Obsessive Love Disorder

Obsessive Love Disorder
Bunga biru yang meresahkan



Baru kali ini aku merasa badmood untuk pergi diving. Semua ini karena Danu. Dia sudah merusak mood ku yang sebelum nya sudah begitu bersemangat. Aku meminta Wayan untuk membawa ku pulang setelah beberapa menit aku menyelam,lalu pulang dengan perasaan kesal.


Aditya masih tertidur di kamar nya ketika aku sampai di Villa,aku meluapkan kekesalan ku di ruang tamu. Aku melemparkan kacamata diving ku ke atas kursi dan berkecak pinggang mengingat kembali Danu yang ada satu boats dengan ku.


“Kenapa dia masih saja seperti itu sih!” Kesal ku bergumam sendiri.


Lalu aku melirik bunga biru yang sudah menghiasi meja ruang tamu itu sepanjang hari. Aku langsung mengambil nya mengeluarkan dari Vas kaca itu dan membawa nya ke tempat sampah dengan kesal,dan membuang nya.


Aku mulai bingung dan merasa tidak tenang dengan apa yang di lakukan Danu,aku berfikir untuk segera memberi tahu Aditya namun dia masih beristirahat dan tertidur aku tidak ingin membuat dia tambah pusing mendengar Danu ketika dia bangun. Aku membawa handphone di kamar ku dan kembali ke luar. Aku menelepon seseorang yang juga harus tahu tentang ini. Andre.


Aku segera menelepon Andre dengan terus mundar mandir kesana kemari berusaha untuk tenang.


“Hallo Dheb”


“Kamu dimana?” Tanya ku tanpa menghiraukan sapaan nya.


“Aku masih di rumah,nanti sore baru kembali ke Malaysia. Ada apa?”


“Danu ada di sini ndre,dia ada di Bali. Ternyata yang aku lihat kemarin itu benar Danu,tadi aku ketemu sama dia di dive boats,dia juga baru aja mau diving” ucap ku langsung menceritakan kegelisahan ku.


“Kamu ketemu Danu? Tanpa Aditya?” Tanya nya dengan heran.


“Aditya sedang sakit dia insomnia tadi malam,dan baru tidur pagi jam 4,kepala dia pusing jadi aku meminta dia untuk tidur dan aku pergi diving sendiri,aku juga ga tau tiba-tiba Danu ada di sana” ucap ku dengan duduk di kursi panjang di samping kolam renang.


“Dia berbuat macam-macam?”


“Ya memang ngga. Tapi dia berani kirimin buket bunga untuk aku di Venue kemarin dan sebelum nya aku pun ga tahu kalo itu dari dia”


“Aditya belum tahu kalo kamu bertemu Danu?”


“Dia masih tidur ndre”


“Ya sudah,aku coba cari dia dulu sebelum pergi ke bandara”


“Oke” jawab ku dengan merasa sedikit tenang.


“Selama dia tidak mengganggu kamu jangan membuat Aditya khawatir ya” pinta Andre yang sebenarnya sudah aku fikirkan sebelum nya.


“Tapi aku sudah janji untuk tidak menyembunyikan apapun dari Aditya mulai dari sekarang ndre” ujar ku mengingat janji ku kepadanya.


“Dheb,biar aku yang tangani. Selama dia tidak menyentuh kamu atau berbuat kelewatan biarkan saja,jangan membuat Aditya mengeluarkan tenaga nya hanya untuk menghajar dia,biar aku dulu yang mencari nya” Pinta Andre membuat ku berfikir apa yang di katakan nya benar.


“Baiklah” jawab ku dengan begitu lemah.


“Aku dengar kamu mau berlibur ke Sumba kan?”


“Iya”


“Honey moon lah dengan tenang Dheb,bahagialah disana. Aku yakin Danu tidak akan mengganggu mu di Sumba”


“Iya kamu benar,aku harus bisa happy ga boleh terlalu banyak fikiran. Andre terimakasih ya,karena kamu masih begitu baik sama aku,kamu masih mau banyak menolong ku”


“It’s Ok. Aku senang masih bisa dekat dengan kamu walaupun harus seperti ini. Aku senang melihat kamu bahagia dengan Aditya”


“Thank ndre”


“Sama-sama Dhebi”


“Bye”


“Bye”


Lalu aku menutup telepon nya. Dan segera bergegas untuk mandi membersihkan diri ku dari basah nya air laut. Siang hari nya aku menelepon bagian Restaurant memesan makan siang dan meminta segera mengantarkan makanan ke Villa untuk makan Aditya ketika dia bangun.


Aku memesan beberapa makanan berat ke dalam Villa dan sayuran juga buah-buah an untuk Aditya. Dan sekitar jam 13.00 siang Aditya terbangun dari tidur nya dan keluar dari kamar. Aku sedang membereskan hidangan makanan di meja makan saat Aditya keluar kamar dia terlihat begitu lelah dan juga berantakan.


“Hay” sapa ku dengan manis.


“Kita makan dulu” pinta ku menunjukan makanan yang sudah tertata rapih di atas meja.


“Aku mandi dulu” lalu dia kembali menghilang di balik pintu.


Aku tersenyum dan menggelengkan kepala ku.


Beberapa saat kemudian Aditya sudah kembali dengan mengusap rambut basah nya dengan handuk dan memakai celana boxer orange juga baju polos berwarna putih.


“Kamu pesan dari Restaurant?” Tanya nya ketika melihat makanan mewah yang sudah tersedia.


“Tentu saja. Kamu fikir aku harus masak di Villa ini yang belum ada bumbu dapur dan alat masak?” Ledek ku dengan menunjuk ke belakang meja dapur yang hanya terlihat seperti hiasan dapur modern.


Aditya terlihat tertawa.


“Sudah persiapkan semua barang bawaan untuk ke Sumba nanti malam?” Tanya Aditya ketika aku menuangkan minuman ke dalam gelas nya.


“Sudah. Sekarang kamu sudah baikan?” Tanya ku memperhatikan wajah nya yang terlihat sudah lebih fresh.


“Kepala ku masih pusing,mungkin karena kelelahan dan tidak bisa tidur. Tapi aku sudah merasa baikan”


“Aku tidak mau ketika di Sumba kamu malah sakit dan berbaring di tempat tidur” ujar ku dengan wajah mulai cemberut.


Aditya terlihat tersenyum menertawakan ku.


“Bukan nya yang selalu sakit ketika di Sumba itu kamu ya? Kamu sering sekali mengeluh sakit saat kita mau pergi trip” ledek Aditya mengingat kenangan di Sumba.


Aku pun mengingat kejadian itu. Dimana aku hanya berpura-pura sakit untuk menghindari kecanggungan ku kepada Aditya,karena dia telah berani menciuk bibir ku ketika di tebing.


“Sebenarnya aku tidak sakit waktu itu,aku hanya menghindari kamu” ucap ku dengan pengakuan yang membuat ku masih saja malu.


“Menghindari aku?” Tanya nya dengan heran.


“Ya habis kamu buat aku canggung ketemu kamu waktu itu,aku jadi bingung bagaimana berhadapan dengan kamu” jawab ku dengan kikuk.


Aditya kembali tertawa.


“Kamu canggung? Karena ciuman di tebing itu?” Tanya nya dengan masih saja tertawa.


“Adityaaaa” panggil ku memicingkan mata menatap nya untuk memperingati nya jika aku kesal.


“Apa ? Aku hanya bertanya kan?” Ucap nya dengan terus saja tersenyum bahagia.


“Ya udah. Tidak usah membahas itu,cepat makan kamu harus sehat” ucap ku mengalihkan pembicaraan.


Lalu dia berhenti tersenyum dan segera memakan sayuran di hadapan nya.


“Bagaiman diving kamu tadi pagi?” Tanya Aditya membuat ku terdiam sejenak.


“Biasa saja,tidak menyenangkan” ujar ku dengan raut wajah yang berusaha untuk tenang.


“Kenapa?”


“Karena kamu sakit,aku jadi tidak tenang memikirkan kamu” ucap ku berdalih.


Dia mengangkat halis nya.


“Maafkan aku,besok kita akan diving di Sumba” ujar Aditya mencoba membuat ku senang.


“Sakit kepala kamu harus hilang dulu” pinta ku.


“Iyaa” jawab nya dengan dingin dan dia kembali memakan makanan nya.


Aku belum siap menceritakan tentang Danu kepada Aditya. Bukan berarti aku berbohong dan tidak menepati janji kepada nya untuk selalu terbuka,hanya saja aku menunda untuk menceritakan semua itu sampai Andre mendapatkan hasil dan sampai liburan kami sukses.


Andre benar,Danu sama sekali tidak menyentuh ku atau merugikan ku. Hanya saja aku yang terlalu sensitif setiap kali melihat nya di sekitar ku,dia tidak berbuat keterlaluan yang sampai merugikan ku,jadi nanti saja aku menceritakan semua ini kepada Aditya.