
Aku sudah begitu lelah dengan teror teror yang Danu lakukan kepadaku. Aku sudah lelah terus menghindari nya,aku harus mencoba untuk menghadapi Danu sebelum dia mengacaukan acara pernikahan ku dan Aditya.
“Dhebi” sapa Aditya ketika melihat ku melamun memeluk kaki ku di dekat jendela menyaksikan rintik hujan yang turun membasahi jendela kamar ini.
Lalu Aditya duduk di hadapan ku dan memegang lutut ku.
“Ada apa?” Tanya Aditya.
Aku menatap begitu dalam mata Aditya.
“Di. Kamu percaya kepada ku?” Tanya ku dengan raut wajah yang begitu pilu.
“Tentu saja” jawab nya dengan raut wajah yang begitu bingung.
“Kamu percaya kan jika aku hanya mencintai kamu” ucap ku dengan begitu bersungguh sungguh.
Dia memandang ku dengan bingung.
“Aku tidak pernah meragukan itu. Aku yakin kamu hanya mencintai ku”
“Bagaimana jika ada orang lain yang mengusik hati ku?” Tanya ku dengan tanpa menyebutkan nama yang sudah melakukan itu kepadaku.
Aditya membelai rambut ku dengan lembut.
“Aku tidak yakin dia bisa merenggut hatimu. Jika dia bisa,berarti dia memiliki sesuatu yang lebih berharga dari yang aku punya. Bukan hanya harta,tapi ketulusan”
Ucap nya mengingatkan aku begitu setia nya Aditya kepadaku selama ini. Dia bertahan dengan perasaan nya untuk ku,walaupun begitu banyak masalah menghadang nya,Aditya bisa begitu mudah untuk melewati nya bahkan seberat apapun itu. Bahkan dia lah yang selalu menguatkan aku jika semua masalah yang kita hadapi akan terasa mudah jika aku tenang. Dia memang telah begitu tulus mencintai ku.
“Aku sangat mencintai mu Dhebi. Aku tidak akan membiarkan orang lain mengambil hati mu. Tapi aku tidak bisa berjuang sendiri. Aku pun membutuhkan kamu untuk menolong ku,dengan tidak membiarkan mereka masuk ke dalam kehidupan mu” ucapan Aditya begitu menampar ku.
Aditya benar. Tentu aku pun harus menguatkan hati ku dengan tidak membiarkan Danu seenak nya mengusik kehidupan ku dan menghancurkan hubungan ku.
Keesokan hari nya aku baru kembali dari tempat laundry yang berada di lantai bawah Apartemen membawa semua pakaian ku dan Aditya yang baru saja di Laundry di sana,karena mesin cuci kami rusak dan Aditya enggan membetulkan nya.
Seorang pegawai Apartemen tampak menghampiri ku dengan membawa sebuah box berwarna putih.
“Mba permisi” ujar dia menghentikan langkah ku.
“Iya” sahut ku dan menaruh tas laundry ku yang kotak besar di lantai.
“Ada yang titip ini mbak” ujar nya memberikan box itu kepadaku. Box itu berukuran besar dan memiliki hiasan pita merah di atas nya.
“Dari siapa?” Tanya ku bingung.
“Saya tidak tahu mbak, tadi dia cuma berpesan kasih ini ke wanita yang berpakaian kaos pink” ucap pekerja itu menunjuk baju ku yang memang berwarna pink. Dan bercelana pendek.
“Oke makasih mas” ucap ku dan mengambil box itu.
Dan aku kembali mengambil tas laundry ku dan pergi menuju lift dengan menenteng box putih yang cantik itu.
Aku menerka nerka apa isinya dan siapa pengirim nya. Lalu rasa cemas kembali menyerangku. Wajah Danu terlintas di fikiran ku,membuat ku panik. Aku menatap pintu kamar mandi masih tertutup rapat dan masih terdengar suara shower yang begitu kencang. Aditya masih mandi di dalam sana
Aku segera melepas pita merah dan membuka box putih yang cantik itu sebelum Aditya keluar dari kamar mandi. Dan aku terkejut melihat sebuh dress berwarna tosca yang begitu tak asing untuk ku,terlipat begitu rapih di dalam box. Aku mengambil nya dan aku merentangkan dress itu untuk melihat jelas bahwa tebakan ku tidak salah. Dan ternyata memang benar.
Ini dress yang aku coba di toko baju waktu itu,ketika Danu menemui ku dan mengatakan dress ini cocok untuk ku. Gumam ku dengan terkejut tak percaya.
Mataku terbuka lebar,aku begitu gelisah,jantung ku berdebar dengan cepat melihat Danu begitu berani memberikan ini kepadaku.
Suara air shower terdengar berhenti. Aditya selesai mandi. Dengan sigap aku langsung memasukan kembali dress itu ke dalam box,dan memasukan nya ke dalam tas laundry yang berwarna abu-abu.
Aditya keluar dari kamar mandi dengan tanpa memakai baju dan hanya memakai boxer hitam. Dia mengusap usap rambut nya dengan handuk kecil berwarna putih.
“Hey” sapa Aditya begitu melihat ku yang sibuk membereskan baju dari dalam tas laundry.
“Hay” sahut ku dengan berusaha untuk tenang. Dan terus terlihat sibuk membereskan pakaian di atas tempat tidur.
“Sudah selesai semua baju nya?” Tanya Aditya.
“Sudah. Kapan kamu mau membetulkan mesin cuci kita” ucap ku mengalihkan fikiran ku agar tampak tenang.
“Kalau aku membetulkan mesin cuci ,nanti kamu sibuk mencuci semua pakaian” ujar Aditya dengan mencari baju di dalam lemari nya.
“Lalu kenapa?” Tanya ku dengan melirik nya dengan ketus.
“Siapa yang akan mengurusku?” Ujar nya dengan tanpa menoleh ku.
Aku tertawa mendengar ocehan nya.
“Kamu fikir aku mencuci pakaian seharian?” Ledek ku dengan terus menertawakan itu.
“Kamu hanya boleh melayani ku,memasakan ku makanan dan selalu ada di samping ku. Selain itu biarkan orang lain yang melakukan” ucap Aditya dengan terus menunjuk ku walaupun dia sedang berpakaian.
Aku tersenyum mendengar nya.
“Baiklah” jawab ku manis.
“Tunggu disini aku harus ke mobil membawa sepatu ku yang tertinggal” ujar Aditya dengan memegang handle pintu.
Aku tersenyum menganggukan kepala ku. Lalu Aditya keluar kamar dan terdengar membuka pintu ruang utama. Senyum ku pudar ketika aku melihat Aditya sudah keluar dari Apartemen. Dan aku kembali melirik box yang tersembunyi di dalam tas laundry ku.
Aku kembali mengambil box itu,dan membuka nya dengan perasaan yang begitu gelisah.
Di malam hari nya aku mengendap endap dari tempat tidur berusaha tak membangunkan Aditya yang sedang tertidur dengan pulas. Aku keluar dari kamar dengan perlahan dan menutup kembali pintu kamar itu. Aku langsung mengambil box putih yang masih aku sembunyikan di dalam tas laundry dan tersimpan rapih di ruang laundry.
Aku memakai dress itu dengan kesal dan menatap diri ku di pantulan kaca jendela. Aku begitu terlihat cantik memakai dress tosca itu dan aku sudah sedikit berdandan dengan menggerai rambut ku. Aku begitu kesal karena mengingat berias seperti ini bukan lah untuk Aditya melainkan untuk surat kecil yang ada di dalam box itu.
-aku ingin kamu memakai dress cantik ini, malam ini di rooftop kita-.