
Acara Roadshow yang tidak pernah aku harapkan akhirnya datang juga. Aku harus mengendalikan diriku ketika berhadapan dengan Aditya dan bersikap se profesional mungkin dengan dia.
Aku bersiap menyambut Aditya dan team nya masuk kedalam hotel. Seperti biasa dengan perintah ku,semua crew lapangan mengikuti arahan dari ku untuk melakukan pekerjaan nya masing-masing.
“Hay Dhebi” sapa Jimmy ketika aku sedang mengecek ulang catatan ku.
“Hay Jimmy” sapa ku dengan menoleh nya sebentar lalu kembali sibuk mengecek catatan di lembaran kertas.
“Sibuk banget Ibu ini” ledek nya.
“Ada apa Jim?” Tanya ku yang amat sangat terganggu dengan kehadiran nya.
“Aku mau ngobrol aja sama kamu”
“Jimmy aku lagi sibuk” ketus ku.
“Oke oke, tapi nanti aku minta waktu buat ngobrol sama kamu”
“Iya tapi nanti ya” ucap ku dengan penuh kesabaran.
Lalu Jimmy pergi dengan senyuman yang manis. Aku menggedikan bahu melihat tingkah nya yang membuat ku geli lalu pergi dari tempatku.
Aku berjalan menuju kamar ku melewati lorong kamar-kamar hotel yang tertutup rapat. Lorong itu di alasi karpet yang begitu tebal dan lembut,dinding di sepanjang lorong hotel ini semua berwarna cream. Aku berjalan cepat menuju kamar ku karena ingin segera beristirahat dari seharian bekerja yang melelahkan. Namun aku melihat seseorang di ujung lorong tengah berjalan kearah ku dengan memakai kaos putih dengan outer kemeja kotak-kotak, celana berwarna jeans hitam,sepatu kets berwarna coklat, berjalan ke arah ku dengan tampan nya.
Aditya.
Langkah ku terhenti sejenak ketika melihat dia berjalan ke arah ku dengan tatapan nya yang begitu dingin.
Aku menelan ludah ku untuk membasahi kerongkongan ku yang terasa kering, lalu kembali melajukan langkah ku dengan wajah yang tertunduk. Langkah kami semakin mendekat terdengar, semakin dekat jantungku semakin merasa berdebar. Entahlah,mungkin aku terlalu gugup berhadapan dengan nya,aku teringat telah mengatakan hal yang membuat dia marah terakhir kali di Apartement ku, aku jadi canggung bertemu dengan nya. Semakin dekat ternyata Aditya melewati ku begitu saja,dia tidak menoleh ku sama sekali ketika berpapasan. Seolah dia tidak mengenali ku,dia benar-benar semarah itu dengan ucapan ku saat itu. Hati ku merasa sakit melihat dia tak acuh seperti ini. Aku merasa kehilangan dia.
Acara Roadshow pertama sukses di lakukan. Beberapa wartawan sudah menunggu mereka untuk di wawancara di lobby bioskop. Aku menunggu mereka dengan sabar di luar bioskop dengan minuman di tangan ku.
“Woyy kenapa lo?” Tanya Amel mengejutkan ku.
“Kenapa apa nya?”
“Lo keliatan ga semangat gini kerja”
“Gak apa-apa gue biasa aja”
Amel ikut berdiri di sampingku memperhatikan para artis yang sedang di kerumuni wartawan. Kami berdua melihat Aditya yang menerobos keluar dari kerumunan netizen juga media dan segera pergi dengan cepat dari sana.
“Si Aditya kenapa sih? Selalu aja ngehindarin wartawan?”
Aku memperhatikan Aditya dan beberapa asisten nya yang sudah berjalan menjauhi kerumunan dan menghilang dari pintu lift.
“Dia kayak nya ogah banget di wawancara tentang acara pertunangan itu”
Aku meneguk kembali minuman yang ada di tangan ku merasa panas mendengar Amel membicarakan pertunangan Aditya dan Lucy.
“Dan katanya cincin Aditya juga udah ga di pake loh Dheb”
“Oya?” Tanya ku tak menyadari itu.
“Iya bener, lo ga perhatiin”
Aku melengkungkan bibir ku kebawah dan menggedikan bahu ku. Menandakan aku tidak tahu dan tidak perduli.
“Dia tuh udah tunangan bukan nya kelihatan bahagia malah keliatan sedih tau ngga”
“Apaan sih lo so tau banget” ucap ku terkekeh.
“Ih bener Dheb”
Aku sudah muak mendengar pembahasan tentang ini.
“Ya udah udah udah ,udah ya gosipin artisnya, mending lo kerja lagi sana” ucap ku mendorong punggung nya agar pergi dari ku.
Amel terlihat kesa namun dia menuruti perintahku.
Amel benar. Aditya memang tidak pernah mengharapkan pertunangan itu terjadi. Dia sendiri yang mengatakan jika semua itu masih termasuk ke dalam misi nya. Walaupun aku tidak tahu pasti apa yang di maksud Aditya,namun aku begitu penasaran apa tujuan Aditya berbuat seperti ini.
Malam hari nya kami semua kembali ke hotel setelah Roadshow hari pertama selesai. Handphone ku berdering.
“Hallo”
“Hallo Dheb”
“Iya kenapa Ndre?”
“Kamu masih di hotel?”
“Iya aku masih ada Roadshow kan cuma 3 hari”
“Gimana disana?”
“Gimana apanya?”
“Aditya masih ganggu kamu?”
Aku menghela nafas begitu malas nya.
“Ngga Ndre, sejauh ini dia tidak mengganggu aku sama sekali, bahkan seperti nya dia udah ga tertarik untuk sekedar nyapa aku”
“Oiya? Bagus dong”
Aku tahu dia senang mendengar itu.
“Iya kamu tenang aja ya”
“Iya Dheb aku cuma mau mastiin kamu baik-baik saja”
“Aku baik kok”
“Ya sudah selamat malem Dhebi selamat beristirahat”
“Selamat malam juga Andre”
Aku menatap layar ku mengerutkan kedua keningku. Dia menelepon hanya menanyakan tentang Aditya saja, sungguh penting sekali.
Tiba-tiba seseorang menggedor pintuku.
Aku langsung membuka nya.
“Hay Dheb”
Sapa seorang pria yang sudah berdiri di balik pintuku.
“Jimmy?” Kaget ku.
Dia tersenyum begitu menyeramkan.
“Kamu ngapain?”
“Aku mau ngobrol sama kamu”
“Jim,bisa nanti lagi ga? Aku cape mau istirahat” Ucap ku dengan kesal.
“Tapi aku mau bicara dulu sama kamu,sebentar aja”
Tercium bau alkohol dari nafas Jimmy. Dia seperti nya habis pesta minuman dengan teman-teman nya di bar hotel ini.
“Ngga Jim aku ga mau, aku mau tidur mending kamu pergi dari sini”
Aku mencoba menutup pintu kamar ku namun Jimmy menahan nya dengan satu tangan nya.
“Dheb, kamu kenapa sih? Ga pernah kasih kesempatan aku untuk bicara sama kamu”
“Ya karena ga ada waktu Jim, sekarang posisi nya aku lagi kerja dan aku ga mau ada orang yang liat kamu ada disini”
“Gak akan ada orang yang liat Dheb”
“Apasih Jim kamu lagi mabuk,mending kamu istirahat tidur di kamar, besok masih harus Roadshow kan?”
“Dhebii”
dia memaksa masuk ke kamar ku. Aku semakin takut dengan dia yang memaksa masuk seperti ini. Kenapa di saat seperti ini tidak ada orang yang melintas untuk membantu menghajarnya.
“Ngga Jim kamu ga boleh masuk”
“Dheb.. Dhebi” dia terus saja berusaha menahan pintu kamar ku.
Lalu tiba-tiba dia terhempas ke luar kamar ku sampai terpental di tembok di depan kamar hotel ku. Seseorang telah mendorong dia dengan kencang.
Aditya.
Aku terkejut melihat dia datang dengan wajah yang begitu emosi.
Aditya berjalan mendekati Jimmy dan berdiri di depan ku. Aku pun bisa mencium bau alkohol di tubuh Aditya.
“Aditya?!” Jimmy heran melihat Aditya seperti itu.
“Lo mau apa?” Tanya Aditya dengan sinis dan masih dengan penuh kesabaran.
“Gue cuma mau ngobtorol aja sama dia”
Aku masih diam di belakang Aditya dengan panik berjaga-jaga takut mereka melakukan hal yang akan mengundang orang lain keluar kamar.
“Pergi masuk ke kamar lo!”ucap Aditya.
“Lo kenapa sih?!” Teriak Jimmy dengan kesal.
“Gue cuma ada urusan aja sama dia,urusan lo apa ?!”
“Gue bilang pergi Jim, jangan sampe gue seret lo dari sini” Ancam nya dengan nada yang masih begitu tenang.
Namun Jimmy diam terus menatap nya dengan bingung dan kesal. Matanya sudah begitu teler terlihat sekali dia sudah mabuk berat.
“Kalo gue ga mau,lo mau apa ?” Tantang nya dengan tak sadarkan diri dia telah membangunkan amarah Aditya.
Aditya tampak mengepalkan lengan nya. Aku tahu Aditya pasti akan menghajar Jimmy habis-habisan disini. Dengan cepat aku langsung menyentuh bahu Aditya agar dia tetap tenang tak tersulut emosi nya,aku mengelus punggung nya dengan lembut berusaha membuat dia tenang agar tidak melakukan hal yang bodoh. Aku sambil melirik kanan kiriku,takut penghuni hotel lain terganggu dengan suara bisi mereka.
Walaupun Aditya tak menoleh ke arah ku, namun seperti nya usapan tanganku di punggung nya berhasil menenangkan dia.
“Balik ke kamar Jim, besok kita masih harus kerja” ucap Aditya dengan masih menahan emosi nya.
Jimmy berdecak kesal. Dan dia menatap ku dulu sebelum pergi. Aku memalingkan wajah ku darinya dan terus bersembunyi di balik tubuh Aditya.
Jimmy akhirnya pergi dari lorong hotel ku dengan masih saja kesal dan menghilang di dalam lift yang berada di ujung lorong. Setelah Jimmy pergi Aditya membalikan badan nya dan berdiri begitu dekat di hadapan ku.
Dia kembali menatap ku dengan tatapan nya yang menakutkan. Aku balik menatap nya dengan cemas,karena masih saja shock dengan tingkah Jimmy yang hampir saja berbuat gila.
“Kalo kamu udah ga peduli lagi sama aku, jangan buat aku peduli sama kamu” ucap nya membuat hatiku begitu tertusuk.
Aku menatap dia begitu sedih.
Walaupun dia marah tetapi dia masih sangat begitu memperdulikan aku dan melindungiku.
“Kamu bisa kan ga buka pintu sembarangan kalo lagi di kamar hotel seperti ini ?!”
“Iya,aku ga tau itu Jimmy”
“Ya siapapun itu kamu ga perlu buka kamar kamu untuk orang lain, bisa aja itu orang yang lebih jahat dari dia kan?” Ucap nya dengan kesal.
“Apa guna nya lubang intip di pintu kamar kamu ? Kalo kamu masih aja buka pintu untuk siapapun” lanjut nya dengan terus menceramahi ku.
“Iya aku minta maaf”
Dia masih saja emosi. Aku takut untuk menatap nya.
“Tutup pintu sekarang,jangan pernah buka kan pintu untuk siapapun lagi”
Dia hendak meninggalkan ku dan aku menahan tangan nya. Aditya menatap ku menunggu ku untuk bicara, wajah ku tampak seperti anak kecil yang merasa bersalah.
“Terimakasih”
Dia tak menjawab,dia melepaskan tangan nya dari genggaman ku,lalu kembali pergi dengan tak acuh. Aku menatap punggung nya yang semakin menjauh,jujur saja aku merindukan nya,tapi aku kembali dengan pendirian ku untuk tidak membuat dia kembali kepadaku.
Aku meneteskan air mata dan kembali ke kamar ku mengunci pintu nya,dan berbaring di tempat tidur untuk merenungi semuanya.