Obsessive Love Disorder

Obsessive Love Disorder
Menerima kehadiran si buah hati



Aku terkejut melihat Aditya yang basah kuyup termenung di depan pintu kosan Sienna.


Aku langsung membuka pintu dengan cepat dan menatap Aditya dengan sedih.


“Dii” panggil ku dengan lirih.


Aditya menengadahkan kepala nya dan menatap ku dengan sendu.


“Bi” panggil nya dengan begitu lemah.


Aku langsung memegang baju nya dan memerika pakaian nya yang ternyata benar sudah begitu basah dan pasti sudah menembus ke dalam tubuh nya.


“Baju kamu basah,nanti kamu sakit di” ucap ku dengan penuh khawatir dan terus menyeka air hujan di wajah nya.


“Aku minta maaf” ucap nya membuat ku terenyuh memandang nya terpaku.


“Aku benar-benar minta maaf atas semua keegoisan ku. Aku tahu aku salah,yang aku ingin kan hanya berdua dengan kamu dengan waktu yang cukup lama,aku belum pernah terfikirkan akan memiliki anak dengan secepat ini. Aku terlalu takut untuk kehilangan kasih sayang kamu atas kehadiran anak di antara kita nanti. Aku tahu aku egois,aku tidak pernah berfikir dengan kehidupan ku selanjutnya,yang sudah pasti akan menjadi seorang ayah dan orang tua untuk anak kita nanti. Aku minta maaf Dheb,aku hanya terlalu mencintai kamu” ujar Aditya dengan mata nya yang mulai berlinang air mata.


Aku melihat ketulusan dalam tatapan Aditya,kata-kata nya sangat membuat ku tersentuh.


“Di. Kehadiran seorang anak bukan lah suatu penghalang untuk kita selalu bersama. Justru kehadiran mereka akan memperkuat hubungan kita. Kamu jangan pernah takut kasih sayang aku akan berkurang untuk kamu,karena kasih sayang yang aku begitu dalam dan tidak akan pernah berkurang sedikit pun kepada kamu di. Sementara untuk anak kita nanti,kasih sayang yang aku berikan adalah kasih sayang seorang ibu untuk anak nya,dia tidak akan mengacaukan hubungan kita asal kamu menerima nya dengan tulus. Aku percaya kamu akan menjadi seorang ayah yang terbaik di dunia ini untuk anak kita nanti,aku yakin, anak kita akan bangga mengetahui ayah nya adalah seoranh Aditya Nugraha” ucap ku sambil memegang lembut pipi nya Aditya dengan haru.


Aditya terlihat begitu sedih,dia meneteskan air mata di pipi nya. Mungkin itu adalah pertama kali aku melihat dia menangis seperti ini.


Lalu Aditya memeluk ku dengan erat. Basah kuyup di tubuh nya kini menempel basah di baju ku. Aku membiarkan tubuh ku basah demi melepaskan rindu dengan Aditya. Aku sangat merindukan nya,dan aku bahagia akhirnya Aditya bisa mengatakan penyebab apa yang sudah mengganjal di fikiran nya selama ini. Dia hanya terlalu mencintai ku,dan dia takut kehilangan ku.


Aku memeluk dan bersandar di leher Aditya,terasa panas sekali suhu tubuh nya.


“Dii. Kamu panas” khawatir ku memegang kembali leher dan kening nya.


Aditya tak menjawab dia hanya menatap ku dengan diam.


“Kamu sakit? Kita masuk dulu keringkan dulu pakaian kamu” ucap ku menarik tangan nya namun Aditya terus berdiri di tempat nya tak mau melangkah sedikit pun.


Aku menatap nya dengan bingung.


“Aku mau kita pulang” pinta nya dengan lembut.


“Baiklah,aku bawa dulu handphone ku” ucap ku.


Karena ketika ke sini aku memang tidak membawa apapun selain handphone dan diri sendiri. Baju pun aku meminjam kepada Sienna,dan pakaian dalam di belikan oleh nya kemarin.


Aku dan kembali pulang ke apartemen nya. Kami berdua langsung mengganti baju kami dengan baju tidur dan langsung pergi ke tempat tidur. Aditya langsung menarik selimut dan memeluk ku dengan erat. Terasa sekali suhu badan nya yang banas di dalam selimut. Dia langsung menutup mata nya dan memejamkan mata dengan memeluk ku.


“Sejak kapan kamu sakit?” Tanya ku dengan menatap nya begitu dekat.


“Sejak kamu pergi” jawab nya dengan terus menutup mata nya.


Aku tersentak mendengar jawaban nya.


“Bagaimana pekerjaan mu?” Tanya ku mengingat dia masih begitu di sibukan dengan proyek baru nya.


“Aku minta Zaidan untuk mengurus semua nya” jawab nya dengan masih terus menutup mata nya. Zaidan adalah asisten pribadi nya di kantor,dia adalah salah satu tangan kanan dari Aditya.


Suara nya memang terdengar sumbang karena hidung nya tersumbat. Aku jadi merasa bersalah melihat Aditya sakit seperti ini. Lalu aku memeluk nya dengan erat dan membenamkan kepala ku di dada nya. Dan akhirnya malam itu aku bisa tertidur dengan pulas.


Esok pagi nya aku sudah terbangun lebih awal seperti biasa lagi. Memulai lagi aktifitas ku sebagai seorang istri Aditya dan akan membuat kan sarapan untuk nya.


Namun ketika aku hendak bangun tangan Aditya menahan ku dengan kencang. Aku melirik nya yang masih menutup mata.


“Mau kemana?” Tanya Aditya mengerjapkan mata nya menatap ku.


“Aku mau siapkan sarapan” jawab ku dengan tersenyum manis.


Lalu dia menarik ku dengan kencang dan kembali memeluk ku dengan erat.


“Jangan dulu,aku masih mau seperti ini” lirih nya di telinga ku.


“Tapi kamu perlu sarapan di. Kamu perlu makan obat,agar kamu cepat pulih” ucap ku berusaha membebaskan diri.


“Obat ku hanya kamu. Aku hanya butuh kamu Dhebi” jawab Aditya lagi-lagi membut ku tersentuh dan kembali mengingat memory kita dulu.


Siang hari. Aku membuat kan bubur untuk Aditya,dan membuat mengiris buah-buah an untuk menghilangkan rasa pahit di mulut nya.


Aditya keluar dengan masih memakai baju tidur nya. Sementara aku sudah mandi dan sudah segar memakai baju santai untuk memasak.


“Hay” sapa ku dengan tersenyum.


“Hay” jawab nya sambil dia berjalan mendekati ku dan memeluk ku dari belakang.


“Akhirnya aku bisa melihat kamu memasak lagi di dapur” ujar nya membuat ku mengkerutkan kening menatap nya perlahan.


“Kamu merindukan aku hanya untuk memasak?” Tanya ku dengan sinis.


“Itu hanya sebagian kecil” jawab nya dengan jujur.


“Sebagian besar nya?” Tanya ku.


“Aku membutuhkan kamu untuk jadi penyemangat hidup ku”


Ya seperti itulah Aditya. Selalu bersikap romantis di dalam sikap nya yang dingin dan posesif.


Itulah yang selalu membuat ku percaya jika dia benar-benar mencintai ku.


“Kenapa kamu masak bubur?” Tanya Aditya ketika melihat apa yang sedang aku buat.


“Kamu kan belum boleh makan yang berminyak di”


Raut wajah nya berubah lemas. Dia seperti nya tidak tertarik dengan bubur yang aku masak.


“Setelah kamu sembuh,baru akan aku masakan kepiting favorite kamu” rayu ku agar dia mau sehat dulu.


Lalu dia duduk dengan malas di kursi nya dan menunggu ku untuk menyajikan nya. Setelah aku menuangkan bubur ke dalam mangkuk nya dia terlihat begitu terpaksa memakan nya.


Aku duduk di hadapan nya dan melihat nya makan.


“Kamu tidak makan?” Tanya nya dengan dingin menatap ku.


“Aku bisa makan nanti,aku mau masak ramen” jawab ku dengan membayangkan kuah ramen pedas yang ingin segera aku makan setelah Aditya menghabiskan makanan nya.


Karena aku takut Aditya tergoda dengan ramen ku.


“Ramen spicy?” Tanya Aditya.


“Ya” jawab ku dengan antusias.


“No Dhebi. Aku ga mau kamu sakit perut dan membahayakan anak kita” jawab Aditya dengan tegas dan raut wajah nya yang serius.


Aku terpatung sejenak mendengar Aditya mulai perhatian dengan kehamilan ku,dan perasaan ku dia kali lebih bahagia akhirnya Aditya bisa menerima kehamilan ku. Aku berusaha menyembunyikan rasa bahagia ku.


“Aku akan baik-baik saja di. Lagian kan aku sudah biasa untuk makan pedes sebelum nya” ucap ku memohon untuk dia tidak melarang ku.


“Tidak. Aku tidak mau kamu makan sembarangan,jangan membantah” ucap Aditya mulai menyebalkan.


“Di. Itu hanya ramen biasa,aku bisa mengurangi pedas nya”


“Tidak,aku bilang jangan jangan”


“Oke aku tidak akan memakai pedas”


“Memang enak ramen tanpa pedas?” Tanya nya menyelidik wajah ku.


“Ya mungkin sedikit”


“No Dhebi”


“Dii”


“Aku bilang tidak,tidak!” Tegas nya sambil menatap ku tajam membuat ku terdiam dan menatap nya dengan cemberut.


Walaupun aku senang akhirnya Aditya menerima kehamilan ku,namun seperti nya apa yang di katakan Cateline benar. Jika suami akan lebih perhatian ketika kita sedang hamil,dan Aditya sudah membuktikan nya. Dia juga lebih tambah posesif dan menyebalkan saat ini.