Obsessive Love Disorder

Obsessive Love Disorder
Terbaring tak berdaya



Aku berlari melewati lorong-lorong rumah sakit dan mencari dimana ruang ICU berada. Aditya terus menggenggam tanganku dan ikut berlari dengan ku.


Aku memakai baju berlengan begitu panjang dan berukuran oversize juga memakai celana berbahan kain berwarna pink. Sedangkan Aditya memakai sweater coklat dan celana jeans hitam.


Sepanjang perjalanan aku tak bisa menahan tangis ku dan begitu tidak sabar untuk melihat Danu. Lucy sudah ikut dengan Papa nya untuk menjenguk Danu yang baru saja menjalani operasi tadi pagi. Aku tidak menyangka jika setelah kejadian kemarin ternyata malam hari nya Danu sudah masuk ke dalam rumah sakit. Rasa bersalah semakin mengusik ku,aku takut jika kemarin adalah pertemuan terakhir ku dengan Danu,aku tidak ingin itu terjadi.


Aku melihat Lucy di ujung lorong dengan beberapa orang lain nya. Dan dia langsung berdiri ketika melihat aku dan Aditya mendekati nya.


“Dheb” sapa Lucy dengan khawatir melihat ku.


“Bagaimana Danu?” Tanya ku dengan menahan tangis ku.


“Dia baru saja menjalani operasi tapi dia belum sadar sampai sekarang Dheb. Papa nya sedang berusaha membangunkan Danu di dalam” ucap Lucy.


“Ini siapa?” Tanya seorang pria setengah paruh baya yang menghampiri ku dan Aditya dengan memakai baju pasien,


“Ini teman dekat Danu Om” ucap Lucy.


Aku menganggukan kepala ku satu kali kepada Papa Danu untuk menyapa nya,dan berusaha untuk tersenyum kepadanya.


“Ini Dhebi teman Danu ketika sekolah, dan ini Aditya suami nya” ucap Lucy memperkenal kan aku dan Aditya.


“Dhebi?” Tanya Papa Danu dengan menatap ku tak percaya.


“Teman sekolah Danu di Bandung?”


“Iya Om” jawab ku dengan menganggukan kepala ku.


“Dhebi yang sudah menyelamatkan nyawa Danu di hutan?” Tanya nya membuat ku shock menatap nya dengan diam.


Lucy dan Aditya saling melempar pandang.


“Nak. Om belum sempat mengucapkan terimakasih kepada kamu saat itu, dan Om hanya ingat nama kamu dari dulu. Danu sering mengatakan jika kamu adalah malaikat nya”


Ucap Papa Danu semakin membuat ku bersedih.


“Om aku boleh menemui Danu?” Tanya ku dengan menahan isak tangis ku.


Papa Danu membelai rambut ku dan terlihat begitu bersedih namun dia berusaha untuk tersenyum.


“Tentu nak” ucap Papa Danu dan dia berbicara kepada perawat yang ada disana untuk membiarkan giliran ku yang menemui nya setelah dia.


Aku menatap Aditya sejenak memastikan jika Aditya mengizinkan ku untuk menemui Danu di dalam,dan Aditya menganggukan kepala nya dengan tersenyum.


Perawat mengantarkan ku masuk ke dalam ruang ICU dan dia kembali ke luar dan menutup pintu rapat-rapat. Semua orang di luar dapat melihat ke dalam lewat jendela kaca yang begitu lebar. Mereka bisa menonton ku dan Danu dari luar sana termasuk Aditya.


Aku melihat Danu yang sudah terbaring tak berdaya di atas kasur. Selang oksigen terpasang di mulut dan hidung nya. Infusan pun terpasang di tangan nya, dan dada nya pun terlihat di pasang sebuah alat dan di tutupi oleh baju nya. Pendeteksi jantung terlihat ada di samping nya. Danu sedang lemah dan dia masih tidak sadarkan diri,dan perawat bilang jika Danu tidak bisa sadar dia harus kembali menjalani operasi yang bisa membahayakan nyawanya.


Melihat Danu seperti itu begitu menyayat hati ku. Dia terbaring dengan matanya yang tertutup begitu rapat.


“Hay” sapa ku kepada Danu yang sedang tak sadarkan diri itu.


“Itu kan sapaan kamu setiap kali melihat ku Nu. Setiap kali kamu selalu datang seperti hantu, kamu selalu tiba-tiba muncul di hadapan ku entah dimana pun itu. Aku bahkan sempat berfikir jika kamu memasang GPS di punggung ku” ucap ku dengan tertawa di dalam tangisan ku.


“Aku minta maaf karena aku selalu bersikap ketus kepada kamu nu. Aku tidak tahu jika kamu adalah orang yang telah aku selamatkan beberapa tahun lalu. Aku tahu yang kamu inginkan hanya ada di sekitar ku, aku tidak tahu jika kamu akan muncul ketika kita sudah beranjak dewasa dan ketika aku sudah memiliki pasangan hidup lain. Maafkan aku karena aku selalu menolak perasaan kamu,kamu selalu iri kepada Andre yang selalu aku biarkan memiliki perasaan terhadap ku sampai akhirnya dia menjadi teman ku. Selama ini kamu meminta untuk menjadi teman ku,tapi karena ke egoisan ku,aku selalu menolak itu dengan alasan yang tidak jelas. Andai saja sejak awal kamu menceritakan tentang masa lalu kita,aku pasti akan mencoba untuk berteman dengan kamu asal kan kamu tidak mencoba mengganggu bulan madu ku” ucap ku dengan kembali tersenyum walaupun sulit menghentikan air mata ku.


Danu masih terlihat tak bereaksi,dia masih tertidur di hadapan ku dengan tak berdaya. Aku mendekati Danu dan mencondongkan badan untuk berbicara lebih dekat kepadanya.


“Danu bangun. Please,kamu harus bangun. Kamu ingin aku membalas cinta kamu kan? Kamu sudah berhasil nu,kamu sudah berhasil menumbuhkan perasaan ku untuk kamu. Kesabaran kamu dan perjuangan kamu selama ini membuat ku banyak memikirkan kamu,dan ketika aku tahu semua nya aku menyadari jika aku sudah memiliki perasaan kepada kamu Danu” ucap ku dengan mengeluarkan segala yang ada di isi hati ku.


Semua yang aku katakan itu sungguh-sungguh. Aku memang sudah tumbuh rasa kepada nya,bahkan Aditya pun bisa menyadari itu, hanya saja aku menutupi nya karena aku tidak ingin merasa mengkhianati Aditya,bahkan aku membohongi diri ku sendiri untuk terus menyembunyikan perasaan ku kepada Danu.


“Please Danu bangun” ucap ku di dalam telinga nya.


“Aku menyayangi mu” lirih ku dengan terus menangis.


Lalu terlihat kerjapan mata Danu yang seperti berusaha untuk membuka mata nya.


“Danuu” panggil ku dengan terkejut meliht pergerakan mata nya.


“Danu kamu sadar?” Tanya ku menunggu Danu akhrinya membuka mata.


Aku melihat ke luar jendela, dan semua orang di luar sana tampak begitu terkejut dan lalu seorang Dokter dan perawat masuk ke dalam ruang ICU.


Danu membuka mata nya dan langsung melirik ke arah ku. Aku langsung kembali mendekatkan wajah ku dengan tersenyum begitu bahagia. Dokter dan perawat sibuk mendeteksi detak jantung Danu dan kondisi Danu.


“Hay” sapa ku dengan meneteskan air mata ku.


Danu terus menatap ku dengan lemah dan tanpa ekspresi. Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh pipi ku. Itu tangan Danu dengan infusan di punggung tangan nya. Walaupun begitu sangat lemah tapi dia berusaha untuk menghapus air mata ku. Dalam kondisi seperti ini pun Danu tidak ingin melihat ku menangis.