Obsessive Love Disorder

Obsessive Love Disorder
Kebohongan pertama



Perjalanan pulang,aku mengambil dulu mobil yang terparkir di kampus dengan bersama teman-teman ku.


“Lo langsung pulang?” Tanya Sienna mengkhawatirkan keadaan ku.


“Iya gue langsung pulang aja,gue ga enak badan ini” ujar ku berdalih.


“Yaudah lo ati ati ya,kabarin gue kalo udah sampe”


“Oke,thank you Syen”


Lalu kami berpisah di parkiran kampus dan aku segera melajukan mobil ku. Aku tak ingin kembali ke apartemen Aditya namun aku pun tidak bisa pulang ke kostan ku, karena sudah pasti Aditya akan mencari ku kesana.


Aku melajukan mobil ku ke sebuah hotel di tengah kota. Dan aku memesan sebuah kamar untuk ku beristirahat disana.


Aku masuk ke dalam kamar hotel dan menghempaskan tubuh ku disana. Aku genggam ponsel ku dan segera mengirim pesan kepada Sienna.


-Syen, gue ga pulang ke apartemen nya Aditya dan gue ga pulang juga ke kostan. Gue mau matiin handphone selama 2 hari aja buat nenangin diri dan ngehindar dari Aditya, kalo temen-temen nanyain bilang aja gue ada urusan dan jangan bilang Aditya kalo gue kabarin lo ya Syen, love you Sienna-


Aku kirimkan pesan itu dan segera mematikan nya setelah pesan itu sukses terkirim.


Aku masih sangat kecewa kepada Aditya. Bisa-bisanya dia membohongi ku, dan terlihat menggandeng wanita lain selain Cateline. Melihat dia dan Catelin saja di semua media sudah membuat ku gerah walaupun aku tahu itu hanyalah settingan, apalagi dengan yang wanita yang ini, yang sama sekali tak di ketahui publik dan malah terlihat mesra dengan Aditya di balik layar.


Aku berusaha untuk menenangkan diri dan membuang semua fikiran ku tentang Aditya. Aku menyalakan TV dan menonton nya seharian,aku alihkan saluran TV menjadi TV luar negri agar aku terhindar dari wajah Aditya di semua media.


Hari pertama telah bisa ku lalui di dalam kamar hotel. Aku bangun begitu siang dan memesan sebuah makanan untuk di antar kan ke kamar. Aku berusaha untuk mengabaikan handphone ku yang tergeletak tak di aktifkan di dalam tas. Aku ingin memberi pelajaran Aditya atas apa yang telah di lakukan nya,bahkan jika bisa aku ingin ini semua segera berakhir. Aku tidak sanggup menjalani hubungan tersembunyi ini dengan nya.


Malam hari aku pergi kolam renang untuk meregang kan tubuh ku dengan berenang. Seperti biasa,suasana di sekitar kolam renang sudah terlihat sepi di malam hari. Aku lebih suka suasana seperti ini tak banyak orang.


Aku mulai berenang dengan tenang dari ujung ke ujung kolam. Aku mengingat lagi Aditya yang selalu memarahi ku jika aku berenang di malam hari dan memakai pakaian minim di tempat umum. Aku akui,aku merindukan omelan nya namun aku benci kebohongan nya.


Aku duduk di kursi samping kolam dengan handuk di pelukan ku. Aku masih saja melamun memikirkan Aditya, dan suara langkah beberapa orang masuk kedalam kolam membuat ku langsung pergi darisana.


Esok pagi hari terakhir di hotel aku pergi ke tempat Fitnes untuk berolah raga.


Aku atur mesin Treadmill untuk mengimbangi ku berlari dengan perlahan,mesin Treadmill ini adalah alat manual untuk ku bisa olahraga berlari di atas mesin lengkap dengan setelan kecepatan untuk mengimbangi ku berlari.


Tiba-tiba seseorang ikut berlari di mesin Treadmill di sampingku. Aku melirik nya dan terkejut nya aku ketika melihat itu adalah Jimmy.


“Hey” sapa nya dengan ceria.


Namun aku membalas sapaan nya dengan wajah yang panik dan heran.


“Aku kira semalem aku salah liat, ternyata bener itu kamu” ucap nya sambil tersenyum tak percaya.


“Kamu lagi apa disini?” Tanya nya sambil mengimbangi ku berlari.


“Olah raga” ketus ku.


Dia terkekeh mendengar jawaban ku.


“Maksud aku sama siapa di Hotel ini?”


“Sendiri aja”


“Staycation?”


Aku menjawab hanya dengan senyuman saja.


“Mas sama siapa disini?” Tanya ku melihat sekeliling takut jika dia bersama dengan orang yang aku kenal.


“Jangan panggil aku Mas bisa?”


Aku diam mendengar nya. Dan memalingkan wajahku untuk menyembunyikan raut wajah ku yang kembali mengingat Aditya.


“Aku disini juga sendiri, lagi ada acara di sekitar sini”


Aku menganggukan kepalaku.


Aku turun dari Treadmill dan menghentikan operasional nya.


“Kamu udah selesai?”


“Udah” jawab ku dengan memberikan senyuman dan pergi darisana.


“Dhebi tunggu” aku menghentikan langkahku menunggu dia menghampiriku.


“Nanti siang aku mau makan siang di luar, kamu mau ikut? emmm maksud aku,kita kan sama sama lagi sendiri di hotel jadi kita bisa saling nemenin dan bisa sambil ngobrol gitu” kaku nya dengan salah tingkah.


“Aku check out siang ini”


“Kalo gitu sebelum check out kita makan di luar”


“Maaf Jim, aku ga bisa” aku menolak nya dengan sopan dan segera pergi darisana.


Aku membayangkan jika ada paparazi melihat ku disini dengam Jimmy dan mengabadikan moment ini lalu di sebar luaskan tanpa mereka tahu kami sedang apa,sudah pasti berita ini akan Hot dan akan di baca oleh Aditya. Aku tidak ingin menambah masalah sebelum masalah Aditya terselesaikan.


Aku membereskan barang-barang bawaan ku sebelum aku checkout dari hotel. Aku masih enggan untuk mengaktifkan kembali handphone ku dan menerima telepon dari Aditya. Aku biarkan kembali handphone ku mati di dalam tas.


“Dhebi” panggil seorang laki-laki ketika aku baru saja mengembalikan kunci ke meja resepsionis.


Jimmy menghampiriku.


“Dheb, kamu langsung checkout ?”


“Aku cuma mau minta no telepon kamu”


“Untuk?”


“Ya untuk jaga-jaga kalo aku mau cari referensi tempat wisata aja Dheb”


Aku menimbang kembali alasan nya. Dan membiarkan dia menyimpan no telepon ku.


“Thank you”


“Oke”


Aku bergegas pergi dari sana. Mengambil mobil di basement dan langsung melajukan mobil ku entah kemana.


Aku tidak boleh menghindari masalah ini,aku harus menghadapinya. Sudah cukup aku menenangkan diri,kini aku harus menyelesaikan semuanya.


Aku telah sampai di basement Apartemen Aditya. Dan melangkahkan kaki ku menuju kamar nya yang terletak di lantai 19.


Aku mengatur nafasku sebelum akhirnya aku masuk kedalam kamar nya. Aditya terlihat terkejut melihat siapa yang telah masuk kedalam kamarnya. Dia bangun dari berbaring nya di atas sofa, dia berdiri menatap ku bahagia dan sedih.


“Bhi..” panggil nya dengan lirih.


“Kemana saja kamu dari kemarin ?” Tanya nya dengan lembut.


Aku tak mendengarkan nya dan segera pergi ke kamar untuk membereskan pakaian ku.


“Bi, dengerin aku dulu” aku tak menggubrisnya dan terus mengeluarkan pakaian ku dari lemarinya dengan emosi.


“Dheb, please stop dengerin aku dulu”


Dia menghentikan aktifitas ku, dia berusaha untuk memegang tangan ku.


“Lepasin aku!”


“Dengerin aku dulu”


“Dengerin apa lagi?!!” Teriak ku dengan emosi yang sudah memuncak.


“Selama ini aku udah sabar ngadepin kamu,aku turutin apa yang kamu mau,bahkan aku rela ngeliat kamu di gosipin dengan wanita lain, tapi apa yang aku dapat? Kamu malah ada main dengan wanita lain di balik film kamu sendiri ! Alasan apa lagi yang mau kamu kasih ke aku Di?”


“Iya aku mau jelasin semuanya dengarkan aku dulu”


“Aku udah ga bisa di, udah cukup. Kesabaran aku cuma bisa sampe sini”


Ucapku dengan air mata yang tak bisa terbendung lagi.


“Dheb” dia berusaha memegang kedua pipiku namun aku menangkis nya.


“Selama ini aku menjalin hubungan dengan Lucy, tapi tidak ada satu media pun yang tahu tentang hubungan ini” aku tak percaya Aditya telah mengakuinya.


Aku semakin emosi mendengar pengakuan nya, aku mengusap rambutku dengan kasar. Merasa jika aku ini hanya di jadikan simpanan olehnya.


“Tapi semua ini karena kebutuhan film aku, agar film ku bisa di percaya untuk tayang. Aku diminta untuk menjalin hubungan dengan Lucy sejak lama sekali, karena kedekatan ku dengan Lucy mempermudah jalan nya film untuk aku bi”


“Kamu jahat banget Di, tega banget kamu bohongin aku. Aku kira selama ini kamu serius menjalani hubungan ini, aku kira aku hanya satu satu nya yang kamu punya di balik layar, tapi ternyata..” aku menggelengkan kepala ku tak sanggup melanjutkan kalimat ku.


“Bi, aku ga punya perasaan apa-apa sama dia”


“Gimana aku bisa percaya di ?!”


“Kamu cukup percaya aja sama aku, jangan lihat kedekatan aku dengan orang lain yang cuma settingan demi karir aku”


“Sampai kapan Di ? sampai kapan? Kamu kira hati aku itu batu,bisa terus kuat walau kamu sakitin seperti ini?”


“Dhebi tolong mengerti,aku mohon”


“Aku juga mau di mengerti di !!” Teriak ku sambil menangis.


“Selama ini aku terus yang mengerti keadaan kamu,aku biarkan kamu berduaan dengan Cateline dimana pun itu,bahkan wajah kalian berdua muncul dimana mana sebagai pasangan terviral,sudah cukup nerima semua itu di,aku telan rasa sakit hati aku demi karir kamu. Tapi untuk yang satu ini,aku minta maaf aku ga bisa menerima semuanya”


“Dheb..Dhebi..” dia berusaha menahan ku,namun aku terus memasukan baju baju ku ke dalam koper.


“Dhebii please!” teriak nya membuat ku terdiam.


“Aku ga bisa liat kamu pergi,aku belum siap kehilangan kamu” ucap nya dengan terus berteriak.


Dia mencengkram kedua lengan ku dengan kencang.


“Selama ini aku ga pernah jatuh cinta seperti ini dengan orang lain, aku ga pernah segila ini dengan wanita lain Dheb, aku juga ga mau memperlakukan kamu seperti ini. Aku ga mau ngekang kamu,aku gamau membatasi kamu bergaul tapi aku ga bisa! Aku ga bisa kehilangan kamu,aku terlalu takut kamu nyaman dengan orang lain selain aku. Ini yang aku takutkan selama ini Dheb”


Ucap nya sambil meneteskan air mata. Baru kali ini aku melihat Aditya begitu bersedih,terlihat begitu tulus dia mengatakan nya. Namun aku tidak bisa terus seperti ini dengan nya,aku pun manusia,memiliki perasaan sama sepertinya.


“Aditya, aku cuma minta kamu jujur dan percaya sama aku. Jangan pernah ada yang kamu tutup-tutupi di,dan jangan pernah takut aku untuk pergi kalo kamu bisa menjaga kepercayaan aku. Kalo kamu bohongin aku seperti ini,aku jadi merasa tidak di hargai dan merasa akan terus di bohongi sama kamu”


“Aku minta maaf” dia terus terlihat sedih membuat ku kasihan.


“Aku mohon sama kamu,jangan lagi ada kebohongan”


Dia menganggukan kepala nya dan langsung memeluk ku begitu erat.


Lagi-lagi aku kembali kepadanya.