THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
TPG2_128



"Halo, Pak Wicaksana. Selamat siang." Ucap seseorang dari seberang telepon.


"Kamu siapa?" Tanya Pak Wicaksana yang merasa dirinya sedang di teror oleh orang tak dikenal.


"Tenang saja, Pak. Kita ini sekutu. Aku tidak akan melakukan hal yang tidak wajar pada sekutuku." Lagi - lagi suara orang itu membuatnya bergidik ngeri.


"Sekutu? Apa maksudmu? Kamu itu siapa?" Tanya Pak Wicaksana dengan ketus pada penelepon yang tidak diketahui siapa orangnya.


"Kalau Pak Wicaksana memang ingin mengetahui siapa aku, silahkan datang ke Restoran CN di ruang VIP 3 untuk langsung bertemu denganku. Aku akan menunggu kehadiran Pak Wicaksana sekitar pukul 6 sore ini. Mari kita makan bersama dan saling menguatkan ikatan silahturahmi kita ini, Pak. Sekian dan Terimakasih." Ucapan orang itu seperti sedang memberikan perintah secara tidak langsung pada Pak Wicaksana.


"Kamu siapa sebenarnya?!!" Teriak Pak Wicaksana pada penelepon yang sudah lebih dulu mengakhiri panggilan telepon itu secara sepihak.


"Kurang ajar! Siapa yang berani bermain - main denganku?!" Umpat Pak Wicaksana dengan emosi yang menggebu - gebu.


Dia mencoba untuk menebak - nebak siapa orang itu dari suara panggilan tersebut. Tapi, apa dayanya? Dia sama sekali belum pernah mendengar suara orang itu. Ini kali pertamanya mendapat panggilan misterius yang mengatakan bahwa mereka adalah sekutu.


Setelah dipikir - pikir olehnya, musuh terbesarnya adalah Arion. Tapi, siapa musuh dari musuhnya saat ini selain dirinya? Dia tidak bisa menebak dengan pasti sebelum dia bertemu dengan si penelepon itu.


"Baiklah, sampai bertemu nanti." Ucap Pak Wicaksana dengan senyuman miringnya.


Dia merasakan ada hal baik yang akan dihadapinya hari ini. Dia sangat yakin, bahwa yang mengatakan mereka adalah sekutu itu adalah benar musuh dari musuhnya. Dia harus memanfaatkan kesempatan ini untuk membalaskan dendamnya pada Melv.Corp.


**********


"Steve, kamu sudah siapkan jadwal yang Dad minta tolong kamu urus?" Tanya Mr.Melv. pada Steve melalui panggilan telepon.


"Ahh, sudah Dad. Sudah ku email kan juga, Dad. Itu semuanya sudah ku sesuaikan dengan yang Dad inginkan." Jawab Steve dengan lancarnya.


"Baiklah, kamu memang yang paling bisa Daddy andalkan. Terimakasih, Nak." Ucap Mr.Melv. sambil mengakhiri panggilan tersebut.


Steve hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Mr.Melv. Malam ini dia sudah punya janji untuk makan malam bersama dengan Lisya dan Papanya Lisya. Steve sudah mengatur jadwalnya khusus untuk keluarga barunya.


Di sisi lain, Mr.Melv. mulai membuka laptop yang ada di hadapannya kini. Dia ingin mengecek email yang sudah dikirimkan Steve padanya. Email tersebut berisi daftar jadwal kerja untuk Yoru.


"Ini baru jadwal yang aku inginkan. Semuanya tertera dengan begitu jelas. Steve juga menampilkan jadwal kuliah Yoru. Ini akan mempermudah Yoru untuk memantau sendiri jadwal dia tanpa mengorbankan salah satu waktunya yang berharga diantara bekerja dan belajar." Gumam Mr.Melv. dengan penuh senyuman yang terukir di wajahnya.


Mr.Melv. pun mengirimkan pesan singkat pada Yoru untuk menyuruhnya ke ruang kerjanya. Dia tau seharusnya Yoru sudah pulang dari kampus dan sedang berada di dalam kamarnya. Begitu Yoru masuk ke dalam ruang kerjanya, Mr.Melv. pun menyerahkan jadwal Yoru yang sudah dicetak.


"Ini? Jadwal yang Dad katakan?" Tanya Yoru sambil memperhatikan isi dari tabel yang tertera pada hasil cetakan.


"Iya, Nak. Itu adalah jadwal kuliah dan kerjamu. Dad sudah memberitahukan Steve untuk mengajarimu dari nol. Karena kamu belum memiliki pengalaman tentang Dunia Bisnis, kamu harus mengawalinya mulai dari dasar terlebih dahulu. Dad tidak mau ada kesenjangan antara pengetahuan dan kemampuanmu nantinya. Kamu akan belajar melakukan semuanya dari awal dari Sam, Adiknya Grace, setelah dia pulang dari Surabaya. Jadi, bagaimana menurutmu, Nak? Kapan kamu akan mulai bekerja?" Tanya Mr.Melv. pada Yoru setelah dia memberikan sedikit pengarahan pada Yoru.


Yoru sempat terdiam sesaat membaca ulang tabel yang ada di lembaran yang sedang dipegangnya. Dia berpikir sejenak dan mulai mengambil keputusan.


"Baiklah, Dad. Aku akan bekerja mulai besok." Jawab Yoru dengan tegas.


"Okelah, mulai besok kamu akan diantar - jemput oleh Supir pribadi Ar. Dad tau kalau kamu sudah beberapa kali menghubungi dia untuk dijemput. Meskipun itu perintah Grace." Ucap Mr.Melv. sambil terkekeh.


"Loh? Dad tau darimana?" Tanya Yoru dengan ekspresinya yang sedang kebingungan.


"Dad punya banyak informan, Nak. Meskipun kamu tidak mengatakannya secara langsung, Dad bisa tau dari siapa saja." Jawab Mr.Melv. dengan santainya.


Pada akhirnya, Yoru pun menganggukkan kepalanya. Bagaimanapun Orang yang ada di hadapannya itu memiliki kekuasaan yang sangat luas. Tidak heran, kalau  seorang Melviano mengetahui hal - hal sekecil apapun itu, apalagi menyangkut keluarganya.


"Ya sudah, istirahat sana. Besok pagi kamu berangkatnya bareng Ar dan Grace saja ya? Mereka akan membawamu sampai ke ruang kerja Steve. Saat kamu sudah waktunya untuk berangkat kuliah, kamu bisa langsung berpamitan pada Steve dan pergi ke Kampus." Ucap Mr.Melv. yang memberikan sedikit arahan pada Yoru.


"Baik, Daddy." Jawab Yoru dengan singkatnya.


Dia pun berpamitan kembali ke kamarnya. Dia harus menyelesaikan tugasnya lebih dulu sebelum tidur. Karena besok akan menjadi hari yang baru baginya.


"Yoru! Yang lain pada kemana? Kenapa tidak ada yang kelihatan? Apa semua orang pergi ya? Sepi sekali Mansion ini." Teraik Ar pada Yoru.


Ar baru saja tiba. Dia jadi lama pulang karena urusannya yang cukup jauh dari kota. Jadi, itu memakan banyak waktu untuk kembali.


"Ehh, Kak Ar udah pulang. Yang perempuan sudah lebih awal masuk kamar, Kak. Mungkin mereka sudah pada tidur, Kak." Jawab Yoru yang kelihatannya masih ragu - ragu.


Ar yang tau akan jawaban yang tidak pasti itu pun mulai mengalihkan pembicaraan mereka. Dia mulai bertanya, "Dad ada dimana?"


"Kamu baru bertemu dengan Dad ya? Jadi, kamu sudah tau tentang jadwalmu kan? Kapan kamu mulai bekerja?" Tanya Ar yang sudah yakin jika Yoru memang bertemu dnegan Mr.Melv.


Ar tau tentang jadwal Yoru dari Steve. Dia juga mendapat email dari Steve mengenai jadwal Yoru. Dia mengetahui semuanya.


"Iya, Kak. Aku memang baru saja dari ruang kerja Dad. Dad juga memberikan ini padaku dan mulai besok, aku akan mulai bekerja, Kak." Jawab Ypru dengan perlahan.


"Baiklah, kalau begitu, mulai besok pagi, kamu akan berangkat bersama dengan Kakak." Ucap Ar dengan tegas.


"Iya, Kak." Jawab Yoru dengan singkat.


Di sisi lain, Pak Wicaksana sudah bersiap untuk bertemu dengan si penelepon misterius yang mengajaknya untuk bertemu malam ini. Meskipun dia merasa bahwa ini adalah sesuatu yang baik, dia tetap was - was dengan semua ini.


Sesampainya di ruang VIP yang sudah di sepakati, Pak Wicaksana disambut oleh seseorang yang sama sekali tidak dikenalnya. Tapi, dia tau kalau orang yang di hadapannya itu adalah mantan dari seorang Model yang cukup terkenal setelah Arion.


"Selamat malam, Pak Wicaksana. Ayo, masuk! Ini adalah pertemuan pertama kita, jadi tidak perlu terlalu sungkan begitu." Ucap Agung dengan rasa percaya diri yang tinggi.


 Ya! Orang itu adalah Agung. Dia sudah melacak dan mencari informasi tentang hubungan Ar dengan orang - orang disekitarnya. Dan dia menemukan sedikit informasi mengenai perselisihan antara Pak Wicaksana dengan Ar.


"Ini akan sangat menarik bial aku bisa membuatnya menjadi sekutu dan aku bisa lebih cepat melenyapkannya." Beritulah kira - kira yang dipikirkan oleh Agung saat membawa informasi tersebut.


"Ah iya! Selamat malam juga, Pak ..." Sapaan Pak Wicaksana terhenti karen adi amemeang belum mengetahui siapa nama orang yang ada di hadapannnya kini.


"Agung. Panggil saya cukup dengan Agung saja, Pak." Ucap Agung menyambung sapaan Pak Wicaksana tadi.


Pak Wicaksana pun memasuki ruangan tersebut dan duduk di kursi yang berada tepat berhadapan dengan Agung. Dia menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, Agung. Apa maksud dan tujuanmu tiba - tiba meneleponku dan mengajakku untuk bertemu di sini? Sebutkan semuanya." Ucap Pak Wicaksana dengan wajah serius.


Agung hanya bisa berekspresi santai melihat keseriusan dari Pak Wicaksana dan berkata, "Ternyata Pak Wicaksana itu orangnya tidak sabaran sekali ya? Mari, diminum dulu tehnya, Pak Wicaksana. Kita akan membahasnya secara perlahan."


Pak Wicaksana pun meminum teh yang sudah disuguhkan oleh pelayan. Mereka juga mengantar beberapa cemilan yang sudah dipesan oleh Agung.


Agung juga meminum tehnya dan memakan cemilan yang sudah tersedia di atas meja makan mereka. Dia sedikit tersenyum melihat Pak Wicaksana yang tidak lagi mengatakan apa pun, padahal Pak Wicaksana sudah terlihat sangat ingin mengetahui rencananya.


"Begini, Pak Wicaksana. Saya di sini ingin mengajukan mengajukan kerjasama dengan Bapak untuk menyingkirkan Arion." Ucap Agung dengan sangat antusias.


"Memangnya apa untungnya bagiku jika aku bekerja sama dengan Anda?" Tanya Pak Wicaksana dengan tatapan serius pada Agung.


"Kamu akan bisa menguasai pangsa pasar yang sudah dimiliki oleh Melv.Corp." Jawab Agung dengan santainya.


"Jadi, apa yang keuntungan yang kamu peroleh dari hasil kerjasama kita ini?" Pak Wicaksana mulai menginterogasi Agung.


"Aku? Aku akan memiliki Istri idamanku secepatnya." Jawab Agung dengan gamblangnya.


"Kamu? Kamu menginginkan Istri dari Arion?" Tanya Pak Wicaksana dengan sedikit suara yang terdengar sedikit melengking. Dia sungguh tidak menyangka dengan Pria yang ada di benaknya.


"Yah, begitulah. Aku ingin Pak Wicaksana bersedia untuk membantuku. Aku tau kalau Bapak memiliki koneksi yang baik untuk mencari tau tentang keberadaan dan kegiatannya dalam kesehariannya. Sedangkan aku hanya memiliki kekuasaan untuk melakukan hal - hal yang lebih keras. Bukankah kita ini adalah rekan yang cocok?" Ucap Agung dengan menunjukkan senyumannya yang begitu mengerikan.


"Baiklah, aku setuju dengan kesepakatan kita ini. Sebenarnya, aku memiliki sebuah rencana yang sampai hari ini belum terealisasikan. Mungkin akan sangat sesuai sebagai rencana awal kita." Tutur Pak Wicaksana.


"Apa itu? Sebutkan padaku semuanya!" Ucap Agung dengan wajah berseri.


"Begini, ..." Pak Wicaksana mulai menceritakan detail rencanya.


>>> Bersambung <<<


Sampai sini dulu ya..


Kita akan lanjut di next chap, Ingat untuk selalu beri like nya yaa, Kakak2..


Terimakasih bagi yang sudah support Author selama ini..


Salam Kasih untuk Yg Terkasih


~~ Love You All ~~