THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
TPG2_154



"Wahh, anak manis.. Kamu mau makan apa? Biar Om belikan," ucap seorang lelaki berbadan kekar yang sedang duduk tepat di sebelah Ed.


Ed ingat nasihat Daddy nya untuk tidak berulah saat berada di lokasi penjahat. Ed harus bisa menjadi anak baik dan tidak boleh menolak apa pun yang mereka tawarkan dengan syarat mendeteksinya terlebih dahulu, apakah sesuatu itu berbahaya atau tidak? Daddy nya yakin, mereka tidak akan berani melukai Ed.


Dengan wajah datarnya, Ed menjawab singkat, "I like to eat fried rice, Uncle. Can you buy it for me?"


Lelaki itu mengernyit bingung. Dia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Ed. Tapi, dia tidak bisa menyalahkan anak kecil hanya karena kebodohannya.


"Apa kamu tidaj bisa berbahasa Indonesia, Nak?" tanyanya dengan lembut.


Tapi, Ed malah menggelengkan kepalanya dan memasang wajah sedih sambil berkata, "I don't know what you say, Uncle. Say something in English, please."


Lelaki itu mendengus kesal. Lalu ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Halo, Kak. Aku tidak paham apa yang dikatakan oleh anak kecil ini. Dia berbahasa Inggris. Aku sudah cukup bersabar untuk tidak menghabisinya, tapi aku malah kesal berbicara dengannya. Kenapa tidak suruh orang lain saja untuk menjaganya, Kak?" umpat lelaki itu pada orang yang menerima panggilannya.


"Berikan ponsel ini padanya. Aku yang akan berbicara padanya dan mengartikannya untukmu. Ingat! Jangan sampai dia kenapa - kenapa. tidak boleh luka gores atau luka sedikit pun. Kamu tau sendiri bagaimana watak Daddy dan Aunty nya. Kalau salah satu saja yang beraksi, tamatlah riwayat kita!"


Setelah mendengar ucapan yang sangar itu, Si lelaki pun menyerahkan ponselnya pada Ed. Adik lelaki itu pun mulai bertanya, "What would you like for your lunch, Son?"


(Apa yang ingin kamu makan untuk makan siangmu, Nak?)


"I want to eat fried rice, Uncle. But don't be spicy." jawab Ed singkat.


"It's okay, Son. Wait a minute, your fried rice will be brought by my brother." Orang itu mengakhiri percakapannya degan Ed dan beralih ke sang Adik, "Dia mau makan nasi goreng yang tidak pedas. Segera belikan dan jangan sampai dia mati kelaparan karena keleletanmu, Bon!"


"Baik, Kak! Aku akan langsung pergi membelikannya nasi goreng dan membawakannya air mineral."


Panggilan itu pun berakhir. Boni keluar dari ruangan itu dan mengunci pintu tersebut. Dia berlari dengan secepat mungkin untuk menemui supir dan menyuruhnya untuk membelikan nasi goreng pesanan Ed.


Ed yang menyadari kepergian Boni pun langsung merogoh saku bajunya bagian dalam untuk mengambil ponselnya. Orang suruhan para penghianat itu tidak tau bahwa kaus oblongnya itu memiliki saku dibagian dalam. Jadi, mereka tidak mencurigai pakaian atas Ed. Mereka hanya memeriksa celana dan sepatu Ed untuk memastikan Ed disekap dalam keadaan tanpa membawa apa pun. Ed pun mengetikkan pesan singkat pada kedua orang tuanya.


To Daddy :


*Dad, Ed has obeyed Daddy's words. *


*They do treat me well here and soon, they will bring me food for my lunch. *


*I'll be fine here, Dad. *


*Do everything according to Daddy's plan the first time. *


*Do not worry about me. *


*Love you, Dad. *


(Dad, Ed sudah menuruti perkataan Daddy. Mereka memang memperlakukanku dengan baik di sini dan sebentar lagi, mereka akan membawakanku makanan untuk makan siangku. Aku akan baik - baik saja di sini, Dad. Lakukanlah semuanya sesuai rencana Daddy pertama kalinya. Jangan khawatirkan aku, Dad.)


To Mommy :


*Mom, Ed is fine here. Ed is waiting for my lunch. *


*Mommy doesn't need to worry, because they treat me well here. *


*They were very friendly and provided everything I needed as long as I asked them. *


*I will contact Mom again if I have the chance. *


Love you Mom.


(Mom, Ed baik - baik saja di sini. Ed sedang menunggu makan siangku. Mommy tidak perlu khawatir, karena mereka memperlakukanku dengan baik di sini. Mereka sangat ramah dan menyediakan semua yang aku butuhkan selama aku memintanya pada mereka. Aku akan menghubungi Mom lagi kalau aku punya kesempatan.)


Ed pun memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku baju di bagian dalamnya. Dia pun berbaring di atas tempat tidur yang disediakan untuknya. Dia menunggu makan siangnya dengan patuh.


Ed tidak seperti anak kecil pada umumnya yang akan menangis jika berpisah jauh dari kedua orang tuanya. Dia malah dengan santainya mengikuti permainan yang sudah disusun sedemikian rupa oleh Daddy nya.


"Nak, makanlah ini. Kamu akan sakit jika kamu tidak makan sama sekali."


Tiba - tiba saja, orang yang tadi tidak mengerti bahasanya, datang dan menyerahkan padanya sekotak nasi goreng. Dia membangunkan Ed yang sempat tertidur akibat terlalu lama menunggu.


Ed pun bangkit dari tidurnya dan membaui nasi goreng yang dibawakan untuknya. Setelah Ed mengetahui bahwa makanan itu aman untuk dikonsumsi, dia pun memakannya dengan lahap. Dia sudah diajarkan bagaimana mengenal aroma racun yang pada umumnya dibumbui ke dalam makanan. Itulah mengapa, Ed merasa dirinya akan aman - aman saja selama berada di sana.


"Sudah selesai?" tanya lelaki itu pada Ed yang sudah menyodorkan kotak kosong dan gelas airnya.


"Entah kenapa, Kakak mau aku mengurungmu di sini. Padahal aku sangat menyukaimu. Kamu itu sungguh lucu. Andaikan saja, aku punya anak sepertimu, aku akan selalu membawamu ke tempat wisata yang menarik."


Ucapan lelaki itu membuat Ed sulit menahan tawanya. Dia terkekeh oleh karnanya. Lelaki itu malah menatap Ed dengan heran sambil bertanya, "Apa kamu mengerti apa yang aku katakan?"


Ed terdiam dan berpura - pura melongo melihat ekspresi heran lelaki itu. Dia pun menjawab singkat, "What are talking about, Uncle?"


Lelaki itu mengacak - acak rambutnya. Dia salah mengira bahwasannya Ed menertawai apa yang dikatakannya.


"Aku kira kamu berani - beraninya mengelabuiku. Ternyata kamu hanya terkekeh karena sama sekali tidak mengerti apa yang aku ucapkan?" tanpa lelaki itu dengan raut wajah yang bingung.


Lelaki itu pun berjalan keluar dari kamar Ed dan mengunci pintunya. Ed mengambil ponselnya lagi dan memeriksa lokasi anak buah Daddy nya yang diperintahkan langsung untuk mengikutinya ke mana pun dia berada.


Di sisi lain, Grace kelabakan sendiri karena belum mendapatkan hasil yang akurat untuk menemukan lokasi penyekapan Ed. Dia begitu bingung harus bagaimana. Dia tidak berani memberitahukan pada Ricky atau pun Elvina mengenai hilangnya Ed.


"Kalian begitu lamban! Kenapa kalian sama sekali belum mendapatkan kabarnya sampai sesore ini? Apa yang harus aku lakukan, jika Kak Elvina, Mamanya Ed, bertanya padaku?" Bentak Grace pada orang - orang yang bertugas di bagian keamanan yang sedang sibuk - sibuknya mencari keberadaan Ed.


Sebentar lagi, jam pulang kantor. Seharusnya, dia pulang bersama dengan Ed. Tapi, dia malah belum mengetahui di mana Ed berada.


'Apa yang harus aku lakukan?' Grace membatin bertanya - tanya pada dirinya sendiri.


Grace kembali ke ruangannya dan duduk sambil memijit pelipis matanya. Sungguh menguras tenaga. Semuanya karena rasa khawatirnya yang berlebihan pada Ed.


Drrttt.. Drrttt.. Drrttt..


Ponsel miliknya berdering. Ada nomor rahasia yang tidak dikenal dan nomor ponselnya pun tidak tertera meneleponnya berulang kali. Setelah berpikir cukup panjang, Garce menerima panggilan itu pada akhirnya. Dia mendengar suara seorang perempuan yang menjawabnya.


"Apakah saya sedang berbicara dengan Ibu Grace?" tanya perempuan itu dengan penuh keraguan.


"Ya, saya sendiri." Jawab Grace singkat.


"Aku tau, kamu sedang mencari keberadaan Ed. Aku akan memberitahukanmu alamat di mana Ed berada. Tapi, ingat! Kamu harus datang sendirian. Tanpa Supir, tanpa Bodyguard!" Perempuan itu memberikan peringatan pada Grace.


Grace membulatkan matanya. Dia bukannya takut, tapi dia malah merasa senang, akhirnya dia mengetahui di mana Ed berada. Dia pun mengiyakan permintaan perempuan itu dengan cepatnya.


"Dengarkan dan ingat baik - baik. Aku hanya akan mengatakannya sekali,"  ucap perempuan itu.


"Baiklah!" jawab Grace dengan mantapnya.


"Jln.Angkasa, Komplek Griya Angkasa. Nanti kamu bilang sama penjaganya untuk mengantarkanmu ke Komplek AA. Dia tau apa yang akan dilakukannya selanjutnya. Andai kamu membawa seorang saja untuk menemanimu ke sana, aku tidak akan menjamin keselamatan Ed!" Ancam perempuan pada Grace.


Dia tau bahwa Grace akan datang sendirian, jika dia sudah terpojokkan seperti itu. Grace tidak akan melakukan hal bodoh untuk menghadapi situasi seperti ini.


Grace berpikir keras mengingat suara orang yang sepertinya pernah didengarnya. Tapi, dia tidak bisa mengingat apa pun. Jadi, dia mengiyakan permintaan sang penelepon.


Dia berjalan keluar ruangan dengan berhati - hati. Tidak ada yang menyadari bahwa Grace sudah pergi dari Melv. Corp dengan mengemudikan mobilnya sendirian.


Dia pergi dengan tekad yang kuat. Karena dia harus memyelamatkan Ed dengan cepat. Dia tidak ingin Ed terseret masuk ke masalahnya.


"Dia itu sebenarnya siapa? Aku sangat yakin! Aku pernah mendengar suara itu di suatu tempat. Apa yamg sebenarnya terjadi?" tanya Grace secara bertubi - tubi pada dirinya sendiri.


Grace membutuhkan waktu 45 menit untuk tiba di Komp. Griya Angkasa dan dia memarkirkan mobilnya dengan benar.


Dia keluar dari mobilnya, lalu berjalan mendekati satpamnya dan memberitahukan tujuannya. Satpam itu pun tersenyum dan berjalan perlahan untuk dapat diikuti oleh Grace.


Sesampainya mereka di depan sebuah bangunan yang megah, Satpam itu mengetuk pintu masuk bangunan itu dan keluarlah seseorang berbadan tegap dan berotot. Dia menatap tajam ke arah Grace dalam diam.


>> Bersambung <<<


Bagaimana? Apakah Grace bisa keluar daei bangunan megah itu bersama dengan Ed?


Just wait for the next chap, guys ..


Bagi yang ingin bincang - bincang dengan Author, join grup yang tertera di detail ya, guys..


Jangan lupa supportnya berupa vote, like dan komennya ya, Kakak²..


Salam Kasih untuk Yg Terkasih


Love You All


IG : friska_1609