
Sesampai nya di Bali aku dan Aditya langsung di sambut dengan hangat oleh Papa dan Mama nya di depan teras. Mereka tampak begitu anggun dan selalu berpakaian mewah,menunjukan bahwa mereka memang keluarga yang berkelas. Aku dan Aditya pun memeluk mereka dengan begitu perasaan rindu.
“Hay Dhebi” sapa Mama Aditya dengan memeluk ku lembut.
“Hay Ma” jawab ku.
“Akhirnya kuliah kamu selesai juga ya” ucap Mama Aditya dengan terus memegang kedua tangan ku dan tersenyum manis menatap ku.
“Iya Ma. Semua berkat dorongan dari Mama” jawab ku dengan manis.
“Ayo masuk. Kalian pasti sudah lapar”
Mama membawa kami masuk ke dalam rumah dan meminta kamu untuk segera makan makanan nya. Setelah kami makan malam lalu kami lekas beristirahat di kamar kami masing-masing. Seperti biasa malam ini aku masih tidur di kamar tamu,dan Aditya di kamar nya.
Baru saja aku akan tidur suara telepon wireless di kamar ku berdering. Telepon itu tampak seperti remote Ac hanya saja berukuran lebih panjang san layar nya berwarna kuning. Baru kali ini aku mendengar telepon itu berdering di atas meja di samping tempat tidur. Lalu aku mengambil nya dan menempelkan telepon wireless itu di telinga ku.
“Hallo” sapa ku dengan hati-hati.
“Hay” sapa seorang pria di sebrang sana yang tak lain adalah Aditya.
“Kenapa belum tidur?” Tanya ku dengan tersenyum.
“Aku susah tidur” jawab nya dengan dingin.
“Lalu? Aku tidak mengizinkan kamu untuk tidur di kamar ini ya” ucap ku menebak isi fikiran nya.
“Kenapa?” Tanya nya.
“Sabar lah sampai kita menikah nanti” ucap ku dengan tersenyum menertawakan nya.
Terdengar helaan nafas yang begitu berat di sebrang telepon.
“Kenapa kita harus kesini sekarang? Kenapa tidak nanti saja saat hari pernikahan kita”
Dia membuat ku tertawa dengan meledak.
“Ini sudah adat istiadat nya seperti itu Aditya. Kita harus ada di sini sebelum hari pernikahan,karena akan banyak sekali hal yang harus kita lakukan sebelum pernikahan. Kamu tidak mau membuat kedua orang tua mu marah kan?”
“Sudah menjadi adat istiadat ku juga membuat mereka selalu marah” jawab Aditya dengan begitu tenang.
“Aditya…” panggil ku dengan mendelikan mata. Selalu memperingati nya jika itu tidak boleh terulang kembali.
“Iyaa,aku tahu. Tidak ada lagi konflik keluarga” jawab nya dengan membaca fikiran ku.
“Ya sudah tidur sana ini sudah lewat tengah malam,bukan nya besok kamu harus pergi dulu ke hotel Nenek ?”
“Iya. Kamu ikut” ucap nya membuat ku mengkerutkan kening.
“Hah? Aku kan harus antar Mama di”
“Tidak. Kamu harus ikut aku kemana pun aku pergi”
Dia kembali membuat ku tertawa.
“Aku kan belum menjadi istri kamu” ledek ku.
“Anggap saja ini simulasi” jawab nya dengan dingin.
“Baiklah”
“I Love you Dhebi” ucap Aditya.
“Selamat malam Aditya” jawab ku tanpa membalas ucapan romantis nya.
Lalu aku menutup telepon nya. Aku sengaja melakukan itu,ingin melihat dia kesal,dan ingin melihat bagaimana reaksi nya.
Namun dia tidak kembali menelepon. Aku menunggu dia beberapa menit,namun tak ada kembali menghubungi ku lewat telepon wireless ataupun telepon genggam. Lalu aku fikir Aditya tidak menyadari itu dan mungkin dia sudah tidur.
Aku mematikan lampu dan segera masuk ke dalam selimut ku untuk tidur. Baru saja aku mau memejam kan mata ku,aku mendengar suara pintu terbuka,aku belum berani membalikan badan ku untuk melihat ke arah pintu,namun tiba-tiba pintu tertutup kembali dan tidak ada orang yang terdengar masuk ke dalam kamar. Aku fikir itu hanya orang yang salah membuka pintu,karena memang pintu di rumah ini terlalu banyak dan hampir serupa. Lalu aku kembali memejam kan mata ku dan berusaha untuk tidur.
“Kamu berani menutup telepon ku sebelum membalas ucapan ku?” Ujar Aditya dengan menatap ku tajam.
Dia membuat ku tersenyum. Aku mengangkat halis ku dan berpura-pura tidak peduli.
“Memang harus?” Tanya ku.
Dia masih saja menatap ku dengan tajam dan begitu dekat di depan ku.
“Kamu harus mendapatkan pelajaran karena itu” ujar Aditya. Lalu dia mencium bibir ku dengan lembut dia menggerakan bibir nya dan naik ke atas tempat tidur,dia memeluk ku begitu erat dan terus mencium bibir ku dengan penuh gairah.
Beberapa saat kemudian dia terdiam menatap ku dengan begitu dalam. Dia tidak melanjutkan keinginan nya,lalu memegang pipi ku dengan halus.
“Masih tidak mau menjawab ucapan ku?” Tanya Aditya menatap ku dengan begitu pilu.
“Setelah menikah nanti baru aku akan menjawab nya” Aku tersenyum kepadanya dan kembali mencium bibir nya.
Tentu aku mencintai mu Aditya.
Keesokan hari nya Aditya sudah bersiap dengan pakaian rapih nya untuk pergi ke hotel Nenek nya disana. Dia di ajak Nenek untuk memeriksa hotel itu,setidak nya Aditya harus tahu tentang semua bisnis yang di pegang Nenek nya.
Hari ini aku ikut memakai baju sopan dan formal untuk mengunjungi Hotel Nenek Aditya,dengan memakai blazer putih dan berbahan tipis juga memakai rok span pendek berwarna abu-abu. Aku juga menggerai rambut ku dengan indah juga merias wajah ku sedikit lebih mencolok. Aku menatap diriku di cermin. Memang benar apa yang di ucapkan teman-teman ku,dengan tidak sadar aku selalu berpenampilan ala korea dan hari ini pun aku menatap diriku seperti artis korea yang selalu berperan sebagai CEO.
Seseorang mengetuk pintu kamar ku. Aku tahu itu pasti Aditya.
Aku langsung membuka pintu dan terlihat lah Aditya di balik pintu dengan memasukan tangan di saku celana nya.
Dia begitu tampan seperti pengusaha muda dan dengam rambut nya yang begitu rapih dan juga begitu mempesona. Dialah CEO muda sebenarnya.
Aditya terpaku melihat ku.
“Siapa kamu?” Tanya Aditya dengan wajah datar nya meledek penampilan ku yang berubah.
“Aku calon istri Aditya Satya Nugraha” ucap ku menyebutkan nama lengkap nya.
Lalu dia tersenyum dan menggandeng ku untuk segera pergi ke hotel Nenek yang berada di Nusa Dua bali.
Hotel itu adalah hotel yang pernah di ceritakan Caca kepadaku. Dia bilang hotel ini adalah hotel besar dan megah disana.
Sesampainya di Hotel kami menemui Nenek dahulu di ruangan nya.
“Hay Nek” sapa Aditya begitu melihat dia di balik meja kerja nya yang begitu besar.
“Hay sayang” sapa Nenek nya.
“Nenek kenapa harus kesini? Kan ada Papa dan Mama yang sudah mengurus hotel inu” Tanya Aditya yang khawatir melihat Nenek nya yang sudah tua.
“Nenek cuma mau mampir mengunjungi hotel dit. Sudah lama sekali Nenek tidak melihat perkembangan hotel” ujar nya dengan memegang kedua lengan Aditya.
“Hay Dhebi” sapa Nenek begitu melihat ku di samping nya.
“Hay Nek” lalu Nenek memeluk ku dengan lembut.
“Bagaimana rencana pernikahan kalian?” Tanya Nenek menatap kami berdua bergiliran.
“Sudah di atur semua Nek. Mudah-mudah an berjalan dengan sesuai harapan” jawab ku dengan lembut.
“Syukurlah. Nenek sudah tidak sabar melihat hari bahagia kalian” ucap nya penuh harap.
“O iya ada yang mau bertemu dengan kamu dit” ucap Nenek mengingat sesuatu.
“Siapa?” Tanya Aditya.
“Anandita” jawab Nenek membuat ku melirik Aditya.
Siapa Anandita? Kenapa aku tidak pernah mendengar nama itu di sebutkan Aditya? Apa dia salah satu teman artis Aditya?