
Kami berpamitan kepada penduduk setempat lalu pergi meninggalkan mereka dengan memberikan mereka sedikit uang untuk ucapan terimakasih karena sudah memberi kesempatan Aditya merasakan acara itu,dan juga sudah membantu mengobati Aditya.
Di perjalanan pulang dia meminta untuk berhenti di salah satu Restaurant yang tidak jauh dari Resort.
Kita bertiga turun dari mobil.
“Dam,lu duluan ke resort , ada yang mau gue beli disini” aku mengerutkan kening ku ketika dia meminta si Sadam sang Assitant ini pergi,
“Terus nanti gue jemput ga ?”
“Ga usah ,kita jalan kaki aja deket ini kok”
Aku terkejut dengan kata ‘kita’ yang dia ucapkan.
“Kita? Ngga ngga, aku pulang bareng Sadam, aku mau istirahat,aku cape” ucap ku dengan hendak pergi meninggalkan nya,namun tas ku di tarik dengan kencang oleh Aditya membuat ku tertarik dan melangkah mundur.
“Lo pulang aja” pinta Aditya kepada Sadam.
Sadam hanya tersenyum lalu dia pergi meninggalkan ku dan Aditya.
“Kenapa ga makan di Resort aja sih, disana juga udah sedia makanan kan ?” Tanya ku kesal.
“Aku mau makan kepiting”
“Ya terus? Kenapa nyuruh aku turun juga disini? Kamu kan bisa makan sendiri ga perlu aku suapin” dia sudah benar-benar menyebalkan.
“Aku gak mau sendiri”
“Ya kenapa ga ngajak Sadam aja sih”
“Dia kan taunya aku alergi kepiting”
Baru saja aku akan memarahinya,namun aku tersadar bahwa berdebat dengan nya bukan lah hal yang tepat. Aku menarik nafasku, agar aku bisa sabar menghadapinya.
“Mas Aditya, aku mau pulang aku ga mau nemenin mas disini dan aku mau istirahat di Resort ,jadi,,, bye bye mas Adi” ucap ku dengan lembut dan memberikan lambaian perpisahan padanya lalu berbalik hendak meninggalkan nya tanpa mendengengar jawaban nya,namun tangan ku langsung di tarik kembali olehnya dan berjalan masuk ke dalam Restaurant.
Aku terus di seret nya menuju meja makan di samping pantai.
“Udah lepasin” ucapku ketika dia sudah memilih tempat duduk.
Aku mengelus pergelangan tangan ku yang kesakitan.
“Duduk!” Perintah nya.
Aku pun duduk di hadapan nya dengan perasaan yang amat sangat kesal.
Dia memesankan makanan untuk ku dan untuk nya. Aditya memperhatikan ku yang terlihat tidak nyaman dan juga terlihat kesal karena nya.
“Kenapa ?” Tanya nya sambil memajukan tempat duduk nya juga melipat kedua tangan nya di meja. Dia bertanya seolah dia tidak sadar sudah berlaku menyebalkan lagi.
“Aku heran aja sama artis-artis,kok bisa berbuat seenak nya ya?” Ucap ku akhrinya.
“Loh aku kan cuma minta di temenin makan doang,bukan minta di temenin macem macem kan”
“Ya tapi kan aku udah bilang aku ga mau,bukan nya itu berarti pemaksaan ya ?”
Dia diam tak menjawab. Dia pasti membenarkan perkataan ku.
Tidak lama kepiting dan pesanan lain nya datang.
“Gunting nya mana ?” Tanya nya padaku. Aku mengerutkan halis ku
“Ya ga di bawa lah”
“Terus makan kepiting nya gimana ?”
“Ya mana aku tau,kamu fikir setiap saat aku bawa-bawa gunting itu ?” ketusku kembali tak memperdulikan nya.
Dia lalu diam kesal tidak tau harus berbuat apa. Aku membiarkan nya yang terlihat sudah tidak nafsu makan lagi, dan begitu terlihat memaksakan dirinya untuk makan seafood lain selain kepiting.
Dia sama sekali tidak menyentuh kepiting nya.
Ada rasa kasihan sebenarnya melihat diia seperti itu,tapi aku berusaha untuk tidak memperdulikan nya.
Aku mengambil satu kepiting di hadapan nya. Dan mulai memakan dengan caraku sendiri. Aku terus menggigit semua bagian kepiting dan memakan daging nya. Berharap Aditya meniru cara ku makan dengan tangan kosong.
“Kamu ga bisa makan kepiting kayak gini?”
Dia hanya diam, dan terus makan makanan nya dengan wajah kesal.
Aku heran kenapa bisa bisa nya aku peduli pada orang yang begitu menyebalkan seperti dia. Lalu aku berdiri dan menghampiri meja kasir.
“Kak ada gunting kepiting? Temen saya ga bisa makan”
“Oh ada sebentar” Lalu dia memberikan gunting yang biasa padaku.
“Ga ada gunting khusus kepiting Kak ?”
“Itu bisa di pake potong potong kepiting kok kak”
“Oh oke deh, makasih ya”
Lalu aku kembali ke meja dan menyimpan gunting di samping piring nya.
Dia terkejut menatap ku,aku kembali duduk dan kembali makan. Namun dia sama sekali tidak menyentuh gunting nya dan terus makan dengan wajah yang begitu kesal.
“Katanya minta gunting,itu aku udah pinjemin gunting tapi malah di diemin” emosiku yang sudah mulai menaik.
“Ya aku ga bisa pake yang ini”
“Kenapa?”
“Ini beda” jawab nya dengan menyebalkan.
“Ckkk,kamu tinggal gunting aja kaya gini apa susahnya, ini ga ada beda nya kok” kesal ku sambil memotong motong kan kepiting kedalam piring nya.
Aku terus mengoceh kepadanya sambil terus menggunting semua kepiting nya. Setelah selesai menggunting semua kepiting kepiringnya aku menatap Aditya yang sudah lebih dulu memperhatikan ku dengan tatapan nya yang begitu dalam dan penuh arti. Dia mengerutkan kening nya lalu dengan raut wajah yang terlihat bingung dia mulai memakan kepiting nya.
Lagi-lagi tatapan diamnya membuat ku bingung. Kenapa aku merasa jika Aditya selalu memperhatikan ku dengan aneh,seolah-olah ada yang aneh di dalam diriku,padahal jika di lihat yang aneh itu dirinya sendiri.
“Kita naik apa pulang nya?” Tanyaku setelah semua makanan yang dihidangkan habis.
“Aku pesen taxi ya” ucapku sambil mengotak atik ponsel ku.
“Kita pakai jalur laut”
Lagi lagi dia membuatku terkejut.
“Pake Jetski sambil main,nanti Jetski nya kita minta penyewanya untuk ambil di Resort”
“Ngga! Aku gamau kamu sendiri aja,aku tetep pake taxi”
Tiba tiba dia merebut ponsel ku.
“Ih apaansih! ” aku berusaha merebutnya kembali,tapi dia terus menghindarkan nya dari jangkauan ku.
“Kamu kok jadi maksa gini” omel ku.
Dia sama sekali tidak menggubrisku yang sudah terlihat kesal,dengan santai dia menyembunyikan handphone ku ke dalam saku celana nya.
Dia menatap ku dengan datar dan begitu menyebalkan.
“Ckk,kenapa aku harus berurusan sama orang kaya kamu?” akhirnya aku menyerah. Aku duduk dengan kesal dan melipatkan kedua tanganku.
Dia tersenyum penuh kemenangan.
Bisa bisanya dia berbuat seenaknya dan bodohnya aku selalu mengikuti keinginannya.
Dia benar benar menyewa Jetski. Ada dua jetski yang sudah tersedia disana, dan kami mulai memakai plampung yang di bawa oleh orang penyewa nya ini,mereka ada dua orang dan mereka memperlihatkan bagaimana cara mempergunakan jetski ini hanya kepada Aditya,aku masih diam saja sambil membenarkan pelampungku. Handphone dan tas di simpan di dalam box khusus anti air yang di sediakan oleh penyewa untuk kami. Lalu dia mulai naik ke salah satu Jetski nya,aku masih diam di pesisir pantai menatap nya dengan kesal,dia memintaku ikut naik ke atas Jetski yang sudah di duduki nya,dan dengan berdecak kesal aku mengikuti kemauan nya dan duduk di belakang dengan hati yang begitu marah. Aku mencari kemana tangan ku akan berpegangan ketika jetski yang cepat Ini berjalan,dan lagi-lagi dengan terpaksa dan tidak ada lagi pilihan lain,aku berpegangan kepada pinggang Aditya dengan hati-hati.
Dan dia mulai menjalan kan aksinya, dengan cepat melajukan Jetski nya yang hampir membuat aku terjungkal.
“Adiiii” Teriak ku memperingatinya untuk hati hati, tapi dia malah tertawa senang dan terus meluncurkan aksinya dengan meloncat loncatkan Jetski diatas air.
Dia terus berputar putar di tengah laut dan meloncat loncatkan Jetski membuat aku melayang layang di atas Jets,tangan ku dengan refleks berpegang kuat dengan melingkarkan tangan ku di tubuhnya lalu seketika Jetski itu kehilangan keseimbanhan dan membuat kita berdua terjatuh kedalam air. Dan bukannya aku memarahinya malah aku ikut tertawa bersama nya.
Aku rasa ini fantastic aku belum pernah merasakan sensasi extreme dengan Jetski,dan itu benar benar memacu adrenalin.
“Bego banget sih kamu” ucapku sambil menertawakan nya.
Dia terus tertawa terbahak bahak kegirangan sambil terus berenang dan mengapung. Lalu dia memandangku, kami bertatapan begitu lama,lalu aku memalingkan wajah ku. Tidak ku sangka orang yang aku nilai begitu menyebalkan seketika berubah menjadi menyenangkan seperti ini.
Lalu kami kembali menaiki Jetski dan segera pulang sebelum matahari terbenam.
“Adi Stop !”
“Kenapa ?” Tanya nya.
“Stop dulu”
Lalu dia memberhentikan Jetski nya di pesisir pantai. Aku langsung turun.
“Aku turun disini ya, aku jalan kaki” Dia mengerutkan kening nya.
“Kenapa ? Ini bentar lagi nyampe”
“Iya justru karna udah deket jadi aku jalan aja”
“Ngga ngga ngga, naik lagi cepet!”
“Gamau”
“Naik Dhebi” Dia terlihat begitu serius memintaku untuk menurutinya.
“Yaudah Kaka boleh turun salah satu ngga ? saya disitu kita tuker tempat” Pintaku pada mas-mas yang mengikuti kami untuk menjaga dan membawa kembali Jetski ke tempat penyewaan.
“Jangan,udah kalian diem aja” ujar Aditya membuat si kedua penyewa itu bingung.
“Kamu kenapa sih? Gamau keliatan bareng aku disana” sindir nya dengan kesal.
“Iyaa” tegas ku dengan begitu jujur.
Aku tidak ingin ada orang lain yang melihat aku dan Aditya seperti ini. Dan aku pun tidak mau di hujani ledekan oleh teman-teman ku karena mereka memergoki ku dengan Aditya telah bersenang-senang.
Lalu diapun ikut turun dari Jetski nya dan melepaskan pelampung nya, dia membantu melepaskan pelampung ku. Aku terus mengerutkan keningku melihat sikap nya.
“sampe sini saja ya kita jalan kaki”
Aditya memberikan beberapa lembar uang lalu pergi melangkah meninggalkan ku yang kebingungan. Aku mengikutinya di belakang, tidak lagi ada percakapan di antara kami, dia terus berjalan mengabaikan ku di belakang. Lalu kita pulang ke kamar hotel kita masing masing.
“Deb lu dari mana ? Ko lo jalan kaki lewat pantai?” Tanya Sienna yang telah berada di resort.
“Caca sama Sisil mana ?” Tanyaku mengalihkan.
“Udah di Resto mereka tadi nungguin lo”
“Yaudah kesana yuk” ajak ku kepada Sienna.
“Ya lo ganti baju dulu dong,baju lo basah gini,abis berenang ya lo?”
Aku malas untuk menjelaskan nya,lalu masuk kedalam kamar ku dan segera mandi.
Setelah mandi dan mengeringkan rambut ku aku pergi ke Restaurant menemui teman-temanku disana dan mendengarkan cerita mereka semua setelah acara masing-masing tadi. Mereka begitu ceria menceritakan hal yang baru saja mereka alami selama kita di pisahkan,sedangkan aku hanya melamun. Memikirkan Aditya.
“Heh lo kok diem aja” tanya Caca.
“Lo abis dari mana kok lama banget” sambung Sisil.
“Ya gue habis nemenin Aditya lah ke acara Festival Adu Tombak itu di,kan lo tau jaraknya lumayan jauh”
“Terus kenapa lo jalan kaki tadi? Basah kuyup lagi” tanya Sienna lagi yang masih belum ku jawab.
Aku menghela nafasku dengan berat. Aku tidak bisa mengatakan yang sebenernya kepada mereka,aku takut mereka malah salah mengartikan kedekatan ku dengan Aditya.
“Tadi dia minta fhoto di pantai sebelah sana, terus dianya ke pantai ke aer gitu, jadi gue juga ikut nyebur deh ke pantai,basah deh baju gue”
Semua membulatkan bibirnya sambil mengangguk.
“Oooo”
Lalu orang yang tengah di bicarakan datang ke Resto dengan wajah nya yang begitu dingin dan pakaian yang sudah di gantinya.
Dia melihat ku sebentar lalu duduk dengan teman teman nya. Aku memalingkan wajahku darinya.
“Gue ke kamar duluan ya boleh?” Pinta ku kepada semua teman ku. Karena tidak nyaman terus berada di sekitar Aditya.
“Kenapa?” Tanya Sienna.
“Duh gue pegel banget pengen istirahat nih, nanti kalo ada apa apa kan bisa di wakilin sama lo ya na” ujar ku memohon kepada SIenna.
“Yaudah sana”
Lalu tanpa berfikir lagi aku pergi meninggalkan mereka dan masuk kedalam kamar ku menghempaskan diri ke atas kasur dan mulai mengistirahat kan tubuhku.