
Aku dan Cateline keluar dari toilet namun kepala ku sangat pusing ketika aku berjalan di lorong. Aku memegang kepala ku dan jalan ku pun sudah terasa seperti melayang.
“Dheb kamu kenapa?” Tanya Cateline.
“Dheb..Dhebi” panggil Cateline menahan lengan ku agar tetap berdiri.
“Aku pusing” ujar ku dengan terus mengerjapkan mata ku yang berkunang kunang seperti vertigo.
“Aku telepon Aditya agar dia kesini” ucap nya melepaskan tangan nya dari tubuh ku dan dia mengambil handphone di dalam tas kecil nya.
Aku berusaha berdiri dengan tegap namun terasa pusing sekali dan aku merasa lemas. Tiba-tiba aku menabrak seseorang di samping ku yang baru saja melintas dan dia menjatuhkan sesuatu ke kaki ku yang terasa begitu berat. Benda itu mengenai luka sobek yang pernah aku alami sebelum nya.
“Aww” teriak ku sambil terduduk. Aku melihat seseorang berlari dengan cepat menghampiri ku dengan pandangan kabur ku. Aku rasa itu adalah Aditya.
“Dhebi” panggil pria itu dengan panik sambil menopang tubuh ku agar tidak terjatuh.
Aku baru menyadari jika itu bukan lah Aditya.
“Danu” lirih ku dengan pelan dan berusaha menatap nya dengan jelas. Ternyata benar itu dia,dia terlihat begitu panik dan terus menopang tubuh ku yang lemas.
Aku sedikit tersadar namun tak sanggup membuka mata dan seperti orang mabuk.
“Kenapa dia?” Tanya Danu kepada Cateline dengan nada yang masih saja khawatir.
“Ga tau tadi dia tiba-tiba bilang pusing dan dia lemes gini” jawab Cateline tak kalah panik nya.
“Nu bantu gendong dia ke ruangan dulu aja”
Aku ingin sekali berontak namun tidak sanggup,aku takut Aditya melihat Danu menolong ku dan dia akan marah besar.
“Biar gue” ujar pria lain yang baru saja datang dengan dingin dan juga panik.
Aditya. Dia baru saja datang dan meminta untuk mengambil alih aku dari gendongan Danu.
Lalu aku merasa tubuh ku terangkat dan Aditya menggendong ku masuk kedalam lift. Aku masih saja merasa sangat pusing dan lemas. Aditya tidak terdengar berbicara apapun namun aku yakin dia sedang begitu khawatir.
Aku di tidurkan di sebuah tempat yang empuk dan nyaman.
“Sayang minum dulu” ucap Aditya mengangkat tubuh ku sebentar dan mendekatkan gelas di bibir ku. Sesudah minum aku di baringkan kembali.
“Gimana dokter nya masih dimana?” Terdengar suara Cateline bertanya dengan panik.
“Dia dalam perjalanan”
Seperti nya Aditya sudah memanggil dokter spesialis untuk datang kesini.
Beberapa saat kemudian terdengar seseorang mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan.
“Dok” sapa Aditya.
“Ini kenapa?” Tanya Dokter terdengar menyimpan peralatan medisnya di samping ku.
“Tadi dia mual-mual di toilet dok,lalu dia mengeluh pusing tiba-tiba dia pingsan begini” jawab Cateline yang pasti membuat Aditya terkejut mendengar nya.
Dia memeriksa detak jantung ku dengan stetoskop nya lalu dia melingkarkan sesuatu di lengan atas ku.
“Kapan dia terakhir datang bulan?” Tanya dokter yang membuat Aditya terdiam.
“Saya lupa,kalau tidak salah sekitar dua minggu kemarin” jawab nya yang memang benar dia tidak pernah tahu jadwal datang bulan ku.
Lalu perut ku di periksa oleh dokter itu. Setelah pemeriksana selesai dia memasukan semua alat medis nya kembalu ke dalam tas nya.
“Istri anda hamil,dan sudah ada sekitar 3 minggu. Dan tekanan darah nya begitu tinggi,dia mengidap hypertensi” ujar Dokter itu yang masih terdengar samar-samar dalam tidur ku yang setengah sadar.
Aku yakin Aditya pasti begitu terkejut. Aku tidak bisa melihat bagaimana reaksi nya sekarang,apakah bahagia atau malah kecewa. Aku harap dia bisa menerima kenyataan ini.
“Hypertensi?” Tanya Aditya tak mengerti.
“Ya dia memiliki tekanan darah tinggi yang amat sangat berbahaya bagi kandungan dan juga ibu hamil. Seharusnya anda memeriksa nya lebih awal”
“Dari mana dia mendapatkan hypertensi itu,karena sebelum nya dia tidak pernah mengatakan jika dia ada mengidap hypertensi dok” tanya Aditya dengan panik.
“Saya sudah catat resep nya. Bapak bisa mencari obat nya segera dan meminta istri anda untuk banyak istirahat dan jangan terlalu banyak tekanan karena akan berpotensi bahaya untuk mereka berdua”
“Baik dok” sahut Aditya dengan lemah.
Sedikit demi sedikit aku bisa sadar dan membuka mata ku dengan perlahan. Akhirnya pandangan ku kembali normal dan rasa pusing ku sedikit hilang.
Aku men dudukan tubuh ku di samping tempat tidur panjang dan menundukan kepala ku untuk menahan rasa sakit di kepala yang masih ada.
“Ibu usahakan makan makanan yang bergizi,jauhi garam dan makanan gurih,jangan terlalu banyak pekerjaan,juga rajin mengecek kehamilan ya” pinta dokter berkata dengan begitu profesional dan baik.
Aku menganggukan kepala ku dengan terus menunduk tidak berani melihat ekspresi wajah Aditya.
“Terimakasih dok” ucap Aditya.
“Saya antar keluar” ujar Gilbran mengikuti Dokter dari belakang.
Cateline menatap ku dengan begitu sedih,lalu dia menghampiri Aditya.
“Ingat dit. Yang di dalam perut Dhebi adalah anak mu,dia sedang menanam sebuah nyawa di dalam rahim nya dan dia juga mengidap rasa sakit yang bahaya bagi ibu hamil” ujar Cateline berusaha mengingat kan Aditya.
Dia menatap ku dengan tersenyum dan keluar dari ruangan ini. Tersisalah aku dan Aditya di dalam ruangan yang mulai hening itu. Aditya tetap berdiri di tempat nya dan aku terus terduduk dengan takut melihat wajah nya.
“Kenapa kamu tidak mengatakan ini sebelum nya?” Tanya Aditya akhirnya memecah keheningan.
“Aku juga tidak tahu jika aku hamil” jawab ku dengan lemah.
“Kamu sudah berhenti minum obat?” Tanya Aditya menanyakan tentang pil penunda kehamilan yang hampir setiap hari aku minum.
Aku menatap nya dengan dingin.
“Ya”
“Sejak kapan?” Tanya nya.
“Beberapa minggu yang lalu” jawab ku dengan berani menatap nya.
“Kenapa?” Tanya nya yang mulai memancing emosi ku.
“Yang merasakan sakit di perut setiap minum pil itu adalah aku di,aku yang selalu merasa kram perut setiap hari nya hanya demi mencegah kehamilan aku,kamu tidak pernah mengerti kan bagimana aku harus selalu menahan kram perut ku setiap hari walaupun hanya sebentar di!” Ujar ku dengan mulai berteriak dan merasa air mata sudah tak tahan lagi untuk keluar dan membasahi pipi ku.
“Aku tahu kamu belum siap memiliki seorang anak,aku tahu kamu pasti akan kecewa karena aku tidak sependapat lagi dengan kamu sekarang, tapi aku juga ingin segera mendapatkan buah hati dari kamu di,aku sudah ingin menjadi seorang ibu dari anak kita” ucap ku dengan terus menangis dan dramatis.
“Tapi kenapa kamu tidak pernah bilang bi? Kenapa kamu malah setuju kita menunda kehamilan?” Tanya Aditya menatap ku bingung namun terlihat juga menahan kesal nya.
“Karena aku takut kamu tidak menerima keinginan ku” ucap ku dengan ragu.
Aditya tampak memijat kening nya,dia mulai mundar mandir kesana kemari. Aku baru menyadari jika dia sudah tak memakai jas nya lagi. Kemeja dia tampak lusuh karena mungkin telah menggendong ku dari bawah sampai sini. Rambut dia mulai terlihat berantakan. Aditya tampak bingung dengan terus berjalan kesana kemari memegang kepala nya.
Lalu dia melempar hiasan lampu di samping tempat tidur ku dengan sekuat tenaga ke lantai. Dia mulai dengan emosi nya,dia kembali tampak seperti Aditya dulu yang tempramental dan tidak bisa mengendalikan dirinya.
“Yang aku mau hanya berdua dulu dengan kamu Dheb!!” Teriak nya dengan mulai terlihat membara.
“Aku hanya masih ingin berdua dengan kamu tanpa gangguan dari yang lain!” Ucap nya membuat ku tersentak kaget dan membuat nafas ku semakin sesak karena kesal.
“Kita sudah banyak menghabiskan waktu berdua sejak lama di, dan aku kira kini saat nya kita sudah harus memikirkan tentang seorang anak”
“Tapi bagaimana dengan impian kita untuk berkeliling Negri ini?! Bagaimana dengan banyak nya rencana kita menjelajahi seluruh pelosok alam?” Tanya nya mengingatkan pembahasan tentang rencana kita itu.
“Kita bisa melakukan nya walau sudah memiliki anak di”
“Bagaimana Dheb?! Jelaskan !! Bagaimana cara nya kita bisa melakukan itu semua dengan kehadiran seorang anak?!” Teriak Aditya yang membuat ku diam menatap nya dengan tajam dan terus meneteskan air mata di pipi ku.
“Kalau kamu tidak menginginkan anak ini,kamu bisa menghilangkan nya jika kamu mau. Dan bisa saja aku juga akan ikut menghilang di dalam kehidupan mu Aditya” ucap ku dengan begitu sedih dan nada yang mengancam.
Lalu aku keluar dengan cepat dari ruangan itu meninggalkan Aditya yang masih berdiri disana. Aku menyeka air mata ku dan menyembunyikan wajah ku dari pandangan semua orang,agar orang-orang tidak bertanya-tanya melihat ku menangis.
Aku melihat ada Danu di sudut lorong di hadapan ku,dia sedang berdiri dengan tegap di depan sebuah pintu dan memandang ke arah ku. Aku menatap nya sebentar lalu berbelok ke sebuah jalan yang lain demi menghindari nya agar tidak berpapasan dengan dia.