THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
TPG2_136



AUTHOR POV


"Shit! Kenapa semuanya tidak bisa dihubungi sama sekali?" umpat Ar sambil mengacak - acak rambutnya.


Ar sudah berulangkali menelepon ke ponsel semua orang termasuk Istrinya, tapi tidak ada satupun yang terhubung. Semuanya sibuk.


Sudah tiga hari ini dia tidak bisa menghubungi siapa pun. Apalagi berita yang tersebar di artikel berbasis online itu sudah membuatnya sedikit terguncang.


Sejak pagi itu, dia tidak pernah mengetahui keberadaan Mikhaella, Sekretaris Daddy nya dulu. Ella memang terkenal dengan kecerdasannya, tapi dia berani melakukan segala cara untuk mendapatkan apapun yang dia inginkan.


"Dimas!" Teriak Ar pada Sekretaris barunya. Dia sudah tidak menginginkan Sekretaris perempuan lagi di London. Dia sudah muak dengan tingkah laku Ella yang tidak biasa.


"Yes, Sir. Can I help You, Sir?" tanya Dimas dengan sigap setelah memasuki ruangan Direkturnya.


(Ya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu, Tuan?)


"Where is she?!! Did you find her?!!" ketus Ar pada orang yang ada di hadapannya.


(Dimana dia?!! Apakah kamu menemukannya?!!)


Sudah selama tiga hari pula, dia menunggu hasil dari kerja Sekretaris barunya itu. Dimas adalah seorang lelaki tampan yang mempunyai kualitas kerja yang unggul di Melev.Corp. London.


Karena itulah, Ar mengangkatnya menjadi Sekretaris lainnya. Dia melihat potensi besar yang ada dalam diri Dimas.


Dimas hanya menundukkan kepalanya. Dia belum mengetahui keberadaan Ella. Dia tidak berani melihat raut wajah murka dari seorang Arion Gavin Melviano.


Ar benar - benar kacau. Selain menyelesaikan masalah Kantor, dia juga harus memikirkan permasalahan yang ditimbulkan oleh Ella.


Di sisi lain, dia merindukan Istri dan keluarganya. Tapi apa dayanya? Setiap kali dia menghubungi mereka, ponselnya selalu saja sibuk.


"Aaarrggghhh..!!" erangnya sambil memukul meja kerjanya.


"Sir?" Panggil Dimas.


Dimas menerima telepon dari seorang Client yang memang sangat membantunya selama tiga hari ini. Dia selalu memberikan saran terbaiknya pada Ar dan Ar akan mempertimbangkan semua saran yang dilontarkan olehnya.


Ar pun menoleh dan melihat layar ponsel Dimas. Itu adalah ponsel khusus yang dibelikan oleh perusahaan untuk kepentingan bisnis. Hal itu dilakukan agar tidak ada karyawan yang berhubungan secara pribadi pada Client dan membahas tentang pekerjaan di luar jam kerja.


"Good afternoon, Sir. Can I help you?" sapa Ar setelah dia menerima panggilan dari Clientnya itu.


(Selamat siang, Pak. Ada yang bisa saya bantu?)


"I want bring you together with someone. He really wants to work with Melv.Corp," ungkap orang yang berbicara di seberang telepon.


(Saya ingin mempertemukanmu dengan seseorang. Dia sangat berkeinginan untuk bekerjasama dengan Melv.Corp.)


Ar terdiam sesaat dan sedang memikirkan tentang jadwalnya siang itu. Ternyata, dia memang tidak memiliki jadwal penting lagi.


"It's okay, Sir. I'll be waiting at the usual place we meet this afternoon." Ucap Ar setelah menimbang perkataan Clientnya.


(Tidak masalah, Pak. Aku akan menunggu di tempat biasa kita bertemu siang ini.)


"Alright, we will meet in about an hour. Thank you for taking the time, Mr. Arion." Ujarnya lalu memutuskan panggilan tersebut.


(Baiklah, kita akan bertemu sekitar satu jam lagi. Terimakasih sudah mau meluangkan waktunya, Pak Arion.)


Ar pun menyerahkan ponsel itu pada Dimas. Dia mulai membereskan semua dokumen yang berantakan di atas meja kerjanya.


Dimas pun dengan siaga membantu Ar merapikan dokumen - dokumen tersebut. Dia memang cepat tanggap sebagai seorang Sekretaris.


"Dimas, prepare the car. We will go to Mega Restaurant right now," perintah Ar pada Dimas yang terlihat sudah sangat membantunya.


(Dimas, persiapkan mobil. Kita akan berangkat ke Restoran Mega sekarang juga.)


"Yes, Sir." Dimas pun keluar dari ruangan Ar dan menelepon supir untuk mempersiapkan mobil.


Sedangkan dia kembali ke ruangannya untuk mengambil barang yang diperlukan untuk dibawa saat bertemu dengan Client.


Setelah beberapa menit menyelesaikan pekerjaannya, Ar pun keluar dari ruangannya dan langsung menuju ke lobi. Dimas dengan senantiasa mengikuti langkah sang Direktur dari belakang.


Sesampainya di tempat tujuan, Dimas memesan ruangan VIP yang biasa mereka pakai untuk bertemu dengan rekan bisnis. Setelahnya, mereka duduk dengan tertib sembari menunggu kedatangan Client tersebut.


"Dim, Are you married?" tanya Ar pada Dimas.


(Dim, apa kamu sudah menikah?)


"Yes, Sir. My wife is pregnant," jawab Dimas dengan perlahan.


(Sudah, Pak. Istri saya sedang hamil.)


Ar termenung. Dia teringat dengan sang Istri. Pekerjaannya yang mendadak dan menumpuk di London membuatnya harus berjauhan dengan sang Istri.


"Are you love them?" tanya Ar sekali lagi.


(Apakah kamu mencintai mereka?)


"I really love them, Sir." Jawab Dimas dengan singkat dan berbalik bertanya pada Ar, "Are you married, Sir?"


(Saya sangat mencintai mereka, Pak.)


(Apa Bapak sudah menikah?)


Dimas memang baru saja tinggal di London. Sejak dia lulus kuliah, dia kembali ke Australia dan menikahi seseorang yang sudah lama menjadi kekasihnya. Jadi, dia tidak tau banyak tentang Arion.


"I'm the same as you. I have a wife who is pregnant. I also really love them. But, I made a big mistake. You know for yourself what problem I'm referring to," tutur Arion dengan nada sendu.


(Aku sama denganmu. Aku memiliki seorang Istri yang sedang hamil. Aku juga sangat mencintai mereka. Tapi, aku sudah melakukan kesalahan besar. Kamu tau sendiri apa masalah yang aku maksudkan.)


"That is not your fault, Sir. You was framed by her. You did nothing wrong, Sir. If you discuss it carefully with your wife, she will definitely understand. Believe me," Ucap Dimas memberi kekuatan pada Ar.


(Itu bukan kesalahan Bapak. Bapak dijebak oleh dia. Bapak tidak melakukan kesalahan apapun. Kalau Bapak membicarakannya baik-baik dengan Istri Bapak, dia pasti akan mengerti. Percayalah padaku.)


Ar memang sedang membutuhkan seseorang seperti Dimas. Yang bisa memahami dan berani memberikan saran padanya. Meskipun pada akhirnya, hal tersebut belum tentu menjadi solusi terbaik baginya.


Ceklekk..


Pintu ruang makan VIP itu pun terbuka. Ar dan Dimas menoleh melihat dua orang yang memasuki ruangan dan berjalan menghampiri mereka. Untuk mengungkapkan rasa santun, Ar dan Dimas berdiri dari duduknya dan sedikit membungkukkan badannya.


Dengan wajah ceria, Client Ar memperkenalkan temannya yang sudah sangat menantikan pertemuannya dengan Ar. Dia termasuk pengusaha muda yang berkecimpung di bidang yang sama dengan Arion.


"Hello, Sir. My name is Richard Hamlet. Nice to meet you Sir." Ucap lelaki muda yang ada di hadapan Ar sambil mengulurkan tangannya.


"Hello, Richard. My name is Arion Gavin Melviano and he is my Secretary, Dimas Santiago. Nice to meet you too, Richard." Sapa Ar pada lelaki itu.


"He is my best friend, Ar. You can call him Rich. Can we have lunch together like friends and not as business partners? I'm tired of my activities as a businessman," pinta Alfred Grissham pada Ar.


(Dapatkah kita makan siang bersama selayaknya teman dan bukan sebagai rekan bisnis? Aku lelah dengan kegiatanku sebagai seorang pengusaha.)


Ar tertawa nyaring mendengar pengakuan Alfred. Mereka sudah akrab sejak bertemu di kampus dulu. Mereka termasuk Mahasiswa lulusan terbaik di Universitasnya.


Ar dan Al adalah teman seangkatan. Mereka memiliki kebiasaan dan kegemaran yang sama. Meskipun Ar adalah lelaki yang dingin, Al bisa menyesuaikan dirinya jika berada di dekat Ar. Hal inilah yang membuat Ar menyukai Al. Mereka berdua sudah saling memahami sejak lama.


"Alright, Al. We will have lunch like we eat with friends," ajak Ar pada kedua orang yang masih saja berdiri kaku.


(Baiklah, Al. Kita akan makan siang selayaknya makan bersama teman.)


Mereka pun makan bersama sembari bercerita tentang kegiatan mereka masing - masing sebagai Pengusaha yang sedikit membosankan itu. Karena setiap kegiatan mereka secara otomatis akan menjadi sorotan media.


Mereka juga memperbincangkan masalah yang sedang dihadapi oleh Arion. Selain Al dan RIch, ternyata Dim juga mencoba memikirkan kembali apa yang sudah terjadi. Semuanya juga adalah kejadian yang menimpa Ar.


"You already have a wife, still being chased by another woman. Your charm is very strong, Ar. I did not expect at all when reading articles about lies like that," celetuk Al sambil menepuk pundak Arion dengan santainya.


(Kamu itu sudah punya Istri, masih saja dikejar - kejar oleh perempuan lain lagi. Pesonamu sangat kuat, Ar. Aku tidak menyangka sekali saat membaca artikel tentang kebohongan seperti itu.)


"I never even thought about it there, Al. I was very sure that that night, I slept alone in a hotel room. I also do not put or give the door key carelessly. But the article showed that we were alone in a hotel room. Even if she was in the room, I should have noticed."


(Aku juga tidak pernah kepikiran sampai sana, Al. Aku yakin sekali kalau malam itu, aku tidur sendirian di kamar Hotel. Aku juga tidak meletakkan atau memberikan kunci pintu dengan sembarangan. Tapi, artikel itu menunjukkan bahwa kami berduaan di kamar hotel. Kalaupun dia ada di dalam kamar, seharusnya aku menyadarinya.)


Ar menjelaskan hal yang membuatnya kebingungan sampai saat ini mengenai kehadiran Ella yang sama sekali tidak disadarinya.  Dia masih memikirkan kemungkinan - kemungkinan yang tterjadi. Tapi, hasilnya nihil. Dia masih penasaran dengan peristiwa pagi itu.


"What about your wife's reaction, Ar? Your wife must not know about this. Have you contacted her?" tanya Rich pada Ar.


(Bagaimana dengan reaksi Istrimu, Ar? Bukankah Istrimu pastinya mengetahui hal ini. Apa kamu sudah menghubunginya?)


Ar menggelengkan kepalanya dan berkata, "I don't know if he already knows or not. I can not contact anyone. Every time I call my family, his cellphone is always busy."


(Aku tidak tahu, apakah dia sudah mengetahuinya atau belum. Aku tidak bisa menghubungi siapa pun. Setiap kali aku menghubungi keluargaku, ponselnya selalu dalam keadaan sibuk.)


"Have you tried contacting them using another cellphone? I'm sure someone must have messed up your cellphone signal, Ar. It is not possible every time you contact your family, they are always busy."


(Kamu sudah mencoba menghubungi mereka menggunakan ponsel lainnya? Aku yakin, pasti ada yang mengacak sinyal ponselmu, Ar. Tidak mungkin setiap kali kamu menghubungi keluargamu, mereka selalu sibuk.)


Tiba - tiba Rich menyadari sesuatu yang menjanggal dari cerita Ar. Kenapa harus sibuk dan selalu sibuk? Itu pasti ada yang melakukan sesuatu pada ponsel Ar.


Ar menoleh ke arah Rich dan berkata, "I never thought about it there, Rich. I was too focused on the results and I didn't think about it. I haven't contacted them in three days because their numbers are always busy. Later I will directly contact them with another number. Thank you for helping me find a solution."


(Aku tidak pernah berpikiran sampai sana, Rich. Aku terlalu fokus pada hasilnya dan tidak pernak terpikirkan olehku tentang hal itu. sudah tiga hari lamanya aku tidak bisa menghubungi mereka karena nomor mereka selalu sibuk. Nanti aku akan langsung menghubungi mereka dengan nomor lain. Terimakasih sudah membantuku mencari solusinya.)


Drrttt.. Drrttt.. Drrttt..


"Excuse me, I have to accept this call."


(Permisi, aku harus menerima panggilan ini.)


Rich beranjak dari tempat duduknya dan pergi menjauh. Dia menerima telepon penting. Ar masih sibuk dengan pikirannya. Dia baru menyadari ada hal seperti itu. Hal yang masih menjadi pertanyaan baginya.


'Siapa yang mengacak sinyal ponselku?'


'Apa untungnya dari mengacak sinyal ponselku?'


'Apa alasannya mengacaukanku sampai seperti ini?'


>> Bersambung <<<


Sampai sini dulu ya..


Kita akan lanjut di next chap, Ingat untuk selalu beri like nya yaa, Kakak2..


Terimakasih bagi yang sudah support Author selama ini..


Salam Kasih untuk Yg Terkasih


~~ Love You All ~~