Obsessive Love Disorder

Obsessive Love Disorder
Harta tidak bisa mengukur derajat seseorang



“Silahkan duduk” pinta Pelayan hotel itu untuk aku menunggu nya dengan duduk di sofa loby.


“Tidak perlu” tolak ku dengan sopan.


Dan tidak lama terlihat lah mobil hitam yang menurunkan Papa dan Mama di depan loby.


Aku langsung melambaikan tangan ku ketika mereka masuk dan melihat ku di balik kaca tembus pandang.


Papa dan Mama berpakaian begitu rapih dan formal. Papa terlihat memakai jas berwarna hitam dan tidak lupa dengan kacamata nya,karena dia memiliki gangguan di penglihatan nya.


Papa dan Mama melihat ku tersenyum begitu bahagia.


“Hay Pa. Ma” sapa ku sambil memeluk mereka satu persatu.


“Apa kita harus bertemu di tempat besar seperti ini?” Tanya Papa dengan dingin.


“Pa. Sudah lah Papa dan Mama nya kan memang tidak punya rumah di Jakarta jadi mereka sewa hotel”


“Tapi kan ini hotel mahal sekali” cibir Papa.


“Sudahlah Pa” pinta Mama merangkul lengan nya.


“Ayo kita masuk”


Aku melihat raut wajah Papa yang begitu dingin dan tidak senang. Aku takut jika dia akan mempersulit rencana pernikahan ku dengan Aditya. Aku harap ketakutan ku tidak akan pernah terjadi. Aku semakin cemas ketika lift sudah membawa kami ke lantai yang di tuju. Lift terbuka lebar,dan pelayan itu mempersilahkan kami untuk keluar lebih dulu.


Pelayan itu langsung mengetuk pintu. Dan pelayan lain membuka kan pintu di balik nya.


“Silahkan masuk” ucap pelayan yang ada di dalam.


Aditya dan kedua orang tua nya segera berdiri menyambut ku. Aditya membenarkan jas nya dan berdiri tegap dengan menggenggam tangan nya sendiri di depan baju nya.


“Selamat Siang” sapa Mama dengan manis kepada kedua orang tua Aditya.


Papa ku terkejut melihat Papa Aditya. Begitu pun sebalik nya,Papa Aditya menunjuk Papa ku.


“Jordi?” Ucap Papa Aditya dengan terus shock.


“Pak Christ?” Aku ingat dengan nama itu. Baru saja kemarin Papa menceritakan tentang orang yang bernama Pak Christ.


“Kamu ?” Tanya Papa Aditya dengan bingung menatap ku.


“Iya saya Papa nya Dhebi” ujar Papa ku dengan tersenyum sopan.


“Bapak,Papa nya Aditya?” Tanya Papa ku tak percaya juga.


“Iya” jawab Papa Aditya dengan antusias.


Lalu mereka bersalaman sambil tersenyum merasa jika hal ini begitu lucu. Aku dan Aditya saling melempar pandang begitu bingung.


“Perkenalkan ini istri saya” Ucap Papa ku memegang punggung Mama.


“Hallo. Rianti” ucap Mama memperkenalkan diri dan menyalami Papa dan Mama nya Aditya.


“Jessy Caterison. Bisa panggil saya Jessy” ucap Mama nya dengan penuh sopan dan berwibawa.


Dia tersenyum kepada Mama ku dengan lembut.


“Papa kenal sama Papa Aditya?” Bisik ku dengan masih bisa terdengar oleh orang-orang di sekitar ku.


“Iya Nak. Pak Christ ini yang Papa ceritakan kemarin. Yang memberi Papa kepercayaan untuk menjadi pengembang di pembangunan real estate yang akan di lakukan di Jogja”


Aku menganggukan kepala ku baru bisa mengerti.


“Iya dan Papa kamu ini adalah tangan kanan Om. Dia selalu bisa di percaya dan bisa selalu di andalkan,bahkan dia juga yang membantu Om untuk pembangunan Hotel Raffles ini”


Aku terkejut melirik Papa. Dia hanya tersenyum dengan bangga nya.


Pantas saja dia tahu harga hotel ini. Gumam ku dalam hati.


“Ayo ayo kita makan dulu” ucap Papa Aditya mengajak Papa ku untuk pindah ke ruang makan.


Begitu banyak makanan yang sudah di sediakan di atas meja. Meja itu berbentuk persegi panjang dan besar dengan total 10 kursi yang tertata rapih disana.


Papa Aditya duduk di kursi ujung memimpin. Mama Aditya di samping nya dan di ikuti Aditya.


Papa duduk di samping kiri Papa Aditya di ikuti Mama dan aku yang duduk berderet disana.


“Ayok silahkan makan” pinta Papa Aditya.


Lalu kita pun mulai makan dengan mengambil beberapa potong makanan di meja makan.


“Saya begitu terkejut ternyata kamu adalah Papa dari Dhebi” ujar Papa Aditya di tengan makan kami.


“Iya Pak. Saya juga tidak pernah tahu jika ternyata Bapak adalah Papa Aditya. Karena yang saya tahu Aditya yang di ceritakan oleh Dhebi adalah seorang artis” ucap Papa dengan terus tersenyum kepada Papa Aditya.


Aku langsung kembali panik dan menatap Aditya yang bersikap tenang terus makan dengan menyinggungkan sedikit senyuman nya.


“Iya memang sebelum nya Aditya adalah seorang artis. Dia begitu sulit sekali saya ajak untuk mengikuti jejak saya,dia malah memilih jalan nya sendiri. Tapi berkat bantuan Dhebi dia mau meninggalkan semua itu dan mencoba mengembangkan bisnis Kakek nya”


Papa ku tersenyum dan melirik ku. Semua orang sudah melirik ku dengan bangga. Dan aku hanya bisa tersenyum dengan kaku menatap mereka.


“Saya pernah bercerita kan? Tentang bisnis Mayangdiri di Bali?” Tanya Papa Aditya berusaha mengingatkan sesuatu ke Papa.


Papa ku terlihat berusaha mengingat.


“Oh iya Pak. Bisnis yang akan di lanjutkan anak Bapak. Oh itu ternyata Aditya?” Tanya Papa berusaha memperjelas.


“Lah iya. Itu Aditya,dia anak satu satu nya saya. Dia baru mau mengembangkan bisnis itu sekarang” ucap nya lagi.


Aku melihat raut wajah Papa langsung berubah. Entah apa yang sedang di fikirkan nya. Kami kembali menghabiskan makan kami.


Setelah acara perkenalan kami selesai. Kedua orang tua ku berpamitan dengan orang tua Aditya. Aku melihat orang tua Aditya begitu senang dan bahagia. Mereka meminta untuk pertemuan selanjutnya di adakan di Bandung di rumah kami. Papa tampak bingung dan tidak senang namun dia berusaha menyembunyikan ekspresi bingung nya. Dan mengiyakan permintaan Papa Aditya. Lalu aku mengantarkan Papa dan Mama pulang ke rumah.


“Nak ada yang mau Papa bicarakan dulu” ucap nya.


Aku sudah tahu jika Papa sangat ingin mengatakan sesuatu dari semenjak makan tadi.


Aku menganggukan kepala ku.


“Mas bisa antar saya ke ruang pribadi?” Pinta ku kepada pelayan yang mengantar kami. Aku ingat jika hotel itu memiliki ruang meeting dan ruang pribadi seperti ruang tamu untuk bisa di pakai oleh para pengunjung hotel.


“Baik. Ikut saya”


Lalu dia mengantarkan aku dan kedua orang tua ku ke ruang pribadi.


Ruang itu tampak seperti ruang tamu biasa. Yang hanya memiliki sofa dan lukisan estetik besar di sekitar nya. Aku menutup pintu ruangan itu. Dan menunggu Papa untuk berbicara.


“Nak. Apa kamu yakin akan menerima Aditya?” Tanya Papa dengan ragu.


“Kenapa Pa?” Aku menghampiri Papa yang tengah berdiri menghadap kaca yang menyuguhkan pemandangan kota Jakarta.


“Sayang. Keluarga Pak Christ begitu besar,dia begitu banyak berjasa untuk Papa selama ini. Papa merasa tidak pantas bersanding bersama nya sebagai besan nya”


Aku menghela nafas dan memeluk Papa.


“Pa. Papa sendiri yang mengajar kan ku jika bukan harta yang mengukur tahta seseorang kan. Papa juga yang selalu memberi pelajaran aku jika aku tidak boleh berbangga dengan segala harta yang kita miliki kepada seseorang yang tidak mampu membelinya” ucap ku mengingatkan Papa dengan petuah nya sendiri.


“Orang tua Aditya begitu baik Pa. Mereka tidak akan memandang kita selama kita masih punya hati yang tulus untuk menerima mereka. Papa Aditya tidak akan mengukur seberapa banyak kita memiliki harta untuk bisa bersanding dengan mereka. Percayalah mereka orang yang baik” ucap ku terus meyakinkan Papa.


Papa memandang ku dengan sedih. Dia mengelus rambut ku dan menatap ku begitu dalam.


“Papa tahu jika Pak Christ memang baik nak. Dia tidak pernah memandang siapapun itu jika dia merasa di hargai oleh orang itu”


Lalu Papa memeluk ku dengan lembut.


“Papa merestui mu Nak” ucap Papa di dalam pelukan ku.


Aku begitu bahagia dan terkejut. Air mata ku mengalir dan membasahi pipi ku. Aku begitu bahagia.