Obsessive Love Disorder

Obsessive Love Disorder
Terus di buntuti Aditya



Aku mengetuk pintu Sienna dan memanggil namanya agar dia tahu jika itu adalah aku.


Sienna,Sisil dan Caca membuka pintu bersamaan dan terkejut melihat aku di balik pintu dengan seorang laki-laki memakai baju coklat dan celana kargo longgar berdiri dengan tampan di belakangku.


“Hay” sapa Sisil kepada Aditya dengan tarpatung menatap Aditya di depan nya.


“Hay” balas Aditya dengan dingin.


“Hello boleh gue masuk?” Aku melambaikan tangan di depan wajah mereka menyadarkan mereka bahwa aku masih di luar.


Lalu ketiga teman ku tersadar.


“Eh iya iya masuk”


Aku menggelengkan kepala ku melihat mereka yang terpatung melihat Aditya dengan tatapan mereka yang kagum.


Aku dan Aditya duduk di sofa.


“Minum apa ?” Tanya Sienna.


“Apa aja” ujar ku sambil duduk.


“Bukan elo,Aditya”


Aku berdecak kesal melihat Sienna yang malah mengacuhkan ku.


“Elo kan biasa ambil sendiri” ujar Sienna.


“Iya apa aja” jawab Aditya.


Dan Sienna tersenyum ketika Aditya menjawab nya. Centik sekali anak itu.


“Gak masalah kan aku ikut disini sama kalian?” Tanya Aditya kepada Caca dan Sisil.


Mereka langsung mengibaskan tangan mereka dan menggelengkan kepala dengan cepat.


“Oh iya gak apa-apa “


“Gak apa-apa banget”


“Boleh kok kosan Sienna ini bebas di kunjungi siapa aja” ujar Caca membuat pemilik kosan merenyitkan dahi di dapur sana.


Aditya menatap ku seolah dia merasa di menangkan oleh teman-teman ku. Aku memutarkan bola mataku.


Sienna datang membawakan minum hanya satu.


“Silahkan di minum Mas Aditya”


Aditya membalas senyuman nya.


“Terimakasih” manis Aditya yang semakin membuat teman-teman ku meleleh.


Aku mengerutkan kening ku melihat Aditya yang tak biasa.


Aku menyeringai mendengar nya yang berubah menjadi manis ini.


“Hello,gue disini loh” ucap ku membuat Sisil dan Caca cengengesan menatap ku dengan malu.


“Maaf Dheb,tapi kita kan baru lagi ketemu sama Mas Aditya ini,udah lama kan dari semenjak rilisan film mereka itu loh” ucap Sisil.


“Panggil Aditya aja biar lebih akrab”


Sisil dan Caca terlihat begitu antusias mendengar Aditya yang ingin lebih akrab.


“Oh,oke biar akrab kita ya kan” ucap Caca dengan aneh nya.


“Eh iya Dheb” ujar Sisil mengingat sesuatu.


“Tadi pagi Andre kesini nyariin lo” ujar Sisil membuat aku dan Sienna menatap nya tajam.


Aku lalu memelototi Sienna menyalahkan nya karena tidak bisa membungkam mulut Sisil yang polos itu. Harusnya Sienna menceritakan apa yang telah aku ceritakan semalam kepadanya,agar Caca dan Sisil tidak membicarakan Andre di depan Aditya.


Sisil bingung menatap ku dan Sienna yang terus memelototi nya.


“Lalu?” Tanya Aditya dengan wajah yang begitu tenang sambil tersenyum manis menghipnotis Sisil.


Sisip tampak bahagia bisa mendapatkan senyum Aditya,dan dengan lancarnya dia berbicara tanpa menghiraukan tatapan tajam aku ataupun Sienna.


“Iyaa dia nyari Dhebi. Terus Sienna bilang kalo Dhebi pulang ke Bandung. Kasian deh Dheb kaya nya dia abis di pukulin gitu wajah nya memar-memar terus panik aja nyariin lo” ujar Sisil dengan polosnya.


Aku hanya bisa terus memalingkan muka ku mendengar Sisil terus bercerita. Sienna dan Caca hanya diam tak memperdulikan nya. Sementara Aditya begitu memperhatikan Sisil seolah tertarik dengan percakapan itu.


Aditya melirik ku dengan memainkan kedua tangan nya berusaha menyembunyikan rasa kesal nya.


“Terus terus terus Dheb,gue liat berita Lucy mengumumkan pernikahan nya loh” Sienna langsung membekap mulut Sisil sebelum dia membuat masalah lebih besar karena mulut ember nya.


Sisil benar-benar membuat kita semua menggelengkan kepala.


“Kayak nya kita ke kamar dulu sebentar ya” ucap Sienna masih membekap mulut Sisil yang meronta ronta meminta di lepaskan.


Caca bingung dan hanya mengikuti saja apa yang di pinta Sienna. Lalu ketiga teman ku masuk ke kamar Sienna dan membiarkan aku dan Aditya berbicara berdua di ruang tamu nya.


Aditya mengeluarkan handphone nya. Dia menerima beberapa notifikasi yang masuk ke dalam ponsel nya.


“Keterlaluan memang Lucy” ujar Aditya sambil masih melihat berita di handphone nya.


“Dia memang tidak pantang menyerah”


Aditya mematikan handphone nya kembali dan melemparkan ke atas sofa.


“Di. Kamu ga khawatir dengan karir kamu ?”


Aku khawatir mengingat jika manager Aditya pun di bayar oleh Lucy untuk menjauhkan dia dariku.


“Aku udah lelah,aku mau berhenti sejenak. Kalo memang karir aku merosot,berarti karir aku cukup sampai sini”


Aku memebulatkan mata mendengar dia seenteng itu berbicara tentang karirnya.


“Kamu yakin?”


Dia menatap ku penuh keyakinan.


“Aku yakin. Mungkin memang ini saatnya aku untuk berhenti,aku udah pernah bilang kalau aku mau bebas kan ? Mungkin sekarang saatnya aku untuk bebas Bi”


Aku menghela nafas ku mendengar dia berkata seperti itu.


“Aditya. Bagaimana dengan pertunanganmu?”


“Aku udah bilang itu semua hanya untuk menaikan karir aku dan demi maju nya film yang aku bintangi Dhebi, semua ini sudah di atur oleh manager aku yang ternyata di bayar oleh Lucy. Dia yang minta aku untuk bertunangan dengan Lucy, dan dia bilang tidak apa jika aku merasa terpaksa karena ini hanya untuk film yang di produksi nya,dan bodoh nya aku menuruti dia”


“Keluarga kamu?”


“Keluarga aku ga peduli dengan kehidupan keartisan aku,mereka ga mau ikut campur,mereka tahu kalau acara tunangan ku dengan Lucy itu hanyalah sebuah drama,kamu tidak perlu khawatirkan mereka”


Ucap Aditya mengingatkan aku dengan keluarga nya. Selama ini aku belum pernah bertemu mereka dimanapun,bahkan fhotonya pun aku tidak pernah melihatnya,di dalam instagram Aditya pun tidak ada satupun fhoto keluarga nya terpampang,kenapa Aditya menyembunyikan keluarga nya juga ?


“Mereka ingin ketemu kamu?” Lanjutnya membuat ku membulatkan mata dan mengerutkan kening ku seolah Aditya bisa membaca fikiran ku.


“Aku?”


“Ya. Aku banyak menceritakan kamu sama mereka”


“Oyah?” Tanya ku ragu.


“Kamu ga percaya?”


Aku menggedikan bahu ku.


“Minggu depan kita temui mereka di Bali”


“Oke” tantang ku.


Ketiga teman ku akhirnya keluar dari kamar Sienna. Seperti nya Sienna telah selesai memberi ceramah kepada Sisil agar menjaga mulut nya di depan Aditya.


Ketiga teman ku kembali bergabung dengan ku dan Aditya. Sisil tampak menunjukan sederet gigi nya begitu melihat ku. Dari ekspresi wajah nya seperti nya Sienna berhasil memperingati Sisil.


“Oh iya hari ini kalian ada acara kemana?” Tanya Aditya kepada ketiga teman ku.


“Hah?” Teman-teman ku melempar pandang satu sama lain mendengar pertanyaan Aditya.


“Kita.. kita ga ada acara kok,rencana kita cuma mau diem aja disini” ujar Sienna sambil cengar cengir seperti kuda.


“Bagus kalo gitu, aku mau ajak kalian buat memasak barbeque di Apartemen ku malam ini”


Mereka terpatung, mencerna kembali ajakan Aditya. Dan kembali melempar pandang,terutama memandang ke arah ku.


“Ayok kita ayookk mau kok mau” ucap Sienna.


“Ih kita seneng banget bisa di ajakin berbequean kan ?” centil Caca dengan terus meminta dukungan kepada yang lain nya.


“Ayok kita langsung aja kesana” ujar Sisil begitu bersemangat.


Aku memicingkan mata kepada Sisil.


“Malam Sil malam,lo ga denger ?” omel Caca menatap nya kesal.


“Ngga apa-apa kalo kalian mau kesana sekarang, kita bisa belanja dulu keluar” ujar Aditya.


“Shooping?” Kikuk nya Sisil lagi membuat ku lelah melihat kebodohan nya.


“Belanja buat barbeque Sil,bukan belanja baju dan sepatu, harap mencerna dari awal yaa,bego lu napa ga ilang ilang siiihh malu maluin kita aja” kesal Caca melototi Sisil.


Sisil membulatkan bibirnya dan mengangguk kikuk.


“Ya udah kita mau belanja bahan makanan dulu sekarang?” Ujar Aditya.


“Euh gimana kalo yang belanja nya kita aja , soalnya kan kalian masih di kejar sama media,takut nya ada yang ngeliat kalian malah makin rame ntar”


Ucapan Sienna memang benar. Aku masih belum boleh berkeliaran di luar sana apalagi dengan Aditya. Masalah nya,Aditya dan Lucy masih belum membereskan urusan mereka, dan aku masih di pandang sebagai perusak hubungan mereka. Aku tidak ingin membuat mereka berfikir bahwa gosip itu benar adanya.


“Oke kalo begitu belanja nya di dekat Apartemen aku saja ya”


“Apartemen nya dimana ?” Tanya Sisil.


“Di Elements Apartemen” jawab Aditya membuat mata Sisil dan Caca membulat tak percaya.


“Element Apartemen yang harganya sampe 2 Milyar itu?” Tanya Sisil dengan polosnya menyembutkan nominal harga apartemen Aditya.


“Sisiiillllll” kesal kami bersamaan memperingati dia dengan memelototi nya.