
"Yuk, Kak. Aku ingin Kakak menemaniku keliling perusahaan. Ed boleh pergi kan, Aunty?" tanya Ed pada Grace yang baru saja selesai bertelepon dengan Daddy nya.
"Ed, kamu sudah janji pada Aunty, untuk tidak nakal kan?" Grace kembali bertanya untuk memastikan keinginan Ed.
Ed menganggukkan kepalanya dan berkata, "Ed akan berjalan - jalan bersama dengan Kak Dhana dan Kak Dhani. Kami juga akan mencari makanan di kantin perusahaan. Aunty kan bisa memantau Ed melalui Kakak kembar."
Ed mencari cara untuk bisa keluar dari ruangan itu. Dia harus melakukan sesuatu di setiap sudut perusahaan. Sesuai dengan apa yang sang Daddy perintahkan.
"Baiklah, Ed. Kalian bertiga boleh pergi. Tapi, kamu harus janji pada Aunty, kamu tidak boleh berlari-lari sampai tidak diketahui oleh mereka berdua. Aunty harap kamu bisa jadi anak yang penurut." Grace menasihati Ed agar dia bisa tenang membiarkan Ed berkeliling perusahaan bersama dengan kedua Bodyguard nya.
"Dhana, ambil ini. Nanti kamu saja yang mengurus semua biaya Ed. Di amplop itu berisi seikat uang yang bisa dibelanjakan dan pastinya akan cukup untuk kalian bertiga. Kalian harus kembali sebelum jam makan siang," perintah Grace pada Dhana sambil memberikan amplop berisi uang sebagai uang jaga - jaga buat mereka bertiga.
"Baik, Non Grace." Dhana hanya menjawab singkat sambil menerima amplop pemberian Grace.
"Baiklah, aku akan langsung pergi menuju ke ruang rapat. Aunty akan kembali sebelum jam makan siang juga. Ed, kemari." Grace pun berjongkok dan merentangkan kedua tangannya.
Ed mengerti apa yang diinginkan oleh Grace. Dia berlari menuju Grace dan memeluknya erat sambil berkata, "Aunty tenang saja. Fokus kerja. Ed akan jadi anak yang baik. Ed janji."
Grace mengelus pundak Ed lalu mencium kedua pipi gembul Ed sambil berkata, "Baiklah, Ed. See you."
Ed melambaikan tangan kanannya sambil tersenyum pada Grace. Setelah Grace keluar dari ruangan itu, Ed berjalan di tengah - tengah si kembar dan memegang kedua tangan mereka.
"Let's go!" teriak Ed dengan penuh semangat.
Dhana dan Dhani memasang wajah datar mereka. Meskipun mereka menjadi pusat perhatian karena keberadaan Ed yang sangat menonjol. Beberapa kali, mereka dihampiri oleh karyawan perempuan yang hanya ingin mendekati Ed. Tapi, mereka malah dilarang keras oleh Dhana untuk mendekat.
"Jangan ada yang mendekat! Atau kalian akan tau akibatnya!" bentak Dhana beberapa kali pada karyawan perempuan yang membuat dirinya merasa risih karena terus - menerus berusaha untuk mengampiri Ed.
Ed tersenyum penuh kemenangan. Dia terbebas dari jangkauan para perempuan yang gatal tangannya untuk menyentuh pipi embul miliknya.
"Kak Dhana, belikan burger McDonald's untuk kita lah. Punya Ed jangan yang pedas. Nanti kita ketemuan di kantin ya, Kak." Ed meminta Dhana pergi ke McDonald's.
"Kenapa bukan Dhani saja, Ed? Aku takut dia tidak bisa menjagamu dengan baik. Kamu tau sendiri kan, kalau dia itu lebih lemah dari Kakak?" Dhana menolak untuk pergi jauh dari Ed.
Dirinya memang lebih kuat, lincah, bahkan lebih keras dari adik kembarannya. Dhani tidak ada apa - apanya jika mereka beradu kekuatan.
"Kak Dhana yang dipercayakan Aunty untuk mengurus kebutuhanku kan? Ed hanya berjalan santai di sini, Kak. Tidak akan ada orang jahat seperti yang Kakak pikirkan," ucap Ed sambil memegang jari telunjuk Dhani.
"Iya, Kak. Percayalah, padaku. Aku pasti bisa menghalangi orang - orang yang ingin mendekati Ed." Dhani berusaha meyakinkan Kakak kembarannya sedemikian rupa.
Dhana terdiam sesaat lalu menganggukkan kepalanya. Dia pun pergi meninggalkan Dhani dan Ed.
"Kak, sekarang kita akan memulai permainannya. Aku yang sembunyi, Kak Dhani yang jaga. Oke?" Ed mengedipkan sebelah matanya.
"Hati - hati ya, Ed. Waktu kita hanya setengah jam dari sekarang. McDonald's itu tidak jauh dari sini. Kakak akan jaga di sini," ucap Dhani memberi peringatan pada Ed.
Mereka pun berpencar. Ed mulai memasuki satu per satu ruangan yang menurutnya mencurigakan. Dia menyelip melalui sela - sela perabot ruangan yang ia masuki, agar ia tidak diketahui keberadaannya apabila pemilik kantor itu memasang CCTV nya pribadi di ruangan tersebut.
Dhani menutup matanya tepat di depan pintu ruangan yang di dalamnya ada Ed. Dia menghitung mundur dari angka 20 sampai 0. Setalah itu, dia mencari keberadaan Ed di luar ruangan tersebut. Dia malah tidak malu saat para karyawan melihatnya dengan tatapan aneh saat mencari Ed dengan mobdar - mandir di depan ruangan para ketua yang jabatannya sudah cukup tinggi.
Dhani mencari - cari keberadaan Ed dan akan memberikan kode pada Ed untuk menyudahi permainan mereka dan berganti ruangan, jika Ed sudah berada selama 5 menit di dalam ruangan. Ini dilakukannya agar mereka memiliki waktu yang cukup untuk melakukan tugasnya masing - masing sebelum Dhana kembali.
Ed berkesempatan untuk keluar dari ruangan yang satu dan kembali masuk ke ruangan lainnya. Mereka bisa sebebas ini karena setiap karyawan yang memiliki jabatan tinggi itu sedang mengikuti kegiatan rapat. Grace yang memimpin rapat pagi itu mengharuskan kepala bagian untuk turut dalam rapat.
Begitulah kegiatan mereka sampai mereka menghabiskan waktu sekitar 15 menit. Ed langsung mengajak Dhani untuk pergi ke kantin sebelum Dhana kembali. "Kak, permainan pagi ini cukup menyenangkan. Nanti kita akan melanjutkannya setelah makan burger ya?" tanya Ed pada Dhani yang sudah menggenggam tangannya.
"Baiklah, Ed. Tapi, kamu harus mengajarkanku beberapa permainan seru lagi. Agar aku bisa bermain dengan baik," ucap Dhani sambil melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki Ed.
Ed menganggukkan kepalanya dan menunjuk ke arah kantin perusahaan sambil bertanya, "Kak, sebenarnya di sini ada berapa kantin? Kenapa kita malah ada di kantin 03?" tanya Ed penasaran.
Dhani melirik sekilas ke arah papan nomor yang ditunjuk oleh Ed dan berkata, "Perusahaan ini terdiri dari 6 lantai dan dengan luas gedung sebesar ini, setiap lantainya terdapat dua kantin. Yang satu di sini, di bagian barat. Dan satu lagi di bagian timur gedung ini, Ed."
Ed memandang ke seluruh sudut ruangan. Dia memperhatikan sesuatu yang terlihat sedikit mengganggu. Dhani mengikuti langkah kaki Ed yang menuju ke arah sebuah pintu yang berada tepat di sebelah kanan mereka berdiri sekarang.
"Ada apa, Ed?" tanya Dhani dengan badan sedikit membungkukkan setengah badannya agar dia bisa mengimbangi tinggi badan Ed.
Ed menoleh ke arahnya dan berkata, "Kak, aku akan masuk ke dalam sana. Tapi, Kakak harus bisa jaga di sini. Jangan sampai ada yang mengetahui keberadaanku."
Dhani merasakan sesuatu yang aneh di dalam sana. Dia tidak berani membiarkan Ed untuk masuk ke ruangan aneh yang tidak pernah ia masuki sebelumnya. Akhirnya, Dhani membuka suaranya untuk melarang keinginan Ed.
"Ed, jangan. Biarkan Kakak saja yang masuk ke dalam sana. Kakak akan kembali dengan cepat. Lebih baik kamu saja yang menjaga di sini, karena Kakak punya firasat buruk tentang apa yang ada di dalam sana."
Ed malah mengabaikan ucapan Dhani. Dia berlari secepat mungkin ke arah pintu itu dan membukanya. Sebelum Dhani sempat mengejar langkah kaki Ed, pintu itu tertutup dan tidak bisa terbuka lagi. Dia berusaha dengan sangat keras, tapi hasilnya nihil!
Dhani merasa panik hingga dia tidak menyadari kehadiran Dhana yang sudah melihat tingkahnya itu selama beberapa menit.
"Dhani!" seru Dhana pada kembarannya itu.
Dhani begitu syok! Tubuhnya bergetar hebat hingga dirinya tersungkur ke arah dinding yang ada dibelakangnya. Dia tidak tau apa yang harus ia lakukan saat ini.
Sedangkan Dhana, dia menatap Dhani dengan tatapan sangarnya. Dia sangat hapal dengan bahasa tubuh sang Adik kembarannya.
"Pasti ada sesuatu yang terjadi. Ap itu? Cepat katakan!" Dhana membentak Dhani sedemikian rupa, hingga semua orang yang ada di sana menatap mereka dengan heran.
"Katakan apa yang terjadi?!!" teriakan Dhana membuat Dhani semakin terpojok.
Apa yang harus dikatakan oleh Dhani?
Bagaimana caranya mengatakan hal yang sebenarnya pada Dhana?
>> Bersambung <<<
Bagi yang ingin bincang - bincang dengan Author, join grup yang tertera di detail ya, guys..
Jangan lupa supportnya berupa vote, like dan komennya ya, Kakak²..
Salam Kasih untuk Yg Terkasih
~~ Love You All ~~
IG : friska_1609