Obsessive Love Disorder

Obsessive Love Disorder
Kembali kerumah



Tengah malam ini aku sudah bersiap untuk kembali pulang ke Jakarta di esok hari.


Setelah kejadian sore tadi, aku jadi canggung untuk bertemu dengan Glenn. Aku yakin sikap nya pasti akan berubah drastis kepadaku. Bukan nya aku merasa kehilangan,hanya saja situasi seperti ini akan membuat kita merasa saling tidak nyaman,dan juga aku takut jika ada orang lain yang menyadari perubahan sikap Glenn kepadaku.


Keesokan pagi nya sebelum pergi ke bandara,kita di minta untuk sarapan dulu di resto lalu pergi bersama-sama menuju bandara yang letak nya tidak jauh dari resort kami.


Aku duduk sendiri dengan koper dan tas yang sudah aku bawa ke meja makan. Aku melirik kanan kiri ku,melihat sepertinya belum ada orang yang aku kenal di sekitar ku. Biasanya ada Glenn yang setia menemani ku di meja makan hanya untuk sekedar menemaniku agar aku tidak kesepian,tapi sekarang mungkin Glenn sudah enggan untuk menemuiku lagi.


“Hay deb” sapa seorang laki-laki di belakang ku.


“Mas Glenn!” kaget ku.


Aku bahagia tapi aku pun masih merasa malu dengan nya.


Dia duduk disampingku.


“Kenapa ? Kok malu gitu” tanya nya sambil tertawa.


“Ngga mas” jawab ku yang memang benar terlihat salah tingkah.


“Tenang aja aku ga akan ganggu kamu kok,aku cuma nemenin kamu makan aja biar orang lain ga ada yang curiga” begitu baik dan pengertian nya dia kepadaku membuat ku merasa malu dan tidak enak.


Entah apa yang di bicarakan Aditya kemarin kepada Glenn,yang membuat Glenn pengertian seperti ini,dan bahkan dia tidak ingin ada orang lain yang tahu tentang hubungan ku dengan Aditya.


Terlihat Aditya dan artis lain nya masuk ke dalam Resto dan duduk di salah satu meja yang tidak jauh dengan mejaku. Catelin dan yang lain menyapa ku dengan tersenyum ramah,aku membalas senyuman mereka dengan sedikit kaku.


Catelin duduk di samping Aditya begitu erat nya,dia bahkan terus menggandeng Aditya seakan-akan dia tidak mau kehilangan nya sedikitpun.


“Kamu cemburu ?” Tanya Glenn tiba-tiba sambil memakan sarapan yang ada di piringnya.


Aku menggelengkan kepalaku sambil tersenyum.


“Ngga mas, aku ga pernah bisa cemburu” ucapku dan kembali makan tak mengacuhkan mereka yang ada di sampingku.


“Aku jadi ngerti sekarang, kenapa Aditya begitu marahnya waktu di club,pas aku cerita tentang kamu” ujar Glenn membuatku mengerutkan kening mengingat kembali malam itu yang membuat Aditya menghajar Glenn.


“Cerita tentang aku?”


“Iyaa” jawab nya.


Aku membiarkan dia untuk menelan makanan nya dulu.


“Sorry ya, waktu di club aku sempet bilang sama Aditya. Kalo body kamu mulus, tapi aku ga ada maksud untuk berfikiran kotor atau mau macaem-macem,aku memang mengatakan yang sebenarnya” aku ingat malam itu di club.


Malam itu aku memang memakai pakaian begitu minim sampai perutku terlihat. Dan aku membiarkan Glenn untuk menyentuh pinggangku demi membalas rasa cemburu ku kepada Aditya.


“Oh jadi karena itu” ucapku merasa sama sekali tidak tersinggung.


“Tapi aku bener-bener ga bermaksud rendahin kamu” panik nya takut jika aku merasa terhina di matanya.


Aku tertawa melihat kepanikan nya.


“Ngga Mas tenang aja,lagian malam itu aku memang merasa terlalu vulgar, aku ga pernah kaya gitu sebelum nya, itu bukn diri aku sebenernya. Aku cuma kehasut sama lingkungan aja” ucap ku meyakinkan dia agar dia merasa relax.


Glenn menganggukan kepalanya.


“Lalu kamu?” Tanya nya.


“Hah ? aku?”


“Kamu apa ga cemburu liat dia kaya gitu?” Tanya Glenn menunjuk Aditya dengan garpu di tangan nya.


Aku menoleh nya sebentar. Ya memang Cateline terlihat begitu mesra kepada Aditya,namun Aditya terlihat biasa saja.


“Dari awal aku ga bisa cemburu sama Cateline. Aku udah pasti kalah jauh kalo di sandingkan dia”


Glenn terdiam sejenak memperhatikan aku.


“Inilah istimewa nya kamu” ucap nya tiba-tiba keluar dari pembicaraan.


Aku menatap dia dengan heran.


“Jujur, aku sempat menaruh perasaan sama kamu Dheb, karena kamu humble,rendah hati, cantik, pemberani dan menyenangkan”


aku tersipu mendengar sanjungan nya.


“Tapi ternyata bukan aku aja yang menaruh perasaan sama kamu,saingan ku terlalu berat” ucap nya melirik Aditya.


“Aku juga ga pernah tau mas kalo akhirnya Aditya bisa punya perasaan seperti itu. Karena mas bisa liat sendiri,dia terlalu pendiam,cuek,galak juga menyebalkan”


“Tapi akhirnya kamu jatuh cinta kan sama dia” ledek Glenn membuatku bingung.


“Entahlah mas, aku pun masih bingung mengakui nya”


Glenn mengerutkan kening nya mendengar jawaban ku yang masih penuh dengan keraguan. Dia menyimpan garpu nya,menggegserkan piring nya kedepan dan melipat kedua tangan nya di meja,seperti dia sedang bersiap mengintrogasiku.


“Deb dengarkan aku. Kalo seandainya aku bisa bersaing dengan Aditya, aku pasti bakalan pertahanin perasaan aku yang baru seumur jagung ini untuk kamu. Tapi saat aku tau kalau saingan aku dia,aku lebih baik mundur sebelum aku malah bersaing hebat dengan dia”


Glenn benar-benar serius membucarakan teman nya itu dengn nada yang pelan agar tidak terdengar oleh orangnya langsung. Beruntung pagi itu cukup ramai dan riuh orang-orang beberbicara,sehingga percakapan ku dengan Glenn tidak mungkin bisa di dengar oleh Aditya dan rekan-rekan nya.


“Aku begitu mengenal Aditya, dia itu ga mudah jatuh cinta sama orang lain. Bahkan membangun chemistry secara real aja dia susah, dia cuma pinter ber acting pura-pura mencintai lawan main nya,kamu sendiri pasti bisa liat dan bandingkan, bagaimana dia treat kamu sama treat Catelin kan ? Dia itu Aditya,aktor yang di kenal hebat dalam mendalami peran,ingat ! hanya mendalami peran,bukan mendalami perasaan”


Aku masih terdiam mencerna setiap ucapan Glenn.


“Aku tau Aditya seperti apa,aku tau kalau dia sulit sekali jatuh cinta dengan wanita manapun, aku tau dia hanya cinta dengan orang pilihan nya sendiri,bukan orang yang di pilih sutrada ataupun fans nya. Dan kalau dia udah bilang cinta sama kamu,itu tandanya dia benar-benar jatuh cinta sama kamu Dheb”


Aku paham betul apa yang di jelaskan oleh Glenn,dan aku bisa merasakan jika Aditya memang begitu mencintaiku,namun aku ragu apakah hubungan ini akan berhasil atau tidak,tapi sulit untuk aku menjelaskan kepada Glenn.


“Tapi mas, masih selalu ada keraguan dalam hati aku”


“Pasti. Itu tergantung kamu, mau melawan keraguan kamu atau ngga. Kalo misalnya kamu mau mundur it's ok, aku siap buat maju ngedapetin kamu”


Aku memelototi Glenn karena di keadaan galau ku seperti ini dia masih saja bisa bercanda. Lalu kami tertawa.


aku melirik Aditya yang masih saja mengawasiku dan Glenn dengan tatapan tajam nya yang tidak di sadari oleh teman-teman di sekitarnya.


“Aditya emang seserem itu ya?” Tanya ku setengah berbisik.


Glenn ikut melirik Aditya.


“Kalo dia udah jatuh cinta, dia ga pernah mau wanita nya di deketin cowo lain,tapi ga apa-apa ini kan permintaan dia agar aku bisa de natural mungkin dengan kamu hari ini,agar orang lain ga ada yang curiga”


Aku menganggukan kepalaku,lalu kembali melirik Aditya yang masih saja memantau ku dengan dingin.


Kami bersiap untuk pulang menggunakan mobil 3 seat. Para asisten menaiki mobil yang satu nya dan para artis naik di dalam satu mobil yang sama. Awalnya aku bingung akan di ajak duduk di mobil yang mana,tapi Catelin menyuruh ku untuk masuk ke dalam mobil para artis berada.


Aditya duduk di depan di sampung supir,di kursi tengah ada aku dan Catelin,lalu di kursi belakang ada Glenn dan Andhika.


Di sepanjang perjalanan aku menyibukan diriku dengan membaca buku traveling ku agar aku tidak perlu berinteraksi dengan mereka semua.


“Deb, kamu mau ?” Tanya Cateline menyodorkan cemilan kepadaku.


“Oh ngga makasih mbak” tolak ku dengan manis.


Lalu dia menyodorkan makanan nya ke kursi di depan nya dengan melingkarkan kedua tangan di leher Aditya.


“Kamu mau?” Tanya Cateline pada Aditya dengan mesra nya.


“Ngga,aku ga mau” ketusnya.


“Coba dulu ini enak loh” paksa Cateline.


“Aku ngga mau” ucap Aditya dengan sedikit nada tinggi.


Aku terus pura-pura tak memperhatikan mereka dengan mata terus tertuju pada buku ku.


“Dikit aja Aditya coba dulu”


Aditya terdengar menghela nafas berat dan mengambil cemilan yang ada di tangan Cateline.


Cateline terlihat tersenyum bahagia dan dia kembali bersandar di kursinya.


Cateline begitu memaksa, pantas saja Aditya terlihat tak pernah nyaman dengannya. Karena memang Catelin pun memiliki sikap menyebalkan yang tidak aku ketahui sebelum nya.


Beberapa jam kemudian kami pulang dengan selamat kembali ke Jakarta.


Sebenarnya aku masih penasaran, hubungan ku dengan Aditya apakah akan berlanjut atau tidak? Karena aku selalu berfikir, apakah ketika pulang Adity masih mencintaiku seperti di Sumba ? Jujur saja,terkadang aku masih selalu tidak percaya jika aku bisa di cintai oleh seorang artis yang terkenal,ya, menurut teman-teman ku Aditya cukup terkenal.


“Deb,pulang sama siapa ? Ada yang jemput?” Tanya Glenn saat sudah sampai di lobby bandara.


“Aku di jemput mas”


“Sama siapa ?”


“Sama Zio” ucapku.


“Siapa dia?” Tanya seseorang di belakang ku membuat ku terkejut.


Aditya. Dia sudah berdiri dibelakang ku dengan begitu tegap dan tas gendong di punggung nya.


Aku langsung merasa gelagapan tiba-tiba saja sulit berbicara mengingat dia adalah laki-laki yang cemburuan berat.


“Zio temen aku di kampus, dia ketua MAPALA” ucap ku dengan berusaha tenang.


“Bilang sama dia, ga usah jemput kamu”


Aku langsung menatap nya heran.


“Dia udah mau jemput aku” ucapku setengah berbisik, karena takut jika teman-temannya yang lain mendengar percakapan kita.


Walaupun sebenarnya teman-teman nya yang lain sudah berpencar entah kemana.


“Ya kamu tinggal bilang kalo kamu udah di anter pihak management pulang”


Aku terus menatap nya kesal.


Aku melirik Glenn berharap dia membantu ku atau setidak nya memberi penjelasan. Namun Glenn malah menggedikan bahu nya.


Aku menggelengkan kepala ku dengan kesal langsung membuka ponsel ku dan menghubungi Zio.


“Hallo io” sapa ku kepada Zio ketika dia mengangkat telpon nya.


“Ia deb kenapa ? Udah samape? Bentar ya gue masih di kampus bentar lagi”


“Eh ngga io gak apa-apa, gue pulang di anter management nya Mas Dias kok ini. Lo ga perlu jemput ya” ucap ku sambil melirik Aditya.


“Oh gitu, ya udah deh, gak apa-apa tapikan ?” Tanya nya.


“Gak apa apa kok io thank ya” ucapku.


“Oke bye deb”


“Bye”


Lalu aku menutup telpon nya. Dan langsung menatap kembali Aditya dengan tajam. Namun dia malah langsung meninggalkan ku lagi dan bergabung dengan teman-teman nya.


“Dia tuh kenapa sih mas ?” Tanya ku kepada Glenn.


Glenn hanya tertawa melihat tingkah Aditya,dan menertawakan raut wajah ku yang begitu kesal.


“Mas Glenn kok malah ketawa sih” ketus ku.


“Ngga,, aku cuma ngerasa lucu aja liat Aditya kalo jatuh cinta kaya gitu,posesif hahah”


Dia malah menertawakan ku di saat aku sedang bingung dengan sifat teman nya itu.