Obsessive Love Disorder

Obsessive Love Disorder
Emosional



Aku dan Sienna sudah sampai di sebuah mall dan kami segera memesan makanan di salah satu restaurant di dalam sana. Kita terlihat begitu kelaparan karena dari siang hari tidak menemukam makanan selain cemilan di tempat meeting tadi.


“Tadi kayaknya gue liat Aditya deh di sana”


“Iya emang dia lagi ada disana sama team Adventurenya”


“Terus lo ketemu?”


“Bukan ketemu lagi, dia sama Cateline ngajak gue makan di luar pas gue lagi ngobrol sama Jimmy berdua”


“Hahaha terus Aditya liat lo berduaan sama Jimmy dong”


“Iya. Dan bego nya lagi,Jimmy berani banget pegang tangan gue di depan Aditya”


Sienna kembali menertawa kan ku.


“Hahaha.. iya kan Jimmy mana tau kalo Aditya cowo lu Dheb,gue yakin si Aditya pasti cemburu banget sama lo”


Ucapan Sienna benar. Memang sudah pasti Aditya akan cemburu besar melihat Jimmy berani memegang tangan ku.


Handphone ku berdering sebuah pesan masuk dari Aditya.


‘dimana kamu?’


‘aku masih makan di luar bareng Sienna’


‘aku minta kamu pulang sekarang!’


Lalu dia menutup telepon nya begitu saja. Rasa cemas seketika menyerang ku. Aku yakin pasti dia akan membahas pertemuan ku dengan Jimmy.


“Euh Syen kayaknya kita harus pulang deh”


“Loh kok pulang sih,kan kita mau belanja dulu ke atas Dheb”


“Gue ga bisa gue buru-buru”


aku takut Aditya akan semakin marah jika aku terlalu lama membuat nya menunggu.


“Ih ya udah lo duluan aja,nanti gue minta jemput cowo gue disini”


“Gak apa apa?”


“Iya bener”


“Oke,bye Syen”


Sienna menatap ku heran dan ikut khawatir walaupun dia tidak tahu alasan ku untuk pulang.


Aku melajukan mobil ku dengan cepat menuju apartemen.


Aku membuka pintu apartemen dan mendapati Aditya sudah berdiri membelakangi ku menungguku di depan jendela.


Dia berbalik menatap ku dengan tajam.


“Kenapa lama ?” Sinis nya.


“Aku masih makan di mall sama Sienna”


“Bukan nya lanjut ketemu Jimmy?”


Curiga nya yang membuat ku mengerutkan kening.


“Aku ga ada ketemu Jimmy disana”


“Dia tadi bilang sendiri mau susul kamu”


“Ya dia emang sempet nanyain aku dimana,tapi aku ga ada kasih tau dia lokasi aku ,karena aku tau dia pasti akan susul aku kesana”


“Waw udah sedeket itu kayak nya kamu sama Jimmy”


lagi-lagi Aditya bersikap seperti itu. Dia berfikir sesuka hatinya.


“Aku sama Jimmy itu cuma sebatas kerjaan Di,ga ada maksud lain”


“Ya kamu beranggapan seperti itu sedangkan Jimmy?”


“Ya itu urusan dia mau anggap aku seperti apa,yang penting aku ga peduli”


“Kamu ga peduli tapi aku yang peduli, dia suka sama kamu itu karena kamu yang buat!”


“Kenapa kamu jadi salahin aku?”


“Ya karena kamu terlalu banyak ladenin dia !” suara nya mulai menaik.


“Aku udah bilang sama kamu aku respond dia cuma karena sebatas kerjaan”


Begitu sulit sekali aku memberikan pengertian kepadanya. Suara handphone ku berbunyi,aku tak berani melihat nya, karena jujur saja aku takut jika benar pesan itu dari Jimmy.


“Kenapa handphone nya ga di buka?” Tanya Aditya begitu curiga.


“Aku bisa buka pesan nya nanti” terlihat sekali aku begitu panik.


Aditya berjalan cepat menghampiriku.


“Sini handphone kamu”


Aku diam menatap nya dengan kesal dan takut.


“Sini handphone nya Dheb” pinta nya dengan memaksa.


Aku mengeluarkan handphone ku dari dalam tas dan ku berikan kepadanya.


“Ini yang kamu maksud cuma sebatas kerja?”


Emosi nya sambil menunjukan isi pesan itu kepadaku.


‘Dheb,udah sampe rumah? Boleh aku telepon ?’


Dia melemparkan gelas dan piring yang ada di meja makan sampai terpecah belah dan berserakan di bawah. Aku melangkah mundur sedikit menghindari serpihan beling yang akan melukai kaki ku. Aditya sudah tidak lagi bisa menahan emosi nya yang sudah memuncak. Handphone ku berdering. Jimmy menelepon ku membuat ku semakin takut dan cemas. Dadaku mulai sesak,nafasku mulai sulit di atur,aku menahan tangisku keluar.


“Angkat telepon nya” ucap Aditya.


Aku menggelengkan kepalaku dengan wajah yang hampir menangis. Aditya mendorong ku ke tembok dan menunjukan handphone ku yang terus saja berdering.


“Aku bilang angkat telepon nya Dheb!” teriak nya sambil menonjok tembok tepat si samping ku.


Aku menekan tombol hijau di layar ponsel yang masih terus di pegang Aditya dan dia menekan tombol Load Speaker.


“Hallo” sapa Jimmy.


Aku berusaha menahan isakan tangis ku agar tidak terdengar oleh Jimmy.


“Hallo”


“Dheb udah sampe rumah?”


“Ada apa Jim?” Tanya ku tak ingin berbasa basi.


“Ngga dheb,aku cuma mau telepon kamu aja” tatapan Aditya kembali menajam menatap mataku,dan dia semakin membuatku takut.


“Jim,kalo ga ada kepentingan mending ga usah hubungi aku”


“Kenapa dheb?”


“Aku udah punya pacar Jim,jadi tolong jangan ganggu aku”


“Aku masih telepon kamu karena masih ada pembahasan tentang kerja sama itu kan?”


“Jimmy please, kamu bisa bahas pekerjaan itu dengan Sienna kita sudah ga ada urusan apa apa lagi”


“Tapi aku mau bahas ini sama kamu Dheb. Oke kalo sekarang kamu ga bisa aku ganggu,aku hubungi kamu nanti”


Aku menggelengkan kepala ku begitu kesal dengan respond Jimmy yang hanya akan menambah masalah.


Jimmy menutup telepon nya. Aditya mengepal handphone ku dengan keras dan menatap ku begitu tajam. Lalu dia menatap sekeliling dengan kesal tidak lagi bisa menahan emosinya. Dia melempar handphone ku ke lantai dengan kencang membuat nya menjadi pecah belah. Aku terkejut melihat handphone ku yang sudah terpecah berhamburan kemana mana. Air mataku mengalir di dalam rasa sesak ku,aku tak percaya Aditya bisa se emosional itu menanggapi masalah ini.


Aditya masuk ke dalam kamar dan menutup pintu nya dengan kencang.


Aku mulai menangis meratapi semua ini. Dan terduduk di lantai dengan lemas. Aku memegang kedua lututku,dan membenamkan wajah ku di dalam kaki ku.


Aku begitu frustasi,perlakuan Aditya membuat ku takut. Namun aku terlalu mencintai nya untuk bisa meninggalkannya. Aku bingung,aku gundah,tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Jujur saja,aku lelah dengan sikap nya yang seperti ini.


Keesokan pagi,aku sudah bersiap untuk pergi ke kampus di pagi hari. Semalaman aku tidak bisa tidur memikirkan masalah ku dan Aditya. Aku bergegas untuk bisa secepatnya pergi ke kampus dan pergi dari Aditya sebelum dia bangun,namun ketika aku tengah memakai sepatu suara pintu kamar Aditya terbuka.


“Mau kemana kamu?” Tanya nya di ambang pintu. Aku tak menjawab nya dan tak memperdulikan nya. Aku masih merasa kesal dengan kejadian semalam.


Aditya mendekati pintu dan mengunci nya dengan kunci ganda.


“Apaan sih di aku harus ke kampus hari ini!” Kesal ku melihat kelakuan nya yang semakin membuat ku geram.


“Aku ga izinin kamu untuk keluar!”


“Kamu ga bisa nahan aku Aditya”


“Tentu aku bisa, aku juga ada disini”


Aditya sudah benar-benar gila. Sekarang dia mengurungku di apartemen nya,dia memang ingin membuat ku gila di dalam sini.


Aku melemparkan tas ku ke sembarang tempat dengan kesal,melempar jaket ku ke lantai dan melepaskan sepatu ku lalu menendang nya dengan kencang. Sikap ku yang seperti ini di tulari Aditya,dia yang membuat ku jadi emosional seperti ini.


Dan hari itu aku benar-benar tidak bisa kemana mana selain tiduran di sofa dan menonton tv. Aditya memesan sebuah makanan delivery untuk mengisi perut kami,namun nafsu makan ku saat itu benar-benar hilang. Dia membereskan semua barang-barang yang berserakan,bahkan dia membereskan jaket dan sepatu ku yang aku lempar di sembarang tempat.


Suasana hati Aditya sudah membaik,namun tidak dengan ku yang masih merasa tidak baik-baik saja.


Aku duduk di ujung sofa,dan mengangkat kaki ku ke atas dengan memeluk sebuah bantal.


“Kaki kamu terluka” ucap Aditya ketika dia duduk di samping ku.


Ya kaki ku memang terasa perih karena seperti nya serpihan kaca semalam ada yang mengenai kaki ku. Dan terlihat ada sedikit goresan yang mengering,saat mandi dan terkena sabun pun terasa pedih namun aku tidak menghiraukan nya.


Dia kembali masuk kedalam kamar nya dan mengambil sebuah kotak P3K.


Aditya menyentuh kaki ku,namun aku menghindarkan kaki ku dari nya. Sungguh aku masih begitu marah kepadanya.


“Aku obati dulu luka kamu,ini bisa infeksi takutnya masih ada pecahan kaca di dalamnya” ucap nya sambil kembali menyentuh kaki ku lagi.


“Aku bisa sendiri” ketusku.


“Biar aku Dheb” paksanya.


Dan dia menarik kaki ku kedalam lahunan nya.


Dia meneteskan alkohol di dalam luka ku, aku terperanjat sedikit merasa perih nya ternyata luka ku.


“Sakit?” Tanya nya, namun aku tak menjawab nya.


Dia menotol luka ku dengan kapas,lalu menutup nya dengan plester berwarna bening.


“Selesai” ucap nya lalu aku menarik kaki ku dan kembali menekuk nya.


Aditya menatap ku dengan pilu entah apa yang di fikirkan nya. Apakah dia sudah menyesal bersikap sekeras itu kepadaku ?