
Selesai sarapan. Semua orang bubar dari ruang makan,dan aku langsung berjalan cepat menuju kamar ku. Aditya melihat raut wajah ku yang sudah berubah menjadi kesal,dia mengikuti ku sampai kamar tamu. Dia pasti tahu aku akan memarahi nya disana.
Begitu sampai di kamar tamu dia menutup pintu nya. Aku langsung membalikan badan ku dan menatap nya sinis. Dia berdiri dengan tegap dan memasukan kedua tangan nya kedalam saku celana, bersiap untuk menerima segala omelan dari ku.
“Jadi selama ini kamu bohong?” Ujar ku dengan nada sudah begitu kesal.
“Bohong apa ?” Tanya nya balik,dengan ekspresi yang begitu tenang.
“Ya kalo ternyata Andre adalah sepupu kamu”
“Dia tidak pernah menganggap aku sebagai saudaranya,jadi untuk apa aku mengaku dia sebagai saudara ku”
Aku tersentak mendengar ucapan Aditya. Aku jadi merasa bingung sekarang.
“Iya tapi selama ini kita ada masalah dengan Andre dit” Ucap ku harus mengingatkan dia dengan masalah kita yang begitu besar.
Aditya terlihat malas sekali membahas tentang Andre.
“Aku bahkan pernah berhubungan dengan dia saat tidak sama kamu,lalu kamu pernah menghajar dia,kita bahkan masih ada konflik dengan dia sampai sekarang,dan kamu ga bilang kalau dia saudara kamu”
“Dia memang sepupu aku, tapi kita tidak pernah akur,dia pura-pura ga kenal aku di dunia luar,dan aku cuma ikut cara dia. Ga ada yang tahu itu,dan orang lain pun tidak ada yang tau siapa orang tua ku Dheb, hanya orang-orang ku aja yang tau itu,dan aku membungkam mereka,jadi ga ada orang lain yang tahu kalau Andre adalah saudara sepupu aku selama ini”
Aku memikirkan sesuatu dengan masalah kami kemarin yang masih belum selesai.
“Lucy tau?”
Dia menggedikan bahu nya.
“Aku sempat curiga kalau dia sebenarnya tau,tapi entah lah dia ga pernah membahas tentang keluarga ku,yang dia tau aku cuma perantauan asal Bali”
Aku memikirkan hal itu. Tidak mungkin Lucy tidak mengetahui siapa Aditya. Dia kan anak pengusaha terkenal, dia pasti tau asal-usul Aditya sebelum nya.
“Apa yang kamu fikirkan sama dengan yang aku curigai Dheb” ujar Aditya tiba-tiba seolah dia cenayang bisa membaca fikiran ku.
“Lucy bisa saja tahu tentang orang tua kamu dari Andre,dan dia juga mungkin sebenarnya tahu kalau Andre saudara kamu selama ini”
Aditya menggelengkan kepala nya menatap ku tajam.
“Aku ga peduli itu. Tidak ada manfaatnya untuk aku kalaupun akhirnya Lucy tau siapa aku sebenarnya,biarkan saja”
Tapi justru semua itu membuat aku jadi berfikir alasan Lucy bersikeras ingin menikah dengan Aditya karena dia tahu siapa Aditya sebenarnya.
Seseorang mengetuk pintu. Aditya melangkah mundur mendekati pintu dengan terus menatap ku.
Dia membuka pintu nya. Terlihat seorang pelayan yang sudah membungkuk di depan pintu.
“Maaf mengganggu Tuan Muda. Di panggil Nyonya besar untuk segera bersiap menuju Nusa dua”
Aditya berdecak kesal.
“Bilang Mama,aku dan Dhebi ada acara jalan-jalan hari ini” ketus nya dan langsung menutup pintu.
Aku menatap nya bingung.
“Ada apa di Nusa Dua?” Tanya ku.
Dia menggelengkan kepala dan melengkungkan bibir nya kebawah. Seolah berkata itu bukan lah hal yang penting.
Dia mendekati ku.
“Kamu mau kemana hari ini?” Tanya nya menyentuh kedua lengan ku.
Aku menatap langit-langit memikirkan tawaran Aditya.
“Hmmm..” aku masih saja terus mencari ide akan kemana kita hari ini.
Lalu tiba-tiba pintu kamar terbuka lagi,kali ini tanpa ada yang mengetuk dan membungkuk di depan pintu.
Itu Mama Aditya. Aku terkejut melihat nya,dan menjauh kan diri dari Aditya dengan malu dan salah tingkah. Aditya menundukan kepala dengan malas ketika melihat Mama nya datang.
Aku menatap Aditya dengan bingung.
“Kita bertemu dulu Nenek sekarang ya ?sekalian kenalin Dhebi sama Nenek” Mama nya memohon begitu tulus.
Mungkin Mama nya fikir dengan mengajak ku Aditya akan mau menemui Nenek nya.
“Ma..”
“Iya Aditya akan kesana, Ma” potong ku sebelum Aditya kembali menolak keinginan Mama nya.
Aditya melirik ke arah ku dengan kesal.
Mama nya langsung tersenyum melihat ku. Tatapan nya begitu terlihat dia bahagia.
“Terimakasih Dhebi” ujar Mama nya.
Dia menatap Aditya dulu sebentar dengan tersenyum lalu pergi dari sana.
Kami saling menatap setelah Mama nya menghilang di balik pintu.
“Kenapa kamu ga mau bertemu Nenek kamu sendiri sih Di?” heran ku dengan mengerutkan kening.
“Karena Nenek pasti membahas tentang perusahaan itu”
“Perusahaan apa?”
“Perusahaan yang akan dia berikan untuk aku”
Aku mengingat pembicaraan Papa Aditya tadi di meja makan.
“Apa alasan kamu tidak mau menerima itu ?”
“Aku hanya ingin bebas” dia terlihat sedih mengatakan itu.
“Sejak kecil memang aku adalah Cucu kesayangan Nenek. Dia selalu melarang ku untuk bermain di luar rumah. Dia menutup ku dari dunia luar. Bahkan setiap kali aku ingin bermain keluar pun selalu ada ajudan yang mengantar ku kemana-mana. Dia terlalu mengkhawatirkan aku,dan membuat aku terpenjara di rumah. Sejak kecil aku selalu berfikir kenapa aku tidak bisa seperti anak-anak lain yang bisa bermain dengan teman-teman nya di taman,yang bisa berlarian di sekolah dengan banyak teman,dan belajar di lingkungan orang banyak. Kenapa aku selalu belajar di rumah,kenapa aku di haruskan home schooling sementara orang lain bisa sekolah di luar sana ? Aku selalu bertanya apa yang salah dengan aku”
Aditya bercerita dengan berdiri menatap luar jendela dan mengingat kembali semua masa-masa yang tengah ia ceritakan.
“Pertama kali aku mengenal dunia luar adalah ketika aku masuk Universitas. Itu pun awal nya Papa memaksa aku untuk kuliah di luar negri tapi aku menolak keras untuk tidak menuruti nya. Akhirnya aku kuliah di Universitas Sriwijaya pilihan ku sendiri. Tapi tetap saja aku belum merasakan kebebasan sesungguhnnya ,karena ajudan Nenek masih saja membuntuti aku selama aku kuliah. Semua teman yang baru aku miliki pun merasa risih karena ajudan yang selalu membuntuti aku. Bebas,adalah hal yang paling aku inginkan sejak lama ” aku menghampiri Aditya berdiri di samping nya,melingkarkan satu tangan ku di tubuh nya nya dan menyandarkan kepala ku ke bahu nya dengan terus mendengarkan cerita yang akhirnya ingin aku dengar.
“Aku mulai menentang Nenek ketika aku mengikuti casting di kampus dan mendapatkan sebuah peran. Aku bertengkar hebat dengan Papa ketika aku meminta izin untuk terjun ke dunia entertaint. Tentu Papa tidak menyetujui itu dan dia mengancam jika aku bersikeras mau melakukan itu dia akan menarik semua fasilitas yang dia berikan kepadaku”
Aku melihat nya tak percaya dengan apa yang di lakukan Papa nya. Begitu menyedihkan ternyata perjuangan dia mencari kebebasan
“Aku langsung pergi dari rumah dan jarang sekali pulang ke sini. Karena aku malas,setiap kali pulang Papa pasti aku terus menceramahi ku dengan hal yang sama. Dan aku menolak untuk meneruskan bisnis Nenek karena aku sudah terlalu marah dengan Papa”
“Aku benar-benar memulai karir ku dengan pengenal baru,aku meminta orang merubah data diri ku,aku mulai hidupku dari 0 sebagai seorang perantauan dari Bali,tidak ada orang yang tahu jika aku adalah anak orang kaya di Bali. Apartement yang kita tempati,itu adalah satu satu nya fasilitas yang Papa beri untuk aku,setelah nya aku berjuang sendiri di dunia entertaint,dan ternyata aku berhasil,tapi tetap saja Papa dan Nenek tidak peduli dengan kesuksesan aku,mereka tetap ingin aku meneruskan bisnis mereka. Aku masih saja kesal jika ingat Papa menghina aku yang tidak bisa menjaga diri ku sendiri,dan tidak percaya aku bisa se sukses ini di dunia luar”
Aku mengusap lembut punggung Aditya.
“Di. Papa kamu sayang sama kamu, dia mengatakan itu hanya kesal saja karena kamu keras kepala. Dia juga pasti tidak ingin benar-benar menghukum kamu seperti itu. Aku yakin dia juga menyesal telah mengatakan itu sama kamu di. Dia hanya tersulut emosi”
“Aku tahu” dia masih tidak ingin menatap ku.
“Tapi kami berdua memang memiliki gengsi yang begitu tinggi. Jadi setiap kali kami bertemu kami selalu bersikap canggung dan kaku”
“Dan kamu jangan ikut menghukum Nenek kamu karena pertengkaran kalian. Dia tidak bersalah sedikitpun. Dia hanya ingin menjaga kamu Cucu kesayangan nya tetap aman?”
Dia diam membenarkan ucapan ku.
“Kalau begitu,mari kita bertemu Nenek kamu” ucap ku dengan penuh semangat.
Dia tersenyum menertawakan ku.
“Kenapa kamu semangat sekali?” Lalu wajah ku menjadi kikuk mendengar dia menanyakan hal yang membuat aku pun bingung.
“Ya semangat aja,karena aku mau kenalan sama Nenek kamu kan?” jawab ku kikuk.