Kenapa aku tidak pernah lagi melihatnya?"


Pertanyaan Grace membuat Ar sedikit terkejut. Dia baru menyadari bahwa dialah yang mengutus Sam untuk pergi melacak sebuah toko yang ingin menjadi distributor dari Melv.Corp. di kota Surabaya, sehingga Sam dan pegawai yang ikut bersamanya tidak akan terlihat di Kantor sama sekali.


"Ohh, dia dan beberapa pegawai sedang melakukan Dinas Luar Kota ke Surabaya, Sayang. Nanti kalau dia sudah kembali, dia pasti akan langsung menemuimu. Aku pergi dulu ya, Sayang. Sudah mau telat nih." Jawab Ar dengan cepat dan langsung keluar dari ruangannya.


Grace melanjutkan kegiatannya di dalam ruangan itu dengan fokus yang pasti. Dia sedang dalam mode semangat yang membara dalam mempelajari bahasa Jepang tersebut.


**********


Steve mengikuti langkah Ar yang menuju ke ruangannya setelah mereka menyelesaikan rapat dengan sukses. Ar ingin mengetahui informasi mengenai Sandra.


Setibanya di ruangan Steve, Ar langsung melempari Steve dengan beberapa pertanyaan sekaligus.


"Bagaimana? Apalagi info yang kamu peroleh?"


"Apakah Sandra memang akan bebas sebulan lagi?"


"Apa kamu sudah mengkonfirmasinya langsung ke pihak kepolisian?"


"Bagaimana dengan yang kuperintahkan itu?"


Steve langsung mengelus dadanya selama mendengar rentetan pertanyaan yang dilontarkan oleh Ar. Dia berjalan menuju meja kerjanya.


"Sudah? Aku akan menjelaskannya dengan perlahan. Tapi, kamu harus tenang lebih dulu." Ucap Steve dengan penuh kesabaran melihat ekspresi Ar yang sudah tidak sabar mendengar jawaban darinya.


"Baiklah, Steve. Aku akan diam." Jawab Ar singkat.


"Setelah aku mengkonfirmasinya dari pihak kepolisian, ternyata Sandra sudah dibebaskan sejak tiga hari yang lalu. Dia menggunakan seluruh tabungannya untuk menebus dirinya sendiri. Sekarang dia sudah ditahan oleh anak buah kita sesuai dengan perintahmu. Aku juga sudah bertanya pada pihak kepolisian, mereka belum mendapatkan informasi apa pun dari Sandra selama ini." Jelas Steve pada Ar yang masih saja diam menyerap kata demi kata yang diucapkannya.


"Oke, nanti sore kita akan ke sana. Aku antar Istriku ke Rumah lebih dulu. Setelahnya, aku akan menjemputmu dan kita akan pergi ke tempat itu. Bagaimana?" Tanya Ar dengan serius pada Steve.


"Aku sih, oke - oke saja. Tapi ingat, jangan beritahukan pada siapapun juga. Terutama Grace." Steve memberikan peringatan pada Ar.


"Baiklah, Steve." Ucap Ar sembari bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu keluar.


Ar yang sudah sampai ke ruangannya, langsung duduk di sebelah sang Istri. "Sayang, kita pulang sekarang saja ya? Sore ini aku dan Steve mau menemui seseorang yang sangat penting." Ucap Ar dengan lembut.


"Ya sudah, kalau memang begitu. Tapi, aku boleh bawa buku ini ke Rumah kan, Sayang?" Tanya Grace dengan menunjukkan sikap manjanya.


"Boleh banget malah. Kamu boleh membawa buku apa saja yang ada di ruangan ini ke Rumah. Asalkan kamu mengembalikannya lagi jika sudah selesai memakainya. Sekarang kita pulang ya, Sayang?" Ucap Ar lagi untuk membujuk sang Istri.


Mereka pun pulang ke Rumah. Grace langsung masuk menuju ke kamarnya. Rumah terlihat sangat sepi, jadi dia tidak menyapa siapa pun saat itu. Sedangkan Ar, pergi ke Kantor menjemput Steve. Mereka pun menuju ke gudang kecil yang ada di pinggiran kota.


Di sana sudah terlihat beberapa anak buah mereka dan Sandra yang sedang duduk manis dengan tali yang tergulung mengelilingi seluruh tubuhnya. Setelah melihat kehadiran Ar dan Steve, Sandra menatap mereka dengan mata melotot tak percaya. Dia sempat bertanya - tanya siapa lagi yang ingin menculiknya. Ternyata orang itu adalah orang yang sama yang sudah memenjarakannya selama ini.


"Hai, kita bertemu lagi." Ucap Ar dengan dinginnya.


Ar duduk tepat berhadapan dengan Sandra dengan jarang yang cukup jauh. Sedangkan Steve hanya berdiri di sebelahnya dengan menopang kedua tangannya. Tapi, salah satu anak buahnya membuka penutup mulut yang sudah membekap Sandra sejak dia tertangkap oleh mereka.


"Apa yang kalian inginkan lagi? Apa kalian belum puas sudah mempermainkanku sampai aku sendiri pun jijik dengan diriku sendiri? Dasar manusia tak punya belas kasihan!!" Teriak Sandra pada kedua orang yang ada di hadapannya.


"Kamu lebih tidak punya belas kasihan, terutama pada dirimu sendiri. Jika sejak awal kamu tidak berencana mengincar Istriku, kamu tidak akan berada pada posisi yang seperti ini. Sekarang katakan padaku! Apa kamu itu suruhan Agung atau ada orang lain lagi di balik tindakanmu selama ini?" Tanya Ar yang sedikit ketus pada Sandra.


"Cuihh..!! Aku tidak akan sudi memberikanmu informasi apa pun itu!" Sandra meludah dan mulai berteriak lagi dan lagi pada Ar.


"Mereka akan mengakhiri hidupmu saat ini juga, jika kamu tidak mau mengatakan apa pun. Secara perlahan, kamu akan merasakan kesakitan yang akan menyiksamu hingga kamu menyerah untuk hidup." Ancam Ar pada Sandra.


"Apa?!! Aku tidak akan taku pada apa pun juga! Apa pun yang akan kamu lakukan, tidak akan mengubah prinsipku!" Teriak Sandra yang sudah muak dengan ucapan Ar.


"Oke, baiklah. Kita akan mulai dengan jari tangan kiri. Jika kamu tidak menjawab dengan segera, dalam 5 menit anak buahku akan memotong satu per satu jarimu itu sampai habis. Bagaimana? Apa kamu akan tetap pada pilihanmu atau..." Ancaman Ar pada Sandra itu membuat Sandra bergidik ngeri.


Tiga anak buah Ar langsung bergerak tanpa diberi aba - aba terlebih dahullu. Dua orang membuka tali ikatan yang menahan tangan Sandra dan menahan tubuh Sandra untuk tetap pada posisi berlutut. Seorang lagi memegang sebuah parang dan menahan telapak tangan Sandra di atas meja yang ada di dekat mereka.


"Bagaimana?" Tanya Ar lagi setelah melihat posisi terpojoknya Sandra.


Wajah Sandra berubah menjadi pucat pasi. Dia tidak menyangka akan dipojokkan sampai seperti ini. Dia pun menjawab dengan sebuah teriakan, "Apa?!! Apa yang ingin kalian ketahui?!!"


"Nah, begitu dong. Kalau daritadi kamu jadi Anak baik, aku juga tidak akan menakut - nakutimu sampai seperti ini." Jawab Ar dengan tegas.


"Siapa yang menyuruhmu melakukan hal - hal yang membahayakan Istriku? Apakah kamu itu suruhan dari Agung? Mau apalagi dia pada seorang perempuan yang sudah berstatus Istri orang lain?" Tanya Ar sambil berjalan mendekat pada Sandra.


"Bukan! Ini semua tidak ada kaitannya dengan Agung! Aku yang ingin melenyapkan perempuan j*lang itu!" Jawab Sandra dengan keras.


PLAKK..!!


Ar menampar pipi kiri Sandra dengan kuat. Dia tidak suka mendengar Sandra mennyebut Istrinya dengan sebutan j*lang.


"Jaga ucapanmu! Jadi, kenapa anak buah Agung yang ada bersama denganmu? Bukannya mereka hanya akan bergerak jika pimpinannya yang memerintahkan mereka?" Tanya Ar tanpa adanya keraguan.


"Aku juga punya hak untuk memerintahkan mereka! Kamu begitu bodoh! Aku ini masih berstatus sebagai pacar Agung. Dia memberikan padaku hak untuk melakukan apa pun yang aku sukai dengan semua anak buahnya." Teriakan Sandra semakin melemah saat menyebut nama Agung.


"Baiklah, aku akan percaya pada bagian ini. Jadi, kenpa kamu malah mau mencelakai Istriku? Apa maksud dan tujuanmu?" Tanya Ar lagi pada Sandra.


"Aku membencinya! Aku sangat membencinya! Dia merebut posisiku di hati Agung! Dia itu perempuan j*lang! Sudah punya Suami, tapi masih saja menjadi perusak hubungan orang lain!" Teriak Sandra dengan menumpahkan segala emosinya.


PLAKK..!!


Kali ini, Ar menampar pipi kanan Sandra. Dia jadi terbawa emosi karena mendengar ucapan sandra yang tidak disukainya.


"Sudah ku bilang! Jaga ucapanmu itu! Kamu yang j*lang! Bukan Istriku!" Ar mulai memarahi Sandra dengan ketus.


Steve dan anak buahnya saja sangat terkejut melihat amarah Ar yang sudah lama tidak terlihat lagi semenjak dia menikah dengan Grace. Sandra yang melihat tatapan mengerikan dari seorang Arion pun merasa ketakutan. Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Dia tidak menyangka jika Ar bisa sampai seperti itu padanya.


"Sekarang kamu tinggal pilih, kamu mau mati dengan cara yang bagaimana? Mati bunuh diri dengan menembakkan peluru ke otakmu sendiri? atau mati karena gantung diri? Atau mati karena menancapkan sebuah pisau ke ulu hatimu? Atau kamu mau mati dengan ketiga pilihan itu sekaligus?" Tanya Ar dengan tatapan yang tidak bisa diartikan lagi.


"Kamu curang! Aku sudah memberikanmu informasi yang ingin kamu ketahui! Seharusnya kamu membebaskanku!" Teriak Sandra yang tidak terima atas perlakuan Ar padanya.


"Ohh, tidak bisa begitu. Aku tidak bisa melepaskan siapa pun yang ingin mencelakai orang - orang yang aku sayangi, terutama Istriku. Kamu pantas untuk mati!" Tegas Ar sambil membalikkan badannya dan berjalan menghampiri Steve.


Ar mengangkat tangan kirinya guna memberikan aba - aba pada anak buahnya sambil berkata, "Bunuh dan singkirkan dia dengan baik. Aku tidak mau melihat jejak apa pun dari perempuan j*lang itu."


 


 


 


 


 


 


 


 


>>> Bersambung <<<


Sampai sini dulu ya..


Kita akan lanjut di next chap, Ingat untuk selalu beri like nya yaa, Kakak2..


Terimakasih bagi yang sudah support Author selama ini..


Salam Kasih untuk Yg Terkasih


~~ Love You All ~~