
Hari itu aku memutuskan untuk tidak pergi ke kantor. Aku meminta izin untuk mengambil libur hari ini.
Aku tidak bisa meninggalkan Apartemen ku selama masih ada orang yang sedang sakit di dalam sana. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan Aditya,aku tidak mau tiba-tiba dia sakit parah karena tidak ada yang merawat nya.
Selama di dalam Apartemen pun aku tak ada tegur sapa dengan dia. Dia bebas melakukan apa pun di Apartemen ku namun tidak boleh masuk kedalam kamar ku. Aku diam menonton tv di kamar dan dia menonton tv di ruang tengah.
Ketika sore menjelang aku berniat untuk pergi ke supermarket membeli bahan makanan.
“Mau kemana?”
“Supermarket” ketusku.
“Aku ikut”
Aku memelototi nya dengan kaget.
“Ngga!” Sinis ku.
“Kamu lagi sakit,kamu ga boleh kemana mana”
“Aku bosan disini terus bi”
“Ya kalo gitu kamu tinggal telepon supir kamu untuk jemput kamu dan pulang”
“Ngga!”
Aku menatap nya dengan kesal.
Akhirnya aku memperbolehkan dia ikut dengan syarat harus menutup wajah nya dengan topi dan masker.
Dia mengekor ku di belakang,terus mengikuti aku berbelanja di supermarket. Memang kemarin aku baru saja belanja dengan Sienna disini, namun kemarin aku hanya berbelanja untuk acara memasak daging saja di Apartemen dan aku tidak tahu akan mendapatkan tamu lagi setelah itu.
Dia membawa trolley ku ke bagian seafood, dia mengambil beberapa potong kepiting dan di masukan kedalam keranjang trolley. Aku menggelengkan kepalaku melihat dia yang begitu semangat memilih kepiting.
Selesai membayarkan belanjaan ku,Aditya mengambil kantung belanja yang besar di kedua tangan nya.
“Sini aku bantu” ucap ku berusaha merebut kantong belanja di salah satu tangan nya.
“Ga usah aku bisa sendiri” ujar nya menghindarkan kantung belanja itu dariku.
Dia lalu berjalan meninggalkan ku yang berdiri memperhatikan nya.
Aku mulai memasak di dapur ku dengan tenang. Aditya diam di sofa ruang tengah mengistirahatkan tubuh nya yang terasa lemas karena sudah di bawa jalan-jalan. Itu salah nya sendiri mengapa mau ikut ke supermarket dengan ku padahal tubuh nya masih terasa lemas.
Aku memasak kepiting yang sudah di beli nya. Mungkin dia begitu merindukan masakan ku sampai dia begitu semangat saat tau aku akan berbelanja bahan makanan.
Aku menyimpan masakan yang telah ku buat di meja makan mini ku. Aditya duduk di hadapan ku bersiap untuk makan.
“Kamu kan lagi sakit di,kenapa mau makan yang berminyak dulu sih ?” Omel ku dengan tetap menyiapkan semua makanan di meja makan.
“Mungkin aku sakit karena rindu kepiting ku”
Ujarnya kembali membuat ku terpatung menatap nya. Dia berbicara dengan raut wajah yang tetap menyebalkan dan dengan dingin.
Dengan semangat dia menaruh kepiting berukuran besar keatas piring nya. Dia mengambil sebuah gunting yang ada di samping nya dan mulai memotong motong kepiting dengan sendiri karena dia sadar jika aku mungkin tidak lagi akan membantu nya untuk memotong kepiting itu.
Dia terlihat kesulitan untuk memotong kepiting. Namun dia berusaha untuk tidak meminta pertolongan kepadaku dan akupun berusaha untuk tak memperdulikan nya. Aku lihat dia sembarangan memotong cangkang kepiting sehingga cangkang nya menjadi serpihan kecil.
“Ck.. kamu bisa motong yang bener ga sih?” Ucap ku dengan kesal,karena dia sudah amat mengganggu ku.
Aku merebut gunting itu darinya dan mengganti piring nya dengan piring yang baru. Aku tidak mau kisah pahit nya dengan cangkang kepiting kembali terulang.
“Jangan makan yang ini kalo kamu ga mau merasa hampir mati lagi!” Omel ku menunjuk piring sebelum nya.
Aku ambil kepiting yang lain ke atas piring nya dan akhirnya membantu memotong motong kepiting itu.
Aditya mulai makan dengan lahap. Aku tatap dia dengan begitu menyedihkan.
Andai saja malam itu aku tidak pernah me mamatai matai nya ke club malam. Sampai saat ini mungkin aku masih akan terus memasakan nya kepiting untuknya. Aku kembali teringat Lucy. Bagaimana aku bisa memikirkan hal semacam itu sedangkan Lucy sekarang sedang berjuang mati-mati an untuk mendapatkan hati Aditya.
Setelah makanan hampir habis sebuah telepon masuk kedalam handphone ku.
Andre.
Aku melirik Aditya yang ternyata sudah lebih dulu melihat nama di layar ponsel ku. Aku mencuci tangan ku dan segera mengangkat telepon nya.
“Hay”
“Hay”
“Kenapa?”
“Kamu dimana?”
Nada Andre masih terdengar ketus. Mungkin dia masih ada rasa kesal sampai saat ini.
“Aku lagi di luar,kenapa?”
“Ngga aku cuma mau minta maaf karena udah kesel banget sama kamu”
“Gak apa-apa Ndre aku ngerti ko”
Aku masih terus melirik Aditya yang berpura-pura sibuk dengan makanan di depan nya.
“Kamu kenapa Dheb?” Tanya Andre merasa ada yang aneh.
“Hah? Ngga gak apa-apa”
“Nanti malam kita ketemu yah?”
Aku kembali menatap Aditya yang sudah mulai merasa tidak nyaman. Dia meninggalkan makanan nya di meja,dan langsung mencuci tangan nya dengan raut wajah yang kesal. Dia duduk di sofa dengan menyalakan tv,mungkin dia tidak ingin mendengar percakapan ku dengan Andre.
“Aku ga bisa ndre, masih ada urusan lain ke luar kota”
“Oh okey”
“Maaf ya mungkin lain waktu”
“Ga apa apa, see you”
“See you”
Lalu Andre menutup telepon nya.
Aku tahu Andre pasti menjadi lebih kesal sekarang. Namun aku pun tidak bisa bertemu dengan dia malam ini sementara Aditya ada di dalam apartemen ku.
Malam hari nya. Aku terbangun karena mendengar suara Aditya yang sedang marah-marah di balkon. Walaupun pintu nya tertutup namun suara nya masih terdengat di kamar ku dengan samar-samar. Aku menajam kan pendengaran ku, dan aku berusaha untuk mendengar percakapan nya.
“Gue udah ngelakuin semuanya? Gue udah ngerjain semua apa yang lo mau dan sekarang waktunya gue buat istirahat jadi jangan ada yang ganggu gue lagi !”
Dan setelah itu tak terdengar lagi suara Aditya di luar sana.
Siapa yang menghubungi Aditya? Dan apa maksud nya? Kenapa Aditya semarah itu ?
Aku jadi berfikir,bagaimana jika benar Aditya sedang melakukan suatu pekerjaan yang bahkan aku pun tidak boleh tahu.
Aku ingat betul dulu dia sering sekali mengeluh tentang pekerjaan nya yang selalu merasa jadi robot orang lain. Semua kehidupan dia di atur oleh orang lain,dia tidak pernah memiliki ruang gerak sendiri. Bahkan dia pernah berharap untuk memiliki kesempatan kedua untuk memilih jalan hidup,dan jika kesempatan itu ada dia tidak akan memilih jalan menjadi artis.