
ARION POV
Tadi malam tidurku begitu nyenyak. Begitu aku terbangun, aku tidak lagi melihat Istriku. Mungkin dia sedang sibuk di dapur. Ya! Aku sudah hapal betul dengan kegiatannya di pagi hari.
Aku pun bangkit dari tidurku dan masuk ke dalam kamar mandi. Selesai mandi, aku melihat Istriku sudah menyiapkan setelan jas untuk ku kenakan ke Kantor.
"Sayang, mandi gih. Aku akan menunggumu." Ucapku padanya.
Ku lihat dia hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Tidak lupa ku kecup bibirnya sejenak. Dia tidak lagi mengomel jika aku melakukan hal itu padanya, kecuali aku melakukannya di depan banyak orang.
Setelah di selesai dengan ritualnya di dalam kamar mandi, kami pun dengan segera keluar kamar berjalan menuruni tangga menuju ke ruang tamu. Semua orang sudah berkumpul.
"Selamat pagi semua." Sapa Istriku pada yang lainnya.
"Selamat pagi juga Grace." Mereka menyambut sapaan dari Istriku.
Aku langsung menarikkan sebuah kursi sebagai tempat duduk Grace dan aku duduk di sebelanhnya. Kami membahas sedikit tentang kesan Yoru di hari pertamanya bekerja.
"Gimana, Nak? Apa kamu mengalami kesulitan dengan testing yang diberikan oleh Steve padamu di hari pertamamu bekerja?" Tanya Daddy pada Yoru. Perhatian kami semua tertuju padanya.
Yoru menyelesaikan sarapannya dengan meminum habis segelas air. Dia pun menoleh pada Dad dan berkata, "Aku tidak mengalami yang namanya kesulitan, Dad. Aku malah senang mempelajari dan mengerjakan testing yang diberikan oleh Kak Steve. Oh iya, Dad. Sam itu orangnya asik. Meskipun baru pertama kali bertemu, dia sudah memberikan kesan yang baik buatku. Sam yang akan menjadi atasanku nantinya kan, Dad?"
"Iya, dia memang ramah dan periang. Jangan lupa, kalau dia itu Adikku yang paling menyebalkan. Jangan memujinya di hadapannya langsung. Ingat itu, Yoru!" Grace memberikan peringatan pada Yoru.
Semua orang langsung terkekeh mendengar ucapan Grace. Yoru saja tidak menyangka kalau Grace sebagai seorang Kakak tidak suka jika Adiknya dipuji oleh orang lain.
"Kak, bukannya seharusnya Kakak senang jika Adiknya Kakak malah dipuji?" Tanya Yoru dengan gamblangnya.
"Tidak! Dia itu selalu berulah. Kamu hanya belum mengenalnya lebih dalam, Yoru." Jawab Grace dengan yakin.
Dad yang sudah selesai dengan kekehannya pun ikut mengkritik Istriku yang cukup aneh itu, "Grace.. Grace.. Seharusnya kamu bangga pada Adikmu. Bukannya malah meledeknya seperti itu, Nak."
"Dad, jangan ikut - ikutan mereka. Istriku selalu berbicara apa adanya, Dad. Iya kan, Sayang?" Ucapku pada Dad dan sedikit menoleh pada Istriku.
"Baiklah, Grace terlalu jujur. Dad suka itu." Ucap Dad sambil terkekeh lagi.
Aku pun mengakhiri perbincangan kami dengan berkata, "Dad, Mom, Sil, kami akan berangkat sekarang. Sudah saatnya kami pergi."
"Baiklah. Pergilah kalian bertiga. Dad tidak akan menahan kalian lebih lama lagi." Ucap Dad yang kelihatannya sedang dalam suasana hati yang baik.
Selesai berpamitan, kami pun berangkat. Grace tetap dikawal oleh lima Bodyguard setiap harinya. Kemanapun dia pergi, mereka akan selalu mengikuti jejaknya. Dengan adanya penjagaan di sekitar Grace, aku jadi lebih tenang jika meninggalkannya barang sebentar.
"Kak, aku ke ruanganku dulu ya. Terimakasih untuk hari ini, Kak." Ucap Yoru yang sudah bersiap untuk keluar dari mobil.
Meskipun ini adalah perusahaan keluarga, sepertinya Yoru tidak tertarik dengan hal itu. Buktinya, dia masih terlihat canggung jika berjalan bersama kami selama jam kerja. Aku semakin yakin jika dia adalah orang yang baik. Aku tidak akan ragu lagi dengannya.
"Baiklah, Yoru. Kemungkinan Steve akan lama tiba di Kantornya. Nanti kamu langsung saja ambil berkas yang masih harus dipelajari yang sudah tersusun rapi di atas mejanya. Dia akan langsung ke ruang rapat begitu dia tiba." Tuturku padanya.
"Siap, Kak!" Katanya dengan penuh semangat.
Begitu pintu lift tertutup, tinggallah kami berdua di dalam lift. Aku mendekati Istriku dan memeluk pinggangnya sambil mengatakan bahwa aku akan langsung menuju ke ruang rapat. Grace hanya bisa mengangguk sambil tersenyum padaku.
Kami pun berpisah saat lift terbuka. Grace keluar dari lift dan berjalan menuju ke ruang kerjaku yang diikuti oleh kelima Bodyguardnya yang sudah menunggunya di depan pintu lift.
Aku yang masih berada di dalam lift, langsung menekan tombol lift menuju ke ruang rapat yang berada di lantai selanjutnya. Sesampainya di ruang rapat, Aku langsung masuk bersama dengan Steve yang ternyata sudah menungguku di depan pintu ruang rapat.
Begitu selesai rapat, aku berinisiatif menelepon Mertuaku. Aku ingin mengetahui kabar mereka dan menanyakan tentang Sam. Sudah jam segini, seharusnya dia sudah sampai dengan selamat di Rumah.
"Halo, Pa. Apa kabar semua yang ada di sana?" Tanyaku pada Papa yang sudah menerima panggilan dariku.
"Halo, Ar. Kami baik - baik saja di sini. Bagaimana dengan kalian di sana? Papa dengar dari Sam saat tadi malam dia menelepon, Grace sedang mengandung ya?" Papa terdengar sangat senang mandapat kabar seperti itu.
"Iya, Pa. Lusa aku akan membawanya cek kandungan, Pa. Oh iya, Pa. Apa Sam sudah sampai?" Tanyaku pada Papa yang masih terdiam beberapa saat.
"Sam belum ada kabar sampai sekarang, Nak. Kami mengira dia masih belum berangkat. Memangnya dia ikut penerbangan jam berapa, Ar?" Papa berbalik menanyakan hal yang sudah pasti kuketahui.
"Dia berangkat pagi - pagi sekali, Pa. Sekitar jam 7 pagi tadi." jawabku singkat.
Terdengar suara Papa yang sedang khawatir, "Ar, coba kamu cari tau apa yang terjadi. Seharusnya dia sudah sampai di Rumah. Ini sudah hampir jam makan siang, Apa dia sedang berhenti di suatu tempat untuk makan siang?"
"Baiklah, Nak, Papa tunggu kabar baik darimu ya, Ar. Papa mau pergi dulu. Ada urusan dengan teman." Ucap Papa mengakhiri panggilan kami.
"Iya, Pa." Jawabku singkat yang langsung memasukkan ponselku ke dalam saku celanaku.
Aku berdiri dan berjalan mendekati Steve sambil berkata, "Steve. Tolong carikan aku informasi tentang keberadaan Sam. Jangan sampai Grace mengetahui tentang hal ini."
"Bukannya tadi pagi dia sudah berangkat ke Medan, Ar? Kan aku sendiri yang mengantarnya sampai penerbangannya tiba." Jawabnya menjelaskan apa yang diketahuinya.
"Dia masih belum sampai di Rumah. Papa bilang, seharusnya dia sudah smpai jika dia berangkat sepagi itu." Ucapku sambil menatapnya dengan serius.
"Baiklah, Ar. Aku akan mencaritahunya dan dengan segera memberikan hasilnya melalui email." Jawabnya dengan tatapan yang tidak kalah serius dengan tatapanku.
"Aku tunggu kabarnya secepatnya ya, Steve. Karena ini menyangkut Adik Iparku." Ucapku penuh dengan ketegasan.
Aku pun keluar dari ruang rapat itu dan kembali ke ruanganku. Aku melihat Istriku yang sedang sibuk dengan kegiatan belajarnya.
Kudekati dirinya dan berbisik padanya, "Sayang, kamu tidak lupa dengan jam makan siang kita kan?"
"Ehh, sudah jam makan siang ya, Sayang? Aku sampai lupa waktu karena keasikan dengan kamus ini." Jawabnya dengan lugunya.
Dengan segera, aku duduk di sebelahnya dan membuka kotak bekal makan siang kami. Agar kami bisa menikmati makan siang kami dengan tenang.
Selesai makan siang, aku pun melanjutkan pekerjaanku. Aku membaca catatan tulisan Istriku yang ada pada berkas - berkas yang sudah dibacanya. Beberapa waktu ini, aku merasa sangat terbantu dengan coretan - coretannya yang ditempel di beberapa lembar dalam berkas yan gmemang harus ku tandatangani.
Setengah jam berlalu, aku mendapat email dari Steve. Dia sudah mendapat informasi mengenai Sam. Dan ternyata Sam dibawa paksa oleh beberapa orang kembali ke Jakarta saat dia sudah berada di Medan.
Aku berpikir panjang sambil melirik ke arah Istriku yang baru saja menerima telepon dari seseorang. Dan wajah Istriku menjadi sedikit kesal saat berbicara dengan si penelepon. Tanpa basa - basi, aku langsung bangkit dari tempat dudukku dan berjalan menghampirinya.
"Siapa itu, Sayang? Kenapa wajahmu datar seperti itu?" Tanyaku pada Istriku sambil merangkulnya.
"Agung." Jawaban yang singkat, yang membuatku menjadi sedikit menaikkan sebelah alismataku.
"Ada apa dengan dia? Kenapa dia menghubungimu, Sayang?" Tanyaku bermaksud ingin mengetahui maksud dari Agung yang menelepon Istriku dan tidak tau darimana dia mendapatkan nomor ponsel Istriku.
Grace terlihat menarik napas sejenak dan mulai berkata, "Sam sedang dalam genggamannya dan sekarang dia memintaku untuk bertemu dengannya di sebuah Rumah dimana Sam ditahan olehnya."
Aku mengepalkan tanganku dan mengeram kesal. Dia itu gak ada kapoknya ku lihat. Semakin lama dia semakin berani menunjukkan sifat aslinya.
"Aku akan menemanimu menemuinya, Sayang." Ucapku penuh dengan rasa khawatir.
"Tidak, Sayang. Besok aku akan cuti sehari dari pekerjaanku dan aku akan bertemu dengannya tanpa dirimu." Ujarnya dengan santai.
"Tapi, aku kan mengkhawatirkan Istriku dan Calon Anak kami. Aku berjanji tidak akan melakukan hal bodoh. Aku hanya akan berdiam diri nantinya. Aku boleh ikut kan, Sayang?" Tanyaku dengan menunjukkan puppy eyes milikku.
Grace terlihat kesal dan menggelengkan kepalanya dengan perlahan. Dia memelukku dan berkata, "Kamu punya tanggungjawab utuk tetap bekerja dengan giat, Sayang Aku akan pergi dengan kelima Bodyguard ini. Mereka sudah cukup untuk menggertak Agung. Aku tidak akan kenapa - kenapa. Percayalah padaku, Sayang. Aku akan membuat dia melepaskan Sam dan menjauh dari kehidupan kita."
Aku tidak bisa mengatakan apa pun lagi. Karena ucapannya yang begitu yakin, membuatku bungkam. Aku percaya padanya, tapi aku juga tidak rela membiarkannya mengatasi masalahnya sendirian. Tapi, apa dayaku? Aku sudah diberilampu merah sebagai peringatan untuk percaya padanya. Percaya pada keputusannya.
>>> Bersambung <<<
Sampai sini dulu ya..
Kita akan lanjut di next chap, Ingat untuk selalu beri like nya yaa, Kakak2..
Terimakasih bagi yang sudah support Author selama ini..
Salam Kasih untuk Yg Terkasih
~~ Love You All ~~