
Akhirnya ketiga teman ku datang dan berlari menghampiriku ku yang sudah menunggu mereka duduk di loby mall.
“Lama banget sih” omel ku ketika mereka sudah mendekat.
“Iya sorry. Jalan macet banget tadi Dheb” ujar Caca.
“Ya udah yuk kita makan gue udah laper banget nih” rengek Sisil dengan tidak ada malu nya.
“Ya udah,kita langsung makan” ajak Aditya sambil merangkul ku.
Kami semua segera pergi ke food court di lantai atas.
Kita masuk kesalah satu Restaurant di sana.
Kami semua berdiri di depan Restaurant dengan terpatung takjub melihat isi Restaurant yang sangat mewah.
“Kita makan disini Dit?” Tanya Sienna tak percaya.
“Ini Restaurant kan mahal banget gila” seru Sisil mentap sekitar nya.
“Kalian boleh makan sepuasnya” ujar Aditya membuat ketiga teman ku langsung terkejut menatap nya.
“Serius ?”Tanya Caca tak percaya.
“Iya” jawab Aditya.
“Yes” seru semua dan langsung segera masuk mengambil makanan di nampan nya.
Tempat makan itu adalah tempat makan all you can eat yang menyajikan banyak ragam makanan jepang seperti slice daging,sushi,suki dan berbagai dessert juga minuman yang bisa kita makan,dan mereka bisa sepuasnya mengambil makanan yang mereka mau dan memanggang nya sendiri di meja besar yang sudah di pesan Aditya.
“Bisa banget bikin temen-temen aku happy kaya gitu” ucap ku kagum menatap Aditya.
“Aku tahu kamu begitu sayang sama teman-teman kamu ini. Dan kamu pasti senang kalo melihat mereka juga senang kan?” Aku tersenyum mendengar yang di katakan Aditya.
Teman-teman ku begitu semangat memanggang makanan dan merebus suki di meja nya. Aku dan Aditya memanggang di tungku yang berbeda sehingga aku bisa tenang memanggang daging untuk Aditya.
Kita makan sambil bertukar cerita,teman-teman ku menanyakan kabar ku setelah melihat pemberitaan di luar,sebenarnya mereka sudah mengirim pesan saat tau gosip tentang aku di media,tapi mereka masih ingin mendengar ceritanya secara langsung.
Mereka mempercayai jika aku pasti bisa melewati semuanya dengan mudah. Aku tidak dulu menceritakan tentang Andre,aku takut mereka hanya akan semakin mencecarku dengan begitu banyak nya pertanyaan. Aku akan menyimpan cerita ini nanti saja.
Setelah acara makan selesai mereka semua berpamitan untuk pulang.
“Kamu mengajak aku bertemu dengan teman-teman ku hanya untuk makan?” Tanya ku ketika kita berjalan di basement menuju mobil Aditya.
Dia tertawa mendengar kecurigaan ku.
“Tujuan utama aku sebenarnya berbelanja,tapi aku yakin kalau aku ajak kamu hanya untuk membeli baju kamu pasti tidak mau” akhirnya Aditya mengakui itu.
“Aku sudah menduga nya” ujar ku sudah mencurigai hal itu.
Kami masih terus berjalan secara perlahan dengan tangan ku yang melingkar di lengan Aditya.
“Memang kita akan ke bali lagi dalam waktu dekat ini?” Tanya ku menatap nya.
“Mungkin saja”
“Aku takut Andre berbicara hal lain yang akan membuat Nenek semakin membenci ku” ucap ku dengan raut wajah takut membayangkan hal itu terjadi.
“Siapa yang bilang Nenek membenci kamu?” Tanya nya menatap ku dengan kesal.
“Kemarin bukti nya Nenek tidak berkomentar apapun setelah Andre bilang kalau aku pernah dekat dengan dia juga”
“Dia diam bukan berarti benci kamu kan,dia diam karena dia tidak menyangka kedua cucu nya bisa jatuh cinta sama kamu. Dia itu kagum sama kamu”
Aku mendelikan mata ku mendengar nya. Dia malah menanggapi ini dengam bercanda.
“Dii…” panggil ku dengan kesal.
“Bii,sudah cukup. Aku tidak mau lagi mendengar ke khawatiran kamu. Aku rasa Dhebi yang aku kenal tidak seperti ini. Dulu kamu begitu kuat,tidak peduli dengan masalah sebesar apapun yang menghadapi kamu. Kenapa sekarang kamu malah lemah seperti ini?”
Kita sampai di depan mobil Aditya,dan aku menghentikan langkah ku dan berdiri di depan Aditya dengan cemberut.
“Dii.. ini bukan masalah kecil,masalah ini tidak bisa aku atasi sendiri. Baru kali ini aku mengalami masalah terbesar dalam hidup aku. Fitnah di semua media,membuat orang lain berfikir jika aku adalah pengganggu hubungan kamu,dan lagi aku harus membuktikan kepada keluarga kamu jika aku tidak bersalah sementara pemberitaan di luar sana begitu berat untuk aku tutupi. Aku tidak bisa menutup mulut mereka satu persatu”
Aditya menyentuh satu pipi ku.
Tatapan nya begitu tulus dan bersungguh-sungguh. Aku menganggukan kepala ku sekuat tenaga.
“Kita pulang, besok malam aku ada janji bertemu wartawan” ujar Aditya membuat ku terkejut dia hendak melangkah pergi namun aku menahan nya.
“Janji bertemu wartawan?” Tanya ku dengan shock.
“Iya besok aku menyelesaikan sisa pekerjaan ku di stasiun Tv lalu aku janji untuk di wawancarai setelah itu”
“Kenapa kamu baru bilang?” Ujar ku dengan mengerutkan kening dengan kesal.
“Aku baru di hubungi manager ku tadi pagi,dan dia mengingatkan tentang schedule ku mengisi acara tv dan klarifikasi sebuah film yang membatalkan kontrak dengan ku”
“Kamu mau klarifikasi apa?” Tanya ku dengan resah.
“Semua nya”
Harusnya aku bahagia mendengar ini. Tapi kenapa aku malah gelisah jika semua orang tidak akan menerima kejujuran Aditya.
“Jangan khawatir. Aku bisa mengatasi nya”
Dia menguatkan ku seperti biasanya. Disaat aku gelisah dia tahu cara menenangkan ku. Dan dia selalu berhasil melakukan itu.
Keesokan hari nya. Aku membantu Aditya menyiapkan baju yang akan di pakai nya mengisi acara tv.
Aku terus mencari baju yang cocok untuk di pakai nya. Dan mengeluarkan semua isi lemari nya.
“Jangan, jangan ini. Lepas lagi” ucap ku menolak baju yang di tempel di badan Aditya,dan mengambil baju yang lain nya.
Aditya terlihat lelah.
“Bi aku hanya mengisi acara tv bukan untuk mengisi acara dengan presiden”
“Aku tidak mau kamu terlihat berantakan di depan semua orang sekarang” ujar ku dengan terus menempelkan baju di badan Aditya dan memperhatikan cocok atau tidak nya.
Aditya tertawa.
“Lihat kan? Kamu sudah seperti Mama ku” ucap nya.
Aku melirik nya dengan dingin lalu memberikan dia baju kemeja kotak-kotak hitam berlengan pendek.
“Pakai ini” pinta ku.
Lalu dia melepaskan baju sebelum nya dan memakai kemeja yang aku berikan.
“Perfect” ucap ku dengan memperhatikan semua penampilan nya.
“Aku sudah boleh pergi?” Tanya nya dengan lembut.
Aku memikirkan sesuatu yang kurang.
“Tunggu sebentar” ucap ku mengambil sebuah topi di dalam lemari.
Topi yang berawarna putih dan bertuliskan “Balenciaga” . Aku memakai kan di kepala nya dan memasukan seluruh rambut di depan nya kedalam topi.
Aditya menatap ku begitu dalam ketika aku memasangkan topi di kepala nya. Dia melihat ku dengan kagum.
“Sudah” ucap ku dengan tersenyum bahagia.
“Terimakasih” ujar nya.
“Sama-sama” manis ku.
Aditya memeluk ku begitu erat.
“Good luck ya” bisik ku.
“Oke” lalu dia pergi menghilang di balik pintu kamar.
Raut wajah ku berubah menjadi gelisah. Aku benar-benar takut dengan klarifikasi yang akan dia lakukan di depan media. Bagaimana jika semua yang di katakan nya tetap tidak di terima oleh semua orang dan hanya akan menambah masalah untuk ku.
Aku menarik nafas ku dan berusaha untuk bisa memepercayai nya.