Obsessive Love Disorder

Obsessive Love Disorder
Semakin posesif



Ke esokan hari nya seperti biasa aku sudah terbangun di pagi hari dan memasakan nasi goreng yang sudah aku janjikan kemarin malam untuk Aditya. Aku sibuk di dapur sehingga aku tidak tahu jika ternyata Aditya sudah mandi dan telah memakai baju untuk pergi bekerja. Dia keluar dengan membenarkan kancing yang ada di pergelangan tangan nya.


Aku langsung mematikan kompor dan berkecak pinggang menatap nya dengan kesal.


“Kamu mau kemana?” Tanya ku melihat pakaian nya yang sudah rapih.


“Aku kerja,hari ini ada janji dengan client”


“Tapi kamu belum sembuh benar di”


Dia menghampiri ku dan memegang kedua pipi ku dengan tangan nya.


“Selama kamu disini aku akan baik-baik saja di manapun aku berada”


Aku menggelengkan kepala ku menatap nya dengan kesal,dia masih saja keras kepala seperti ini.


“Duduk” pinta ku dengan sinis.


Lalu aku menyelesaikan masakan ku kembali,dan menyajikan nya di atas piring ku dan Aditya. Lalu kami mulai memakan nya.


Aku menuangkan air putih di dalam gelas untuk Aditya dan tak sengaja mendapati Aditya mencuri pandang melihat ku dengan tersenyum.


“Kenapa?” Tanya ku dengan bingung.


“Kemarin aku sakit karena terakhir bekerja aku tidak makan,dan aku tidak ada nafsu sampai malam hari” ucap Aditya mengingat kejadian ketika kita bertengkar dan dia menolak untuk sarapan dahulu dengan ku.


“Bagus” jawab ku dengan mengangkat kedua halis ku.


“Itu akibat nya jika kamu marah-marah sebelum pergi bekerja” ledek ku membuat dia tersenyum.


Baru saja aku akan memasukan suapan nasi goreng pertama ku di mulut,aku merasa perut ku mual. Perut ku seperti bergemuruh dan naik ke atas tenggrokan ku. Aku menutup mulut dan menahan nya di tenggorokan. Aku berlari ke belakang ku dan memuntahkan semua isi perut ku ke dalam wastafel.


Perut ku terkuras habis,Aditya menghampiri ku dan membantu membalurkan minyak angin di punggung ku. Aku mencuci mulut ku dan berdiam sejenak di tempat ku.


“Andai aku bisa menggantikan posisi sakit kamu ketika hamil,aku bersedia untuk menggantikan rasa sakit kamu setiap hari nya”


Aku menatap nya dengan tersenyum merasa lucu dengan apa yang baru saja di ucapkan nya.


“Di. Baru saja kamu sakit satu hari kemarin aku sudah kewalahan dan khawatir apalagi aku harus mengurus mu selama 9 bulan” ledek ku membayangkan dia yang selalu merasakan sakit pasca kehamilan.


“Apa tidak sebaik nya aku memanggil dokter?” Tanya Aditya begitu khawatir.


“Aku mau nya pergi langsung ke dokter kandungan,agar aku bisa merasakan bagaimana mengunjungi Rumah Sakit Kandungan” ucap ku dengan malu.


“Tapi nanti kamu lelah bi”


“Lelah bagimana? Cuma jalan sedikit saja disana,aku juga tidak akan di pinta untuk membersihkan rumah sakit kan?” ucap ku terus menenangkan rasa khawatir nya.


“Oke” jawab nya menyerah.


“Lanjutkan lagi makan nya” pinta ku menyuruh nya untuk kembali menghabiskan sarapan nya.


“Oh iya. Andre bilang dia akan main kesini” ucap Aditya sambil kembali duduk.


“Kapan?” Tanya ku.


Lalu seseorang menekan bel pintu Apartemen Aditya.


“Itu pasti dia” tebak nya.


Aku hendak pergi untuk membuka kan pintu namun Aditya menahan ku dengan isyarat tangan nya.


“Biar aku” perintah nya.


Lalu aku kembali duduk dan Aditya membuka kan pintu Apartemen dengan lebar.


“Hay bro!” Terdengar jelas itu suara Andre walaupun aku tidak bisa melihat nya karena terhalang pintu,Andre menyapa dengan ceria namun tidak di sambut hangat oleh Aditya.


Aditya hanya berdiri dan terpatung dengan raut wajah nya yang bingung. Aku ikut heran melihat ekspresi Aditya yang hanya diam saja.


Aku mendongakan kepala ku untuk melihat apa yang telah membuat Aditya terpatung seperti itu.


“Lucy!!” Teriak ku melihat sosok perempuan memakai baju dres pendek merah dan blazer hitam. Dia terlihat begitu takut ketika melihat tatapan Aditya yang sangat kaku menatap nya.


Aditya mengkerutkan kening nya ketika melihat ku turun dan berlari menghampiri nya. Aku memeluk Lucy dengan lembut.


“Hay” sapa ku sambil melepaskan pelukan nya.


“Hay Dheb. Apa kabar?” Sapa Lucy yang masih saja membuat Aditya terlihat bingung melihat ku.


“Aku baik. Ayo masuk” ajak ku menarik tangan nya dengan ceria.


Terlihat Andre dan Aditya berbicara dulu di ambang pintu sebentar lalu Andre berjalan meninggalkan Aditya dengan wajah nya yang begitu bahagia.


“Waw kebetulan aku belum sarapan” ujar Andre duduk di kursi samping kursi Aditya.


Dan Lucy duduk di samping ku berhadapan dengan Andre.


“Bagaimana kandungan kamu?” Tanya Lucy dengan penuh perhatian.


“Masih mengalami morning sickness,tapi aku bisa mengatasi nya” ucap ku dengan bangga.


“Kenapa kamu tidak bilang kalo kamu mau kesini sih ndre?” Tanya ku sambil menyajikan nasi goreng yang masih tersisa ke dalam piring Andre dan Lucy.


“Aku sudah bilang ke Aditya tadi” jawab nya menatap Aditya.


“Tapi dia tidak bilang jika dia bawa orang lain” ujar Aditya dengan sinis dan terus menyantap sarapan nya.


Ucapan Aditya membuat Lucy tampak tidak nyaman dan merasa malu.


“Dii” ucap ku memperingati nya agar tak bersikap ketus kepada Lucy.


“Oh iya nanti siang gue mau ajak Dhebi jalan-jalan ke luar” ucap Andre meminta izin kepada Aditya.


“Kemana?” Tanya nya dengan mengkerutkan kening tampak keberatan.


“Ke Mall,makan di luar,shopping. Dhebi kan nanti perlu baju baru jika dia hamil kan?” Tanya Andre meminta persetujuan ku.


Aku langsung menganggukan kepala ku dengan begitu semangat nya dan begitu bahagia.


“Ngga!” Jawab nya singkat dengan terus makan, membuat kita semua menatap nya bingung.


“Dia ga boleh kecapean,dan gue ga izinkan dia untuk makan sembarangan” lanjut nya menatap Andre dengan sinis.


“Tapi di. Itu hanya jalan-jalan biasa,aku juga ga mungkin mengitari seluruh mall juga kan?”


“No” jawab nya menatap ku sinis.


“Di” panggil ku kesal.


“Dheb. Nanti kamu kecapean dan kamu pingsan disana gimana ?” Tanya Aditya dengan begitu khawatir nya membuat Andre menahan tawa nya dan berpura-pura meneguk minuman.


“Itu ga mungkin terjadi Oke. Ada Andre dan Lucy yang menjaga aku,aku butuh refreshing di” kesal ku memaksa nya untuk mengizinkan ku.


“Dhebi!” Panggil nya dengan tegas dan di ikuti dengan tatapan nya yang menyeramkan membuat siapa pun yang melihat tatapan itu akan takut dan terhipnotis untuk diam.


“Dengan ndre. Gue ga izinin Dhebi untuk keluar,tapi kalo lo mau temani dia. Lo bisa temani dia disini” ucap Aditya memeperingati Andre agar dia tidak berani untuk membawa ku kabur dari Apartemen nya.


“Oke Daddy” ledek Andre dengan lucu.


“Aku pergi dulu” pamit Aditya dengan berdiri.


Aku ikut berdiri dengan cemberut dan mengambilkan jas juga tas nya di dalam kamar. Aku pakaikan jas di tubuh Aditya dan merapihkan dasi nya,lalu aku memberikan tas kerja kepada nya dengan raut wajah yang masih saja cemberut.


Aku menatap nya dengan kesal namun Aditya menatap ku dengan kasihan.


“Kalo sebelum bekerja aku melihat kamu cemberut seperti ini,bisa-bisa aku tidak lagi konsen untuk bekerja” ucap Aditya membuat ku terenyuh dan mengingat kembali kata-kata Aditya yang mengatakan jika aku adalah penyemangat untuk nya.


Lalu aku tersenyum dengan terpaksa untuk menyemangati Aditya.


“Jelek banget senyum nya” ledek Aditya dengan raut wajah aneh nya.


Aku memukul kecil bahu nya dengan kesal. Lalu dia tersenyum melihat tingakh lucu ku dan mencium kening ku dengan lembut.


“I’ll be back soon” pamit nya.


Dia melambaikan tangan kepada Andre yang sedang menonton drama kami,dan aku melihat Lucy masih saja terlihat kaku menatap Aditya di tempat duduk nya.


Aditya pergi dari Apartemen sambil menutup pintu dengan rapat, dan aku kembali bergabung dengan Andre dan Lucy.


“Lus. Sorry ya atas sikap Adity” ucap ku merasa tidak enak dengan sikap ketus Aditya.


“It’s Ok Dheb. Wajar kalau Aditya masih marah atas apa yang sudah aku perbuat sebelum nya sama dia” ujar Lucy dengan rendah hati.


“Thank you. Kamu pasti tau kan watak keras kepala nya seperti apa?” Tanya ku.


“Of course. Aku masih ingat betul bagaimana sikap batu nya. Dan tatapan nya yang tajam masih saja terlihat menyeramkan” ucap Lucy membuat kita semua tertawa.


Aku senang karena akhirnya aku tidak akan bosan lagi diam di Apartemen sendirian.