Obsessive Love Disorder

Obsessive Love Disorder
Kembali ke duniaku



Catelin dan yang lain nya sudah mulai di jemput olah supir nya masing-masing sementara.


“Deb kamu pulang di anter siapa ?” Tanya Cateline sebelum dia masuk ke dalam mobil yang sudah menjemput nya.


“Aku…”


“Sama gue” ucap Glenn memotong ucapan ku.


“Oh sama lo, okedeh kalo gitu, hati-hati ya kalian. Thank Dhebii” ucap Catelin lalu dia pergi.


Tersisa aku,Glenn dan Aditya di sana.


“Dit gue juga cabut ya,gue buru-buru” ucap Glenn membuat ku bingung.


“Loh Mas..”


“Oke bye Deb, atiati ya”


“Tapi Mas.. mas Glenn… Mas” teriak ku memanggil nya yang terus berjalan menjauh pura-pura tak mendengar ku.


Apa yang di lakukan Glenn ? Bukan nya dia bilang akan mengantarku ?


Bukan nya aku tidak mau di antar Aditya, tapi.. ah sudahlah.


“Kenapa?” Tanya Aditya yang melihat ku begitu sedih di tinggal Glenn.


Aku membalikan badan ku dan menatap dia dengan emosi.


“Kamu ga liat kita di tempat umum ? Kalo ada orang yang liat kita disini gimana ?” Ucap ku yang terus berhati-hati memperhatikan sekitar.


Lalu dia menarik tangan dan menenteng koper ku pergi. Aku terkejut dan begitu takut ada orang lain yang memergoki kami seperti ini. Atau biasanyaa selalu ada paparazi dimanapun itu,dan aku takut mereka memotret Aditya yang tengah menyeret tangan ku seperti ini. Aku panik,lalu memakai penutup kepala hoodie ku yang berukuran besar ini,dan teru menunduk tak mau melihat sekitarku.


Sampai di parkiran Aditya membantu memasukan barang-barang ku ke dalam mobil nya,lalu dia membuka pintu depan samping pengemudi.


Aku diam di tempatku terus menatap dia dengan kesal.


“Masuk” pinta nya.


Lalu aku pun masuk kedalam mobil nya dengan begitu terpaksa. Setelah aku masuk dia menutup pintu mobil lalu berputar untuk bisa masuk ke kursi pengemudi di sampingku.


Aku memalingkan wajah ku keluar jendela tak ingin melihat wajah nya yang menyebalkan.


Di dalam perjalanan dia terus diam,sama sekali tak mengajak ku berbicara.


“Kamu ga mau nanya kost an aku dimana ?” Tanya ku ketika kita sudah keluar dari jalan tol.


“Untuk apa?”


“Ya anterin aku pulang lah”


“Kita pulang ke Apartemen aku” ujar nya yang membuatku bergitu terkejut.


“Hah? Apa ?!! Apartemen kamu?”


Dia benar-benar sudah gila.


“Aku gamau! Anterin aku pulang ke kost an!” Panik ku dengan nada yang begitu takut.


“Kamu udah jadi pacar aku sekarang,ga mungkin aku banyak samperin kamu di kostan”


“Ya tapi kan ga perlu ke di Apartemen kamu juga di”


Aku mengusap rambut ku dengan kasar. Aditya masih saja diam tak menjawab.


“Aku gamau tau,kamu harus anterin aku pulang ke kostan titik kalo ngga aku loncat dan teriak ya”


Ancam ku dengan memegang handle pintu agar membuat dia percaya dengan hal bodoh ku ini.


“Oke. Tapi kamu jangan pernah salahin aku kalo aku akan terus datang ke kostan kamu untuk menemui kamu atau bahkan aku bisa mencari kamu di kampus jika kamu mau”


Mulut ku terbuka dengan sendirinya,terkejut dan tak percaya dengan apa yang aku dengar ini. Begitu berbahaya sekali ancaman yang di berikan Aditya untuk ku.


“Kasih aku waktu seminggu untuk berfikir”


“3 hari” ucap nya.


“5 hari” timpal ku.


“2 hari”


“Dii…”


“1 hari, aku kasih kamu kesempatan 1 hari untuk berfikir”


Aku berdecak begitu kesal kepadanya. Aditya memang tak mudah untuk di ajak berdebat.


Sesampainya di kostan aku membuka seat belt ku dan di ikuti oleh Aditya yang juga melepaskan Seat belt nya.


“Kamu mau kemana ?” Tanyaku.


“Turunin koper kamu,nganter kamu masuk”


“Ngga ngga usah !!” Panik ku.


“Ga usah aku bisa sendiri, ga perlu di temenin ya” ucapku berusaha untuk menghalangi nya.


Aditya diam tak menjawab.


Aku bergegas turun dari mobil dan menurunkan koper ku di bagasi mobil nya.


Dia membuka kaca jendela nya.


“Kabari aku”


Aku mengangguk dan memberikan senyuman kikuk ku kepadanya.


Begitu masuk ke dalam kamar kost ku yang amat sangat ku rindukan aku langsung menghempaskan diriku ke kasur menatap langit-langit kamar dan memikirkan kata-kata Aditya.


Suara handphone ku berbunyi. Terlihat nama Sisil di layar ponsel ku.


“Iya Sil”


“Lo udah di kostan ?”


“Udah ini gue baru aja nyampe”


“Di anter siapa lo,katanya ga jadi di jemput Zio” tanya Sisil yang membuat ku bingung untuk menjawab nya.


“Di anter.. sama.. pihak management Mas Dias lah” ucapku terbata bata.


“Glenn?”


“Oh oke deh, sampai ketemu besok di kampus ya”


“Okee”


“Bye”


Aku menatap ponsel ku dengan sedih. Sampai saat ini pun aku masih belum bisa jujur kepada ketiga sahabat ku tentang Aditya. Aku bingung bagaimana menjelaskan nya dan aku masih ragu jika mereka tidak bisa menjaga rahasia.


Lalu aku kembali memikirkan ucapan Aditya. Kenapa dia mau aku tinggal di Apartemen nya ya? Apa semua pacar nya selalu tinggal disana ? Aku begitu kesal memikirkan itu sampai aku mengacak acak rambut ku. Karena tidak mungkin aku menuruti keinginan gila nya,bagaimana dengan teman-teman ku jika mereka tau aku sudah tidak di kosan ? Bagaimana dengan kuliah ku jika mereka tau kalau aku dekat dengan artis yang katanya terkenal ? Aku malah semakin kesal membayangkan itu terjadi,aku tidak tahu harus bagaimana dan aku takut menghadapi hari esok.


Keesokan nya di kampus, aku langsung pergi ke ruang MAPALA untuk bertemu dengan Zio dan berkumpul dengan teman-teman ku, sebeum kita masuk ke kelas yang berbeda.


“Hay deb” sapa Zio.


“Hay” jawab ku begitu lemas.


“Lo kenapa ?” Tanya Caca yang sedang duduk di meja.


“Gue cape aja”


“Weitss tambahan tiga hari dua malem,kayanya nya lo banyak maen nih” ujar Sisil.


“Mana ada, gue diem terus di kamar” ucapku sambil duduk di samping Sienna dan Sisil dengan lemasnya.


“Kenapa ?” Tanya Sisil lagi.


“Ga di bolehin maen” jawab ku tanpa sadar.


“Hah ga di bolehin ? Kok bisa??” Tanya Caca yang begitu heran.


Aku yang baru menyadari ucapan ku langsung terlihat kikuk.


“Iya maksud gue ga di bolehin karena.. gue ga di kasih jatah lagi buat jalan-jalan”


Semua orang terheran.


“Ga make sense deh, lo kan bawa uang sendiri Deb” ucap Sisil yang ragu dengan jawaban ku.


Aku berfikir begitu keras untuk mencari alasan yang bagus dan menjernihkan dulu fikiran ku dari Aditya.


“Iya gue kan gak pegang uang cash,gue juga ga ada akomodasi,lagian gue kan kemarin sempet sakit jadi gue lebih milih diem aja di kamar dan jalan-jalan aja sekitar Resort gitu maksud gue” jawab ku terus berkelit, berusaha meyakinkan semua orang di dalam ruangan.


Semua orang akhirnya percaya dan mereka tidak mempertanyakan lagi hal itu. Lalu kami semua bertukar kembali cerita semasa di Sumba kemarin,banyak sekali hal yang lucu yang ternyata tidak kami ketahui satu sama lain,namun aku hanya bisa berbagi cerita sedikit kepada mereka tanpa menceritakan saat-saat bersama aku dan Aditya,aku selalu melewatkan bagian itu untuk ku ceritakan kepada mereka semua.


Beberapa jam kemudian setelah aku selesai dengan kelas ku,aku pergi ke kantin untuk membeli makanan dan menunggu ketiga teman ku selesai dengan kelas nya.


Suara handphone ku bergetar ketika aku akan duduk di salah satu meja disana,aku menyimpan makanan ku dulu di meja dan melihat siapa yang menghubungi ku.


Aditya. Dia terus menelponku,aku sengaja tidak mengangkay telepon nya saat itu,karena aku sudah berencana akan menghubunginya nanti setelah selesai dengan makanan ku,karena aku begitu lapar sekali sekarang. Aku tak menghiraukan panggilan nya,dan terus mengabaikan nya di dalam tasku.


Aku minum lemon squash ku dan tiba-tiba seseorang duduk di hadapan ku dengan memakai kupluk jaket yang di pakai nya dan memakai masker. Aku tersedak ketika aku menyadari itu Aditya.


Aditya hanya diam melihat ku. Walaupun dia memakai masker aku begitu tau ekspresi wajah nya yang begitu kesal.


“Kamu ngapain disini?” Tanyaku begitu kaget.


“Kenapa telpon ku ga di angkat?” Tannya nya balik.


“Ya aku mau makan dulu”


“Aku nunggu kamu dari tadi”


“Dari tadi?” Tanya ku terkejut.


Aku melihat sekitar ku yang begitu ramai.


“Ikut aku” ucapku sambil berdiri dan menyeret nya kesebuah koridor kecil di belakang gedung kampus. Menjauh dari kerumunan orang-orang.


Dia melepaskan masker nya.


“Kamu ngapain sih disini?” Tanyaku.


“Aku udah bilang,aku pasti akan sering menemui kamu di kampus jika aku mau”


“Ya tapi kan kamu gak perlu masuk ke kampus,kamu bisa nunggu aku di parkiran,di dalam mobil kan?”


“Aku udah bilang aku udah nunggu kamu dari tadi”


Aku berdecak begitu kesal.


“Kamu ga ada kerjaan lain ? Pemotretan gitu? Atau shooting mungkin atau..”


“Ngga!” Ucap nya memotong bicaraku.


“Terus tujuan kamu kesini apa? Ga mungkin cuma mau nemuin aku kan?”


“Aku mau makan diluar”


Aku mengangkat kedua halis ku,begitu kesal dengan alasan nya yang tak masuk akal.


“Cuma makan,kamu mau minta anter aku?” Tanya ku dengan menahan emosi.


“Aku mau makan kepiting” ucapnya yang langsung membuat ku teringat tentang dia yang sudah begitu suka dengan kepiting.


Aku memikirkan sesuatu, tak mungkin aku dan Aditya makan di luar bersama. Aku benar-benar takut jika ada orang lain yang tahu bahkan mengekspos keberadaan Aditya.


Suara hadnphone ku bergetar. Itu dari Caca.


“Hallo Ca”


“Hallo Deb,lu dimana ? Ini makanan lo ada di meja mana masih utuh lagi,gue tau banget ini makanan sama minuman elo” kata Caca di sebrang telepon yang bisa menebak Nasi goreng kencur extra pedas dengan telor ceplok dan lemon squash dingin yang selalu menjadi menu favorit ku di kampus.


“Iya Ca sorry gue buru-buru nih,gue lupa kalo gue ada urusan penting”


“Urusan apa?”


“Pokok nya penting, bilang sama semua gue duluan ya”


“Loh emang kelas lo udah selesai?”


“Udah kelas gue udah selesai, bye Ca” ucapku langsung menutup telpon nya. Takut Caca terus menanyakan hal yang tak bisa aku jawab.


“Aku ga mau makan diluar” ucapku menatap Aditya yang begitu tampan.


“Lalu?”


“Anter aku ke supermarket” lalu aku pergi meninggalkan nya dengan cepat dan berhati-hati menatap sekitar takut ada yang memergoki Aditya disini.