
Aku duduk di kursi belakang,Danu duduk di belakang kemudi dan Aditya duduk di samping Danu. Dengan begitu terpaksa aku mau ikuti tawaran Danu karena tidak ingin Aditya mencurigai ku karena terus menolak tawaran Danu dengan tidak memiliki alasan jelas.
“Kenapa aku jarang lihat kamu di tv sekarang?” Tanya Danu memulai pembicaraan dengan fokus menyetir.
Aditya terlihat tersenyum mendengar pertanyaan Danu.
“Ya. Aku coba menjauhi dunia entertainment”
Danu tampak bingung mengkerutkan kening nya.
“Kenapa?”
“Sepertinya sudah cukup aku mengenal dunia hiburan sampai sini. Menjadi artis terlalu banyak orang yang ikut campur dengan kehidupan kita kan? Dan membuat ruang gerak kita menjadi sempit” ujar Aditya begitu jujur bercerita
“Betul juga. Memang seperti nya apapun yang kita lakukan orang lain pasti akan mengomentari nya,dan tidak semua orang akan suka dengan apa yang kita lakukan” ucap Danu begitu setuju dengan apa yang di ucapkan Aditya.
“Ya benar. Aku banyak melewati indah nya hidup karena itu” sahut Aditya begitu lemas.
“Aku juga baru menyadari itu. Seseorang sudah menyadarkan ku,jika aku terlalu terpaku dengan kehidupan ku sebagai artis hingga aku lupa kebahagiaan ku yang sebenarnya di luar itu” aku menatap Danu di spion tengah nya dan Danu pun sempat melirik ku sebentar.
Tatapan dia seolah memberi tahu jika akulah yang sudah mengatakan hal seperti itu. Padahal jika ku ingat bukan seperti itu pesan yang aku berikan.
Lalu aku mendelikan mataku memperlihatkan betapa kesal nya aku. Aku berharap jika perjalanan kami bisa cepat sampai agar aku dan Aditya bisa segera meninggalkan Danu.
“Ya memang itu juga yang aku rasakan,kebahagiaan ku begitu banyak sekarang setelah aku meninggalkan semua nya”
Danu terlihat tersenyum bahagia menatap Aditya. Mereka berdua tersenyum bersama merasa lucu dengan kehidupan mereka sendiri.
Jalanan begitu macet dan membuat ku mengantuk di perjalanan. Aku menyandarkan kepala ku ,mataku menutup sedikit demi sedikit dan aku pun tertidur.
Beberapa jam kemudian. Aku mengerjapkan mata ku berusaha bangun dan melihat keadaan mobil masih gelap,mobil ternyata sudah berhenti,bayangan Aditya terlihat membuka pintu di samping kiri ku dan lampu otomatis menyala,aku menutup kembali mataku karena silau nya lampu mobil yang menyorot mataku dan rasa kantuk masih menyerang ku. Aku mengintip bayangan Aditya yang memasukan kepala nya ke mobil mendekati ku dan dia terlihat meraih sesuatu di samping kanan ku. Dengan mata yang masih mengantuk aku melingkarkan tangan ku di leher Aditya dengan mesra.
“Kita sudah sampai?” Lirih ku dengan suara berat dan mata tertutup.
“Ya kita sudah sampai” jawab seseorang dengan suara terdengar berbeda dari Aditya.
Aku langsung membuka mata ku dengan lebar dan melihat wajah orang yang tengah ku peluk dan berada tepat di hadapan ku.
Danu. Wajah dia begitu dekat di hadapan ku. Aku menatap nya dengan begitu terkejut dan terpaku. Dia begitu tampan di lihat lebih dekat seperti ini,wajah nya yang kotak berahang panjang,rambut gondrong nya yang masih di ikat ke belakang,dan aku bisa melihat ada sedikit rambut halus di dagu dan merambat ke samping pipi nya, mata nya yang begitu indah berwarna coklat tengah menatap ku dengan tersenyum.
Aku langsung melepaskan tangan ku dari leher nya dengan cepat.
“Sedang apa kamu?!” Tanya ku begitu marah,karena sudah mengira dia berani macam-macam denganku.
Lalu dia mengangkat sebuah tas kulit kecil berwarna coklat yang berada di samping ku.
“Aku mencari ini” ucap Danu menunjukan tas kulit itu.
Lalu dia mengeluarkan kembali kepala nya dan mempersilahkan ku turun. Aku langsung melihat kanan kiri ku mencari Aditya yang bisa-bisa nya meninggalkan ku berdua di sini dengan nya.
“Dimana Aditya?”
“Dia tidak mau membangunkan mu,tadinya dia mau simpan dulu barang-barang nya di loby dan menggendong kamu ke dalam Apartemen nya,tapi kamu malah bangun” ujar Danu menjelaskan.
“Terimakasih untuk tumpangan nya” ucap ku dengan berusaha ramah namun tetap saja ketus,lalu hendak pergi meninggalkan nya.
“Dhebi” panggil nya menghentikan ku.
Aku membalikan badan ku dan menatap nya dengan malas.
“Ada apa?” Sahut ku ketus.
“Terimakasih juga sudah sedikit merubah hidup ku” ujar nya menyindir percakapan nya dengan Aditya di mobil.
“Aku tahu itu” jawab Danu dengan tatapan nya yang masih begitu dalam.
“Kamu tidak merasa seperti itu,tapi aku dan Aditya merasakan nya” lanjut nya.
Aku langsung mengkerutkan kening ku menatap nya dengan tak percaya,dia masih saja bersikap seperti itu tanpa rasa canggung. Namun dia malah senang melihat ku yang mulai gelisah seperti itu.
“Dhebi” panggil seorang pria di belakang ku.
Itu Aditya. Aku harus menyembunyikan perasaan kacau ku di hadapan nya.
“Hay” sahut ku membalikan badan ku.
“Kamu bangun?”
“Iya,aku kebangun. Aku masih ngantuk” ujar ku dengan melingkarkan tangan ku di lengan Aditya dengan manja.
“Ayo” jawab Aditya dengan tersenyum manis kepadaku.
“Thank ya,untuk tumpangan nya” ucap Aditya menatap Danu di belakang ku,namun aku begitu enggan untuk kembali menatap nya.
“Oke” jawab Danu terdengar oleh ku.
Keesokan pagi nya. Aku bersiap untuk pergi ke kampus dengan di antar Aditya. Aku memakai baju kaos kuning dan dengan celana joger besar. Aku mengikat kuncir rambut ku dengan messy di buat tak rapih.
Begitu sampai ke dalam kampus aku langsung mencari teman-teman ku di ruang MAPALA. Mereka semua sudah menunggu ku sejak pagi,dan aku kesiangan.
“Hay Dheb,gimana fitting baju sama calon mertua?” Ledek Caca begitu melihat ku masuk.
“Ya gitu deh,cape” ujar ku sambil melempar tas selempang ku ke atas meja dan duduk dengan begitu lemas.
“Lo kenapa?” Tanya Caca melihat ku yang berwajah kusut.
“Iya kusut amat muka lo,kaya yang lagi banyak tekanan gitu mo married” timpal Sisil yang langsung duduk di samping ku.
Aku menatap Sisil. Aku sebenarnya ingin sekali menceritakan tentang Danu kepada mereka. Tapi aku ingat sifat Sisil yang selalu ceroboh sering kali hampir mencelakai kami semua dengan kepolosan nya.
“Woyyy malah bengong lo” ujar Caca yang menggebrak meja dengan kencang di hadapan ku.
Aku terkejut dan semua pun ikut terkejut melihat Caca yang mengagetkan kami semua.
“Ih sialan,gue juga kaget bego” kesal Sienna yang memukul kecil jidat Caca.
“Haha lagian si Dhebi malah bengong kek gitu,kenapa sih lo?” ujar nya menatap ku dengan masih tersenyum.
“Iya gue lagi stress aja kemarin Mama Aditya minta gue buat tinggal disana setelah nikah nanti” ucap ku mencari alasan lain.
“Hah seriusan lo?” Teriak Caca tak percaya.
“Iya” ujar ku cemberut.
“Terus gimana?” Tanya lagi Caca.
“Ya gue bingung aja gimana ntar nolak nya. Gue ga mau lah pergi jauh dari Bandung atau Jakarta” ujar ku terus berdalih.
“Ya udah sih Dheb. Gue yakin pasti Aditya bakalan ngikutin kemauan elo kok” ucap Sisil di samping ku.
“Iya sih. Tapi gue ga enak aja”
Aku menatap Sienna yang duduk di atas meja tampak sedang memperhatikan ku. Aku yakin Sienna pasti bisa membaca raut wajah ku yang sedang menyembunyikan sesuatu dari mereka. Sienna memang paling peka di bandingkan yang lain,dan dia pasti bisa membaca jika aku masih ada masalah lain selain itu.