
Pagi yang cerah, sinar matahari menyeruak hingga ke sela - sela jendela.
'Silau.' Kata itulah yang pertama terbesit dalam benak Steve. Kepalanya terasa sakit. Untuk menghiraukan rasa sakit itu, dia berpikiran untuk mandi dan bersiap - siap ke Kantor.
Dia langsung bangkit dari tempat tidurnya dan masuk ke dalam kamar mandi. Tidak ada yang bisa dilakukannya selain bekerja seperti biasanya. Begitu dia selesai dengan kegiatannya di kamar mandi, dia keluar hanya mengenakan handuk sepinggang.
"Aaaaa..!!" Teriak seorang perempuan yang tak lain adalah Lisya.
"Sejak kapan kamu di sini?" Tanya Steve pada Lisya. Dia bingung dengan keberadaan Lisya yang masih menjadi tanda tanya.
"Kamu! Apa yang kamu lakukan padaku?!" Teriak Lisya yang tidak menggubris pertanyaan dari Steve.
"Hah? Aku tidak melakukan apa pun, Sya. Aku juga bingung, kenapa kamu ada di sini? Ini kan Apartemenku." Tanya Steve lagi pada perempuan yang sedang syok itu.
Ya! Lisya sendiri kebingungan dengan dirinya yang ada di dalam Apartemennya Steve, "Kenapa aku bisa ada di sini?"
Lisya memperhatikan kondisi tubuhnya. Semuanya masih normal kecuali pakaiannya yang sudah sobek entah karena apa. Dia melihat ke sprei tempat tidur itu, tidak terlihat apa pun di sana.
Pertanyaan yang dilontarkan Lisya padanya terdengar sangat konyol! Steve tidak menyangka bahwa dia bisa bertemu dengan Lisya di pagi hari dalam keadaan awkward yang seperti ini. Dia pun mengabaikan keberadaan Lisya yang masih terbalut selimutnya yang hanya mengenakan bagian dalam saja.
Steve menuju ke ruangan yang memang dipergunakan khusus sebagai tempat penyimpanan pakaiannya. Memang isinya tidak sebanyak pakaian Arion, tapi luas ruangan itu sama dengan ruangan yang ada di Apartemen Arion lainnya.
"Aku akan memasakkan sarapan untukmu. Kamu mandilah dulu, lalu pakailah handuk dan kemeja ini. Nanti kita akan bahas hal ini di saat keadaan sudah lebih baik." Ucap steve sambil menyerahkan sebuah handuk dan kemeja yang cukup panjang untuk menutupi tubuh Lisya.
Tidak mendapat jawaban apa pun, Steve langsung ke dapur dan membuat sesuatu yang sesuai untuk sarapan. Dia memanggang roti dan membuat sebuah omelet telur. Hanya itu yang bisa disiapkannya untuk saat ini, karena bahan makanan di dalam kulkas untuk saat ini memang tidak banyak yang bisa dimasak. Dan alasan lainnya, karena dia lebih sering makan terbang alias makan di luar sekarang.
"Steve, kamu punya minuman pereda mabuk tidak?" Tanya Lisya yang sudah selesai mandi dan sudah lebih tenang dibanding yang tadi. Dia mengenakan baju kemeja milik Steve pagi ini, karena pakaiannya sudah tidak layak pakai lagi,
"Ini, diminum sampai habis ya. Jangan lupa ini dimakan. Hari ini ambillah cuti, aku akan berangkat kerja dulu. Nanti aku akan datang lagi. Kamu bisa menggunakan semua fasilitas di Apartemen ini selayaknya Rumah sendiri." Ucap Steve sambil mengelus kepala Lisya.
"Iya." Jawab Lisya singkat. Dia tidak tau lagi harus mengatakan apa pada Steve. Pikirannya melayang pada apa yang sebenarnya terjadi tadi malam. Dia benar - benar belum bisa mengingat apa pun juga.
'Kenapa aku bisa ada di sini?'
'Jika memang kami melakukannya, seharusnya ada bercak merah di sprei. Tapi ini tidak ada sama sekali. Dan aku tidak merasakan sakit di bagian tubuhku.'
Steve pun pergi meninggalkan Lisya yang asik memakan sarapannya. Sudah lama sekali dia tidak makan Omelet telur seperti yang dimasakkan Steve untuknya pagi ini. Lisya pun menghabiskan sarapannya dengan lahapnya.
GUBRAKK..!!
Dobrakan pintu Apartemen terdengar begitu keras.
'Steve sudah pergi sejak tadi, jadi siapa yang masuk dengan cara kasar seperti itu?' Spontan Lisya memikirkan apa yang akan terjadi.
"LISYA!" Teriak seorang lelaki yang sedang berdiri tepat di depan pintu Apartemen yang sudah didobraknya.
Tubuh Lisya seketika bergetar hebat. Dia mengenal suara lelaki itu. Dia sangat mengenalnya. Ktakutan menyeruak ke dalam jiwa dan raganya saat ini setelah mendengar namanya diteriakkan seperti itu.
"Papa?!!" Panggilan Lisya pada orang itu membuat orang tersebut menoleh dan langsung menghampirinya.
"Jelaskan! Jelaskan pada Papa! Apa yang kamu lakukan dengannya semalaman?!" Tanya Papanya Lisya pada Anaknya smbil mengguncangkan tubuh Anaknya itu dengan kasar.
"Tidak ada, Pa. Lisya tidak melakukan apa pun dengan Steve." Ucap Lisya dengan ragu sambil menundukkan kepalanya.
"Papa tidak percaya! Semalaman kamu pergi bersama dengan Steve dan tidak pulang. Pagi ini kamu berpenampilan seminim ini di Apartemen seorang lelaki lajang. Apa yang membuatmu mengatakan kalau kalian tidak melakukan apa pun tadi malam?" Papanya Lisya malah meninggalkan Anaknya menyusuri seluruh ruangan yang ada di dalam Apartemen Steve. Dia menemukan pakaian yang dipakai Lisya dalam keadaan sudah tidak utuh lagi.
"Ini! Apa yang bisa kamu jelaskan pada Papa mengenai Pakaian ini?!! Jawab Papa, Sya!" Bentak Papanya Lisya pada Anaknya dengan penuh amarah yang tidak bisa terkontrol lagi.
"Sudahlah, jangan sampai emosimu membuatmu menjadi seperti monster, teman. Bicarakan baik - baik. Tidak semua masalah dapat diselesaikan dengan cara penuh emosional seperti ini. Kasihan Anakmu." Ucap Mr.Melv. yang berusaha meredakan amarah temannya itu.
"Kamu tidak mengerti dengan apa yang kurasakan. Mereka telah mencoreng nama baik keluarga!" Teriak Papanya Lisya yang sudah dipenuhi dengan emosi yang berusaha ditahannya.
"Aku juga punya keluarga, teman. Steve juga Anakku. Aku mengerti dengan apa yang kamu rasakan. Sekarang kamu coba tenangkan diri terlebih dahulu. Aku akan menghubungi Steve. Kemungkinan dia bisa memberikan penjelasan yang dapat meluruskan semua permasalahan ini." Ucap Mr.Melv. yang langsung meninggalkan kedua orang yang masih terus berdebat itu.
Mr.Melv. berusaha beberapa kali menghubungi Steve. Tapi, ponselnya tidak aktif. Satu - satunya cara agar dia bisa menghubungi Steve, dia memilih untuk menelepon Silvia untuk menyampaikan pesannya pada Steve. Dia tidak ingin masalah ini berlarut begitu lama.
Mr.Melv. berhasil menelepon Silvia dan dia sedang menunggu kabar dari Steve. Selagi menunggu, dia pergi ke ruang CCTV dan meminta kepada petugasnya untuk mencaritahu dan menyalin rekaman pada malam itu. Dia ingin mengetahui bagaimana kedua pasangan itu sampai ke dalam Apartemen Steve.
**********
Steve yang sudah memasuki ruangannya malah terbengong sendirian tanpa melakukan pekerjaannya dengan baik. Begitu banyak pertanyaan yang tertanam di dalam otak kecilnya itu yang mengganggu konsentrasinya.
'Apa yang terjadi tadi malam?'
'Kenapa dia bisa tidur disebelahku?'
'Ada apa dengan semua ini? Apa ada yang sengaja menjebakku seperti ini?'
Sampai dia tiba di Melv.Corp., Steve tetap tidak habis pikir dengan keberadaan sang Kekasih yang tidur dengannya tadi malam. Dia yakin semalam mereka tidak melakukan apa pun, tapi keadaan Lisya yang cukup polos tadi pagi dengan pakaiannya yang sobek dan bertaburan di lantai itu adalah kebetulan yang tidak bisa di pungkiri.
"Hei, Steve!" Teriakan Silvia menyadarkan Steve dari lamunannya. "Kamu itu kenapa sih? Aku sudah memanggilmu daritadi, tapi kamu tidak menyahutiku. Malah bengong begitu."
"Ehh, ada apa Sil?" Tanya Steve yang berusaha mengalihkan fokus Silvia akan masalah pribadinya. Dia masih tidak ingin orang lain mengetahui tetang permasalahannya.
"Tadi Dad meneleponku. Katanya, ponselmu tidak bisa dihubungi. Ada hal penting yang ingin disampaikan Daddy padamu. Mungkin masalah proyek kalian itu, Coba kamu aktifkan dulu ponselmu itu. Langsung hubungi Dad, karena Dad sudah menunggu kabar darimu sejak tadi." Ucapan Silvia membuat Steve teringat pada ponselnya yang tidak dia pegang sejak tadi pagi. Silvia masih saja berdiri di tempatnya untuk memastikan apakah Steve membawa ponselnya atau tidak.
Steve mencoba untuk merogoh saku celana dan Jas yang dikenakannya, tapi dia tidak menemukan ponselnya. Fokusnya beralih ke tas kerja yang dibawanya. Dia membongkar isi tas itu dan hasilnya tetap nihil. Ponselnya sama sekali tidak terlihat.
"Ponselku ku letak di mana ya? Tidak ada dimana pun, Sil." Ucap Steve dengan ekspresi bingung yang terpampang jelas di wajahnya saat ini.
"Ya, mana lah aku tau dimana ponselmu, Steve. Apa mungkin ponselmu tertinggal di Apartemenmu? Kamu terlihat tidak sehat hari ini, Steve. Sepertinya kamu butuh waktu untuk cuti." Tanya Silvia yang melihat aksi bingung dari seorang Steve. Hari ini Steve ling - lung dan tidak fokus seperti biasanya.
"Mungkin saja memang tinggal di sana, karena aku juga merasa bahwa aku tidak ada memegang ponselku barang sekali pagi ini. Sebenarnya, aku memang sedang tidak enak badan, Sil. Tapi, aku masih sanggup untuk bekerja. Jadi, jangan khawatirkan aku." Jawab Steve sambil mengetukkan jari telunjuknya di atas meja kerjanya.
"Kalau begitu, pakai saja ponselku untuk menghubungi Daddy. Aku akan kembali ke ruanganku. Nanti aku akan menjemput ponselku saat senggang." Silvia pun menyodorkan ponselnya pada Steve dan sudah menyerah melihat tingkah aneh Steve pagi ini.
Steve mulai menekan tombol memanggil pada layar monitor ponsel itu. Dia ragu. Dia memiliki firasat buruk akan hal yang ingin disampaikan oleh Mr.Melv. Entah kenapa, dia teringat dengan kejadian tadi pagi.
"Halo, Sil. Apa kamu sudah memberitahukan Steve untuk mengaktifkan ponselnya? Dad ingin menyampaikan hal penting padanya, Sil." Tanya Mr.Melv. begitu saja pada pemilik ponsel itu.
"Dad, ini aku, Steve. Ada apa Dad?" Steve mulai bertanya tentang perihal yang membuatnya penasaran.
"Kamu dalam bahaya, Nak. Dad ingin tau, kenapa kamu membawa Lisya ke Apartemenmu? Apa yang kalian lakukan tadi malam? Papanya Lisya mengamuk dan marah besar mengetahui Lisya ada di Apartemenmu. Emosinya sudah meledak - ledak sejak tadi." Ucap Mr.Melv. dengan buru - buru. Dia sudah mendapat kabar semengerikan itu sejak pagi tadi.
"Aku juga tidak tau, Dad. Aku tidak tau kenapa Lisya bisa berada di Apartemenku, bahkan dia bisa tidur di ranjangku. Intinya, aku sama sekalu tidak tau apa yang terjadi tadi malam, Dad." Ucap Steve berusaha mengingat apa yang bisa diingatnya, tapi dia sama sekali tidak mengingat apa pun juga, jadi dia hanya bisa mengucapkan kata - kata untuk membela dirinya.
"Kamu serius, tidak tau apa pun tentang kejadian ini? Dad bisa membantumu jika kamu tidak melakukan apa pun pada Lisya. Tapi, mungkin agak sulit, karena ada bukti yang ditemukan oleh Papanya Lisya. Dia menemukan pakaian Lisya yang sudah tidak utuh lagi di kamar Apartemenmu. Coba kamu pikirkan lagi, apa yang telah kalian lakukan semalaman?" Tanya Mr.Melv. mulai berpikir kalau semua hal yang terjadi itu sudah di luar nalarnya.
Dia tau betul sifat Steve yang paling menghargai harkat dan martabat perempuan. Jadi, Tidak mungkin kalau Steve bisa melakukan hal sekeji itu pada seseorang, apalagi perempuan itu adalah orang yang dicintainya.
"Apa?! Papanya menemukan pakaian itu, Dad? Memangnya Papanya sudah datang ke Apartemenku? Sekarang Dad ada dimana? Apa Daddy juga ada bersama mereka?" Tanya Steve yang kaget karena mendengar perkataan Mr.Melv. yang mencengangkan itu.
Kabar bahwa Papanya Lisya sudah marah besar padanya. Dia benar - benar tidak melakukan apap pun. Dia memang belum mengingat apa pun, tapi dia yakin, dia tidak melakukan apa - apa pada Lisya. Bagaimana dia bisa melakukan hal buruk pada Lisya, padahal dia sendiri tidak tau kalau Lisya tidur di sampingnya tadi pagi.
"Dad, aku mencintainya dengan tulus. Tidak mungkin aku berniat merusaknya dengan cara keji swperti itu. Kalian tau bagaimana aku sangat menghargai perempuan. Aku tidak akan melakukan hal yang seperti kalian bayangkan. Aku akan membuktikannya, Dad." Ucap Steve tegas memberikan keyakinan pada Mr.Melv. yang sedang mengkhawatirkan dirinya.
"Oke, baiklah. Dad sebenarnya ada di depan pintu Apartemenmu. Papanya Lisya sedang memarahi Anaknya saat ini. Dad tidak berani masuk ke dalam sebelum amarahnya mereda. Kamu bisa datang kemari untuk membantu Lisya mengatasi amarah Papanya?" Tanya Mr.Melv. pada Steve dalam keraguan. Dia tidak yakin, apakah dengan datangnya Steve ke Apartemen itu, masalah akan membaik. Atau malah sebaliknya?
"Baiklah, Dad. Aku akan ke sana. Pekerjaan bisa menyusul untuk kukerjakan. Sekarang yang terpenting adalah Lisya. Dia tidak melakukan hal yang salah." Steve langsung beranjak dari tempatnya dan pergi begitu saja dengan meninggalkan ponsel Silvia di atas meja kerjanya.
Steve pergi tanpa memberitahukan siapa pun juga, termasuk Asistennya. Pikirannya benar - benar kacau saat ini. Dia harus menyelamatkan Lisya dari amukan Papanya.
Jalanan padat yang macet, membuat Steve semakin kepikiran dengan keadaan Lisya. Dialah yang salah karena semalam mereka memang bertemu dan minum sampai mabuk. Tapi, Steve yakin kalau dia sudah memulangkan Lisya ke Rumahnya. Steve sendirilah yang mengantarkan Lisya sampai depan pintu gerbang Rumahnya.
Hatinya berkecamuk dan pikirannya melayang - layang memikirkan masalah tadi malam. Tidak ada hal menarik yang diingatnya selain itu. Begitu Lisya memasuki pintu gerbang rumahnya, Steve langsung balik ke Apartemennya. Dia langsung tertidur pulas saat bertemu dengan ranjangnya yang empuk itu.
Setibanya Steve di parkiran Apartemennya, dia langsung berlari menuju ke tempatnya. Di depan pintu Apartemennya, dia hanya melihat Mr.Melv. yang masih setia menunggunya.
Mr.Melv. pun mendekatinya dan menepuk bahunya Steve. Dia memberikan kekuatan secara tidak langsung melalui anggukan kepalanya sambil tersenyum.
"Steve, Dad akan selalu berada di pihakmu. Majulah, Nak. Hadapilah dengan berani. Jika kamu benar, katakan sejujurnya. Jika kamu salah, minta maaflah segera." Ucapan Mr.Melv. bagaikan suntikan energi yang merasuk ke dalam aliran darahnya. Dalam sekali anggukan tegas, Steve memasuki Apartemennya menghadap pada Papanya Lisya.
PLAAKKK..!!
Sebuah tamparan keras pun melayang ke arah pipi kirinya Steve. Papanya Lisya yang sedaritadi membentak Anaknya, langsung menampar Steve setelah melihat keberadaan Steve dengan keras.
"Pa! Papa tidak boleh seperti itu! Ini semua salahku, Pa. Lisya yang salah! bukan Steve!" Teriak Lisya pada Papanya yang sudah tega menampar kekasihnya. Lisya juga sebenarnya tidak mengerti kenapa dia bisa berada di dalam Apartemen Steve. Bahkan pakaiannya sudah rusak dan dia tidur satu ranjang dengan Steve.
"Tadi, kamu hanya diam. Kenapa sekarang malah berani berteriak pada Papa?!! Kamu lebih membela lelaki yang sudah berani menodaimu?!! Perempuan macam apa kamu ini?!! Papa tidak pernah mendidikmu menjadi seseorang yang seperti ini!" Bentak Papanya Lisya dengan kasar pada Anaknya. Dia sudah terlalu emosi dengan perkara ini. Ini semua tidak diharapkannya.
"Papa!" Lisya lagi - lagi berteriak tidak tahan dengan perkataan Papanya sendiri.
Steve memegang kedua bahu Lisya dan mendudukkannya di sofa yang berada di dekat mereka. Steve pun kembali menghadap ke arah Papanya Lisya.
PLAAKKK..!!
Steve malah di tampar untuk kedua kalinya di pipi yang berbeda. Dia hanya tersenyum dan menunjukkan telapak tangannya pada Lisya sebagai tanda bagi Lisya untuk tetap diam di tempatnya. Dia tidak inginLisya ikut campur dengan masalah ini lagi. Sudah cukup Lisya kena marah sebelum dia datang ke sana.
"Om, saya sungguh - sungguh minta maaf atas apa yang sudah aku perbuat yang sudah membuat Om sampai marah besar. Om boleh memarahiku, membentakku bahkan menamparku. Tapi, jangan pernah Om berkata kasar pada Lisya, karena dia tidak bersalah. Ini semua salahku, Om. Aku akan bertanggungjawab. Apa pun yang akan Om lakukan padaku untuk menebus kesalahanku yang sama sekali tidak kuketahui, aku akan menerimanya." Tutur Steve dengan perlahan tapi pasti. Dia yakin akan bertanggungjawab atas kelalaiannya.
"Kesalahan yang tidak kamu ketahui? Ternyata kamu memang perhatian sekali pada Putriku. Tapi aku tidak suka kalau kamu menodainya seperti j*lang di luar sana!" Teriak Papanya Lisya pada Steve. Dia sangat membenci orang - orang yang tidak menjunjung tinggi harga dirinya.
Papanya Lisya terus - menerus mengamuk tidak jelas. Dia memarahi Steve tanpa henti. semua kata - kata yang terlintas begitu saja di pikirannya, dilampiaskannya pada Steve secara membabibuta.
"Sebenarnya apa yang telah kalian lakukan? Apa yang membuat otak kalian itu berpikiran sempit seperti ini?" Papanya Lisya mulai memukul meja yang ada di hadapannya. Baik Steve, Lisya maupun Mr.Melv. terlihat terkejut dengan sikap Papanya Lisya.
"Aku tau kalau kalian itu adalah sepasang kekasih sebelumnya. Tapi, itu belum bisa menjadi patokan kalian untuk bisa melakukan hal menjijikkan seperti ini!" Papanya Lisya menunjukkan jari telunjuknya pada Steve dan juga Lisya secara bergantian.
"Sejak tadi, tidak ada di antara kalian yang mengakui dan mengatakan hal yang sebenarnya. Ada apa ini? Apakah kalian memang sudah merencanakan hal ini jauh - jauh hari?" Tuduhan demi tuduhan dilontarkan oleh Papanya Lisya begitu saja. Dia sangat marah melihat keadaan Putri kesayangannya yang berpakaian minim seperti itu di Apartemen seorang lelaki.
Mr.Melv. yang melihat perdebatan yang hebat itu hanya bisa terdiam terpaku. Dia tidak memiliki hak untuk ikut campur. Tanpa bukti yang konkret, semuanya berada di luar jangkauan dirinya.
"Om, salah. Aku tidak pernah menganggap Lisya seperti itu. Om juga salah, karena Om hanya percaya dengan apa yang terlihat. Om tidak mencaritau benang merahnya terlebih dahulu. Ini sama saja dengan menuduh orang tanpa bukti yang konkret. Om tidak seharusnya seperti ini. Apalagi ini demi Anak kesayangan Om." Tegas Steve pada Papanya Lisya.
BUGH! BUGH! BUGH!
Papanya Lisya memukul Steve tepat di ulu hatinya. sampai Steve memuntahkan sedikit cairan merah kental dan tertunduk lemas. Steve tidak membalasnya. Dia hanya tersenyum sambil memberi tanda diam pada Lisya yang hampir saja beranjak dari tempat duduknya.
Lisya memang cuek - cuek bebek terhadap Steve selama ini, tapi dia tidak tega melihat ada seseorang yang membelanya malah dihajar seperti itu oleh Papanya. Meskipun dia tidak menyukai Steve, tapi dia tidak tahan melihatnya dalam kondisi seperti itu. Tapi, apa daya nya, dia tidak bisa bergerak dari tempatnya karena larangan dari Steve.
"Om, terus lah memukul ku. Puas kan lah amarah Om padaku. Jangan tanggung - tanggung begini. Aku akan menerimanya tanpa melawan Om sedikit pun. Karena aku akan tetap pada pilihanku. Aku akan bertanggungjawab atas nama Lisya." Ucap Steve tegas.
"Kamu!" Teriak Papanya Lisya yang dipenuhi dengan amarah yang membara sampai dia mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Dia merasa dirinya sedang dipermalukan oleh seorang Asisten yang tidak ada apa - apanya jika dibandingkan dengan dirinya di hadapan temannya yang seorang pemilik perusahaan ternama seperti Melv.Corp.
Bersambung <<<
Sampai sini dulu ya..
Kita akan lanjut di next chap, Ingat untuk selalu kirim jempol nya yaa, Kakak2..
Salam Kasih untuk Yg Terkasih
Love You All
💞 💞 💞 💞💞