Obsessive Love Disorder

Obsessive Love Disorder
Tak lagi bisa menghindar



Kami memulai tugas kami di aula hotel setelah menunggu para artis itu beristirahat dan mandi di dalam kamar hotel mereka.


Aku masih saja gelisah setelah mengetahui jika Andre ada disana. Aku tidak ingin bertegur sapa dengan nya saat ini, aku bahkan ingin berpura-pura jika aku tidak pernah mengenal dia selama ini. Aku harap Andre pun sudah melupakan pertemuan kami di club malam itu.


Aku mengeluarkan masker di dalam tas ku dan segera memakai nya agar aku lebih leluasa berkeliaran di sekitar Andre.


Setelah beberapa artis berkumpul di aula, kami menjelaskan sedikit tugas kami kepada mereka dan memberikan rundown acara yang telah di sesuaikan dengan permintaan pihak artis kepada kami.


“Jika ada yang di tanyakan tentang jadwal boleh langsung di tanyakan kepada Dhebi yang berdiri di sebelah sana” ujar Mas Eko ketika dia sedang berbicara di depan para artis.


Semua mata tertuju kepadaku ketika Mas Eko menunjuk ku, namun tidak dengan Andre yang sibuk menelpon seseorang dengan handphone di telinganya. Syukurlah dia tak mendengar namaku di sebut Mas Eko.


Setelah semua penjelasan selesai kami mengadakan sesi foto dengan para artis. Aku berusaha bersembunyi dan menjauh dari Andre,aku mengambil tempat paling ujung sekali dengan tetap memakai masker ku. Team crew dan para artis sudah berjajar dengan rapih di depan seseorang yang telah memegang kamera atau kita menyebutnya fotografer.


“Ayo boleh yang lain duduk di depan” pinta Rian sang fotografer.


“Yang rapih yaa siap senyum ke kamera” ucap nya lagi siap membidik dengan kameranya.


Aku berdiri paling ujung dan bersembunyi di balik bahu teman ku yang bertubuh tinggi.


“Dheb Dheb lo maju coba” pinta Rian membuat ku kikuk.


Andre terlihat terkejut ketika mendengar sebuah nama yang dia kenal di sebutkan.


Aku melangkah kan sedikit kaki ku untuk meng sejajarkan barisan ku dengan yang lain.


“Buka masker lo bentar Dhebi”


Aku mengangkat kedua halis ku. Dan menatap semua orang yang sudah memperhatikan ku. Dengan kikuk aku melepaskan masker ku dan menyimpan nya di saku celana. Semua orang begitu hening karena perhatian mereka sudah teralihkan oleh Rian yang sedang mengatur posisi ku. Andre melihat ku dan terkejut.


Aku menundukan kepala ku dengan malu. Aku begitu yakin jika Andre pun ikut memperhatikan ku saat itu namun aku tidak berani untuk melihat ke arah nya. Sesi foto di mulai dengan mengambil beberapa jepretan dan dengan gaya yang berbeda beda. Setelah sesi foto itu selesai semua orang bubar kembali kepada kesibukan mereka masing-masing.


Aku langsung kabur dari sana dan menghindar dari Andre. Aku keluar dari aula dan berjalan menjauh dari sana demi menghirup udara segar dengan melepaskan masker ku. Namun seseorang menahan tangan ku.


“Dhebi”


Aku kira aku sudah aman setelah kabur dari aula dengan cepat. Tapi ternyata Andre masih bisa mencariku.


“Dhebi ini bener kamu?”


Aku memulai sandiwara ku.


“Iya Mas, ada yang bisa saya bantu?”


Andre mengerutkan kedua kening nya.


“Ini aku Dheb aku Andre”


“Aku tahu mas. Mas Samuel Andreas penulis novel di film ‘Around The World in County’ ini kan ?”


“Dheb..” dia semakin heran dengan tingkah ku yang seolah tak mengenal dia.


“Dheb kita pernah ketemu di Club malam itu”


“Maaf Mas mungkin mas salah orang. Permisi”


Lalu aku meninggalkan nya berdiri disana dengan wajah yang kebingungan.


Andre masih selalu memperhatikan ku dari jauh dengan diam-diam. Dia masih penasaran dengan ku, dia masih bertanya tanya apa benar aku telah hilang ingatan tentang pertemuan kita di malam itu. Namun rasanya mustahil untuk Andre menerima semua itu,karena tidak mungkin baginya aku melupakan seseorang yang sudah banyak bercerita dengan nya walaupun pertemuan kami hanya sekali.


Keesokan pagi nya kami mulai di sibukan dengan tugas utama kami yaitu mengantar para artis mengunjungi beberapa bioskop untuk laga premier film mereka.


“Dhebi” lagi-lagi Andre menghampiri ku ketika di lobby hotel.


“Iya mas”


“Kamu ga bisa pura-pura ga kenal aku Dheb , aku yakin kamu masih ingat aku”


Aku terus diam tak menjawab nya. Karena aku pun bingung apa aku harus mengakui nya atau terus bersandiwara.


“Aku masih simpan ini”


Dia menunjukan sebuah foto di dalam layar handphone nya. Sebuah foto yang dia ambil ketika di dalam club, aku ingat foto itu di ambil ketika dia meminta tolong agar aku berpura-pura menjadi teman yang sedang di temani nya malam itu,padahal kami sama sekali tidak berteman bahkan sampai saat ini.


Aku masih diam tak lagi bisa menyangkal.


“Aku ga tau apa tujuan kamu pura-pura begini Dheb,tapi aku senang akhirnya kita bisa bertemu disini”


“Maaf Mas aku masih banyak kerjaan”


“Dheb tunggu” dia masih mencegah ku untuk pergi.


“Selama ini aku cari kamu Dheb,aku lupa malam itu untuk minta no kamu,bahkan aku sempat mencari kamu di sosial media dengan berbekal nama Dhebi yang hanya aku tau tapi ga berhasil, sampai akhirnya semesta mempertemukan kita disini”


Kebetulan ? Lagi ?


Ya aku ingat apa kata Sienna, kenapa kebetulan ini harus selalu menimpaku. Aku tidak tahu kenapa Andre mencari ku sampai begitunya, aku enggan untuk bertanya, karena sudah pasti dia akan banyak menjelaskan suatu hal kepadaku, dan aku tidaj ingin semua terjadi lagi, seperti bagaimana awal mula aku dengan Aditya dulu.


“Dheb ada yang mau aku bicarakan”


“Mas maaf. Aku masih sibuk, jadi tolong kerja sama mas” ketus ku membuat dia diam.


Lalu aku segera pergi meninggalkan nya.


Aku dan semua team ku segera menuntun para artis ke sebuah bioskop yang sudah begitu banyak penggemar yang menunggu mereka. Beberapa kamera infotainment pun sudah bersiap mengambil gambar berjajar di dalam sana.


Aku sibuk mengatur para crew dengan membagikan tugas-tugas untuk mereka.


Aku berbicara melalui HT ku seperti seorang intel.


“Mona Mona tolong penggemar yang di depan itu suruh geser ke belakang kamera Infotainment”


“Oke Dheb” jawab Mona di sebrang HT.


Aku memantau acara itu dari jauh,agar aku bisa memperhatikan jelas sekeliling ku. Aku berdiri di belakang sana dengan sebuah lembaran kertas dan HT di tangan ku.


Mereka mulai penyambutan dan mulai sesi berfoto juga sesi wawancara.


Aku melirik Andre sesekali. Dia memang begitu tampan dan mempesona dengan penampilan nya yang casual sebagai sang penulis Novel di film yang besar ini,namun aku tidak menyangka dia adalah orang yang pernah menemani ku di Club malam itu. Aku kira Andre adalah orang biasa yang berteman dengan Lucy. Namun aku baru tersadar, Lucy anak sang pemilik produksi film tidak mungkin memiliki teman yang sembarangan dan terkesan hanya orang biasa,sudah pasti semua teman nya adalah orang yang memiliki derajat yang sama dengan nya.


Andai saja aku mengetahui ini dari awal,aku tidak pernah ingin mengijinkan Andre untuk duduk bersama ku di club malam itu.