
Aku berjalan dengan cepat ke luar gedung dengan terus menyembunyikan wajah ku. Aku tak memperdulikan orang-orang di sekitar ku,kini yang ku inginkan hanyalah menjauh dari kerumunan dan menyendiri.
Aku sampai ke luar gedung dan terus berjalan dengan cepat menuju luar gerbang. Jarak dari studio tv itu ke gerbang memang cukup jauh melewati taman dan beberapa gedung lain juga parkiran. Aku tak peduli dengan pakaian yang ku kenakan saat ini,yang mungkin akan menjadi tontotnan nanti di muka umum ketika aku keluar dari gedung ini,aku sudah tidak peduli lagi.
Seseorang menarik tangan ku dengan cepat dari belakang, membuat ku terkejut dan tertarik ke dalam pelukan nya.
Aditya. Dia terus mencengkram tangan ku dengan kencang dan menatap ku dengan dingin.
“Lepasin aku!” Pinta ku dengan sinis menatap nya.
“Kamu mau kemana?” Tanya nya dengan berusaha tenang.
“Kemana saja asal tidak melihat kamu seperti ini”
“Aku minta maaf”
“Ngga ! Lepasin aku Aditya,aku mau pergi” aku terus berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan nya.
“Aku minta maaf” Aditya terus memegang tangan ku dan tidak membiarkan ku untuk pergi.
“Dhebi please!” Aditya memegang kedua bahu ku dan membuat ku diam dengan nada bicaranya yang mulai meninggi.
“Aku minta maaf, kita pulang sekarang,kita bisa bicarakan ini di rumah” ucap Aditya.
Aku menatap nya dengan tajam dan menggelengkan kepala ku.
“Aku mau pergi di. Sampai kamu bisa menerima kehadiran anak ini,baru aku akan pulang” ucap ku dengan sinis.
Lalu aku menghempaskan kedua tangan nya dan kembali pergi meninggalkan Aditya. Baru saja beberapa langkah aku pergi Aditya tiba-tiba menggendong ku dengan cepat dan membuat ku tidak bisa berkutit,refleks melingkarkan tangan di leher nya karena khawatir akan terjatuh.
Aditya menggendongku dengan menatap ku dengan dingin.
“Aku tidak akan membiarkan mu berkeliaran di luar sana sendiri” ucap nya dengan tajam lalu membawa ku ke parkiran di mana mobil nya berada.
Dengan perasaan yang masih berantakan dan dengan hati yang masih kesal kepadanya aku terpaksa untuk ikut pulang dengan nya.
Aditya melajukan mobil nya kembali ke Apartemen. Sesampinya di Apartemen kita masih perang dingin tak ada satu orang pun yang berbicara. Bahkan ketika tidur pun kita saling membelakangi satu sama lain,tidak ada sapaan selamat tidur atau pun kecupan selamat malam. Dia benar-benar berubah dalam sekejap. Aku menangis di dalam tidur ku memikirkan tentang Aditya yang seperti ini. Aku mengingat lagi kejadian ketika di studio tv tadi. Bisa-bisa nya dia kembali berteriak dan memarahi ku karena telah mengandung anak nya sendiri. Dia bilang dia akan menuruti segala keinginan ku,dia sendiri yang mengatakan bahwa akan mewujudkan segala mimpi ku. Lalu kenapa keinginan ku yang ingin memiliki anak dengan nya tidak dia penuhi?
Kalimat itu begitu menyakitkan di fikiran ku. Aku terus menangis di dalam tidur malam ku yang gelap dan sunyi ini. Entahlah Aditya sudah tidur atau mendengar isakan tangis ku. Aku sudah tidak peduli.
Pagi hari nya aku sudah bangun di pagi hari yang buta,dan malah aku tidak bisa tidur dengan nyenyak karena terlalu stres memikirkan semuanya,dan seperti biasa di pagi hari aku menyiapkan pakaian untuk Aditya bekerja dan segera membut sarapan untuk nya.
Aditya sudah mandi dan dia sudah bersiap untuk pergi di saat aku sedang memasak. Aku hanya menatap nya sebentar lalu kembali melihat ke masakan ku.
“Aku terlambat aku harus segera pergi” ucap nya membuat ku terpatung sejenak dan menyimpulkan apa maksud nya. Dia tidak akan sarapan dulu,bahkan setelah melihat aku memasak seperti ini,dia sudah tidak peduli dengan itu.
Aku tak menanggapi nya dan terus memasak nasi goreng yang masih aku buatkan untuk nya.
“Bi” panggil nya lagi yang masih tak ku gubris.
“Baiklah. Aku akan pulang terlambat jangan menunggu ku” ucap nya lalu dia pergi begitu saja dan kembali menutup pintu Apartemen.
Air mata ku sudah tak bisa terbendung. Aku menangis sejadi jadi nya, dan mematikan kompor dan membiarkan masakan ku terbengkalai di atas nya.
Aku terduduk di bawah meja makan dan memeluk kaki ku dengan terus menangis karena begitu merasa sakit hati atas perlakuan Aditya yang tidak seperti biasanya. Aku membenamkan kepala ku di dalam pelukan ku dan menangis melepaskan rasa sedih ku.
Malam pun datang. Aku masih melamun di depan jendela dan menatap lampu-lampu kota di bawah sana. Hingar bingar lampu kendaraan dan ramai nya kota malam itu membuat ku iri dengan kesepian ku disini.
Aku mengingat masa-masa bahagia ku dengan Aditya beberapa waktu lalu. Dia yang selalu menjaga ku,selalu membuat merasa istimewa dan selalu mengatakan jika dia sangat mencintai ku,sudah membuat ku begitu bahagia. Apalagi ketika dia menginginkan ku menjadi seorang istri nya,itu adalah saat-saat yang paling aku bangga kan selama hidup ku. Aku bahkan tidak percaya jika aku bisa menjalani peran sebagai seorang istri Aditya yang ku kenal begitu posesif dan overprotective. Hal ini adalah awal masalah ku dengan Aditya setelah menikah,namun kenapa hal seperti ini harus menjadi suatu masalah? Padahal untuk semua pasangan suami istri hal ini adalah hal yang paling mereka nantikan dan mereka inginkan. Kenapa semua ini berbeda dengan rumah tangga ku ?
Hari telah berganti menjadi malam. Ternyata benar Aditya memang terlambat untuk pulang dan dia tidak mengabari ku sama sekali. Apa sampai begitu nya dia marah kepadaku,sampai dia menghindari ku?
Aku menghilangkan penat ku untuk berjalan-jalan di sekitar Apartemen. Dan sampai lah aku di skygarden dimana tempat orang lain untuk bersantai atau pun untuk hanya duduk duduk saja melihat pemandangan. Aku memakai sweater pink ku dan memakai celana katun panjang malam itu. Aku pakai kan kupluk sweater ku dan membiarkan rambut ku terurai panjang di kedua bahu ku.
Aku duduk di salah satu bangku taman dan menatap lurus ke depan. Menahan tangis ku untuk tidak keluar dan berusaha untuk menenangkan fikiran ku. Aku memejamkan mata ku dan berharap setelah ku membuka mata semua akan kembali membaik.
“Apa yang sudah Aditya lakukan sampai membuat mu sedih seperti ini?” Ucap seorang lelaki yang telah berdiri di samping ku dengan memakai hoodie hitam dan celana pendek berwarna coklat.
Aku tahu persis suara itu. Lalu aku menatap dia dengan begitu tajam.
Danu.